
Sudah lebih dari seminggu sejak kepulangan tyshia dari New York, Tyshia langsung di sibukan dengan mengurus boutique miliknya, Boutique tersebut merupakan hadiah dari Ayah dan Bundanya.
Ana menyiapkan butik untuk purtinya saat Tyshia masih menempuh pendidikannya di New York, ia menyiapkan semua perlengkapannya serta para penjahit yang akan membatu putrinya mewujudkan imajinasinya dalam berkarya.
Saat masih kuliah di New York, Ana meninta Tyshia untuk rutin mengirimkan desain dan pola rancangannya. Kemudian Ana menyuruh para penjahitnya untuk membuat baju sesuai dengan desain dan pola yang di buat oleh putrinya, sehingga saat Tyshia kembali ke Jakarta, Boutique tersebut sudah di penuhi oleh baju-baju karya putrinya.
"Ini sudah lebih dari seminggu kamu kembali ke Jakarta, kamu tidak ingin bertemu dengan Rangga? apa kamu tidak merindukannya?" tanya Ana.
Tyshia hanya terdiam, sebenarnya jauh di lubuk hatinya, ia sangat merindukan Rangga, ingin sekali rasanya bisa menatap dan mengobrol dengannya secara langsung.
"Nak, kamu masih sayangkan dengan Rangga?" tanya Ana.
"Tentu saja bunda, aku sangat mencintainya"
"Kalau begitu temuilah dan ceritakan yang sebenarnya kepadanya"
"Tapi Bunda..."
"Nak, apa kamu tidak merasa bersalah terus-terusan membohonginya, sementara Rangga selalu terbuka dan percaya penuh terhadapmu"
Tyshia semakin terdiam, ia masih belum siap untuk jujur kepada Rangga, Tyshia takut Rangga akan meninggalkannya, Tyshia takut Rangga menjadi insecure terhadap dirinya.
"Iya Bund, secepatnya aku akan mengatakannya kepada Rangga." ucap Tyshia.
"Sudah sore, ya sudah yuk kita pulang, nanti Ayahmu keburu pulang kantor"ajak Ana.
Keduanya pun kembali ke kediamannya, sesampainya dirumah Tyshia mengirimi pesan kepada Rangga.
^^^Tyshia:^^^
^^^"By, aku sudah di jakarta, besok lunch yuk."^^^
Mendapat pesan chat dari kekasihnya, Rangga segera menelepon Tyshia.
"Byy, kenapa tidak bilang jika akan pulang? aku kan bisa jemput kamu di bandara sayang"
"Surprise hehe... aku jet lag banget byy makanya aku tidak mengabarimu, maaf ya sayang" ucap Tyshia, sesaat ia menundukan kepalanya 'Maafin aku byy, lagi-lagi aku membohongimu' gumam Tyshia dalam hati.
"Ya udah kamu istirahat lagi ya sayang, see you tomorrow"
"Bye byy" Tyshia menutup telepon.
Keesokan harinya Rangga sengaja mengambil cuti kerjanya, ia ingin bisa seharian melepas rindu bersama kekasihnya, dengan wajah sumringah ia datang ke cafe yang telah ditentukan oleh Tyshia.
Saat tiba di cafe, dari kejauhan Rangga sudah melihat Tyshia telah menunggu kedatangannya, ia pun berlari menghapiri kekasihnya.
Rangga tersenyum senang saat ia berdiri tepat di depan Tyshia, ia masih tak percaya jika kekasih hatinya sudah kembali ke tanah air.
Tyshia meraih tanggan Rangga kemudian menciumnya "How are you byy?" tanyaTyshia.
"Sangat bahagia, kamu sendiri bagaimana masih jet lag?" tanya Rangga sambil duduk di hadapan Tyshia.
"Sedikit,hehe.."
"Ya sudah makan dulu yuk, tadi aku sudah pesenin makanan kesukaanmu" Tyshia mempersilahkan Rangga untuk makan.
