ALINEA

ALINEA
Chapter 22 : Part of Rangga


__ADS_3

Setibanya di Jakarta Rangga langsung menuju kostan yang sudah ia cari via internet sebelum dirinya berangkat ke Jakarta.


Perbedaan waktu yang cukup jauh anatara New York dan Indonesia membuat dirinya jet lag. Rangga merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memberi kabar kepada Tyshia bahwa dirinya sudah sampai di Jakarta dengan selamat. Rangga hanya mengirimkan pesan singkat saja kepada Tyshia, ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat kekasihnya.


^^^Rangga:^^^


^^^Byy, aku sudah sampai di Jakarta.^^^


Rangga menaruh kembali handphonenya di atas meja, kemudian ia memejamkan matanya.



Dua minggu sudah Rangga tinggal di Jakarta, selama itu ia melewati tahapan-tahapan tes kerja, mulai dari tes kompetensi dasar hingga tes kesehatan dan interview di beberapa perusahaan yang ia lamar.


Rangga tak melewatkan sehari pun untuk menghubungi kekasihnya, ia selalu melaporkan setiap kegiatan yang ia lakukan dengan detail kepada Tyshia, dan Tyshia pun selalu menjadi pendengar yang baik untuk Rangga, segala keluh kesah Rangga ia tampung, Tyshia selalu memberikan dukungan dan semangat untuk Rangga.


"Terima kasih banyak ya byy, kamu enggak pernah bosan dengerin aku cerita. Lalu bagaimana dengan harimu di New York kemarin?" tanya Rangga.


"Good, aku kuliah seperti biasa. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di perpustakaan agar aku bisa segera menyelesaikan kuliahku dan kita bisa sama-sama lagi di Jakarta" ucap Tyshia.


"Hanya itu saja sayang?" tanya Rangga kembali, padahal ia ingin sekali mendengar lebih detail mengenai kegiatan Tyshia.


"Hu'um hanya begitu-bbegitu saja, bagaimana cuaca di Jakarta?" Tyshia mencoba mengalihkan topik.


Terkadang ada sedikit timbul tanda tanya di hati Rangga, selama berhubungan dengan Tyshia, Tyshia jarang sekali menceritakan tetang dirinya. Bagi Rangga, Tyshia terlalu tertutup, wanita itu selalu mengalihkan pembicaraan, namun meskipun demikian Rangga tetap mempercayai Tyshia 100% dan berharap setelah menikah nanti Tyshia akan lebih terbuka dengan dirinya.


Ditengah obrolannya dengan Tyshia, Rangga menerima email panggilan kerja dari perusahaan yang di lamarnya.


"Byy, aku di terima kerja di perusahaan kimia yang minggu lalu aku ikut test" ucap Rangga sambil menatap layar laptopnya.


"Alhamdulillah, selamat ya byy. Semoga besok di hari pertama Kak Rangga kerja, semuanya berjalan dengan lancar" ucap Tyshia, ia ikut bahagia mendengarnya.


"Terima kasih ya sayang, ini semua berkat doa dan dukunganmu."


"Sama-sama sayang, aku siap-siap ke kampus dulu ya byy di sini sudah jam 07.00 pagi."


"Iya sayang, semangat ya. Nanti kabarin aku ya, love you."


"Love you too." Tyshia menutup panggilan telephonenya.



Hari pertama rangga masuk kerja, Rangga di tempatkan di bagian Quality Control. tak butuh waktu lama untuk Rangga memahami alur pekerjaan yang ia kerjakan, Rangga juga tak segan untuk bertanya kepada seniornya.


"Rangga this morning Mr. Lingga had an accident, can you replace him in the meeting this afternoon?" ucap Riko salah satu rekan Rangga.


"Okay" Rangga menganggukan kepalanya.


Sebelum meeting, Rangga menyempatkan diri untuk menghubungi Tyshia, saat Rangga menghubungi Tyshia ia di kejutkan dengan suara pria mabuk, pikirannya semakin kacau saat Tyshia mematikan telepon dari Rangga.

__ADS_1


Rangga tak dapat berkonsentrasi mempelajari materi untuk meetingnya, ia begitu mengkhawatirkan kekasihnya. Hingga satu jam kemudian Tyshia kembali menghubunginya, ia menjelaskan semuanya kepadanya barulah Rangga merasa sedikit tenang, ia meminta Tyshia untuk menjauhi Rai karena ia tak ingin Rai membawa pengaruh buruk kepada Tyshia, kemudian ia pun melanjutkan pekerjaannya.


