ALINEA

ALINEA
Chapter 43 : Operasi


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rangga tak berbicara sepatah kata pun kepada Tyshia.


"Byy, maafin aku ya.." Tyshia menoleh ke arah Rangga dan memegang tangan suaminya.


"Habiskan sarapanmu!" ucap Rannga dengan tegas, menyuruh istrinya untuk menghabiskan sarapannya.Tyshia hanya bisa pasrah menuruti semua permintaan suaminya.


Sesampainya di rumah sakit, Rangga melakukan registrasi pendaftaran kemudian menunggu antrian pemeriksaan, meskipun Rangga belum mau berbicara kepada Tyshia namun tak semenit pun Rangga melepaskan genggaman tangannya dengan tangan istrinya, sesekali Rangga juga merangkul dan mencium kepala istrinya.


Begitu suster memanggil nama Tyshia, Rangga dan Tyshia masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Rangga menanyakan secara detail apa yang terjadi dengan istrinya, dokter pun menjelaskannya dengan detail mulai apa itu miom, gejalanya, hingga resiko dan kemungkinan hamil pada pasien miom.


Rasa sesak di dada Rangga saat dokter menjelaskan gejala dari miom yang salah satunya adalaj rasa nyeri di perut bagian bawah terutama saat haid dan saat berhubungan badan.


Rangga menatap Tyshia sesaat kemudian sedikit, menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir jika Tyshia menyembunyikannya selama ini.


Dokter juga menjelaskan jika Tyshia masih memiliki peluang kesempatan untuk dapat hamil, setelah mendengarkan penjelasan dokter Tyshia menjalani pemeriksaan lanjutan dan persiapan untuk operasi yang di jadwalkan keesokan harinya.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan akhirnya Tyshia di pindahkan ke ruang perawatan, di dalam ruang perawatan Rangga kembali membaca dengan teliti hasil pemeriksaan MRI dan USG istrinya.


Rasa bersalah menyelimuti dirinya, Rangga memeluk Tyshia dengan erat.


"Maafin aku byy, maafin aku. Aku suami yang tidak peka, jahat, egois, aku tidak bisa membahagiakan wanita yang sangat aku cintai. Maafkan aku sayang hiks..." Air mata Rangga mengalir deras di pipinya, ia tertunduk lemah di pangkuan istrinya.


"Byy kamu sama sekali tidak salah, aku yang tidak berani jujur denganmu. Aku takut kamu akan ninggalin aku" Tyshia membelai lembut kepala suaminya.


Rangga merangkum wajah Tyshia " Lihat mataku byy dan dengarkan aku baik-baik. Aku menikahimu bukan semata-mata hanya untuk meminta keturunan darimu, akuningin ibadah bersama orang yang aku cintai, kalau pun kamu tidak bisa memberikanku keturunan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah sayang" Rangga meyakinkan Tyshia bahwa ia benar-benar sangat mencintai Tyshia.


"Byy please berhenti untuk mencintaiku, berhenti untuk selalu melayaniku, dan berhenti untuk memprioritaskan aku di atas kepentinganmu!!! Stop itu semua biarkan aku saja yang mencintaimu, melayanimu, memikirkan semua tentangmu. Egoislah kepadaku, mintalah apa saja yang kamu mau, katakan apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu pikirkan. Aku sayang sama kamu byy hiks.." Rangga kembali menumpahkan air matanya di pangkuan tyshia.


"Setelah kita liburan, kita akan balik ke Indonesia. kamu urus lagi clothing brandmu di sana, bahkan jika kamu menginginkan kita tinggal di rumah orang tuamu, aku akan menuruti semua maumu sayang, semuanya sayang."


"S3 mu bagaimana byy? pekerjaanmu di sini? bukankah kamu sedang di promosikan naik jabatan?" tanya Tyshia.


"Cukup byy, saat ini prioritasku hanya kamu, kebahagiaanmu diatas segalanya bagiku" Rangga memeluk Tyshia dengan erat menciumi kepala Tyshia "Aku sayang kamu" bisiknya lirih.


Lama Rangga memeluk istrinya hingga Tyshia meminta Rangga duduk di sebelahnya.


