ALINEA

ALINEA
Chapter 42 : Diagnosa Dokter


__ADS_3

Satu bulan setelah Edwar dan Elena telah resmi menikah, Tyshia mendapat kabar jika Elena tengah mengandung.


Tyshia menghentikan sarapan paginya saat ia melihat postingan Elena sedang memamerkan hasil tes pack nya di sosial media.


"Are you okay baby?" tanya Rangga, ia melihat perubahan raut wajah istrinya yang tiba-tiba saja berubah menjadi murung.


"Ya, aku hanya sedang melihat postingan majalah tempat ku bekerja" ucap Tyshia, tentu saja Tangga tidak mempercayai ucapan istrinya begitu saja, ia merebut handphone dari tangan istrinya.


Rangga menaruh kembali handphone tersebut setelah ia melihat penyebab perubahan raut wajah istrinya.


"Jika hari ini usulan penelitianku ini disahkan, aku akan segera ujian tesis. Mohon bersabarlah Byy, aku janji padamu setelah ini kita akan berlibur sambil program kehamilan. Pookoknya aku akan planing semuanya dengan matang, aku janji!!" Rangga menatap mata Tyshia sambil menggengam tangannya.


Tyshia tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.


"Terima kasih ya sayang. Please jangan sedih lagi, nanti kita usaha sama-sama" Rangga membawa Tyshia ke dalam pelukannya.


"Aku sangat mencintaimu sayang" bisik Rangga sambil mencium kepala Tushia.


Usai sarpan keduanya turun ke parkiran untuk berangkat ke kantor masing-masing,


"Byy hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut" Rangga mencium semua bagian wajah istrinya, begitu pun sebaliknya.


'Kamu juga hati-hati ya byy" Tyshia merapihkan pakaian Rangga kemudian mencium tangan suaminya, barulah ia masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil istrinya sudah tak terlihat barulah Rangga, masuk ke dalam mobilnya dan bergegas menuju kampusnya.



Tiba di kantor tyshia merasakn nyeri di bagian perutnya, namun ia mencoba menahannya karena ia harus menghadiri meeting paginya.


Seusai meeting nyeri pada perut Tyshia semakin tak tertahankan, akhirnya Tyshia meminta ijin untuk pulang lebih awal. Tyshia pergi ke dokter kandungan tanpa memberitahu Rangga, dengan gugup Tyshia mulai mendaftar kemudian mengantri menunggu panggilan pemeriksaan.


Begitu namanya di panggil, dengan langkah ragu-ragu Tyshia masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Tyshia menceritakan semua keluhan yang ia rasakan selama ini kepada dokter yang memeriksanya, kemudian Tyshia mulai di periksa pemeriksaan fisik dan USG.


Dokter menyarankan Tyshia untuk melakukan pemeriksaan penunjang untuk mendukung hasil akhir pemeriksaannya berupa magnetic resonance imaging (MRI), Tyshia pun setuju untuk mengikuti serangkaian pemeriksaan tambahan.


Setelah dirinya melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosa Tyshia terkena miom dan menganjurkannya untuk segera melakukan operasi.


'Operasi??' gumamnya, Tyshia benar-benar syok mendengar diagnosa yang dokter sampaikan padanya.


Tyshia memberanikan diri untuk bertanya kepada dokter apakah setelah selesai di operasi dirinya akan tetap bisa memiliki keturunan? dokter menjelaskan jika posisi miom Tyshia berada di tengah sehingga dapat menurunkan peluang kehamilan, namun peluang untuk dapat hamil masih tetap ada.


Seketika penglihatan Tyshia menjadi gelap, Tyshia mengumpulkan segenap tenaganya untuk berjalan keluar dari ruangan dokter menuju parkiran mobilnya.


'Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan Kak Rangga keturunan?' pikiran-pikiran buruk mulai hinggap di kepalanya, sepanjang perjalanan air matanya tak hentinya mengalir, ia sangat takut jika Rangga akan meninggalkannya.


Begitu tiba di apartement ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, ia mengis sejadi-jadinya sambil memeluk guling dengan erat.


"Apa yang harus aku katakan pada kak rangga? Aku takut... hiks..." Lama ia menangis membuat Tyshia tertidur hingga tak menyadari kepulangan suaminya.


