ALINEA

ALINEA
Chapter 17 : Kedatangan Rio dan Ana


__ADS_3

Di hari libur kerja, Rangga mengajak Tyshia ke taman untuk menemaninya membuat proposal skripsinya.


"Byy kamu kuliah di mana dan jurusan apa? kenapa kamu tidak pernah cerita kepadaku?" tanya Rangga sambil mengetik proposal skripsi di laptopnya.


Tak ingin membahas mengenai hal tersebut, Tyshia mengalihkan pembicaraan Rangga, kemudian ia pergi meninggalkan Rangga.


"Aku ingin ice cream, aku beli dulu sebentar ya" Tyshia meninggalkan Rangga untuk membeli ice cream.


Tak lama Tyshia kembali dengan membawa sebuah ice cream rasa vanila kesukaannya. Sebelum Rangga bertanya "Mengapa beli ice creamnya hanya satu?" Tyshia menyuapi Rangga dengan ice cream yang ia beli.


"Byy tolong bacain yang sudah aku garis bawahi dong" Rangga memberikan bukunya kepada Tyshia.


'Membacanya saja sudah membuatku pusing' gumam Tyshia melihat rumus-rumus kimia pada buku yang di berikan oleh Rangga.


Baru dua halaman Tyshia membacakannya, tyshia berhenti sejenak. ia melihat banyak orang-orang di sekelilingnya berpacaran secara bebas, mereka tidak canggung untuk berciuman dan berpelukan di depan umum.


"Hei, aku tidak ingin mencicil seperti mereka" ucap Rangga.


"Maksud Kak Rangga?" tanya Tyshia.


"Aku mau paket lengkap pada saat kita sampai di tujuan kita, sekarang kita fokus saja dengan jalan tujuan kita" ucap Rangga.


"The full package?" Tyshia masih belum mengerti dengan ucapan Rangga.


"Ia semuanya yang ada di dirimu dari atas kepala hingga ujung kaki, tidak hanya sekedar memelukmu atau menciummu, tapi memilikimu seutuhnya dalam sebuah pernikahan yang sah" terang Rangga


Mendengar pernyataan Rangga, Tyshia semakin yakin memberikan hatinya untuk Rangga dan menjalani hubungannya dengan Rangga. Entah sehebat atau tidak dari Ayahnya yang jelas Rangga pria yang cerdas, pekerja keras, bertanggung jawab dan Tyshia sudah benar-benar jatuh hati pada Rangga.


Tyshia kembali membacakan buku Rangga hingga proposal skripsi Rangga selesai.


"Thanks ya byy, proposal ini besok mau aku ajukan. Jika tidak ada revisi maju ke tahap selanjutnya skripsi, doain aku ya" pinta Rangga.


Tyshia menganggukan kepalanya, ia sangat senang bisa selalu membantu pria yang telah membuatnya jatuh hati.


"Sudah sore, pulang yuk!!" Rangga mengantar Tyshia kembali ke flatnya.



Keesokan harinya Rio dan ana tiba di New York, mereka langsung menuju ke restoran Jepang tempat putrinya bekerja. Tiba di restoran Rio tidak melihat sosok putrinya dan juga sosok Rangga.


Meskipun Rio hanya mengetahui Rangga hanya lewat foto-foto yang di kirimkan oleh supirnya Tyshia, Rio hafal dengan jelas wajah Rangga.


"Sayang aku ke toilet dulu ya" ucap Rio.


Saat mendekat ke arah toilet, secara tak sengaja Rio mendengar suara yang tak asing di telinganya, suara Tyshia. Ia lebih mendekat ke arah suara putrinya, Rio melihat anaknya sedang meminta apron milik Rangga.

__ADS_1


"Byy, you first complete the revision of your proposal. Let me replace you." Ucap tyshia sambil memakai apron milik rangga


*Byy, kamu selesaikan saja dulu revisi proposalmu, biar aku yang menggantikanmu.


"Byy terima kasih ya, maaf aku selalu merepotkanmu" Rangga memegang tangan Tyshia


"It's okay byy." Tyshia mengelus pundak Rangga dengan lembut, kemudian ia membalikan badannya melangkah menuju ke depan restoran.


Dengan refleks Rio segera bersembunyi di balik lemari, ia tidak ingin putrinya mengetahui jika dirinya sedang mengintipnya.


Begitu tiba di depan, Tyshia melihat sosok bundanya.


'Oh my god, sejak kapan orang tuaku berada di New York' gumam Tyshia.


"Don't you want to take our food orders?" ucap Rio dari belakang tubuh putrinya.


*Apa kamu tidak ingin mencatat pesanan makanan kami?


