
Perjuangan Alea dan temana-temannya terbayarkan sudah setelah lebih dari sepekan mereka menghadapi ulangan kenaikan kelas, kini mereka naik ke kelas XII dengan hasil yang sangat memuaskan Alea berhasil mendapatkan peringkat ke dua sementara Tristan di peringkat pertama dan Kara di peringkat ke tiga.
Dan sesuai janjinya Alea berserta teman-temannya dan juga Ayahnya memenuhi undangan Tristan untuk berlibur di villanya.
Sesampainya di villa, Tristan mengajak semuanya untuk barbeque di halaman belakang villa. Para pria memanggang daging sedangkan para wanita menyiapkan makanan lainnya.
Dan Rangga sendiri berbincang hangat dengan kedua orang tua Tristan sambil menikmati teh hangat dan juga mengawasi anak-anak.
"Terima kasih banyak Pak Rangga, selama ini telah mengajari Tristan belajar di rumah Pak Rangga"
"Sama-sama Bu Lia, saya pun sangat senang jika teman-teman Alea datang ke rumah untuk belajar bersama" ucap Rangga.
"Sejak Tristan dekat dengan Alea, Tristan banyak berubah. Ia menjadi anak yang taat beribadah dan penurut, ia juga sudah tidak pernah keluyuran nongkorong dengan teman-temannya yang tak jelas. Kami ucapkan banyak terima kasih" ucap Tio Ayahanda Tristan, sebenarnya bukan hanya orang tua Tristan saja yang mengucapkan terima kasih kepada Rangga, namun semua orang tua teman-teman Alea pun mengucapkan terima kasihnya pada Rangga.
"Tidak mudah mendidik anak remaja zaman sekarang, karena kita tidak bisa menerapkan cara didik orang kita dulu, yang saya lakukan saat ini adala menjadi teman sekaligus sahabat mereka" ucap Rangga.
Ditengah obrolan Rangga dengan kedua orang tua Tristan tiba-tiba saja Nindy datang "Assalamualaikum" Nindy menyalami kedua orang tua Tristan dan juga Rangga.
"Ini adalah Nindy, guru les yang selama ini membantu saya mengajari anak-anak" ucap Rangga memperkenalkan Nindy kepada kedua orang tua Tristan.
Nindy tersenyum sambil sedikit membukukkan badannya, kemudian ia pamit untuk bergabung bersama anak-anak.
"Hai semua....." Nindy melambaikan tangannya kearah alea dan teman-temannya, seketika Alea dan teman-temannya bersorak menyambut kedatangan Nindy "Kak Nindy..."
Nindy mengecek daging yang tengah di panggang oleh anak-anak pria "Awas gosong Rik" ucap Nindy kepada Erik.
"Siap Kak Nindy"
"Kak Nindy ke sana dulu ya" Nindy berjalan ke arah anak-anak perempuan yang tengah menyiapkan makanan dan minuman.
Setelah semuanya selesai mereka semua makan malam yang hangat, mereka mengobrol banyak hal mengenai kegiatan sekolah, terutama persiapan olimpiade internasional yang sudah sebentar lagi akan sebagaian dari mereka hadapi.
Pukul 22.30 Bu Lia mengajak anak-anak untuk beristirahat di kamar yang telah di sediakan "Yuk anak-anak istirahat dulu yuk, sudah malam" ajak Ibunda Tristan
"Ayah, aku istirahat dulu ya"
"Iya sayang, good night." Rangga memeluk dan mencium kening putrinya.
"Bye Om, Bye Kak Nindy" Alea juga pamit kepada Ayahnya Tristan dan Nindy.
"See you" Nindy tersenyum ke arah Alea.
__ADS_1
"Hmmm... aku pikir sepertinya Pak Rangga sudah mengetahu jika Tristan sangat menyukai Alea. Bagaimana menurut Pak Rangga" tanya Tio, ayahanda Tristan.
"Sejujurnya aku mengizinkan putriku berpacaran, tapi aku tidak siapa pun untuk jatuh hati padanya" ucap Rangga.
Tio menganggukan kepalanya ia sangat mengerti maksud ucapan Rangga, namun ia berharap jika putranya bisa berjodoh dengan Alea, karena di matanya Alea sosok menantu idaman.
Keesokan harinya orang tua Tristan mengajak olah raga paralayang, beberapa kali Rangga mengajak Alea untuk bersamanya namun Alea menolaknya.
"Aku masih takut ketinggian Yah, nanti aku tunggu Ayah di bawah" tolak Alea.
"Oke baiklah, kita ketemu di bawah ya" ucap Rangga, ia pun bersama yang lainnya terbang.
