
Pukul 05.00 pagi saat Rangga dan Alea hendak melakukan shalat jamaah, tiba-tiba nindy datang.
"Aku boleh ikut ya" Nindy menggelar sajadahnya di samping Alea.
"Boleh dong Kak" jawab Alea.
Sementara Rangga tak berkata sepatah kata pun, sekilas ia hanya melihat ke arah Nindy yang telah mengenakan mukena.
Seusai Shalat Rangga menuju ke dapur untuk membuat sarapan, tiba di dapur ia melihat kulkas dan dapurnya di penuhi oleh tempelan kertas yang berisikan berbagai resep masakan yang, Rangga pun memanggil asisten rumah tangganya.
"Bik, apa ini? Kok banyak kertas di kulkas" Rangga menarik satu persatu kertas yang menempel di kulkasnya.
"Anu Tuan, Mbak Nindy yang menempelnya. Setiap kali Mba Nindy mau masak Mbak Nindy melihat resep yang ia tempel sebelum ia mulai memasak.
"Ya sudah kalo begitu, nanti Bibik rapihkan ya. Sekarang siapkan bahan-bahan aku mau membuat sarapan untuk Alea"
"Tuan, Mbak Nindy sudah membuatkan sarapan untuk Tuan dan Non Alea, Mbak Nindy juga sudah membuatkan bekal untuk Non Alea" ART Rangga menujuk ke arah meja makan dengan menggunakan jempolnya.
Rangga menghampiri meja makannya, ia melihat sarapan yang di buat oleh Nindy. Rangga juga melihat kotak bekal untuk Alea, berisi nasi, sayur, lauk pauk lengkap dengan potongan buah, pudding dan susu.
"Kenapa hanya alea yang di buatkan" ucap Rangga.
"Pak Rangga mau aku buatkan juga?" pertanyaan Nindy membuat Rangga terkejut dan salah tingkah.
"Mengapa kamu selalu tiba-tiba berada di belakangku? Sudahku bilang jangan mengagetkanku" tanya Rangga dengan kesal.
"Saya mau ke dapur Pak Rangga."
Tanpa bicara sepatah kata pun Rangga pergi meninggalkan Nindy, Nindy berjalan ke dapur untuk mengambil minum dan menyiapkan bekal untuk Rangga, setelah semua beres Nindy kembali ke kamarnya bersiap untuk ke kampus.
Pukul 06.20 Rangga dan Alea telah berada di meja makan, namun keduanya tidak melihat Nindy.
"Bik, tolong panggil Nindy, suruh cepat ya. Katakan padanya aku dan Alea menunggunya sarapan!!" perintah Rangga.
"Baik Tuan"
Lima menit kemudian Nindy datang dan ikut bergabung bersama Rangga dan juga Alea.
"Lama sekali, kita bisa telat Nindy" ucap Rangga dengan kesal.
"Maaf Pak Rangga. Oh ia Pak Rangga ini kunci mobil dan kartu kredit Pak Rangga, terima kasih" Nindy menyerahkannya kepada Rangga.
__ADS_1
"Dan satu lagi Pak Rangga, ini ada sesuatu untuk Pak Rangga semoga Pak Rangga suka dan berkenan memkainya" Nindy memberikan sebuah kotak berisi dasi, yang ia beli saat pergi bersama dengan Alea.
"Cepat makan, sudah siang ini" ucap Rangga dengan nada perintah.
Seusai sarapan Rangga dan Alea berjalan menuju garasi rumahnya, sedangkan Nindy masuk lagi ke kamarnya mengambil tas serta buku-buku kuliahnya.
'Kemana lagi si Nindy ini?' guman Rangga dengan kesal, ia beberapa kali memencet klakson mobilnya.
"Ayah berisik sekali!!!" protes Alea.
Tak lama Nindy datang dengan tergesah-gesah sambil membawa paper bag bekal Rangga, Nindy mengetuk kaca mobil Rangga, Rangga pun langsung membukanya.
"Pak Rangga ini bekalnya ketinggalan" Nindy menaruhnya di kursi belakang mobil Rangga, kemudian menutupnya kembali. Nindy berjalan menuju motornya yang terparkir di garasi rumah Rangga, baru beberapa langkah Nindy melangkah Rangga memanggilnya.
"Nindy kamu mau kemana lagi?" teriak Rangga yang semakin kesal dengan Nindy.
"Aku mau ke kampus Pak Rangga" jawab Nindy, ia mencoba sabar dengan semua omelan Rangga.