"Byy duduk di sini!!" Tyshia menepuk tempat tidurnya, Rangga menuruti permintaan istrinya untuk duduk lebih dekat dengannya. Tyshia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Rangga dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, tempat ternyaman baginya untuk bersandar.


"Byy, jadi selama ini sakit ya? maafin aku ya. Kamu janji ya byy, tidak ada hal yang kamu tutupi lagi" ucap Rangga, dengan nada sedih dan penuh penyesalan


"Iya sayang, aku janji"


"Byy, kamu tidak mempersiapkan diri untuk tesismu besok?" tanya Tyhsia.


"Tidak, aku mau menundanya saja, aku ingin menemanimu operasi"


"Jangan byy, tinggal satu langkah lagi kamu akan menyelesaikan S2mu."

__ADS_1


"Sudah tidak penting lagi byy, saat ini kamu adalah prioritas utamaku" Rangga sudah tidak lagi memperdulikan tesisnya, yang ada di fikirannya saat ini adalah kesehatan istrinya.


"Aku tidak akan operasi jika kamu tidak menyelesaikan sidang tesismu."


"Byy..."


"Aku mohon padamu byy, selesaikanlah studymu. Aku bisa operasi di temani oleh Mommy dan Daddy. Please..." Tyshia memohon kepada Rangga.


"Tidak bisa byy, aku tidak bisa meninggalkanmu sayang" tolak Rangga


"Kamu bisa datang saat sidangmu selesai, Please byy selesaikan sidang tesismu, ini hanya tinggal satu langkah lagi" Tyshia terus memohon kepada Rangga.


"Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu Byy"


"Kalau begitu aku tidak akan operasi, aku mau pulang" Tyshia mencoba untuk melepaskan jarum infus yang menempel di tangannya.


Dengan sigap Rangga menahannya "Okay fine, aku sidang" dengan berat hati Rangga pun menuruti permintaan Tyshia.


"Aku akan menghubungi Mommy" Rangga mengambil handphonenya kemudian menghubungi Risty.


Risty sangat terkejut mendengar jika Tyshia akan menjalani operasi pengangkatan miom, setelah mendapatkan kabar dari Rangga, risty bergegas menyiapkan segala keperluannya untuk menemani Tyshia selama Tyshia di rumah sakit.


"Kita kabarin ayah dan bunda juga ya byy" ucap Rangga.


"Iya sayang" Tyshia menganggukan kepalanya.


Usai menghubungi Mommy dan kedua orang tua Tyshia, Rangga menghubungi Ayah sambungnya untuk meminta doa kelancaran operasi istrinya.


Dengan tulus Cakra mendoakan kesembuhan untuk Tyshia dan ia memberikan support dan menyakinkan Tyshia jika peluang untuk bisa hamil masih terbuka sangat lebar setelah menjalani operasi pengangkatan miom tersebut.


"Semangat ya Mba Al, setelah Mas Rama menyelesaikan koas, kami semua akan ke sana" ucap Laura yang juga ikut bergabung video call bersama ayahnya.


Mendapat banyak dukungan dari orang-orang sekitarnya, membuat Tyshia semakin bersemangat "Terima kasih ya, Mba tunggu kalian di sini" ucap Tyshia.


"Ya sudah, kamu banyak-banyak istirahat ya. Doa kami selalu menyertai kalian" ucap Cakra sebelum mematikan sambungan video callnya.


Setelah menghubungi keluarganya, Rangga mulai membuka laptopnya mempersiapkan sidang tesisnya. Sesekali Rangga menciumi tangan istrinya, Rangga tak ingin jika istrinya merasa di abaikan olehnya.


"Byy aku bisa hamil tidak ya?"


"Bisa sayang, tadi kamu dengar sendiri apa kata ayah dan juga apa kata dokter di sini. Lagi pula saat ini banyak optional untuk program kehamilan, buat aku yang terpenting kamu sehat dulu, masalah anak itu adalah hak Allah, biarkan Allah saja yang menentukan kapan waktunya yang tepat" Rangga membawa tyshia kedalam pelukannya.