Materi meetingnya ia buat dengan power point templetes design buatan Tyshia, setelah semua materinya selesai Rangga memasuki ruangan meeting bersama dengan para manager dari divisi yang berbeda, Rangga merasa sangat gugup di kelilingi oleh senior yang jabatannya berada di atasnya.


Begitu semuanya sudah berkumpul, Dirut perusahaan datang, semua yang hadir dalam ruangan tersebut berdiri dan membungkukkan badan termasuk Rangga.


Dirut perusahaan tersebut adalah Rio Darmanto yang tak lain merupakan Ayah kandung dari Alinea Lateshia Darmanto.


Rio cukup terkejut dengan kehadiran Rangga di salah satu peserta meeting hari itu, kabar terakhir yang ia dapatkan dari supir putrinya jika Rangga sudah pulang ke Indonesia, setelah itu Rio tidak lagi menanyakan kabar terbarunya, ia hanya menunggu Rangga menghubunginya, namun ternyata Rangga lebih memilih untuk mengikuti tes di banding menghubungi dirinya.


'It's show time' gumam Rio dalam hati.


Satu persatu dari masing-masing divisi memaparkan penjelasan laporannya kepada Rio, tibalah saat yang di tunggu oleh Rio.


Rio ingin melihat sejauh mana kempuan Rangga, sepanjang penjelasan yang Rangga ungkapkan, Rio benar-benar mencari celah kesalahan Rangga namun Rio tak menemukannya, hingga ia memperhatikan power point presentasi Rangga yang di bawahnya ada inisial nama putrinya.


Seusai meeting Rio memberikan Rangga stumpuk dokumen tentang pemeriksaan kimia pada bahan baku, bahan kemas dan produk jadi yang harus yang harus Rangga laporkan secepatnya kepada Rio, dan Rio juga menyuruh Rangga untuk mengganti design power pointnya karena di anggap mengganggu.


Rangga agak merasa sedikit heran mengapa ada orang yang mempermasalahkan masalah yang sepele, tapi Rangga tetap berfikiran positif dan mengerjakan semua pekerjaan yang atasanya berikan dengan baik.


Sudah lebih dari dua minggu sejak meeting kala itu, Rangga selalu pulang larut malam kerena mengerjakan semua laporan-laporannya, ia juga harus bolak balik lab dan tak jarang ia terjun langsung ke pabrik.


Yang paling melelahkan bagi Rangga setelah semua laporannya selesai, Rio malah mengembalikan laporan yang Rangga buat tanpa alasan yang jelas.


'Apa aku memang tidak pantas bekerja di sini?' gumam Rangga sambil menghela nafas beratnya.


Suatu pagi Rangga datang terlambat, karena buru-buru ingin absen ia hampir saja menabrak istri dari dirutnya.


"Iya nyonya, maaf nyonya saya permisi absen dahulu" ucap Rangga sambil membungkukan badannya.


"Oh iya silahkan. Habis ini saya ingin bicara denganmu, temui saya di ruangan meeting" ucap Ana, kemudian ia berlalu meninggalkan Rangga.


'Masalah apa lagi ini?' gumam Rangga dalam hati, pikirannya menjadi tak tenang, ia pasrah jika harus di keluarkan dari perusahaan.


Setelah Absen, ia langsung menemui Ana di ruang meeting, oamengetuk ruangan meeting kemudian memberikan salam kepada Ana.


"Masuklah Rangga" Ana mempersilahkan Rangga untuk masuk dan duduk di hadapannya.


"Rangga, sejak kapan kamu bekerja di sini? Setahuku kamu belum menghubungi suamiku" tanya Ana.


"Hampir sebulan nyonya, maaf nyonya aku tidak menghubungi tuan karena saya tidak ingin mengambil hak orang lain" jawab Rangga.


"Maksudmu?"


"Jika saya menghubungi tuan kemudian tuan memasukkan saya ke perusahaan ini tanpa tes, saya takut menyingkirkan orang yang jauh lebih berkompeten di bandingkan saya untuk bekerja di sini, jadi saya lebih memilih untuk mengikuti prosedur yang sudah seharusnya" terang Rangga.


'Putri benar-benar tak salah pilih' gumam Ana, ia terkesima mendengar jawaban dari Rangga, kemudian Ana menanyakan divisi tempat Rangga bekerja.


