
Selama bebarapa hari perasaan Lyra di selimuti rasa bimbang, ia nampak ragu untuk mengtakannya kepada kakaknya.
"Ada apa sayang, aku perhatikan dari kemarin kamu gelisah terus?" tanya Adit kepada istrinya.
"Mas, masih ingat dengan Rangga?"
"Rangga siapa?" tanya Adit, ia mencoba mengingat-ingatnya.
"Jadi begini, sebentar lagi Tyshia akan bertunangan dengan Rangga. Rangga itu adalah anak dari sahabat aku yang bernama Retno. Mas masih ingetkan beberapa tahun yang lalu saat kita menghadiri pemakaman sahabatku di jogja, dua hari kemudian Rangga baru datang karena ia sedang menempuh pendidikannya di New York" terang Lyra.
"Sebentar...." Adit menghela nafasnya dalam-dalam kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya.
"Jadi Rangga itu anak dari Retno dan Julio? orang yang pernah menabrak Mba Ana, begitu maksudmu??" tanya Adit secara perlahan.
"That's true" jawab Lyra.
"Oh my God, mengapa dunia ini sesempit sekali? lalu apa Mas Rio mengetahuinya?" tanya Adit kembali.
"No" jawab Lyra singkat.
Adit tidak bisa berkata-kata lagi, ia membelakangi Lyra menatap keluar jendela kantornya.
"Mas Adit aku harus bagaimana?" tanya Lyra.
"Kamu harus mengatakan yang sesungguhnya kepada Mas Rio dan Mba Ana, sebelum Tyshia dan Rangga bertunangan" jawab Adit.
"Tapi apakah Mas Rio akan tetap menerima Rangga?" tanya Lyra.
"Jika aku menjadi Mas Rio aku tidak akan mengizinkanTyshia bertunangan dengan Rangga, kjngankan untuk bertunangan, membiarkan anakku berteman dengannya saja tentu aku akan melarangnya. Kejadian kecelakaan itu di depan mata kepalaku sendiri dan aku pula yang mengurus proses hukumnya jadi aku tahu betul bagaimana sulitnya saat itu kondisi Mas Rio" jawab Adit.
"Tapi bukankah Rangga tidak ada kaitannya dengan perbuatan orang tuanya? dan bukankah orang tuanya juga sudah tidak ada?" Lyra menaikan nada suaranya.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, apa kamu bisa menjamin jika Rangga tidak akan seperti itu? Tyshia itu keponakanku satu-satunya dari Mas Rio, aku tidak rela jika nantinya dia di sakiti oleh Rangga"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Lyra
"Katakan sekarang juga kepada Mas Rio sebelum mereka menyebar undangan pertunangan" jawab Adit dengan tegas.
__ADS_1
Selama seminggu Lyra memikirkan masalah ini, banyak hal yang ia pertimbangkan sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya kepada kakaknya, hari itu Lyra mendatangi kantor kakaknya dan mengatakan semuanya di sana.
Lyra menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia memasuki ruang kerja kakaknya, kemudian barulah ia mengetuk pintu dan membukanya, kebetulan saat itu Ana juga sedang berada di ruang kerja kakaknya, Lyra berharap dengan kehadiran Ana bisa membuat suasana lebih tenang.
"Ada apa Dek, tumben ke sini tanpa mengabari terlebih dahulu" ucap Ana sambil memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri adik iparnya.
"Iya Mba, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mas Rio dan Mba Ana" Lyra mendekat ke arah Rio kemudian menyalami kakaknya.
"Ya sudah kita duduk di sofa saja yuk!" Rio beranjak dari tempat duduknya menuju sofa di ruang kerjanya.
"Ada apa Dek, keliatannya ada masalah serius. Apa perusahaanmu sedang ada masalah?" tanya Ana.
"Tidak Mba Ana, perusahaanku baik-baik saja" jawab Lyra.
Sebelum memulai pembicaraannya mengenai Rangga, Lyra menatap Mba dan Masnya secara bergantian.
"Mba Ana, Mas Rio ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua, tapi aku harap apa pun nanti keputusannya, Mba Ana dan Mas Rio sudah mempertimbangkannya secara matang dari segala sisi dan tidak membuat keputusan dalam keadaan emosi."
Mendengar kalimat Lyra yang terdengar serius, Rio menaruh handphonenya di atas meja, kemudian menatap adiknya secara intens. Begitu juga dengan Ana, ia memperbaiki posisi duduknya agar lebih fokus dengan arah pembicaraan Lyra.
"Rangga, calon tunangan Tyshia merupakan anak dari sahabatku Retno" Lyra menghentikan kalimatnya, ia menatap kedua kakaknya yang terdiam tanpa ekspresi.
"Aku tidak bohong Mas, aku beberapa kali sempat bertemu dengan Rangga saat aku menjenguk Retno ketika ia sakit dan waktu aku menghadiri pemakaman Retno. Aku bertemu dan ngobrol dengan Rangga, aku juga yang mengantar Rangga ke bandara saat ia kembali ke New York untuk melanjutkan studynya karena Ayah sambungnya saat itu sedang sakit sehingga tidak bisa mengantar Rangga" ucap Lyra.
