
Keesokan harinya Pukul 08.00 pagi waktu Singapore, Adit dan Lyra tiba di rumah sakit.
"Rangga, bisa kita keluar sebentar ada hal yang ingin Uncle bicarakan kepadamu." ucap Adit.
Rangga pun menganggukan kepalanya dan pamit keluar ruang rawat inap kepada Ayah dan Bundanya.
"Rangga, ada masalah apa di perusahaanmu. Uncle lihat saham perusahanmu mengalami penurunan secara signifikan?" tanya Adit dengan khawatir.
Rangga menceritakan kejadian yang terjadi pada perusahaannya.
"Berapa total kerugiannya?" tanya Adit kembali.
"US$689 million, itu pun masih estimasi. kemungkinan bisa lebih dari itu, kami masih menghitung total keseluruhannya" ucap Rangga sambil menundukan kepalanya.
"Uncle hanya ada 2T, kamu bisa pakai jika kamu mau"
"Terima kasih uncle, aku akan mencari jalan keluar untuk masalah ini. Aku hanya minta agar Aunty dan Uncle untuk sementara tidak mengatakan kepada Ayah dan Bunda."
"Kamu tenang saja, kami tidak akan mengatakan apa pun kepada Ayah dan Bundamu. Ayo kita masuk sebentar lagi ayahmu akan operasi." Adit mengajak rangga untuk masuk kembali ke ruang rawat inap Rio.
Pukul 11.00 siang rio menjalankan operasi pemasangan ring di jantungnya, operasi tersebut berjalan satu setengah jam lamanya.
Selama operasi berlangsung Rangga merangkul dan menggenggam erat tangan Ana, serta terus memberikan suport kepada Ana agar hati Ana tidak begitu gelisah.
Selesai operasi dokter memanggil salah satu keluarga pasien untuk ke ruangannya.
"Biar Rqngga aja ya Bund, bunda tunggu di sini sebentar bersama dengan Aunty dan Uncle" ucap Rangga.
__ADS_1
Ana menganggukan kepalanya, ia membiarkan Rangga masuk ke ruang dokter.
Secara keseluruhan dokter mengatakan jika operasinya berjalan dengan lancar, namun Rio membutuhkan banyak istirhat, tidak melakukan aktivitas yang berat, tidak banyak pikiran serta tetap menjaga pola hidup sehat.
Malam harinya saat kondisi Rio sudah mulai stabil dan sudah di pindahkan ke ruang perawatan, Adit dan Lyra pamit pulang ke Jakarta.
Dua hari kemudian Lyra kembali datang ke rumah sakit, ia menyuruh Rangga untuk pulang ke Jakarta.
"Biar Aunty saja yang menemani Bunda menjaga Ayahmu di sini, kasihan Lea sendirian di rumah" ucap Lyra.
"Iya Ngga, kasihan Alea sendirian di rumah, lagi pula kondisi Ayah sudah mulai stabil" sambung Ana.
Sore itu juga Rangga kembali ke Jakarta, pukul 22.00 Rangga tiba di jakarta, ia sengaja tidak memberi tahu Alea dan Nindy jika dirinya hendak pulang ke Jakarta karena rangga ingin memberikan kejutan untuk putrinya.
Perlahan Rangga menghampiri Nindy yang tengah duduk di tepi kolam renang, ia sedang memandangi foto di layar handphonenya.
"Jika rindu, mengapa tidak pulang saja?" Rangga duduk di sebelah Nindy.
Nindy yang terkejut dengan kedatangan Rangga yang secara tiba-tiba, dengan cepat menghapus air mata yang menetes di wajahnya, sayangnya terlambat rangga sudah melihat jika nindy sedang menangis.
"Pa-pak Rangga sudah pulang?" tanya Nindy dengan terbata-bata "Alea sudah tertidur sejak jam sembilan tadi" sambung Nindy.
"Iya aku sudah tahu" jawab Rangga dingin.
Hatchii... chi... chi... chi..! Hatchii... chi... chi... chi..!
__ADS_1
Beberapa kali Rangga bersin dan mengusap hidungnya dengan tangannya.
"Sebentar, aku buatkan jahe hangat untuk Pak Rangga"
"Tidak per..." belum selesai Rangga berbicara Nindy sudah pergi ke dapur meninggalkannya.
Beberpa menit kemudian Nindy datang membawa segelas jahe hangat dan tissue untuk Rangga.
"Di minum dulu Pak Rangga" Nindy memberikannya kepada Rangga.
"Terima kasih" secara perlahan Rangga meminumnya.
"Lalu kenapa kamu tidak pulang saja jika kamu merindukan keluargamu?" Rangga mengulangi pertanyaannya.
"Tahun lalu aku pulang ke Surabaya, namun Papi tidak memperbolehkan aku untuk menemui Mami" mata Nindy mulai berkaca-kaca, buliran-buliran bening mulai jatuh ke pipinya.
"Setelah urusan kantorku selesai aku akan mengantarmu menemui Papimu" Rangga memberikan dua lembar tissue kepada Nindy, menyuruhnya mengelap air matanya.
"Tidak semudah itu Pak Rangga, Papi orang yang sangat keras, terlebih aku sudah sangat mengecewakannya" ucap Nindy sambil menahan air matanya.
"Aku kenal siapa Papimu, ia adalah salah satu kolega bisnisku, nanti aku akan bicara padanya" ucap Rangga, lalu ia menghabiskan jahe hangat buatan Nindy.
"Sujatmiko Setiadji itukan nama Papimu Pricillia Nindy Setiadji" bisik Rangga di telinga Nindy, kemudian Rangga beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Nindy yang tercengang karena Rangga mengetahui siapa dirinya.
Baru beberapa langkah Rangga melangkah, ia membalikan tubuhnya kembali ke arah Nindy.
"Oh ia karena kabur dari Surabaya ke Jakarta kamu mengubahnya menjadi Nindyra." Rangga tersenyum simpul kemudian ia benar-benar pergi meninggalkan Nindy, Rangga pergi ke kamar Alea untuk melepaskan kerinduan dengan putrinya.
__ADS_1