ALINEA

ALINEA
Chapter 25 : Kejujuran


__ADS_3

Sepulang makan malam romantisnya bersama Rangga, Tyshia langsung menghampiri dan bergabung bersama Ayah dan Bundanya di ruang biosop mini rumahnya.


"Ayah, Bunda lihatlah!!" Tyshia memamerkan cincin berlian pemberian dari Rangga kepada Ayah dan Bundanya.


"Jadi kamu sudah menerima lamarannya? berarti kamu sudah siap untuk berkata jujur kepadanya. Bunda tidak mau tahu, besok malam kamu ajak Rangga untuk makan malam bersama kami, kenalkan dia kepada kami sebagai calon suamimu. Bunda tidak mau anak bunda terus menerus membohongi calon suaminya sendiri." ucap Ana dengan nada tegas.


Sesaat Tyshia menghela nafas beratnya, memang cepat atau lambat Rangga pasti akan mengetahuinya terlebih ia sudah melamar dirinya sehingga Tyshia sudah harus mengenalkannya dengan kedua orang tuanya "Baik Bunda" ucap Tyshia.


"Yang di ucapkan oleh Bundamu benar, sebentar lagi kamu akan mengadakan fashion show grand oppening clothing line milikmu. Akan ada banyak media yang meliput, apa kamu tidak memikirkan perasaannya jika Rangga mengetahuinya lewat media bukan tau dari kekasihnya sendiri?" ucap Rio.


"Iya Ayah" ucap Tyshia. Ia kembali ke kamarnya, kemudian mengirimkan pesan kepada Rangga.


^^^Tyshia:^^^


^^^"Byy, ayah dan bundaku mengundangmu untuk makan malam bersama"^^^


Rangga:


"Benarkah? Kapan byy?"


^^^Tyshia:^^^


^^^"Besok, apa kamu bisa?"^^^


Rangga:


"Tentu saja byy, besok aku pasti akan datang"


Setelah mengirimkan pesan untuk Rangga, Tyshia menaruh kembali handphonenya di atas meja kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, semalaman Tyshia tidak bisa tidur karena memikirkan besok malam Rangga akan ke rumahnya.



Keesokan harinya di Boutique Tyshia tidak berkonsentrasi memikirkan nasibnya nanti malam, Ana menghampiri putrinya yang nampak sangat gelisah gelisah.


"Sayang, semua akan baik-baik saja, Rangga pasti akan mengerti. Ayo pulang kita siap-siap untuk nanti malam" ucap Ana.


"Baik Bunda"


Keduanya pun kembali ke kediamannya, sesampainya di rumah Tyshia bersiap-siap, ia sedikit berdandan untuk menyambut kedatangan kelasihnya.


Drrrrt... Drrrrt... Drrrrrt....


^^^Rangga:^^^


^^^"Sayang share location dong, aku mau jalan."^^^


Dengan ragu-ragu Tyshia menshare lokasi rumahnya, kemudian ia menunggu Rangga di ruang tamu rumahnya.


" Rangga, sudah di mana sayang?" tanya Ana.


"Sudah di jalan Bund" jawab Tyshia.

__ADS_1


Drrrt.. Drrrt.. Drrrt..


"Byy kamu tidak salah sahre locationnya?" tanya Rangga.


"Tidak sayang, kamu masuk saja ke dalam. Aku sudah menunggumu di dalam" ucap Tyshia.


Tyshia membuka pintu rumahnya, mempersilahkan Rangga untuk masuk ke dalam. Dengan ragu-ragu Rangga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah kekasihnya, ia sangat terkejut melihat rumah tersebut karena dalam bayangannya kondisi sosial dan ekonomi Tyshia tidaklah jauh berbeda dengannya dan yang lebih mengejutkan lagi saat Rangga melihat atasannya duduk di ruang tamu.


Begitu melihat Rangga masuk bersama putrinya, Rio dan Ana berdiri tersenyum ke arah rangga.


"Byy, kenalin ini Ayah dan Bundaku" ucap Tyshia dengan hati-hati.


Rangga nampak ragu-ragu menyalami ke duanya.


"Selamat malam Tuan, Nyonya" sapa Rangga.


"Panggil Om dan Tante saja Rangga, ini kan bukan sedang di kantor" ucap Ana.


"O-om, Tante. Bolehkah saya mohon ijin untuk mengajak Alinea berbicara sebentar di depan?" tanya Rangga.


"Iya silahkan Rangga, kalian bicara saja di sini. Tante dan Om mau masuk duluan ya" ucap Ana kemudian keduanya pergi meninggalkan putrinya dan Rangga di ruang tamu.


"Byy, aku minta maaf" ucap Tyshia dengan lirih.


"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? apa perasaan kamu kepadaku juga hanya sandiwara?" tanya Rangga.


"Aku memang berbohong tentang identitasku kepadamu, tapi tidak untuk perasaanku. Aku benar-benar mencintaimu byy"


"Byy, aku benar-benar minta maaf" buliran-buliran bening mulai jatuh ke pipinya, ia takut jika Rangga akan memutuskan hubungannya.


"Aku butuh waktu, Alinea" ucap Rangga.


"Aku kasih kamu waktu seberapapun lamanya aku akan menunggumu, tapi please kita tidak putus" ucap Tyshia


Secara perlahan Rangga melepaskan tangan Tyshia, namun Tyshia tetap memegang erat tangan Rangga.


"Alinea, aku butuh waktu sendiri" Rangga kembali mempertegas ucapannyannya sambil lepaskan tangan Tyshia,


Dengan deraian air mata yang terus menetes di pipinya Tyshia akhirnya menyerah membiarkan Rangga pergi "Byy, maafin aku" ucapnya lirih.