Setelah makan siang, Rangga mengajak Tyshia ke rumah yang baru saja di belinya, dalam perjalan menuju kediamannya, Rangga tak melepaskan genggaman tangannya dengan Tyshia.
"Kalo masih jet lag bobo sayang, nanti aku banguni jika sudah sampai" Rangga mengelus dahi Tyshia dengan lembut.
"Tidak, aku ingin memandangi wajah tampanmu saja." ucap Tyshia.
"Gombal kamu, bikin aku GR saja"
"Aku rindu sekali denganmu byy, saat di New York aku benci sekali melewati tempat-tempat yang biasa kita kunjungi, karena bayanganmu selalu muncul dan membuatku semakin rindu" ucap Tyshia.
__ADS_1
"Aku juga sangat merindukanmu sayang" Rangga mempererat genggaman tangannya.
Satu jam kemudian Rangga menepikan mobilnya di depan rumah minimalis sederhana miliknya, kemudian ia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil Tyshia.
"Masuk yuk." ajak Rangga, sambil kembali menggenggam tangan Tyshia masuk ke dalam rumahnya.
"Ini rumah siapa Byy?" tanya Tyshia penasaran.
"Kita" jawab Rangga " Tidak besar, tapi cukup nyaman untuk kita berdua. Kamu mau kan tinggal di sini bersamaku dan bersama anak-anak kita nanti?" tanya Rngga.
"Tentu saja byy" Tyshia menganggukan kepalanya, mata Tyshia mulai berkaca-kaca melihat semua usaha Rangga memujudkan semua janji-janji yang pernah di ucapkannya dulu.
"Hei ko malah nangis" Rangga mengusap air mata Tyshia dengan jarinya.
"Thank you byy, kamu benar-benar menepati janjimu"
"Masuk yuk!!" Rangga menggandeng tangan Tyshia, mengajaknya berkeliling rumah.
"Ini masih kosong banget rumahnya dan catnya juga masih putih polos. Baru ada barang-barang yang benar-benar aku pakai saja, aku ingin ratuku ini yang mendesain sesuai keinginanmu"
"Iya sayang, nanti kita desain sama-sama ya kamarmu yang mana byy?" tanya Tyshia.
"Di sana" Rangga melangkah menuju kamarnya, Tyshia mengekori dari belakang
Begitu Rangga membuka pintu kamarnya, Tyshia melihat beberapa foto-foto kebersamaan dirinya dan Rangga di New York berbaris di dinding.
"Sebelum tidur biasanya aku memandangi foto-foto kita, sebagai pengantar tidur agar bisa bertemu denganmu di mimpi indahku ucap Rangga.
"Pasti kamu mimpiin aku yang tidak-tidak."
"Haha... pernah sekali, tidak sengaja byy" ucap Rangga sambil tertawa.
"Bohong."
"Udah ah jadi kenapa bahas ini, bikin aku malu saja."
"Geli byy" Rangga mundur hingga ia terjatuh ke atas kasur dan Tyshia pun ikut terjatuh di atas tubuh Rangga.
Dengan reflek Rangga memeluk Tyshia, kemudian keduanya saling bertatapan hingga membuat jantung keduanya berdegub dengan kencang, dan membuat keduanya menjadi salah tinggah.
"Ma-maaf, aku bercandanya keterlaluan" Tyshia bangun dari atas tubuh Rangga.
"Tidak apa-apa, aku antar pulang ya" Rangga menggenggam tangan tyshia mengajaknya keluar dari rumahnya.
Didalam mobil Tyshia masih salah tingkah, ia tidak berani melihat wajah Rangga.
"Byy rumahmu di mana?" tanya Rangga, mencoba mencairkan suasana.
Seketika Tyshia jadi panik, mendengar pertanyaan Rangga.
"Byy aku ada janjian dengan Alexa, bisa kamu antar aku ke rumah Alexa saja?" tanya Tyshia.
"Okay. Nanti aku tunggu ya, setelah itu aku antar kamu pulang"
"Tapi Alexa mengajakku keluar"
"Kalau begitu aku akan mengantar kalian"
"Byy aku mau berdua sama Alexa, aku mau ngobrol banyak dengannya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. boleh ya?"
