ALINEA

ALINEA
Chapter 45 : Pengganggu


__ADS_3

Satu bulan kemudian Tyshia mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari Bundanya, Ana mengabarkan jika Rai akan segera melangsungkan pernikahan.


"Byy... byy... Sayang" beberapa kali Rangga memanggil istrinya, namun Tyshia tak menjawab panggilan Rangga.


Karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya, Rangga pun menghampiri Tyshia di dalam kamar.


"Byy, sarapan yuk..." Rangga menghentikan kalimatnya, melihat istrinya sedang menangis di dalam kamar.


"Byy, kamu kenapa pagi-pagi menangis? Ada masalah apa sayang?" tanya Rangga panik sambil mengelus rambut istrinya.


"Tuhan tidak adil, Tuhan jahat dengan kita Byy... huuu..." Tyshia menangis sambil memeluk Rangga .


"Maksudmu apa sayang?" Rangga belum menegrti apa yang istrinya bicarakan.


"Minggu depan Rai akan menikah hiks..."


"Lalu?" tanya Rangga sambil menyeka air mata istrinya dengan jarinya.


"Iya menikah karena telah menghamili seorang gadis hiiks.." jawab Tyshia sambil sesegukan menahan tangisnya.


"Lalu apa hubungannya dengan kalimatmu yang mengatakan jika Tuhan jahat dengan kita?


"Byy... kita menikah resmi kenapa kita belum di berikan keturunan, sedangkan Rai yang berzina dengan mudahnya Tuhan berikan keturunan kepada mereka, itu kan namanya tidak adil byy huuuu..." Tyshia kembali menangis di pelukan suaminya.


"Sayang tidak boleh bicara seperti itu, Allah itu sayang banget dengan kita. Allah ingin kita menjadi orang yang lebih sabar dan lebih dekat dengannya. Percayalah Allah akan memberikan di waktu yang tepat, jadi kamu tidak perlu iri dengan orang lain" Rangga membawa Tyshia kedalam pelukannya.


"Byy, aku bersyukur sekali kita bisa bertemu lagi denganmu dan menikahimu, padahal tadinya aku pikir aku sudah kehilanganmu, bukankah itu tanda jika Allah sangat menyayangi kita?" bisik Rangga.


"Please jangan berbicara seperti itu lagi ya sayang, Allah sangat baik sekali padaku karena telah memberikan kamu sebagai pendamping hidupku, kamu anugerah terindah yang Allah berikan padaku" Rangga mengecup kening Tyshia.


Tyshia menganggukan kepalanya, kemudian mengelap sisa air matanya.


"Kamu lanjutin lagi ya pakai bajunya, atau mau aku pakein?" goda Rangga.


"Byy..." Tyshia memukul tangan Rangga.


"Ya sudah aku tunggu di meja makan ya" Rangga kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya.


Setelah Tyshia selesai mengenakan pakaiannya dan make up, Tyshia menghampiri Rangga di meja makan untuk sarapan bersama rangga.


"Jadi kapan Rai mau menikah?" tanya Rangga.


"Minggu depan"

__ADS_1


"Minggu depan aku wisuda, kamu mau pulang ke Indonesia atau menemaniku datang ke wisudaku"


"Tentu saja aku mau menemani suamiku wisuda, nanti aku akan memberi tahu Bunda jika kita tidak datang"


Rangga menganggukan kepalanya, kemudian Rangga mengantar istrinya ke kantor. sejak Rangga di angkat menjadi manager di kantornya dan Ragga telah menyelesaikan pendidikan S2nya, Rangga jadi memiliki sedikit waktu luang untuk mengantar dan menjemput istrinya.


"Have a good day, honey" Rangga mengecup kening, kedua pipi dan bibir istrinya ketika ia telah menepikan mobilnya di depan kantor Tyshia.


"Have a good day too" Tyshia mencium tangan Rangga dan mencium kedua pipi Rangga, kemudian ia membuka pintu mobil Rangga namun belum sempat ia membukanya Rangga sudah menariknya kembali.


"Love you" Rangga kembali mengecup bibir istrinya.


"Love you too sayang, aku masuk dulu ya"


Setelah melihat istrinya masuk ke dalam kantor, Rangga bergegas menuju kantornya.


Morning routine yang Rangga kerjakan di kantornya sebelum mulai bekerja, ia selalu mengadakan briefing bersama dengan para staffnya termasuk Edwar.


"Don’t limit your challenges, challenge your limits" tutup Rangga dalam briefingnya pagi itu, ia selalu menyisipkan motivasi di akhir briefing paginya untuk menambah semangat timnya.


Setelah briefing Rangga masuk ke dalam ruangannya, ia tersenyum saat melihat handphone di meja kerjanya menyala, ia menduga jika istrinya mengirimkan chat kepada dirinya, namun sayangnya chat tersebut bukanlah dari istrinya melainkan dari Stela.



Rangga mengabaikan pesan dari Stela, ia kembali fokus dengan pekerjaan yang harus di selesaikannya.


"Siapa byy?" tanya Tyshia.


"Marketing apartement, aku berniat kita pindah unit ke tempat yang lebih besar. menurutmu lebih baik rumah atau apartement?" Rangga terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat istrinya cemburu dan salah paham, lagi pula ia merasa tidak pernah membalas dan meladeni chat dari Stela.


