ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 26


__ADS_3

Tiba di kantor Pak Setiadji, Rangga di sambut oleh sekertaris Pak Setiadji yang bernama Amanda.


"Silahkan masuk Pak Rangga, Pak Setiadji sudah menunggu Pakk Rangga di dalam" Amanda membukakan pintu ruang kerja Pak Setiadji.


"Terima kasih" Rangga pun masuk ke dalam.


Rangga tak begitu canggung karena sebelumnya Rangga pernah beberapa kali bertemu dengan Pak Setiadji.


"Apa kabar Pak Setiadji?" Rangga menyalaminya, kemudian duduk setelah ia di persilahkkan untuk duduk.


Setelah basa basi sebentar, Rangga menjelaskan maksud kedatangannya dengan singkat karena beberapa hari sebelumnya Edwar sudah mengirimkan permohonan kontrak kerja samannya via email tentu Pak Setiadji sudah paham dengan ke datangan Rangga ke kantornya.


"Aku tidak keberatan dengan kontrak kerja sama yang di tawarkan oleh Pak Rangga, bahkan aku ada niatan untuk melakukan merger (penggabungan dua perseroan atau lebih). Tapi aku punya satu syarat" ucap Pak Setiadji dengan tenang.


"Apa itu Pak?" tanya Rangga penasaran.


"Menikahlah dengan putriku Nindy"


Rangga terkejut dengan pernyataan Pak Setiadji "Nindy?" tanya Rangga bingung, karena baru saja Rangga ingin membahas tentang Nindy kepada Pak Setiadji, namun Pak Setiadji membahasnya terlebih dahulu.


"Bukankah hubungan kalian sudah sangat dekat, bahkan beberapa kali aku mendapat laporan jika putriku menginap di rumah Pak Rangga dan sekarang ia juga tinggal di apartement Pak Rangga."


"Maaf sepertinya Pak Setiadji sudah salah paham, Nindy adalah guru les privat putriku sehingga Nindy sering ke rumahku. Lagi pula Nindy masih kuliah dan usia kita terpaut sangat jauh" Rangga mulai paham, ternyata selama ini Pak Setiadji diam-diam mengawasi Nindy.


"Kalian bisa menikah setelah Nindy lulus kuliah, untuk saat ini cukup bertunangan terlebih dahulu untuk mengikat hubungan kalian" ucap Pak Setiadji.


"Bagi saya pernikahan adalah sebuah komitment yang sakral, yang sebaiknya tidak melibatkan urusan pekerjaan." ucap Rangga dengan tegas, ia merapihkan kembali dokumen-dokumennya karena ia sudah tak berminat dengan kerja sama tersebut.


"Aku beri waktu satu minggu untuk Pak Rangga berfikir."


Rangga hanya menghembuskan nafasnya, ia tidak habis pikir jika Pak Setiadji mengkaitkan urusan bisnis dengan urusan pribadi.


"Pak Setiadji, tolong izinkan Nindy bertemu dengan ibu dan kakaknya" pinta Rangga.

__ADS_1


"Tentu saja, Pak Rangga bisa mengantar Nindy ke rumah sakit Adi Husada Cancer Center (AHCC). Saat ini Nindy bersama Pak Rangga kan?" tanya Pak Setiadji sambil tersenyum.


Rangga menggukan kepalanya, kemudian ia pamit meninggalkan kantor pak setiadji.


Setelah meninggalkan kantor pak setiadji, rangga kembali ke hotel. Dalam perjalanan ke hotel Rangga mengirimkan pesan kepada Nindy agar ia bersiap untuk betemu dengan Ibundanya.


Rangga yang tak melihat Nindy di lobby hotel akhirnya masuk ke dalam hotel, Rangga mengetuk pintu kamar hotel Nindy dengan kencang, tak lama kemudian Nindy membukannya.


"Mengapa dari tadi belum siap?" tanya Rangga dengan kesal karena melihat rambut Nindy yang masih basah dan berantakan.