Rangga merasa heran karena ia belum pernah melihat istrinya tertidur dengan memakai pakaian kantor, ia sangat mengenal istrinya yang selalu menjaga kerapihan dan kebersihan.


Rangga mengelus kepala Tyshia dengan lembut, saat Rangga meraba wajah Tyhia, ia merasa ada sisa-sisa air mata di sudut mata istrinya, Rangga juga melihat mata sembab istrinya.

__ADS_1


"Byy, kamu kenapa?" Rangga mengecup kepala Tyshia.


Tyshia yang baru saja terbangun dari tidurnya sangat terkejut melihat keberadaan Rangga yang sudah berada di hadapannya.


"Byy, are you okay?" tanya Rangga sekali lagi.


"Ma-maaf Byy tadi aku ketiduran, ta-tadi aku habis menonton drama korea jadi aku menangis" ucap Tyshia dengan gugup sambil menghapus air matanya.


Seketika Rangga mengerutkan keningnya, karena selama ini ia tidak pernah melihat istrinya menonton drama korea.


"Sejak kapan kamu menyukai drama korea byy? lalu mengapa kamu tidak mengganti bajumu?"


"Se-sejak teman kerjaku mengajak aku menonton" Tyshia mulai mengarang-ngarang cerita, sambil tersenyum ke arah Rangga agar Rangga tak mengetahui jika dirinya tengah berbohong.


"Ya sudah, jangan sedih lagi ya sayang, itukan hanya drama, aku tak ingin kamu bersedih" Rangga mengelus kepala Tyshia dengan lembut.


"Byy aku baru mendapatkan kabar jika penelitianku sudah di sahkan, yang artinya aku akan segera ujina tesis" ucap Rangga dengan penuh antusias.


"Akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang dan sulit tesisku jadi, ya meskipun harus melalui satu tahap lagi yaitu pengujian, tapi setidaknya bebanku sedikit berkurang. Terima kasih ya sayang untuk kesetiaannya mendampingi dan mensuportku" Rangga mencium tangan Tyshia.


"Selamat ya Byy" Tyshia memeluk suaminya dengan erat.


"Hanya ucapan selamat saja? Mandi bareng yuk" ajak Rangga, Tyshia menganggukan kepalanya.


Rangga membopong tubuh Tyshia ke dalam kamar mandi kemudian ia melepaskan satu persatu pakaian yang Tyshia kenakan, Tyshia pun melakukan hal yang sama, ia melepaskan semua pakaian yang Rangga kenakan.


Di bawah guyuran air shower, Tyshia mencum*ui tubuh suaminya, memberikan beberapa tanda kepemilikan di dada bidang Rangga, tyshia menelusuri wajah Rangga dengan jarinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu byy? ada apa sayang?" tanya Rangga heran, ia membelai wajah Tyshia dengan lembut.


"jawab aku byy" desak Tyshia.


"Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang karena kamu adalah separuh dari jiwaku" ucap Rangga sambil menatap mata Tyshia, ia mendekap erat tubuh polos istrinya kemudian Rangga membuat penyatuan.


Tyshia memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya dengan erat, menahan rasa sakit di bagian perut bawahnya ketika Rangga mempercepat ritmenya.


Tyshia mencoba untuk tersenyum dan berpura-pura menikmati permainan suaminya, ia bernafas lega ketika Rangga mencapai klimaksnya.


Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya, Tyshia kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.


"Byy aku agak lelah, aku istirahat ya" ucap Tyshia sambil menutup tubunya dengan selimut agar Rangga tak melihat tangannya yang memegang perutnya yang terasa sangat sakit.


"Iya sayang, nanti aku pesan makanan kesukaanmu, jika sudah datang aku akan membawanya ke sini" Rangga mengecup kening Tyshia kemudian keluar dari kamarnya, membiarkan istrinya beristirahat.



Tiga hari berlalu, Tyshia masi saja belum mengatakan apapun kepada Rangga, selama ini ia mengkonsumsi obat pereda nyeri, sambil mengumpulkan keberanian untuk mengataknya kepada Rangga.


Getaran di handphone Tyshia membuyarkan lamunannya, Tyshia segera membukanya.