Sebelum pergi meninggalkan Rangga, Ana sempat berpesan kepada Rangga untuk tidak datang terlambat, kemudian Ana meninggalkan ruangan meeting menuju ke ruangan suaminya.

__ADS_1


"Dari mana saja sayang?" tanya Rio, saat melihat istrinya masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Habis mengobrol dengan calon menantuku" ucap Ana.


"Siapa?" tanya Rio dengan heran.


"Rangga, memangnya kamu belum tahu jika Rangga sudah bekerja di sini?" tanya Ana.


"Sudah, waktu itu aku pernah meeting dengannya. Apa saja yang kalian bahas? mengapa kamu tidak meminta ijin kepadaku?" tanya Rio.


"Rangga kan calon menantuku apa harus izin juga?" tanya Ana.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya Rio keluar dari ruangannya menuju ruangan Rangga, Rio meminta semua laporan yang ia perintahkan kepada Rangga, Rio pun memeriksa semua laporan yang Rangga buat.


"Perbaiki dan buatlah dengan benar!!" Rio mengembalikan semua lapornnya kepada Rangga.


Rio pergi meninggalkan rangga menuju ruangannya, Ana yang melihat kejadian itu langsung marah terhadap Rio.


"Tidak bisakah kamu menjadi mentor yang baik untuk calon menantuku? seperti apa yang kau lakukan kepada Adit dan pegawai-pegawai kantormu yang dulu"


"Aku tidak akan memutuskan sebelum aku memastikan Rangga memang orang yang tepat" ucap Rio.


"Kamu mau cari orang yang seperti apa lagi?"


"Aku hanya ingin memastikan ia benar-benar orang yang tepat untuk putri kita."


"Terserah, aku sudah lelah melihat sikapmu" Ana yang tak ingin berdebat dengan suaminya, ia memilih pergi meninggalkan kantornya.


Beberapa hari berlalu, Ana masih saja melihat Rangga datang terlambat ke kantor, Ana pun menanyakan alasan mengapa Rangga datang terlambat.


"Kemarin saya membuat laporan hingga jam 11.30 malam, kebetulan kostan saya agak jauh dari sini sehingga saya agak datang terlambat. Saya mohon maaf Nyonya, saya berjanji ini yang terakhir kalinya" ucap Rangga, sambil membungkukkan badannya.


"Apa saya boleh lihat laporan yang kamu buat?" tanya Ana.


"Tentu saja Nyonya, mari"


Ana berjalan ke ruang kerja Rangga, di ikuti oleh Rangga dari belakang, begitu sampai di ruang kerjanya, Rangga memberikan semua laporannya kepada Ana.


'Semua terlihat baik-baik saja tapi mengapa suaminya selalu menyuruh rangga revisi' gumam Ana dalam hati dengan teliti Ana memeriksa satu persatu isi laporan Rangga.


"Saya pinjam laporanmu" Ana membawa semua laporan Rangga ke ruangannya dan menaruhnya di hadapan suaminya.


"Papaku tidak pernah melakukan hal ini kepadamu, mengapa kamu sejahat itu kepada Rangga?" tanya Ana.


"Aku hanya ingin Rangga banyak belajar" ucap Rio.


"Belajar? Rangga itu salah satu mahasiswa terbaik di American University, kamu masih meragukannya? Please, jadilah mentor sekaligus teman yang baik untuknya, kenalinia lebih dalam dari berbagai sisi barulah kamu memutuskan apa Rangga orang yang tepat untuk putri kita. Jika Tyshia samapai tahu apa yang kamu lakukan terhadap Rangga, tentu ia akan sangat kecewa kepadmu" ucap Ana.


Rio nampak berfikir sejenak, apa yang di katakan istrinya memang ada benarnya, sejak kejadian itu Rio bersikap lebih baik kepada Rangga.

__ADS_1


Melalui cctv Rio sering memantau Rangga dari ruangannya, tak jarang Rio mendapati Rangga sedang video call dengan putrinya, bukan video call yang mengganggu namun keduanya tetap fokus di kegiatannya masing-masing.


Satu bulan berselang, kabar duka datang dari Pak Lingga, beliau meninggal dunia akibat insiden kecelakaan tersebut. Rio meminta Rangga menggantikan posisi pak Lingga sebagai manager, dari situlah Rangga mulai bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiahnya untuk membeli sebuah rumah dan mobil serta mengumpulkan tabungan untuk dirinya menikahi Tyshia.


__ADS_2