
Mendengar kabar jika Rangga dan Alea pindah Jerman, Lyra bergegas menghampiri kakaknya di kediamannya.
"Mas Rio, Mba Ana mengapa kalian membiarkan Rangga dan Alea untuk kembali ke Jerman?" tanya Lyra.
"Rangga punya hak penuh untuk menentukan di mana ia akan tinggal dan kami tidak berhak untuk melarangnya" jawab Rio dengan tegas.
"Tapi bagaimana dengan Alea?"
"Rangga Ayah yang sangat bertanggung jawab, ia juga sangat telaten dalam mengurus putrinya"
"Mas Rio dan Mba Ana tidak berkeberatan jika aku meminta Rangga untuk menikah dengan Stela? bagaimanapun juga Alea membutuhkan sosok ibu, aku rasa Stela cocok menjadi Ibu sambung untuk Alea."
"Uuhhk...." Ana terkejut mendengar pertanyaan dari Lyra, jujur saja Ana agak keberatan jika Rangga menikah dengan Stela namun Ana tidak bisa mengatakannya secara langsung kepada Lyra.
"Coba kamu tanyakan saja kepada Rangga, kami juga tidak ada hak mengatur Rangga."
Sebenarnya Ana tidak keberatan jika Rangga memutuskan untuk menikah lagi, tapi entah mengapa Ana berharap jika Rangga tidak menikah dengan Stela.
"Benarkah Mba? besok aku akan menghubungi Rangga."
"Ya silahkan saja" perasaan Ana menjadi tidak karuan mendengar ucapan Lyra.
Selepas kepulangan Lyra, Rio memperhatikan perubahan raut wajah istrinya yang sangat cemas.
"Stela memang keponakanku dan Lyra adalah adik kandungku, tapi aku juga berharap Rangga akan menolaknya."
"Benarkah sayang?"
"Nanti aku akan menghubungi Rangga dan berbicara masalah ini padanya" ucapan Rio membuat Ana sedikit bernafas lega.
Dua hari kemudian belum sempat Rio menghubungi Rangga, Lyra sudah terlebih dahulu menelepon Rangga.
Setelah basa-basi menanyakan kabar Alea dan perkembangan Alea, Lyra langsung mengutarakan maksudnya untuk meminta Rangga menikahi putrinya Stela.
"Maaf Aunty, Rangga sudah menggap Stela seperti Adik Rangga sendiri tidak lebih dari itu"
"Tapi Rangga, Alea membutuhkan sosok Ibu untuk tumbuh kembangnya."
"Alhamdulillah Alea tumbuh menjadi anak yang sangat ceria dan tidak hambatan dalam tumbuh kembangnya, sekali lagi saya mohon maaf Aunty saya tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak saya cintai, tapi saya selalu berdoa untuk Stela agar segera mendapatkan pendamping terbaik untuk hidupnya"
"Rangga, tidak bagus terus berlarut dalam kesedihan. Mau bagaimana pun kamu butuh sosok seorang pendamping" ucap Lyra terkesan memkasa.
"Aunty, aku sudah ikhlas dengan ketetapan Allah dan saat ini aku sangat bahagia hidup bersama dengan Alea, sekali lagi saya mohon maaf jika saya mengecewakan Aunty, Aunty saya matikan teleponnya ya karena Alea mencari saya. Sampai jumpa Aunty, Assalamualaikum."
Penolakan dari membuat hati Lyra sakit, ia menumpahkan kekesalannya kepada Kakaknya dan Lakak iparnya.
Namun Rio dan Ana justru malah sangat lega dengan keputusan Rangga, sebagai seorang Kakak yang baik Rio tetap mendengarkan semua keluhan adiknya, ia juga menyarankan untuk tidak memaksakan Rangga.
"Dek, cinta itu tidak bisa di paksakan, aku yakin di luar sana masih banyak pria yang bisa mencintai dan menyayangi Stela" ucap Rio.
"Ya sudahlah aku akan bicara dengan Stela, semoga kali ini dia menerimanya." Lyra menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
Dengan ijazah S3 yang ia miliki Rangga memilih untuk mengajar di salah satu universitas yang ada di Jerman, ia ingin memiliki waktu lebih banyak untuk putri semata wayangnya.
Rangga sangat menikmati perannya sebagai seorang Ayah sekaligus Ibu untuk putri kecilnya hingga tanpa terasa Alea sudah menginjak usia lima tahun.
Setiap malam Rangga selalu menceritakan sosok Tyshia kepada kepada Alea dan selalu meminta Alea untuk mendoakan ibunya.
"Ayah, Did ibu love me a lot?
"Yeah, of course. She loves you very much." Rangga menceritakan kebahagiaan dirinya dan Tyshia saat pertama kalinya mendengar detak jantung Alea dalam rahim Ttshia, ketika pertama kalinya melihat Alea yang masih sebiji kacang dalam monitor USG dan pertama kalinya merasakan tendangan kecil Alea di perut Tyshia.
Semuanya masih jelas dalam ingatan Rangga, Rangga menahan tangisnya ketika mengingat perjuangan Tyshia untuk memiliki momongan.
"Okay, It's time to go sleep.Mmmuuuah..." Rangga menghentikan ceritanya, ia tak mau terlihat bersedih di depan putrinya.
"Good night Ayah."
"Good night honey." Rangga mencium kening putrinya dan menyelimutinya, begitu Rangga ingin mematikan lampu kamar putrinya Alea memanggilnya kembali.
"Ayah."
"Yes love."
" You will come to school tomorrow, right?"
"Ya, I will come and see you tomorrow."
"Hitam putih, warna dihidupku seketika hilang saat kamu pergi"
Melihat foto maternitynya yang berwarna hitam putih, Rangga baru menyadari jika Tyshia telah memberikan pertanda sebelum kepergiannya.
Dengan deraian air mata yang jatuh di pipinya, Rangga memainkan piano milik Tyshia.
... I'll Never Love Again - Lady Gaga...
...Wish I could...
...Andai kubisa...
...I could have said goodbye...
...Bisa saja kuucapkan selamat tinggal...
...I would have said what I wanted to...
...Kan kukatakan yang ingin kukatakan...
...Maybe even cried for you...
...Mungkin bahkan menangisimu...
__ADS_1
...If I knew it would be the last time...
...Andai kutahu itu kan jadi saat terakhir...
...I would have broke my heart in two...
...Kan kubagi hatiku jadi dua...
...Tryin' to save a part of you...
...Mencoba selamatkan bagian darimu...
...Don't want to feel another touch...
...Tak mau rasakan sentuhan lain...
...Don't want to start another fire...
...Tak mau rasakan bara lain...
...Don't want to know another kiss...
...Tak mau tahu kecupan lain...
...No other name falling off my lips...
...Tak ada nama lain keluar dari bibirku...
...Don't want to give my heart away...
...Tak mau berikan hatiku...
...To another stranger...
...Pada orang asing...
...Or let another day begin...
...Atau biarkan hari berganti...
...Won't even let the sunlight in...
...Juga takkan biarkan sinar mentari menerobos...
...No I'll never love again...
...Aku takkan pernah mencinta lagi...
...I'll never love again...
...Aku takkan pernah mencinta lagi...
__ADS_1