ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 64


__ADS_3

Begitu Tristan keluar dari ruang IGD, Alea langsung melakukan pemeriksaan fisik (tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan) terhadap ibunda Tristan.


Kemudian Alea memberikan tindakan dan terapi emergensi sesuai dengan diagnosa sementara yang ia tegakan, selanjutnya Alea memonitoring ibunda Tristan sampai keadaan ibunda Tristan stabil.


Setelah itu Alea melakukan konsultasi kepada Unclenya, dokter spesialis jantung untuk pasien rawat inap.


Sebelum keluar dari ruang IGD Alea menarik nafasnya perlahan, ia berusaha tetap profesional untuk bertemu dengan Tristan.


Begitu Alea membuka pintu ruang IGD, Tristan langsung menghampirinya. Alea menjelaskan jika kondisi ibundanya sudah mulai stabil namun harus menjalani rawat inap sampai kondisinya benar-benar pulih dan selanjutnya akan ditangani oleh dokter spesialis jantung.


"Apa ada hal yang ingin bapak tanyakan?" tanya Alea.


"Tidak terima kasih Lea" ucap Tristan.


"Kalau begitu saya permisi dahulu" ucap Alea sambil membalikan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam ruang IGD.


Seketika Tristan menahan Alea untuk pergi, ia memegang tangan Alea kemudian menariknya dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu Lea" ucap Tristan lirih, Tristan memeluk Alea dengan erat.


"Tristan ini rumah sakit, tolong lepaskan aku" Alea berusaha melepaskan pelukan Tristan namun Tristan justru semakin mempereratnya, ia menumpahkan segala kerinduannya pada Alea.


"Tristan aku mohon lepaskan aku" Alea menaikan nada bicaranya, ia tidak ingin ada siapa pun memergokinya terutama Nathan.


"Maaf..." perlahan Tristan pun melepaskan Alea.


"Maaf Pak saya sedang bertugas, banyak pasien yang harus saya tangani" Alea merapihkan pakaiannya, kemudian membalikan tubuhnya meninggalkan Tristan, namun lagi-lagi Tristan menahannya.


"Bisakah kita bicara sebentar?" pinta Tristan.

__ADS_1


"Tidak bisa, saya sedang bekerja" ucap Alea dengan tegas.


"Aku mohon Lea, aku ingin bicara denganmu sebentar saja" pinta Tristan memelas.


Alea menarik nafasnya kemudian ia melihat jam di tangan kirinya.


"Temui aku di coffee shop samping rumah sakit jam 16.00 sore. Permisi." Alea pun pergi meninggalkan Tristan dan kembali bertugas.


Pukul 14.00 Alea menghubungi Asisten rumah tangganya untuk memintanya membawakan kotak yang berada di bawah meja yang terdapat di dalam kamarnya ke rumah sakit dengan menggunakan transportasi online.


Empat puluh lima menit kemudian kotak yang diminta Alea pun datang, Alea menerimanya dan menaruhnya di dekat tasnya.


Baru saja ia ingin menghubungi Nathan, Nathan terlebih dahulu mengiriminya pesan.


Drrrt...drrrt...drrrt...


^^^Nathan:^^^


Alea:


Iya sayang, aku tunggu di coffee shop tempat biasa kita nongkrong ya.


^^^Nathan:^^^


^^^Ok honey. love you.^^^


Alea:


Love you too

__ADS_1


Pukul 16.00 setelah pulang bertugas Alea menemui Tristan di coffee shop samping rumah sakit, tidak lupa Alea membawa kotak berisi semua hadiah pemberian Tristan kepadanya.


Tiba di coffee shop ia melihat Tristan sudah menunggu kedatangannya, ia pun mempercepat langkahnya dan duduk tepat di hadapan Tristan.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini dan berterima kasih kepadamu untuk waktu dan perhatian yang kamu berikan kepadaku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih" Alea beranjak dari tempat duduknya, namun Tristan menahannya.


"Tunggu dulu, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya Alea" ucap Tristan.


"Penjelasan apa pun yang kamu berikan tidak akan pernah bisa merubah keadaan, hubungan kita telah berakhir karena aku telah bertunangan dengan orang lain. Aku rasa sudah cukup enam tahun aku menunggu dan mencarimu, kini saatnya aku memulai kehidupanku yang baru bersama dengan orang yang tidak pernah menyia-yiakan aku" Alea beranjak dari tempat duduknya, namun lagi-lagi Tristan menahannya untuk pergi.


"Mungkin penjelasanku ini tidak akan bisa merubah apa-apa tapi aku ingin kamu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku selama enam tahun ini" Tristan menyuruh Alea untuk kembali duduk, ia pun menurutinya ia kembali duduk di hadapan Tristan.


"Mungkin kamu sudah mendengar berita jika Ayahku tersandung kasus penggelapan dana perusahaan yang mengakibatkan seluruh harta orang tuaku di sita untuk menutup kerugian perusahaan" Tristan berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya.


"Kami tinggal menepi ke pinggiran kota Jakarta, hidup kami semakin sulit karena kondisi Ibuku yang semakin menurun. Aku menunda kuliahku untuk bekerja dan merawat Ibuku" mata Tristan mulai berkaca-kaca namun ia mencoba menahan tangisnya.


"Aku belum bisa menunaikan janjiku kepadamu karena aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan semua masalah-masalahku, aku tidak menghubungimu dan menutup akses semua komunikasiku kepadamu dan keluargamu karena aku tidak ingin merepotkanmu dan keluargamu"


"Melihat semua postingan-postinganmu di sosial media membuatku insecure, kamu bagai langit dan aku butiran debu. Tapi aku masih memiliki keyakinan jika aku bisa keluar dari masalah-masalahku dan datang kembali padamu di kondisi terbaikku, untuk meminangmu dan mempersembahkan semua yang terbaik untukmu. Sesuai dengan janjiku"


"Alea tidak ada sehari pun aku tidak memikirkanmu dan tidak ada sedetik pun aku lupa akan janjiku kepadamu, aku akan datang kepadamu di kondisi terbaiku itu adalah janji sekaligus semangat aku untuk bangkit dari semua masalah-masalah ini."


"Alea selamat untuk pertunanganmu dengannya, aku bahagia atas kebahagianmu. Maafkan aku yang tak sempat membahagiakanmu." Tristan beranjak dari tempat duduknya kemudian ia pergi meninggalkan Alea yang sedang menangis mendengar semua penjelasan darinya.


Dipintu coffee shop Tristan berpapasan dengan Nathan yang baru saja datang untuk menjemput Alea.


Dari jendela luar coffee shop Tristan melihat Nathan yang masih mengenakan doctor's white coat atau jas dokter tengah mengelus pundak Alea dengan lembut kemudian menghapus air mata alea.


"Alea kamu memang lebih pantas bersanding dengannya, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dengannya" Tristan menundukan wajahnya dan menghapus air matanya, kemudia ia berjalan kembali menuju rumah sakit, karena ia tidak ingin terlalu lama meninggalkan ibunya yang sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2