"Sebentar lagi Pak Rangga" ucap Nindy dengan memelas.


"Ya sudah kalo begitu aku tunggu di bawah"


Nindy memegang tangan Rangga dan menahannya untuk tidak pergi.


"Pak Rangga tidak ganti baju? kan setelah ini Pak Rangga mau ke Singapore."


"Aku sudah membelikan baju untuk Pak Rangga, tadi aku ke mall yang berada di lantai tiga, semoga sesuai dengan selera Pak Rangga."


Rangga membalikan tubuhnya, namun lagi-lagi Nindy menahannya.


"Pak Rangga mau ke mana?"


"Aku mau chek in kamar hotel satu lagi."


"Tidak perlu Pak Rangga, aku sudah selesai kok hanya tinggal mengeringkan rambut lalu aku akan menunggu Pak Rangga di bawah."


Rangga dan Nindy pun masuk dalam kamar hotel, Nindy mengambilkan handuk dan menyiapkan pakaian untuk Rangga.


Selagi Rangga mandi, Nindy mengeringkan rambutnya. Setelah siap, Nindy membuatkan Rangga teh hangat, belum sempat Nindy keluar dari kamar, Rangga keluar dari kamar mandi.


Lagi-lagi Nindy di buat terpesona melihat tubuh sixpack Rangga yang hanya berbalut handuk di pinggangnya 'Sama sekali tak terlihat 43 tahun' batin Nindy.

__ADS_1


"Mengapa kamu belum juga keluar?" bentak Rangga.


"I-ia maaf Pak Rangga" Nindy bergegas keluar dari kamar hotel.


Tiga puluh menit Nindy menunggu Rangga di lobby hotel, Rangga pun akhirnya datang.


Rangga mengantar Nindy ke rumah sakit Adi Husada Cancer Center (AHCC), dalam perjalanan menuju rumah sakit Nindy masih tidak percaya jika Papinya telah membolehkannya menemui Mami dan Kakanya.


"Pak Rangga tidak berbohong padakukan?" tanya Nindy.


"Untuk apa aku berbohong?" jawab Rangga dingin.


"Kapan Pak Rangga bertemu dengan Papiku? dan mengapa bisa semudah itu Papiku mengijinkannya padahal aku saja yang anaknya sulit sekali?"


"Berhentilah mengoceh sebelum aku berubah pikiran!!!" bentak Rangga, ia sangat malas menjawab pertanyaan - pertanyaan Nindy.


Nindy yang tak punya pilihan lain selain diam dan berhenti bertanya kepada Rangga 'galak sekali' batinnya melirik ke arah Rangga.


Sesampainya di rumah sakit, Rangga menuju Receptionist rumah sakit untuk menanyakan kamar rawat inap Ibunda Nindy.


Setelah mendapatkan informasi dengan jelas, Rangga dan Nindy pun bergegas menuju ruang rawat inap tersebut. Nindy tampak ragu saat hendak membuka pintu.


"Masuklah!!" Rangga membukakan pintu untuk Nindy.


Perlahan Nindy pun masuk ke dalam ruangan, begitu melihat Ibundanya terbaring lemah Nindy berhambur menangis di pelukan Mamihnya, Kakak kandung Nindy yang kebetulan sedang berada di sana pun ikut memeluk Nindy.


Rangga yang tidak ingin mengganggu suasa haru antara Nindy dan keluarnya menutup pintu kamar, kemudian Rangga pergi meninggalkan rumah sakit dan juga meninggalkan kota surabaya.


^^^Rangga:^^^


^^^Hutangku sudah lunas, saatnya aku pergi ke Singapore.^^^


Setelah mengirimkan pesan kepada Nindy, Rangga terbang menuju Jakarta untuk menjemput putrinya, setelah itu barulan Rangga dan Alea pergi ke Singapore untuk menjemput kedua orang tuanya di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2