Rio bangkit dari tempat duduknya menuju meja kerjanya, ia menelepon staf HRDnya untuk meminta data-data lengkap mengenai Rangga termasuk nama kedua orang tua kandung Rangga.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rio dan Ana, hal ini membuat Lyra tidak dapat menebak apa yang kedua kakaknya fikirkan.
Tak lama kemudian Edgar masuk ke dalam ruangan Rio, memberikan berkas yang di minta oleh Rio dari bagian staf HRD kantornya. Setelah Edgar keluar dari ruangannya, Rio membuka berkas tersebut.
Rio melihat nama belakang yang sama dengan nama Julio, Rio juga melihat alamat pada foto copy KTP rangga, alamat yang sudah tidak asing lagi bagi Rio dan yang terakhir Rio melihat nama kedua orang tua kandung Rangga pada foto kopi akte kelahiran yang Rangga lampirkan pada CVnya.
"Mengapa dunia ini begitu sempit?" Rio meletakan berkas tadi di atas meja, ia memegang keningnya.
Ana mendekat ke arah Rio mengambil berkas tersebut dari meja kerja suamknya, Ana melihat hal yang sama dengan yang suaminya lihat.
"Lyr, boleh tinggalkan kami berdua? Mas ingin berdiskusi dengan Mbamu." ucap Roo.
"Baik Mas Rio, aku permisi dulu" Lyra sangat mengerti jika kakaknya perlu mendiskusikan hal ini dengan istrinya.
__ADS_1
Setelah lyra meninggalkan kantornya, Rio mendekat ke arah istrinya.
"Aku tidak ingin putriku memiliki hubungan, apa lagi memiliki keturunan dari orang yang telah menyakitimu" ucap Rio.
"Lalu bagaimana dengan Tyshia?" tanya Ana, ia tak ingin membuat hati putrinya bersedih.
"Aku yang akan bicara kepadanya, aku yakin ia pasti akan mengerti" ucap Rio.
Rio menelepon Rangga, memintanya untuk datang ke ruangannya. Rangga pun langsung masuk ke dalam ruang kerja Rio dan duduk di tempat yang sudah di persilahkan untuknya.
"Langsung saja Ngga, kami ingin meminta maaf karena kami tidak bisa melanjutkan pertunanganmu dengan putri kami" ucap Rio sambil menulis sejumblah uang di ceknya.
"Ke-kenapa Om? mengapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Rangga dengan heran, kalimat tersebut bak petir di siang bolong pasalnya baru tadi pagi ia datang ke ruang kerja Rio dan mereka masih mengobrol dengan santai.
"Kami merasa kamu bukan orang yang tepat untuk putri kami" ucap Rio.
"Tapi Om bukankah Om sudah merestui hubungan kami, lantas apa yang membuat Om tiba-tiba membatalkan acara pertunangan kami? apa ada kesalahan yang telah aku perbuat?" Rangga mencoba meminta penjelasan Rio.
"Ya sebelunya memang kami merestui kalian, namun kini Om telah menemukan orang yang jauh lebih baik dari kamu dan sederajat dengan kita. Ini gaji dan pesangonmu, tolong tinggalkan putri kami!!" Rio menyerahkan cek tersebut kepada Rangga.
Rangga mulai mengerti maksud dari ucapan Rio, Rio bukan hanya memutuskan rencana pertunangannya dengan Tyshia namun Rio juga memutuskan hubungan kerjanya.
Rangga beranjak dari tempat duduknya "Saya mengerti, saya permisi dulu tuan dan nyonya. Mohon maaf jika selama ini saya banyak salah terhadap tuan dan nyonya." Rangga pergi tanpa mengambil cek pemberian Rio.
Dari sejak Rangga mengetahui jika Tyshia adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja, ia sudah merasa sangat insecure dan tidak pantas bersanding dengan Tyshia, namun karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap Tyshia, ia menyingkirkan perasaan itu.
Rangga kembali ke ruangannya untuk membereskan barang-barangnya, setelah semua barang- barangnya rapih ia menaruhnya di sudut ruangannya. Meski hatinya hancur, ia tetap menyelesaikan tanggung jawabnya.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca satu persatu ia menyelesaikan pekerjaannya, ia juga membuat catatan penting mengenai job desknya agar orang yang nanti menggantikan posisinya tidak mengalami kesulitan.
Pukul 23.00 malam ia melihat ada puluhan panggilan masuk ke handphonenya dari Tyshia, Rangga mengabaikannya mencoba tetap berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya.
Tepat pukul 00.00 malam Rangga baru selesai seluruh pekerjaannya, sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, ia memutar kembali memory kenangannya bersama Tyshia.
Sambil membawa barang-barangnya, Rangga berjalan menuju meja kerjanya yang lama, saat dirinya masih menjadi staff biasa, Rangga teringat saat itu Tyshia selalu menemaninya bekerja via video call.
"Terima kasih ya byy telah menjadi bagian terpenting dalam hidupku" ucapnya lirih, kemudian ia berjalan keluar dari kantor tersebut.
Terima kasih 😊
__ADS_1