
Sehabis maghrib Nindy datang ke rumah Rangga dengan membawa ayam bumbu rujak beserta sup untuk makan malam Rangga dan Alea.
"Kak Nindy" Alea menyambut kedatangan Nindy dengan hangat.
"Maaf ya Kak Nindy baru datang, Kak Nindy bawa ayam bumbu rujak dan juga sup untuk Alea, Alea belum makan kan?"
"Belum Kak" Alea mengajak Nindy menuju ruang makan.
"Lea, Ayah kemana? apa tidak ikut makan dengan kita?" Nindy tak melihat sosok Rangga di ruang makan dan dapur.
"Hmmm..."
Nindy terkejut dengan suara dehaman Rangga dari belakang, seketika Nindy menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah Rangga.
"Aku permisi dulu Pak Rangga" Nindy berjalan menuju dapur, meminta tempat untuk menaruh ayam dan sup buatannya kepada ART Rangga. Setelah rapih Nindy dengan di bantu ART rangga menyajikan di atas meja makan.
"Biar aku saja yang mengambilkan" Nindy menaruh nasi di atas piring Rangga dan Alea.
"Lea, barusan Kak Nindy dapat kabar jika Miss Anne mengalami komplikasi ginjal sehingga Miss Anne harus di rawat lebih intensif di rumah sakit" ucap Nindy dengan hati-hati.
"Bagaimana jika besok kita menjenguknya? sekalian ke toko buku Kak Nindy" ajak Alea.
Nindy memberi kode kepada Alea untuk meminta izin kepada Ayahnya.
"Boleh ya Yah" pinta Alea.
__ADS_1
"Iya sayang" Rangga tersenyum ke arah putrinya, ia tak kuasa menolak permintaan Alea.
"Thank you Ayah" ucapnya dengan riang.
Seusai makan malam Alea dan Nindy langsung masuk ke kamar Alea untuk belajar, di sela-sela pembahasan materi belajar mereka berdua membahas masalah kewanitaan.
"Kak, aku sering sekali tembus saat mensturasi, terlebih saat hari pertama atau sedang olahraga" ucap Alea dengan polosnya.
"Kamu udah coba pakai yang wing atau extra comfort maxi?"
Alea menggelengkan kepalanya, ia selama ini bingung harus sharing masalah seperti ini dengan siapa karena ia merasa tidak nyaman jika membicarakan hal ini di sekolah bersama dengan teman-temannya.
"Ya sudah, besok habis kita menengok Miss Anne dan mencari buku kita mampir ke swalayan sekalian ya"
"Pulang sekolah Kakak jemput ya"
Tanpa mereka sadari Rangga mendengar semua percakapan antara Nindy dan putrinya, ia mulai menyadari jika banyak hal yang sebenarnya ia tidak pahami tentang hal yang di butuhkan anaknya.
Seusai mengajari Alea matematika, Nindy pamit pulang kepada Rangga yang kebetulan berada di ruang keluarga.
"Kamu punya SIM A kan?" tanya Rangga.
"Ada, memangnya kenapa Pak Rangga?"
"Pakailah!!!" Rangga menyerahkan kunci mobilnya kepada Nindy.
__ADS_1
"Tidak perlu Pak Rangga saya.." Rangga memotong kalimat Nindy.
"Bukankah kamu besok ingin mengajak anak saya keluar? Ambilah ini, mobilnya sudah terparkir di depan, kamu tinggal membawanya!!" Rangga menyerahkan kunci mobil dan kartu kreditnya kepada Nindy.
"Tapi bagaimana dengan Pak Rangga, bukankah besok Pak Rangga juga harus ke kantor?"
"Kamu pikir aku hanya punya satu mobil?"
'Pertanyaan bodoh macam apa ini nindy, harusnya loe tau kalo orang sekaya pak rangga tidak mungkin hanya memiliki satu mobil' gumamnya dalam hati.
"Kenapa masih berdiri di situ, bukankah kamu mau pulang?"
"Oh ia, maaf Pak Rangga saya permisi dulu, Assalamualaikum" Nindy bergegas pergi meninggalkan kediaman Rangga.
Keesoakan harinya seperti biasanya, setelah Rangga mengantar Alea ke sekolah barulah Rangga berangkat menuju kantornya. Tidak seperti biasanya pagi-pagi sekali Edwar sudah berada di ruangan Rangga menunggu kedatangan Rangga.
"Rangga, gue punya berita yang tidak bagus. Perusahan induk milik Pak Wijaya tiba-tiba saja memutuskan kontrak kerja samanya dengan alasan yang jelas, dan loe taukan berapa nilai kontraknya?"
Tanpa berfikir panjang Rangga langsung meminta Edwar untuk menggelar meeting saat itu juga.
"Siapkan meeting pagi ini juga. kumpulkan semua manager di setiap divisi termasuk kuasa hukum kita, karena kita akan menempuh jalur hukum."
Mendengar perintah Rangga, Edwar bergegas keluar dari ruangan Rangga, ia meminta Edgar untuk mengirimkan email perintah meeting kepada semua manager seluruh divisi di perusahaannya serta menghubungi kuasa hukum perusahaan.
__ADS_1