"Siapa yang menyuruhmu naik motor? Cepat masuk!!!" Rangga menyuruh Nindy masuk ke dalam mobilnya.
Nindy menghela nafas kesalnya karena di marahi terus oleh Rangga, tapi kemudian ia masuk ke dalam mobil Rangga.
"Contoh oksida asam yang dimasukkan ke dalam air akan menghasilkan asam?" tanya Nindy.
Alea nampak berfikir sejenak "SO3 + H2O menjadi H2SO4" jawab Alea
"Lalu yang menghasilkan basa?" tanyanya kembali
"Na2O + H2O menjadi...... 2Na" Alea agak sedikit ragu untuk menjawabnya.
"2NaOH" jawab Rangga membantu putrinya.
"Sudah sampai" ucap Rangga menepikan kendaraannya di depan gerbang.
"Aku masuk dulu ya Yah" Alea mencium tangan dan pipi Ayahnya.
"Semangat ya sayang" Rangga pun mencium kening putrinya.
"Bye Ayah, love you" ucap Alea kemudian beralih ke Nindy "Bye Kak Nindy" Alea melambaikan tangannya ke arah Nindy yang duduk di bangku belakang kemudian Alea turun dari mobil ayahnya dan masuk ke sekolah.
Melihat kedekatan antara Rangga dan Alea membuat Nindy iri dan teringat akan Ayahnya yang tak pernah melakukan hal itu kepada dirinya.
__ADS_1
"NINDYRAAAAA!!!" bentak Rangga, sudah ketiga kalinya Rangga memanggil Nindy, namun Nindy hanya bengong.
"I-iya Pak Rangga"
"Pagi-pagi malah bengong, ayo cepat pindah ke depan, aku bukan supirmu!!!" ucap Rangga.
"Ba-baik Pak" Nindy pun bergegas keluar dari mobil Rangga dan berpindah tempat menjadi duduk di samping Rangga.
Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara lagu dari mobil Rangga, tidak ada percakapan di antara keduanya, sampai Rangga menepikan kendaraannya di depan kampus Nindy.
"Terima kasih banyak Pak Rangga" Nindy keluar dari mobil Rangga, kemudian ia masuk ke dalam kampusnya.
Setelah mengantar Alea dan Nindy, barulah Rangga berangkat ke kantor. Di parkiran kantornya Rangga membuka hadiah yang di berikan oleh Nindy.
"Bagus juga seleranya" Rangga mengganti dasinya dengan dasi pemberian Nindy, setelah rapih Rangga pun masuk ke kantornya dengan membawa bekal buatan Nindy.
Rangga membuka email di laptopnya, dari sekian banyak email yang masuk Rangga tertarik membuka email tagihan kartu kredit yang masuk ke emailnya terlebih dahulu.
Rangga mencari transaksi di tanggal Alea pergi bersama Nindy ke pacific place, ternyata tidak ada satu pun transaksi pada tangga tersebut, Rangga memastikannya dengan menelepon customer service bank, pihak bank membenarkan jika memang tidak ada transaksi apa pun di tanggal tersebut.
'Jadi ternyata nindy tidak menggunakan credit card yang aku berikan' gumam Rangga.
Tok.. Tok.. Tok..
Edwar masuk ke ruangan Rangga, setelah ia mengetuk pintu ruangan Rangga.
"Bagaimana kondisi Om Rio?" tanya Edwar.
"Operasinya berjalan dengan lancar, beberpa hari lagi Ayah sudah bisa kembali pulang."
"Ngga, kamu masih ingat beberapa tahun lalu kita pernah ada project kerja sama dengan Pak Setiadji? Mengapa kita tidak coba untuk kembali menjalin kerjasama dengan beliau?" Edwar mencoba memberikan masukan untuk Rangga.
"Sujatmiko Setiadji, maksudmu?"
"Iya benar. Kita tidak bisa hanya menunggu proses hukum yang berjalan sementara harga saham kita terus merosot akibat masalah ini"
'Itukan Papinya Nindy' gumam Rangga dalam hati, Rangga berfikir sejenak sampai pada akhirnya ia menyetujui ide yang di berikan oleh Edwar.
"Ya sudah, hubungi kembali pihak perusahaan Pak Setiadji buat penawaran kontrak kerjasama dengannya, bila perlu suruh manager project kita datang ke Surabaya untuk menemuinya agar bernegosiasi secara langsung!!" ucap Rangga.
Setelah mendapat persetujuan dari Rangga, Edwar keluar dari ruangan Rangga untuk mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Rangga.
__ADS_1