Malam harinya Risty, Daniel, Edwar dan Elena datang ke rumah sakit untuk menjenguk Tyshia. Risty memutuskan untuk menginap menemani Rangga menjaga Tyshia, karena Risty tahu Rangga sedang sibuk mempersiapkan ujian tesisnya, sedangkan Rio dan Ana baru tiba di ruamah sakit putul 03.00 dini hari.



Pagi harinya rangga bersiap untuk pergi ke kampusnya, rasanya terlalu berat untuk meninggalkan istrinya yang akan menjalani operasi.

__ADS_1


"Aku batalkan saja ya sidangnya"


"Byy kok gitu sih? aku tidak mau operasi jika kamu tidak menyelesaikan sidangmu." Ancam Tyshia.


"Rangga, kamu tidak perlu khawatir ada kami di sini yang akan menemani Tyshia. Nanti segala perkembangannya akan Bunda kabarkan kepadamu" Ana mendekat ke arah Rangga mengelus bahunya.


"Tapi bunda..."


"Percalah pada kami Ngga, selesaikanlah pendidikanmu. Kami akan menjaga dan menemani Tyshia di sini" ucap Risty.


"Semangat ya sayang" Tyshia merapihkan pakaian Rangga dan mengeceknya secara keseluruhan.


"Aku pergi dulu ya. Mmmuuah...." Rangga mencium seluruh wajah tyshia kemudian memeluknya erat, rasanya terlalu berat untuk melepaskan pelukannya.


"Good luck ya byy"


"Terima kasih ya sayang" Rangga mengelus kepala Tyshia dan menciumnya.


Setelah berpamitan dengan istrinya, Rangga berpamitan kepada Ayah, Bunda dan juga Mommynya. Dengan berat hati Rangga pergi melangkah meninggalkan rumah sakit menuju kampusnya.


Sementara itu di rumah sakit Tyshia di jadwalkan operasi pukul 11.00 siang, operasi tersebut hanya memakan waktu satu jam. Sesuai dengan janjinya Ana selalu memberikan kabar kepada Rangga, baik melalui, chat, telepon maupun video call. menyesuaikan situasi Rangga di kampusnya.


"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar Ngga, Tyshia juga sudah kembali ke ruang rawat inapnya. Tuh Tyshiamu masih tidur, nanti jika sudah bangun Bunda kabarin lagi ya. Kamu selesai jam berapa nak?"


"Maaf bunda sepertinya aku sampai sore."


"Ya sudah, kamu selesaikan saja dulu urusanmu hingga selesai baru kamu kembali ke sini"


"Bunda terima kasih banyak ya, maaf aku merepotkan Ayah, Bunda dan juga Mommy."


"Kamu ini ngomong apa sih Ngga, kamu fokus saja pada sidangmu, berikan nilai terbaik untuk Tyshia, pasti ia akan bangga padamu. Ana mematikan video callnya dengan Rangga.


Pukul 17.30 Rangga baru kembali ke rumah sakit, ia langsung menuju ke ruang rawat inap istrinya. Rangga mencium tangan Risty dan Rio kemudian mendekat ke arah Ana yang sedang menyuapi Tyshia.


"Biar Rangga saja Bunda." Rangga mengambil mangkuk sup dari tangan Ana, Rangga memegang mangkuk tersebut sambil mencium kening istrinya.


"Bagaimana tadi byy lulus?" tanya Tyshia.


"Alhamdulillah, tadi bagaimana operasinya? masih sakit?" tanya Rangga dengan raut wajah yang sangat cemas.


"Aku baik-baik saja sayang, lusa juga aku sudah boleh pulang." Tyshia mengelus tangan Rangga, agar Rangga tak terlalu mencemaskannya.


Dengan telaten Rangga menyuapi Tyshia hingga makanan Tyshia habis, kemudian Rangga menyiapkan obat yang akan Tyshia minum, setelah meminum obat tidak lama kemudian Tyshia tertidur.


"Ngga, Ayah dan Bunda ingin bicara kepadamu, bisa ikut kami keluar?" ucap Rio


"Biar Tyshia, Mommy yang jagain" ucap Risty.

__ADS_1


Rangga menyelimuti tubuh Tyshia dan mencium keningnya, kemudian mengikuti Rio dan Ana dari belakang.


__ADS_2