
Tak lama sejak kejadian Tyshia memergoki Rai sedang berhubungan intim dengan wanita bule, Rai di jemput oleh Mommynya kembali ke Indonesia.
Tyshia sama sekali tidak pernah mengadukan semua perbuatan Rai kepada keluarganya, namun keluarganya mengetahui perbuatan Rai dari supir pribadi Tyshia dan dari CCTV yang terpasang di apartement Tyshia. Sebenarnya jauh di lubuk hati Tyshia, ia berharap Rai bisa berubah menjadi anak yang baik.
Dan sejak saat itu lah Tyshia lebih leluasa menggunakan apartementnya, ia menjadikan apartementnya sebagai markas untuk berkumpul bersama teman-teman kuliahnya mengerjakan tugas dan saling bertukar pikiran dalam mengembangkan ide-ide kreatif mereka, sedangkan flatnya ia gunakan untuk istirahat sambil video call dengan kekasihnya Rangga.
Teman-teman yang Tyshia undang ke apartemennya hanya teman-teman wanitanya saja, ia sangat membatasi dirinya dalam bergaul, ia sangat menjaga kepercayaan yang orang tuanya berikan kepadanya serta menjaga hatinya hanya untuk Rangga.
"Alinea, That is delicious" puji Cristy saat mencicipi pie yang di buat oleh Tyshia.
Tyshia tersenyum mendapat pujian dari temannya "Thanks Cris, let's spend." ucap Tyshia. Ia sengaja membuatkan pie dan makanan lainnya untuk menemaninya dan teman-temannya belajar.
Apartementnya kini di penuhi oleh gambar-gambar desain, mesin jahit, manekin, bahan, benang, serta baju-baju rancangannya dan teman-temannya.
Jenjang kuliah yang Tyshia ambil adalah Associate Degree Program selama dua tahun. Ini adalah tahun kedua Tyshia menempuh pendidikannya di Parsons, The New School of Design. New York
Di tahun ke dua ini beberapa teman-teman sekelas Tyshia tidak melanjutkan program studynya, hanya orang-orang yang benar-benar berbakat seni dan berjiwa kreatif yang mampu bertahan.
Tyshia sangat menikmati proses perkuliahannya, selain semakin mahi menggambar Tyshia juga memiliki sense of design yang bagus. Tiga skill basic (mendesain, pola dan menjahit) sudah Tyshia kuasai di tahun pertamanya kuliah.
Jika di tahun pertama Tyshia banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Rangga, namun di tahun kedua ini sehabis kuliah Tyshia banyak menghabiskan waktunya berkumpul bersama teman-teman seperjuangannya di kampus.
Setelah Ana melihat suaminya sudah mulai bisa menerima Rangga dan lebih dekat dengan Rangga, Ana kembali ke New York untuk menemani putrinya menghadapi skripsi.
__ADS_1
Melihat semangat putrinya dalam menyelesaikan pendidikannya dan semangat Rangga dalam bekerja, membuat Ana teringat pada masa dirinya dan suaminya berpacaran, dimana Rio di Indonesia di sibukan mengejar karirnya sedangkan dirinya di sibukan dengan kegiatan kuliahnya.
Hanya saja Rangga dan Tyshia menekuni bidang yang bertolak belakang, dimana Rangga menekuni sains sedangkan tyshia di bidang seni.
"Sayang, kita sarapan dulu yuk! Bunda sudah buatkan roti bakar kesukaanmu" ajak Ana.
"Iya Bunda, sebentar lagi" ucap Tyshia sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tasnya.
"Bunda. I won't be home late ,I'm going to the library" ucap Tyshia sambil memakan roti bakar buatan Bundanya.
"Okay, good luck baby" Ana mencium dan memeluk Tyshia sebelum putrinya berangkat.
Didalam perjalanan Tyshia menyempatkan diri untuk menelepon kekasihnya, memberitahunya bahwa hari ini adalah bimbingan pertamanya.
"Good luck ya byy, jika sudah selesai kabarin aku lagi" ucap Rangga, ia sangat senang mendengar kekasihnya telah berada di penghujung pendidikannya yang berarti sebentar lagi ia akan segera bertemu dan bersama-sama lagi.
Secara keseluruhan selama satu semester menyelesaikan skripsinya, Tyshia tidak menemukan kendala yang berarti, dukungan ya g mengalir deras dari kedua orang tuanya dan juga dari Rangga membuatnya semangat dalam menyelesaikan skripsinya.
Setelah Tyshia di nyatakan lulus, Ana dan Rio mulai menceritakankepada Tyshia jika Rangga saat ini bekerja di kantor mereka.
"Jadi kapan kamu mau jujur kepada Rangga? dan mengenalkan Rangga kepada kami sebagai calon suamimu?" tanya Ana.
"Entahlah, aku masih takut Bunda, aku terlalu banyak membohonginya" jawab Tyshia dengan hati yang di penuhi dengan rasa bersalah kepada Rangga.
__ADS_1
"Kamu harus berani jujur padanya sebelum ia mengetahuinya dari orang lain" ucap Rio.
"Baik Ayah, tapi nanti Ayah tidak akan mengajaknya bertanding basket, seperti yang Ayah lakukan kepada Nichole?" tanya Tyshia
"Tentu saja ayah akan mengajaknya bertanding, tapi tidak untuk taruhan. Ayah hanya ingin mempunyai lawan main yang sebanding, jika bermain dengamu Ayah harus selalu mengalah"
"Ayaaahhh...."
"Sudah-sudah kalian ini, ayo Tyshia kamu tidur. Bukankah besok kamu wisuda, kamu mau cepat kembali Indonesia kan, bertemu dengan Rangga?"
"Tentu saja Bunda, aku sudah sangat merindukannya"
"Genit kamu" Ana mencubit hidung purinya dengan gemas "Good night, mmmmuah" Ana dan Rio mengecup kening purtinya secara bergantian, barulah mereka berdua keluar dari kamar putrinya.
Rio dan Ana menyaksikan prosesi wisuda putrinya yang berlangsung secara hikmad, rasa haru dan bangga bercampur menjadi satu saat putrinya naik ke atas panggung.
Rio yang awalnya sempat meragukan Tyshia, namun hari ini keraguan itu terpatahkan oleh IPK tyshia yang nyaris sempurna 3.85
Bukan hanya dari segi prestasi saja yang membuat Rio bangga dengan putrinya. tapi juga kemandirian, tanggung jawab, dan banyak nilai kebaikan lainnya yang membuat Rio bangga dan itu semua berkat campur tangan Rangga.
Selesai acara wisuda Tyshia berfoto-foto dengan kedua orang tuanya, kemudian ia berkumpul dan berfoto bersama dengan teman-temannya.
Senang bercampur dengan sedih saat Tyshia dan teman-temannya berpamitan satu sama lain, senang karena bisa berjumpa dan berteman dengan orang-orang hebat yang memiliki jiwa seni dari berbagai macam belahan dunia, sedih karena harus berpisah karena Tyshia lebih memilih untuk berkarir di Indonesia.
__ADS_1
Setelah semua urusan beres, Rio dan Ana membawa putrinya kembali ke Indonesia.
Welcome to Jakarta