"A-ayah" Seketika Tyshia membalikan tubuhnya, wajahnya berubah menjadi pucat melihat sosok Ayahnya sudah ada di hadapannya.


Rio berjalan menuju meja tempat istrinya duduk, membiarkan putrinya yang masih syok karena kedatangannya.


Mau tidak mau Tyshia menghampiri meja orang tuanya, karena teman kerjanya sudah menegurnya.


Rio bangga melihat putrinya menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab, Rio menggengam tangan istrinya.


"Percayalah padaku ini tidak akan lama, aku akan berbuat sesuatu untuk anak kita." ucap Rio.


Tak lama kemudian rangga mengantar semua pesanan orang tua tyshia, ana menyapa Rangga.


"Apa kabar Rangga? apa kamu masih ingat dengan saya?" tanya Ana.


Rangga berfikir sejenak mengingat-ingat wajah Ana


"Iya nyonya, saya ingat" jawab Rangga.


"Rangga jangan lupa ya dengan kartu nama yang saya berikan" ucap Ana.


"Tentu saja nyonya, silahkan menikmati makanannya. Saya permisi dahulu." Rangga meninggalkan meja Ana dan Rio


"Kartu nama? kamu kenal dengan dia?" tanya Rio penasaran.


"Iya, aku pernah makan di sini. Waktu itu aku memberikan kartu namamu padanya, jika dia sudah lulus aku harap dia menghubungimu. Aku ingin dia bergabung di perusahaan kita. Aku lihat dia orang yang pekerja keras, cerdas, sopan, dan ramah"


"Berhenti memuji pria lain di depan suamimu" ucap Rio cemburu.

__ADS_1


"Apa suamiku tersayang ini sedang cemburu?" tanya Ana dengan tatapan menggoda.


"Sudah, habiskan saja makananya" Rio mengalihkan pembicaraan.


Selesai makan Rio dan Ana kembali ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari restoran tempat putrinya bekerja, mereka menunggu putrinya hingga putrinya pulang kerja.


Setelah beberpa jam menunggu Rio melihat putrinya keluar dari restoran, ia ingin menghampiri putrinya namun ia melihat Rangga berada di belakang putrinya.


Keduanya berjalan menuju halte bis, Rio melihat bagaimana Rangga melindungi putrinya ketika ada seorang pria yang tak sengaja hampir menyentuh Tyshia, dengan cepat Rangga berdiri di depan Tyshia.


"Jadi pria yang kamu maksud kemarin adalah Rangga? jika memang dia, aku sih yes" ucap Ana.


"Kita masih belum tahu Rangga seperti apa orangnya" ucap Rio dengan sinis, ia benar-benar trauma dengan kejadian Nichone.


Rio meminta supirnya untuk mengikuti bis yang di naiki oleh putrinya, sampai tiba di depan flat Tyshia, Rio dan Ana melihat Rangga sedang berpamitan pulang kepada Tyshia.


"Haha... Rangga tidak segenit dirimu" ucap Ana.


"Aku tidak genit, kenapa membandingkannya dengan aku?" tanya Rio kesal.


"Kamu masih ingat waktu Ibu sakit? kamu memelukku di koridor rumah sakit hingga semua orang-orang melihat ke arah kita"


"Sudahlah, itu sudah berlalu."


Keduanya menghampiri putrinya masuk kedalam flat saat Rangga sudah pergi, mereka melihat flat yang sederhana dan cukup nyaman untuk di tempati satu orang.


Tyshia memeluk dan mencium Ayah dan Bundanya secara bergantian.


"Maafin Tyshia ya Ayah, Bunda" ucap Tyshia dengan penuh rasa bersalah.


"We are proud of you sweety" Ana mencium putrinya


"Jadi itu kekasih hatimu yang sudah menggeser posisi Ayah di hatimu" sambung Rio


"Ayah, we are just friend" ucap Tyshia.


"Teman? sudah memanggil baby masih kamu anggap teman. Ayahkan pernah bilang bukan tidak boleh berpacaran, boleh tapi dengan orang yang tepat."


"Jadi jika dengan Kak rangga boleh....? tapi Kak Rangga tidak mau berpacaran. Kemarin dia bilang berkomitment saja dengan tujuan menikah"


"Pria seperti itu justru lebih bertanggung jawab, jaga terus hubungan lertemanan kalian dengan baik!" ucap Ana.


Tyshia merasa lega karena Ayah dan Bunda tidak marah dengan keputusan dirinya, bahkan secara terang-terangan Bundanya mendukung hubungannya dengan Rangga.


Tyshia meminta Ayah dan Bundanya untuk kembali ke apartementnya namun kedua orang tuanya tidak mau, mereka berdua ingin menginap di flat putrinya.

__ADS_1


__ADS_2