ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 37


__ADS_3

Satu minggu setelah kepergian Cakra, Rangga baru kembali ke Jakarta, sedangkan Alea dan kedua orang tuanya sudah empat hari yang lalu, kembali ke Jakarta karena Alea harus sekolah, mengingat sebentar lagi ia akan menghadapi ulangan kenaikan kelas.


Sebelum berangkat ke Bandara, Rangga menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Umi dan Ayahnya, ia berdoa dengan khusyuk meminta agar orang tuanya di tempatkan di tempat yang terindah.


'Ayah, Umi Rangga pulang ke Jakarta. Doa Rangga untuk Ayah dan Umi akan selalu ada di setiap helaan nafas Rangga' Rangga menaburi makam kedua orang tuanya dengan bunga-bunga segar, setelah itu ia juga mengunjungi makam Abinya di lokasi yang berbeda, ia selalu teringat nasehat Ayahnya yang selalu mengingatkan jika ia pun harus selalu mendoakan Abinya.


Rangga berdoa dengan doa sama, ia meminta agar Abinya di ampuni dosa-dosanya dan di tempatkan di tempat yang terindah.


Selesai berziarah di makam Abinya, Rangga pun bergegas menuju Bandara dan terbang kembali ke Jakarta.



Pukul 16.30 WIB Rangga tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, dari bandara ia langsung menuju ke kediamannya.


"Alea di mana Bik?" tanya Rangga kepada asisten rumah tangganya.


"Di kolam renang Tuan, sedang belajar dengan temannya dan juga Mbak Nindy"


Rangga menganggukan kepalanya, ia berjalan menuju kolam renang kediamannya, namun baru beberapa langkah berjalan asisten rumah tangganyanya memanggil Rangga kembali, Rangga pun menoleh ke arah asisten rumah tangganya.


"Oh ia Tuan, maaf. Tadi pagi Nyonya dan Tuan Rio sudah kembali ke Bogor, ia meminta saya untuk menyampaikannya pada Tuan Rangga"


"Iya saya sudah tahu" Rangga menganggukan, ia kembali berjalan menuju kolam renang.


Di pintu kolam renang Rangga melihat Tristan tengah membukakan botol air minum untuk putrinya, ia hanya tersenyum kemudian menghampiri putrinya.

__ADS_1


"Ayo tebak siapa?" tanya Rangga menutup mata putrinya.


"Ayah sudah pulang?" tanya Alea setengah terkejut dan bercampur bahagia karena ia merasa kesepian beberapa hari ini tanpa ayahnya.


"Sudah, ayo lanjutkan lagi belajarnya. Ayah temani" Rangga duduk di samping putrinya nampak memperhatikan putrinya yang tengah mengerjakan soal yang di berikan oleh Nindy.


Rangga sama sekali tak membantu putrinya, ia membiarkan putrinya menyelesaikan soalnya sendiri, bahkan Tristan pun yang terlebih dahulu mengumpulkan jawabannya tak sama sekali mencoba membantu Alea. Ia hanya sekali memberikan kertas kosong untuk Alea menghitung, karena melihat kertas Alea sudah penuh dengan hitungannya.


Lima belas menit kemudian Alea mengumpulkan jawabannya kepada Nindy.


"Sudah yakin?" tanya Nindy.


Alea menganggukan kepalanya, ia yakin jika jawaban yang ditulisnya benar.


"Terima kasih Kak Nindy" sambil tersenyum Tristan mengambil kertas tersebut.


Beberapa menit kemudian Nindy selesai memeriksa jawaban milik Alea " Alea masih ada salah ya di no.2" ucap Nindy sambil memeberikan kertas jawaban milik Alea "Mau di perbaiki atau perlu Kak Nindy ulang materinya?" tanya Nindy.


"Aku perbaiki saja Kak Nindy" Alea mengambil kembali kemudian memperbaiki jawaban miliknya, setelah selesai ia kembali membarikannya lagi ke Nindy.


"  2-log 4, tepat sekali Lea" ucap Nindy sambil tersenyum. Melihat handphonenya menyala tanda ada pesan masuk dari kekasihnya, Nindy pun mengakhiri lesnya hari itu.


"Sudah pukul 17.40, kak Nindy pulang dulu ya kita lanjut besok malam jam 19.00 seperti jadwal semula" ucap Nindy sambil merapihkan barang-barang miliknya.


"Baik Kak Nindy"

__ADS_1


"Pak Rangga aku permisi pulang dulu" ucap Nindy kepada Rangga.


"Silahkan"


"Bye Alea, Tristan sampai jumpa besok" Nindy melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Rangga.


"Yah aku ke kamar dulu ya, mau menaruh buku" ucap Alea, kemudian ia pergi kekamarnya meninggalkan Tistan dan Ayahnya berdua di kolam renang.


"Om, boleh aku bicara dengan Om?" ucap Tristan gugup.


"Tentu saja, ada apa Tristan?" tanya Rangga dengan ramah.


"Bolehkah aku menyukai Alea?" Tristan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanya terhadap Alea kepada orang tua Alea.


Rangga sangat mengapresiasi keberanian Tristan untuk mengutarakan perasaannya terhadap putrinya "Tentu saja boleh, tapi kamu sudah tahu kan jika Alea di larang untuk berpacaran dan jalan berdua dengan lawan jenis?"


"Sudah Om, Alea sendiri yang mengatakannya kepadaku"


"Lalu?"


"Aku mengarti, aku hanya ingin meminta izin untuk mencintainya saja"


Rangga tersenyum mendengar ucapan "Jadikanlah rasa itu sebagai semangat dan motivasi untuk kalian bertumbuh bersama, hingga tiba saatnya jika Allah meridhoi kalian untuk bersama" ucap Rangga dengan bijak "Datanglah kemari kapan pun kamu mau, kita bermain dan belajar bersama" Rangga menepuk bahu Tristan dengan lembut.


"Terima kasih Om, kalau begitu saya permisi dulu" Tristan mencium tangan Rangga kemudian ia keluar dari kediaman Rangga dengan menaiki sepeda motornya.

__ADS_1


__ADS_2