Setelah semua terbang yang tersisa hanyalah Tristan dan Alea, ia berusaha membujuk Alea untuk ikut bersamanya.
"Aku akan menjagamu, mari kita nikmati bersama pemandangan kota ini dari atas." ajak Tristan.
"Aku takut Tristan"
" I will never leave you"
"Trust me, I would keep you safe." Tristan meyakinkan Alea jika ia aman bersamanya.
Alea pun menganggukan kepalanya, ia mulai menggunakan helm dan juga pengaman lainnya.
Saat berada di atas, Tristan dan Alea menikmati udara bebas dan merasakan sensasi melayang-layang tinggi di udara dengan view berupa perbukitan dan kebun teh.
"Apa aku bilang baguskan pemandangannya, sayang sekali jika tadi kamu tidak ikut."
Alea hanya tersenyum sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah.
Rangga yang telah mendarat nampak heran mengapa putrinya mau terbang dengan Tristan.
"Tadi ayah yang mengajak kamu tidak mau, giliran Trista mau" ucap Rangga, Alea hanya tersenyum malu.
Puas bermain paralayang, orang tua Tristan mengajak semuanya menuju sirkuit milik keluarganya.
Ada tujuh mobil sport yang berjejer, Tristan mengajak Alea untuk bersamanya. Alea menatap Rangga "Boleh ya yah, kali ini saja" pinta Alea dengan wajah memelas.
"Tenang saja Om, aku sudah punya surat izinnya. Lagi pula sudah sejak umur sepuluh tahun papa mengajariku" Tristan menoleh ke arah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Benar Pak Rangga, Tristan sangat jago mengemudi. Alea pasti aman bersama Tristan" ucap Tio.
Akhirnya Rangga memperbolehkan putrinya untuk ikut bersama Tristan, kemudian ia dan orang tua Tristan duduk di bangku penonton.
Saat starter memberi aba - aba start, mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ada empat mobil yang ikut serta diantaranya: Tristan bersama dengan Alea, Nindy dan dua orang teman Tristan yang sudah memiliki surat ozin mengemudi.
Tristan dan alea berada di posisi pertama kemudian di posisi ke dua ada Nindy dan di posisi ke tiga dan ke empat dua teman Tristan.
Tak lama kemudian Nindy berhasil menyalip Tristan dan Alea, namun di putaran terakhir Tristan mengeluarakan kemampuan mengemudinya hingga ia berhasil menyalip Nindy kembali.
Tak mau kalah dengan Nindy dan Tristan, kedua teman Alea pun berhasil menyalip Nindy namun ia tak mampu menyalip Tristan.
Tristan berhasil memenangkan permainan, di urutan kedua dan ketiga Bagas dan Agung, di urutan ke empat barulah Nindy.
'Ternyata Nindy kalah dengan anak SMA' gumam Rangga.
Menjelang malam hari Rangga mendapat telepone dari Bundanya, Ana menyuruh Rangga untuk datang ke rumahnya.
Rangga pun berpamitan kepada Tristan dan orang tuanya, karena ia ingin menginap di rumah orang tuannya.
"Terima kasih sekali atas undangannya, sangat menyenangkan sekali seharian berlibur di sini." ucap rRngga.
"Sama-sama Pak Rangga, saya sangat senang sekali Pak Rangga dan keluarga mau berlibur kemari" orang tua Tristan menjabat tangan Rangga secara bergantian.
Alea pun berpamitan kepada orangbtua Tristan, Tristan, Nindy dan teman-temannya sebelum ia dan ayahnya meninggalkan villa.
"Nanti pagi supirku akan kembali lagi ke sini untuk mengantar anak-anak pulang ke kediaman mereka masing" ucap Rangga, ia masih merasa bertanggung jawab untuk memulangkan teman-teman putrinya ke rumah mereka masing-masing.
"Baik Pak Rangga, terima kasih" Tio mengantar Rangga dan Alea hingga teras villanya.
Tiba di rumah Ayah dan bundanya, bundanya mengomel pada rangga.
"Jika bunda tidak melihat postingan alea di IG mungkin bunda tidak tahu jika kalian berada di Bogor."
"Maaf ya bBnda." Rangga mencium tangan ana.
"Janji ya sama bunda, kalian akan sering-sering kesini." Ana masih terus mengomel.
"Iya bunda, kami akan sering main ke sini" Alea mencium tangan eyangnya dan memeluk eyangnya dengan hangat.
Bagi Rio dan Ana di kunjungi oleh anak dan cucunya merupkan hal yang paling menggembirakan terlebih jika merek bertiga menginap meski pun hanya semalam.
__ADS_1