"Ya sudah, di mana rumah Alexa?" Rangga mengalah, ia memberikan ruang untuk Tyshia bersama sahabatnya meski dirinya masih sangat merindukan Tyshia.
"Terima kasih ya sayang" Tyshia menggenggam tangan Rangga.
"Sama-sama" Rangga menepikan mobilnya di depan rumah Alexa, kemudian ia turun untuk membukakan pintu mobil Tyshia.
"Tapi besok kita dinner ya" ucap Rangga.
__ADS_1
Tyshia menganggukan kepalanya, kemudian ia meraih tangan Rangga dan menciumnya.
"Kok tumben byy?" tanya Rangga heran dengan perubahan sikap kekasihnya.
"Calon imam" Tyshia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Alexa, meninggalkan Rangga yang masih salah tingkah di buatnya.
Keesokan harinya sepulang kerja Rangga menjemput Tyshia di butiknya, papan nama boutique Tyshia masih di tutupi kain putih sehingga Rangga tidak mengetahui jika ternyata butik tersebut adalah milik Tyshia.
"Byy nanti aku tanyakan ke HRD ku lowongan untuk accounting" ucap Rangga.
"Nanti saja byy, tanteku masih meminta bantuanku di sini" ucap Tyshia, ia menghela nafas beratnya setiap kali dirinya berbohong kepada Rangga.
"Aku ingin seperti dulu lagi, bisa satu tempat kerja denganmu" Rangga ingin selalu bisa terus bersama Tyshia.
"Iya nanti ya, setelah tanteku grand opening butiknya" ucap Tyshia.
"Okay, kabari aku ya nanti" Rangga menepikan kendaraannya di pinggir jalan.
" Aku tutup sebentar ya matanya" Rangga mengambil sehelai kain untuk menutup mata Tyshia.
"Loh, memangnya kenapa sayang?" tanya Tyshia heran.
"Tidak ada apa-apa, percayalah padaku sayang" Rangga kembali melanjutkan perjalannya.
Setelah sampai di tempat tujuan, Rangga menuntun Tyshia berjalan ke pinggir pantai.
"Byy, ada apa?"
"Sabar sebentar ya, penganan yang kencang agar tidak jatuh" dengan sabar ia menuntun Tyshia hingga sampai.
Dengan perlahan Rangga membuka penutup mata Tyshia, ia menyiapkan kejutan special makan malam romantis di pinggir pantai.
"Suka?" tanya rangga sambil menggenggam tangan Tyshia
Tyshia tersenyum menganggukan kepalanya "Thanks byy." ucap Tyshia.
Setelah makan Rangga ijin ke toilet kepada Tyshia, namun tidak lama kemudian Rangga datang dari arah belakang Tyshia bersama dengan dua orang pengiring musik.
...Jadilah pasangan hidupku...
...Jadilah ibu dari anak-anakku...
...Membuka mata dan tertidur di sampingku...
...Aku tak main-main...
...Seperti lelaki yang lain...
...Satu yang kutahu...
...Kuingin melamarmu...
Mendengar suara Rangga seketika Tyshia menoleh kebelakang, kemudian beranjak mendekat ke arah Rangga.
"Will you marry me?" berlutut di hadapan Tyshia sambil menyodorkan sebuah cincin.
Tanpa rasa ragu Tyshia pun langsung menjawabnya "Yes, I will" ucap Tyshia sambil menganggukan kepalanya.
Rangga kembali berdiri kemudian memasangkan cincin berlian ke jari manis Tyshia
"Jadi kapan aku di kenalkan dengan ayah dan bundamu? aku ingin melamarmu di depan kedua orang tuamu."
"Aku cari waktu yang tepat dulu ya byy" ucap Tyshia.
"Tapi orang tuamu setujukan dengan hubungan kita?" tanya Rangga.
__ADS_1
" Aku sudah banyak cerita tentangmu dan mereka menyetujui hubungan kita" ucap Tyshia.