ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 28


__ADS_3

Selama beberapa hari belakangan ini Rangga dan seluruh staffnya lembur, tak jarang mereka pulang hingga larut malam.


Untuk menaikan performa perusahaannya, namun yang terjadi justru performa perusahaannya semakin menurun, di tambah dengan berita-berita mengenai kerugian perusahaan membuat para investor di perusahaan Rangga melepas (menjual) sahamnya, dalam waktu sepekan ini saja nilai saham perusahaan Rangga terjun bebas 4.97%.


Rangga pulang kerumah dengan wajah yang sangat lelah.


"Kamu baik-baik saja Rangga? apa ada masalah di kantormu?" tanya Ana.


"Aku baik-baik saja Bunda, hanya ada dateline kantor yang harus aku selesaikan. Bunda mengapa belum tidur?"


"Bunda menunggumu pulang Nak, kamu makan dulu ya" Ana mengajak Rangga untuk makan terlebih dahulu, Ana juga mengambilkan nasi berserta sayur dan lauk pauk di atas piring Rangga.


"Terima kasih ya bund. Bund, Alea sudah tidur ya?" tanya Rangga.


"Iya jam sepuluh tadi, sehabis les bersama Nindy. Jadi itu wanita yang sedang dekat denganmu? Anaknya baik kok Ngga, cantik lagi. Dia cukup dekat dengan Alea, beberapa kali Bunda lihat Alea nampak akrab dengannya. Tapi tadi dia di jemput oleh seorang pria, apa itu kekasihnya?" tanya Ana yang mulai menginterogasi Rangga.


"Bunda, sudahku katakan aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Jadi mana aku tahu pria itu siapa, lagi pula aku tidak peduli" jawab Rangga sambil memasukan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


Setelah menghabiskan makanannya, Rangga pamit kepada Bundanya untuk istirahat, namun sebelum istirahat ia ke kamar Alea untuk mencium serta mengucapkan selamat tidur kepada putri tercintanya.


Rangga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia melihat ke arah meja yang terdapat kalender.


"Sudah hari keenam, berarti tinggal besok" Rangga teringat penawaran Pak Setiadji saat di Surabaya.


Rangga memejamkan matanya mencoba melupakan tawaran dari Pak Setiadji.


"Ayah bangun, yah.. Ayah bangun..." Alea membangunkan Rangga dengan panik, Rangga pun perlahan membuka matanya.


"Ada apa sayang?" tanya Rangga sambil mengucek-ngucek matanya.


Rangga bergegas bangkit dari tempat tidurnya, menuju kamar Ayah dan Bundanya. Saat Rangga berada di depan kamar Ayah dan Bundanya, ia tidak melihat keberadaan dokter irwan.


"Ada apa Bunda, apa Ayah kambuh lagi? apa perlu kita bawa Ayah ke rumah sakit?" tanya Rangga panik.


"Tidak perlu Rangga, tadi sudah di periksa oleh dokter dan juga sudah minum obat. Kondisinya sekarang sudah membaik, tadi hanya sedikit sesak saja" jawab Ana dengan tenang.

__ADS_1


"Rangga, kemarilah Nak" Rio memintanya untuk mendekat dengannya, Rangga pun menuruti perintah ayahnya.


"Rangga, Ayah melihat di internet jika perusahaanmu mengalami penurunan nilai saham. Apa yang sebenarnya terjadi, katakanlah' Rio menunggu jawaban dari Rangga.


"Iya Ayah, memang akhir-akhir ini sedang mengalami penurunan, tapi bukankah itu hal yang wajar?" Rangga berusaha setenang mungkin menjawab pertanyaan ayahnya.


"4,97% Kamu yakin tidak ada masalah?" Rio kembali bertanya kepada Rangga.


"Ada sedikit, tapi bukan masalah yang besar aku dan Edwar bisa mengatasinya. Minggu depan aku pastikan nilai saham akan kembali membaik, Ayah jangan khawatir ya" Rangga meyakinkan ayahnya.


Setelah memastikan kondisi ayahnya mulai stabil, Rangga pergi ke kantor. Namun kali ini ia berangkat sendiri karena Alea telah lebih dahulu berangkat dengan sopirnya.


"Loe kenapa Ngga?" tanya Edwar yang melihat wajah Rangga tampak kusut.


"Bokap udah tau, tapi sebagian masih gue tutupin. Gue gak mau menambah beban pikirannya" jawab Rangga.


"Cepat atau lambat Om Rio akan tahu, nih loe liat!!" Edwar memberikan laporan keuangan perusahaan berserta dengan analisisnya.

__ADS_1


"Sabar ya, kita cari jalan keluarnya sama-sama" Edwar menepuk bahu Rangga.


Rangga memegang keningnya serta menghela nafas, ketika melihat laporan keuangan perusahaannya yang semakin memburuk.


__ADS_2