
Seminggu sudah Rio dan Ana berada di New York, sebelum kembali ke Indonesia Ana mengisi flat putrinya dengan berbagai macam perabotan hingga berbagai macam makanan.
Ana juga menyuruh ART apartementnya untuk setiap pagi membersihkan flat milik putrinya, awalnya Tyshia menolaknya namun Ana tetap mengotot hingga mengancam Tyshia tidak akan mengijinkannya tinggal di flat.
"Mengapa sekarang putri kita sepertinya sangat senang ketika kita pulang?" tanya Rio.
"Karena sudah ada Rangga yang menggantikan posisimu hahaha..." ucap Ana.
"Mengapa akhir-akhir ini kamu sangat menyebalkan?" tanya Rio dengan kesal.
Ana memilih untuk tidur di dalam pesawat dari pada meladenin pertanyaan suaminya yang tidak masuk akal baginya.
Menjelang sidang proposal skripsi, Rangga mulai jarang masuk kerja ia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan atau di lab kampusnya, namun Rangga tetap berusaha menyempatkan dirinya untuk menjemput Tyshia pulang kerja, memastikan Tyshia pulang dengan selamat.
"Byy maaf ya akhir-akhir ini aku sangat sibuk, aku banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan dan lab kampus" ucap Rangga.
"Tidak apa-apa byy, aku harap kamu bisa segera menyelesaikan skripsimu" ucap Tyshia.
"Tapu besok aku usahain masuk kerja"
"Really?" tanya Tyshia.
"Iya byy, Ayo masuk!!" Rangga mempersilahkan Tyshia untuk masuk ke flatnya. setelah memastikan Tyshia masuk barulah dirinya pulang.
Keesokan harinya Rangga benar-benar menepati janjinya, ia tetap ke restoran meskipun ia datang terlambat.
"Byy kamu makan dulu, kamu pasti belum makan siang. Biar aku yang menggantikanmu" Tyshia menyerahkan kotak makannya kepada rangga.
"Byy kamu baik banget sama aku, terima kasih ya" Rangga menatap Tyshia dalam-dalam, ia merasa beruntung bisa kenal dan dekat dengan wanita sebaik dan selembut Tyshia, kelembutan hati Tyshia selalu mengingatkannya akan Alm.Ibundanya tercinta.
"Sama-sama sayang" Tyshia kembali ke depan menggantikan pekerjaan Rangga.
Menjelang pulang kerja Tyshia masih di belakang menyusun piring-piring yang telah ia bersihkan dan ia keringkan, sedangkan Rangga dan pegawai lainnya di depan membereskan kursi, mengelap meja serta mengepel lantai.
Di tengah kesibukan Tyshia, tiba-tiba pemilik restoran menghampiri Tyshia yang sedang sendirian, ia mencoba untuk menggoda dan memegang tangan Tyshia.
"Pelease don't touch me, sir" ucap Tyshia dengan sopan, sambil menyingkirkan tangan pemilik restoran tempatnya bekerja.
Namun pemilik restoran tidak menghentikan perbuatannya, ia masih terus menggoda Tyshia dan memegang tangan Tyshia, Tyshia terus menepisnya kemudian melangkah menjauh darinya
"Come on baby, Just a minute." Pemilik restoran tersebut semakin mendekat ke arah Tyshia.
Tyshia mundur hingga mentok ke tembok tak ada lagi ruang untuknya untuk menghindar "Please stop, sir!!!" ucap Tyshia dengan nada tinggi.
"Brruuuug..." Rangga yang melihat kejadian itu langsung memukul pemilik restoran hingga tersungkur.
"Ayo byy kita keluar" Rangga berlari sambil menarik tangan Tyshia, mengajaknya segera keluar dari restoran.
"Byy kamu tidak apa-apakan?" tanya Rangga khawatir.
__ADS_1
"Bagianmana yang si breng*ek itu menyentuhmu?" Rangga mengelap tangan Tyshia dengan tissue basah miliknya. Berkali-kali Rangga mengelap tangan Tyshia, hingga semua tissue yang ia miliki habis.
"Apa dia pernah berbuat seperti ini saat aku tidak ada?" tanya Rangga.
"No, only this time he was like that. Byy I'm scared" mata Tyshia mulai berca-kaca.
*Tidak, baru kali ini dia seperti itu. Aku takut by.
"Jangan takut byy, aku akan selalu melindungimu aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu. Besok kita cari pekerjaan lain ya?" Rangga menghapus air mata Tyshia dengan jarinya.
"Where?" tanya Tyshia, ia jadi tak enak hati pada Rangga, karena dirinya Rangga jadi kehilangan pekerjaan, padahal ini adalah masa akhir kuliah Rangga tentu membutuhkan banyak biaya, Tyshia semakin merasa bersalah kepada Rangga.
"Nanti aku pikirkan"
"Maafin aku ya byy"
"Kamu tidak perlu minta maaf sayang, kamu lebih berharga dari apa pun. Aku percaya Allah sudah mengatur rizky yang lebih baik untuk kita, kamu tidak perlu khawatir"
Sesampainya di flat Tyshia, Rangga menatap wajah Tyshia dalam-dalam.
"Byy, apa kamu keberatan jika aku berharap bisa memilikimu?"
"Tidak byy, aku juga memiliki perasaan yang sama seperti dirimu"
Rangga tersenyum me dengar jawaban Tyshia, ia membuka pintu flat Tyshia kemudian meminta Tyshia masuk dan mengunci dari dalam, setelah mengantar Tyshia pulang Rangga pergi menuju flatnya.
Sesampainya di flatnya rangga melihat brosur lowongan pekerjaan menjadi barista dan kasir di sebuah coffee shop, brosur tersebut tersalip di bawah pintu flatnya.