"Apartement saja byy, aku lebih nyaman tinggal di apartement"


"Baiklah sayang, nanti aku akan carikan unit apartement nyaman untuk kita tinggal"


"Iya sayang. Oh ia baju untuk wisudamu besok ya, tadi aku sudah cek masih ada yang kurang pas"


"Iya sayang, terima kasih banyak ya" ucap Rangga sambil mengelus lengan istrinya "Sudah malam, tidur yuk!!" Rangga mengajak istrinya untuk tidur, ia membawa Tyshia kedalam pelukan hangatnya.


"Good night baby" bisik Rangga, ia mengecup kepala Tyshia yang telah tertidur lelap dalam dekapannya.


Pukul 02.00 dini hari tyshia terbangun oleh suara getar dari handphone Rangga yang berada di meja kamarnya.


'Siapa malam-malam begini menelepon suamiku,mengganggu saja' gumam Tyshia dengan kesal.

__ADS_1


Sambil menguap dan dengan langkah yang belum stabil Tyshia menghampiri meja belajar suaminya untuk mengambil handphone suaminya yang terus bergetar.


Tyshia terkejut ada panggilan masuk dari Stela.


'Stela, ada keperluan apa ia menghubungi suamiku?' gumam Tyshia, rasa penasarannya memuncak sehingga ia segera mengangkat telepon dari Stela.


"HALO" ucap Tyshia dengan ketus.


"Eh kok Kak Tyshia yang mengangkat telephonenya, Mas Rangganya mana kak?" tanya Stela dengan santainya.


"ADA KEPERLUAN APA KAMU MENELEPON SUAMIKU?" Tyshia semakin ketus terhadap Stela.


"Kak Tyshia, aku itu berniat baik loh. Aku bersedia kok menjadi istri kedua Mas Rangga, agar Mas Rangga memiliki keturunan" dengan nada setengah mengejek Tyshia.


"STELA JAGA UCAPANMU!! LANCANG SEKALI KAMU BERBICARA SEPERTI DENGANKU" amarah Tyshia semakin tak terbendung lagi mendengar ucapan adik sepupunya.


"Kak Tyshia harus bisa menerima kenyataan jika rahim Kak Tyshia abnormal, Kak Tyshia tidak bisa egois hanya memikirkan diri Kak Tyshia sendiri. Toh dalam agama sah-sah saja jika pria menikahi dua atau bahkan 4 orang wanita."


"DENGARKAN AKU BAIK-BAIK, SUAMIKU HANYA AKAN MENJADI MILIKKU SEORANG. JADI KAMU JANGAN PERNAH BERMIMPI UNTUK MEMILIKINYA, MENGERTI!!!" Tyshia mematikan teleponnya kemudian memblokir nomor Stela dari handphone suaminya, Tyshia membaca semua chat dari Stela yang belum di hapus oleh Rangga.


Rangga memeluk Tyshia dari belakang ia mendengar semua percakapan antara istrinya dengan Stela.


"Byy, sumpah demi Allah aku tidak ada apa-apa dengan Stela, aku bahkan tidak pernah membalas atau mengangakat telepon darinya. Aku hanya mencintaimu sayang" Rangga tak ingin Tyshia salah paham terhadap dirinya.


"Byy, ada apa dengan rahimku? kenapa kamu tidak cerita kepadaku huuu..." Tyshia menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Rangga membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya.


"Byy kita sudah menyusun jadwal program kehamilan, setelah kita liburan. Tadinya aku pikir aku akan bicarakan masalah ini nanti saja, agar tidak mengganggu liburan kita. Tapi baiklah, akan aku jelasin semuanya sama kamu sekarang" Rangga berhenti sejenak, ia menghela nafasnya.


"Kamu mengalami kelainan bentuk rahim septate uterus, tapi itu bisa di sembuhkan dengan operasi Byy, kamu tidak perlu khawatir, peluang kamu untuk hamil pun masih ada"


"Ke-kelainan?? berarti peluangku untuk hamil semakin berkurang?" ucap Tyshia dengan terbata-bata, ia menahan tangisnya.


"Masih ada peluang byy, percayalah padaku aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu" Rangga kembali membawa Tyshia ke dalam pelukannya.


"Kita jalanin semuanya sama-sama byy" bisik Rangga "Pelase jangan sedih lagi sayang, aku akan terus berada di sisimu" ucap Rangga sambil merangkum wajah istrinya, ia terus menenangkan hati Tyshia agar tidak bersedih dan putus asa.


Setelah Tyshia mulai tenang, Rangga menghapus air mata Tyshia yang jatuh di pipinya.


"Ngomong-ngomong aku seneng deh melihatmu cemburu" ucap Rangga, Tyshia mencubit pinggang suaminya dengan kencang "Awww..."


"Aku benar-benar sedih kamu malah senang" ucap Tyshia sambil cemberut, kemudian Tyshia merebahkan kembali tubuhnya ke kasur.

__ADS_1


Rangga juga merebahkan tubuhnya di samping Tyshia sambil memeluknya


"I'm yours, baby." bisik Rangga, Tyshia tersenyum kemudian memejamkan matanya.


__ADS_2