^^^My Baby:^^^


^^^Byy, Nanti malam dinner di luar yuk! kamu mau kan?^^^

__ADS_1


Tyshia:


Iya Byy aku mau


Tyshia berusaha mengerjakan pekerjaannya dengan cepat agar bisa pulang lebih awal sehingga ia bisa mempersiapkan diri untuk dinner bersama suaminya.


Melesat dari perkiraannya ternyata Tyshia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, ia terlambat dua jam dari dari perkiraan.


Begitu keluar kantor Tyshia melihat suaminya sudah menunggunya di depan kantor, Tyshia berlari menghampiri Rangga dan mencium tangannya.


"Kok ke sini byy? aku kan bawa mobil" ucap Tyshia.


"Mobilmu parkir saja di parkiran kontormu, besok pagi aku akan mengantarmu" Rangga membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Sesampainya di depan restaurant Rangga mengambil Ipadnya di kursi belakang mobilnya, ia menitipkan Ipadnya di tas yang Tyshia bawa. Malam itu Rangga dan Tyshia menikmati makan malam romantis yang di iringi oleh lagu-lagu romantis.


Setelah menghabiskan seluruh hidangan yang di pesan, Rangga meminta Ipad yang tadi ia titipkan di tas istrinya.


"Aku sudah buat jadwal untuk bulan madu untuk kita, aku juga sudah menyiapkan tiket dan penginapan. Kita ke paris, kamu mau kan?" Rangga menyerahkan jadwal liburan yang ia buat di dalam Ipadnya kepada Tyshia.


"Tentu saja sayang, aku akan ikut kemana pun suamiku mengajakku" Tyshia tersenyum sambil melihat jadwal bulan madu dirinya dan suaminya.


Sepulangnya dari makan malam romantis Rangga membopong tubuh Tyshia dari parkiran apartemnenya menuju unitnya. Rangga tak perduli dengan banyak orang yang melihat ke arahnya, sesekali ia menciumi istrinya dengan gemas.


"Byy malu turunin aku!!" pinta Tyshia sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Iya nanti jika sudah sampai kamar" goda Rangga.


Rangga benar-benar baru menurunkan istrinya di atas tempat tidur kamarnya, Rangga kembali membuat malam panjangnya bersama istrinya.


"Thanks byy" Rangga membawa istrinya tidur di dalam dekapannya.


Keesokan paginya Rangga di kejutkan dengan hasil USG dan surat hasil pemeriksaan istrinya ke dokter kandungan empat hari yang lalu tanpa sepengetahuannya, Rannga menemukannya saat ia hendak mengambil Ipad miliknya di dalam tas Tyshia.


Rangga bergegas menuju dapur menemui istrinya yang sedang membuatkan sarapan.


"Alinea, bisa tolong kamu jelaskan apa maksud dari semua ini?" Rangga menyodorkan hasil USG dan hasil pemeriksaan kandungan Tyshia.


Wajah Tyshia berubah menjadi pucat pasi melihat suaminya telah mengetahui semuanya, padahal ia berencana ingin membicarakannya dengan situasi yang tenang.


"Byy maafin aku, aku tidak bermaksud untuk menutupinya dari mu. Aku takut kamu akan meninggalkanku, jika aku tidak bisa memberikanmu keturunan?" Tyshia menundukan kepalanya.


"Astaghfirullahaladzim Alinea, yang harusnya kamu fikirkan itu diri kamu sendiri, kesahatan kamu, keselamatan kamu, bukan aku byy" Rangga mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sekarang kamu mandi dan bersiap-siap!!" Rangga pergi ke kamarnya, ia menyiapkan semua baju-baju istrinya dan perlengkapan lainnya untuk selama Tyshia di rawat nanti di rumah sakit.


"Byy..." Tyshia mengejar suaminya.


"Mandi!! Aku tunggu di depan" ucap Rangga dengan tegas,


Tyshia pun menuruti perintah suaminya, ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk ma di dan bersiap-siap.


Selagi Tyshia bersiap-siap Rangga memasukan semua makanan yang tadi Tyshia buat kedalam tempat makan agar istrinya bisa sarapan di jalan.

__ADS_1


__ADS_2