Rangga merebahkan tubuhnya di kasur, kemudian ia memontret brosur tersebut lalu mengirimnya ke tyshia. Tyshia menyetujui jika besok siang setelah pulang dari kampus, melamar pekerjaan baru di coffee shop tersebut.
"Byy kamu besok sidang jam berapa?" tanya Tyshia.
"Jam 08.00 pagi, doain ya."
"Good luck ya byy" ucap Tyshia sambil membuat pola design baju
"Byy, cerita dong kamu kuliah di mana? ngambil jurusan apa? selama ini kamu hanya mendengarkan aku, aku juga mau mendengarkan semua cerita kamu." Rangga tidak ingin hubungannya dengan Tyshia hanya tentang dirinya saja, baginya Tyshia juga sangatlah penting.
"Yang pasti tidak sepopuler universitasmu, aku mengambil jurusan accounting. Aku tidak pernah cerita karena aku merasa hidupku biasa - biasa saja tidak ada yang menarik untuk di ceritakan. Lagi pula aku masih semester awal jadi masih tidak terlalu sibuk" ucap Tyshia.
'Maafin aku byy, aku sering berbohong kepadamu' gumam Tyshia dalam hati.
"Byy lain kali cerita lebih banyak lagi ya, bagiku semua tentangmu sangat menarik untukku" ucap Rangga.
Tyshia hanya tersenyum, kemudian ia fokus dengan laptopnya mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Video call tetap berjalan meskipun hening, keduanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Byy, sudah jam 02.00 Istirahat yuk" ajak Rangga.
"Okay, see u tomorow" Tyshia mematikan video callnya.
__ADS_1
Keesokan harinya sesuai dengan percakapan mereka tadi malam, mereka janjian di sebuah coffee shop untuk melamar pekerjaan baru. Rangga yang sudah lebih awal datang menunggu Tyshia di depan coffee shop.
Mendekat ke arah coffee shop Tyshia yang melihat sosok Rangga dari kejauhan, ia langsung menyuruh supirnya untuk berhenti.
Ketika turun dari mobilnya, Tyshia berjalan mengendap-endap menghampiri Rangga, kemudian menutup mata Rangga dari belakang.
"Guess who's?" tanya Tyshia.
*coba tebak siapa?
"Sayangnya aku haha..."
Tyshia tersipu malu hingga wajahnya memerah mendengar jawaban Rangga "Byy menurutmu apakah kita akan di terima kerja di sini?" tanya Tyshia.
"Bismillah, kita tidak usah menduga-duga, kita coba saja dulu." Rangga menggandeng tangan Tyshia masuk ke dalam coffee shop.
Satu persatu secara bergantian Rangga dan Tyshia di interview oleh manager coffee shop. Hari itu juga keduanya di terima bekerja di coffee shop tersebut dan mulai bisa bekerja keesokan harinya, Rangga agak sedikit heran mengapa gaji perjamnya sangat tinggi hingga mencapai $65 perjam atau setara Rp. 975.000 perjam.
"Sudahlah tidak usah di pikirkan, harusnya kita sangat bersyukur atas rizky yang telah Allah berikan" ucap Tyshia.
Rangga menganggukan kepalanya kemudian ia mengajak Tyshia, makan di street food tempat favorit mereka makan.
"Byy bagaimana sidang proposalnya lancar?" tanya Tyshia.
"Alhamdulillah lancar byy, ada sedikit revisi tapi aku sudah bisa menyusun skripsi" ucap Rangga menatap mata Tyshia "Byy nanti kamu mau kan datang di hari wisudaku?"
"Tentu saja sayang, aku pasti akan datang" ucap Tyshia "Byy setelah lulus kamu mau kerja di mana?" tanya Tyshia.
"Aku mau kembali ke Indonesia, aku mau kerja di sana" ucap Rangga.
"Kita LDR?" raut muka Tyshia berubah menjadi agak sedih, ia yang sudah terbiasa dengan Rangga nampak berat jika harus tanpanya.
Rangga menghela nafasnya, ia sendiri pun berat meninggalkan Tyshia di New York.
"Aku pulang ke Indonesia ingin membangun istana kecil untuk kita, sambil menunggumu menyelesaikan kuliahmu" ucap Rangga "Nanti jika aku kembali ke Indonesia, kamu jangan kerja ya. Biar aku yang bekerja, aku akan mentransfermu jadi fokus saja dengan kuliahmu agar cepat selesai dan kita bisa sama-sama lagi" lanjut Rangga.
"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan" Rio memberikan handphonenya ke ana, ia memberikan semua laporan supirnya Tyshia kepada Ana.
"Kamu gila, jika anakku trauma bagaimana?" ucap Ana dengan nada tinggi.
"Aku tahu batasannya sayang, aku hanya ingin mengetahui reaksi rangga dan ternyata dia seberani itu, dia berani mengorbankan pekerjaannya demi menjaga Tyshia" ucap Rio.
"Sudah puas? Papaku tidak pernah melakukan hal sejahat itu kepadamu. Mengapa kamu sejahat itu terhadap Rangga?"
"Aku hanya ingin memastikan dia orang yang terbaik untuk anak kita."
"Lalu apa lagi rencana jahatmu?" tanya Ana.
"Aku tidak memiliki rencana apa pun selain menunggunya lulus kemudian menghubungiku. itukan yang kamu mau?"
__ADS_1
"Dia lulusan teknik kimia dari universitas terbaik, IPK dia pasti bagus karena dia anak program beasiswa. Bukankah perusahaan ini memang membutuhkan orang seperti dia?" tanya Ana.
"Berhentilah untuk memujinya, kita lihat saja secerdas apa dy " Ucap rio