Setelah Rangga pergi, Ana dan Rio mendekat ke arah putrinya yang tengah menangis, Ana memeluk Tyshia dan menenangkannya.


"Sayang, tenanglah Rangga hanya syok, ia butuh waktu bisa menerima ini. Tapi percayalah pada Bunda ia tidak akan meninggalkanmu" ucap Ana sambil mengelus punggung putrinya dengan lembut.


"Yang di katakan oleh Bundamu benar, ia tidak benar-benar marah terhadapmu, menurut Ayah itu reaksi yang wajar dan ini jauh lebih baik dari pada ia tahu dari media" ucap Rio.


Ana membawa Tyshia ke kamarnya menemani sampai putrinya tertidur, setelah itu Ana kembali ke kamarnya.


"Bagaimana, sudah tidur?" tanya Rio.


"Sudah" Ana nampak khawatir dengan kondisi putrinya.

__ADS_1


"Tenanglah!! besok aku akan bicara dengan Rangga. Kamu support saja Tyshia agar fashion shownya berjalan dengan lancar"


"Jika kamu tidak berhasil membujuk Rangga?" tanya Ana.


"Aku tidak perlu membujuknya, aku hanya akan mengingatkannya saja, toh mereka masih sama-sama saling mencintai"


"Sayang kamu tidak akan macam-macam lagi kan terhadap Rangga kan?" tanya Ana dengan nada curiga.


"Macam-macam seperti apa maksudmu? Aku sudah merestui hubungan mereka, aku juga sudah tidak sabar ingin memiliki teman bermain basket yang kemapuannya sepadan denganku, memiliki teman ngopi sambil berbincang masalah bisnis dll" ucap Rio.


"Sudahlah jangan berfikir yang tidak-tidak, kita istirahat saja" Rio membawa tubuh istrinya ke dalam dekapan hangatnya.



Keesokan harinya saat di kantor Rio memanggil Ragga ke ruang kerjanya, ini adalah kali pertamanya Rangga memasuki ruang kerja Dirutnya, karena memang hanya orang-orang penting yang boleh masuk ke dalam ruangannya, selama ini jika ada keperluan mengenai pekerjaan harus melalui Edgar sekertarisnya dahulu.


Begitu memasuki ruang kerja Dirutnya, Rangga melihat foto Tyshia terpasang di dinding.


"Duduklah Rangga, aku ingin berbicara sebagai seorang Ayah dari Tyshia bukan atasanmu, jadi kamu panggil aku Om saja" ucap Rio memulai percakapannya.


Setelah Rangga duduk dengan tenang barulah Rio memulai inti pembicaraannya.


"Aku sedang tidak membela putriku, dia memang bersalah tidak pernah jujur dan terbuka mengenai identitasnya. Tapi dia tidak pernah berbohong atas perasaannya kepadamu, apa kamu tidak bisa merasakan ketulusan perhatian dan kasih sayangnya kepadamu?" tanya Rio.


"Dia tidak bisa memilih dari keluarga siapa ia di lahirkan, tapi saat ini ia bisa memilih dengan siapa ia jatuh cinta. Kamu orang yang ia pilih sebagai calon imam dan bapak dari anak-anaknya nanti."


"Dia rela meninggalkan apartement mewah yang aku berikan kepadanya dan tinggal di flat sederhana pilihanmu, dia juga rela hujan-hujanan naik bis denganmu padahal aku memberikannya mobil beserta dengan supirnya, berbagai sepotong sandwich saat kalian belum gajian, ia juga sering membantumu dalam bekerja, memberikan semua perhatiannya kepadamu, setia menemanimu hingga sampai di titik sekarang"


"Itu semua ia lakukan agar kau tidak merasa insecure menjalani hubungan dengannya, sekarang pilihannya ada pada dirimu. Membiarkan rasa insecuremu menguasaimu sehingga kamu kehilangan orang yang kamu sayangi, orang yang selama ini mensuport dan menyayangimu juga atau melawan rasa insecuremu lalu mensuport orang yang kamu sayangi"


Rio memberikan undangan fashion show yang akan di gelar oleh putrinya di salah satu hotel bintang lima di kawasan Jakarta selatan, kemudian Rio pergi meninggalkan Rangga di dalam ruang kerjanya.



Beberapa minggu kemudian Tyshia mengelar acara fashion shownya di salah satu hotel berbintang lima.


Acara tersebut berlangsung sangat meriah, satu persatu para model mengenakan baju rancangan Tyshia maju ke atas panggung, setelah semua baju rancangannya keluar barulah Tyshia keluar.


Ana, Rio, Lyra, beberapa sabahat baik Tyshia dan beberapa artis serta desainer yang di undang di acara tersebut, secara bergantian memberikan buket bunga kepada Tyshia sebagai bentuk dukungan mereka terhadap karya-karya Tyshia.


Rangga menjadi orang yang terakhir yang memberikan buket bunga kepada Tyshia, Tyshia sangat terkejut sekaligus bahagia dengan kedatangan Rangga.


"I'm proud of you baby, mulai sekarang aku akan selalu mensuportmu. Kamu hutang banyak cerita kepada ku sayang" ucap Rangga sambil tersenyum.


"Terima kasih ya, Byy." Tyshia tak kuasa menahan rasa haru bahagianya hingga tanpa terasa ia meneteskan air matanya.


"Jangan nangis sayang, ini kan hari bahagiamu. Selamat ya" Rangga mengusapnya degan jarinya.


Dari bawah panggung Lyra nampak terkejut dengan kehadiran serta kedekatan Rangga dengan keponakannya.


'Mungkin saja hanya teman biasa' gumam Lyra di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2