
Semakin hari Alea dan teman-temannya di sibukan dengan banyaknya les tambahan belajar untuk persiapan olimpiadenya di Tokyo, Jepang.
Rangga dengan setia mendapingi putrinya belajar, namun sayangnya beberapa hari menjelang keberangkatan putrinya, ia jatuh sakit dan mengharuskan Rangga untuk menjalani operasi hernia di rumah sakit, sehingga ia tidak bisa mendampingi putrinya ke Tokyo.
"Aku tidak jadi ikut saja ya Yah, aku ingin menemani Ayah agar cepat sembuh hiks..." Alea sangat sedih melihat Ayahnya terbaring di rumah sakit.
Kondisi ini mengingatkan Rangga saat ia hendak sidang tesis, namun di waktu yang bersamaan Alinea pun harus menjalani operasi pengangkatan miom.
Rangga membelai wajah putrinya dengan lembut "Sayang, lihat Ayah!!" pinta Rangga, Alea pun menatap wajah ayahnya "Ayah hanya operasi hernia, jadi kamu tidak perlu khawatir, lagi pula Ayah di rawat oleh dokter yang sangat hebat, tentu Ayah akan cepat sembuh" Rangga melirik ke arah Rama, adiknya yang baru saja datang ke Jakarta untuk menemani dan menjaga kakanya selama kakaknya di rawat.
"Tapi Yah..."
"Kalau kamu tidak pergi ke Tokyo, Ayah justru tidak akan mau operasi" ucap Rangga, ia memakai kata-kata yang pernah Almh.Istrinya katakan dulu kepadanya.
"Kok Ayah begitu? Ayah tidak akan sembuh jika Ayah tidak operasi" protes Alea.
"Kalau begitu besok kamu harus pergi ke Tokyo, dan Ayah di sini akan operasi" ucap Rangga.
"Ayaaaahhhh.... huhu...." Alea menangis di pelukan Ayahnya.
"Nak, ini bukan penyakit yang berat, percayalah Ayah akan baik-baik saja dan segera pulih kembali. Maafin Ayah ya tidak bisa ikut mendampingimu ke Tokyo, padahal Ayah sudah mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari" Rangga mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Yang di katakan oleh Ayahmu itu benar, apa kamu tidak percaya dengan Uncle?" tanya Rama.
"Tapi bukankah bukan Uncle yang akan mengoperasi Ayah besok?" tanya Alea.
__ADS_1
"Ya memang bukan, kan Uncle tidak bertugas di rumah sakit ini. Tapi Uncle akan menjaga dan merawat Ayahmu sampai Ayahmu pulih kembali" ucap Rama.
"Tapi malam ini aku boleh menginap di sini ya Yah" pinta Alea.
"Iya boleh sayang, nanti Ayah akan suruh Bibik untuk membawakan semua barang-barangmu yang akan kamu bawa besok ke Tokyo" ucap Rangga.
"Thank you Ayah" Alea kembali memeluk Ayahmya.
Malam itu Rama nampak kagum dengan kakaknya ketika melihat Alea tertidur di samping kakaknya usai belajar. Rama membantu merapihkan buku-buku Alea yang berserakan di atas tempat tidur kakaknya.
"Thanks ya Dek" ucap Rangga.
"Sama-sama, tidurlah mas. Mas harus banyak istirahat untuk operasi besok"
Rama menaruh semua buku-buku keponakannya di dalam tasnya, kemudian ia menarik selimut menyelimuti kakak dan keponakannya.
"Maafin Ayah ya tidak mengatarmu ke bandara" ucap Rangga, sambil menahan sakit di perutnya ia mencoba untuk duduk.
"Ayaaaahh.... hiks..." Alea kembali menangis di pelukannya, rasanya terlalu berat untuk meninggalkan Ayahnya.
"Jangan sedih ya sayang, Alea harus semangat agar Ayah juga semangat untuk sembuh, berikan hasil terbaik Lea untuk Ayah dan Ibu" Rangga merangkum wajah cantik putrinya kemudian menghapus air matanya.
"Ayah sangat bangga sekali denganmu sayang, Ayah juga yakin Ibu pun juga bangga padamu. Sudah ya jangan sedih lagi, harus semangat"
__ADS_1
Alea tersenyum sambil menganggukan kepalanya "Lea berangkat dulunya Yah, pokoknya Lea pulang Ayah harus sudah sembuh"
"Siap, nanti Lea pulang kita sudah main basket bersama" Rangga mengecup kening putrinya.
"Bye Ayah" Alea melambaikan tangannya sambil menarik koper miliknya.
"Bye honey, semangat"
"Uncle, Aku titip Ayahku" Lea mencium tangan Rama sebelum ia keluar dari ruang rawat inap ayahnya bersama dengan kakek dan neneknya.
"Siap tuan putri cantik, semangat ya. Uncle bangga sekali dengamu"
Setelah mengantar Alea keluar dari ruang rawat inap kakaknya, Rama kembali masuk dan mengobrol santai dengan kakaknya sambil menunggu jadwal operasi.
"Aku bangga sekali dengan Alea, Mas Rangga benar-benar berhasil mendidik Alea" ucap Rama.
"Alhamdulillah, Mas pun sangat bangga padanya. Ibunya benar-benar hadir dalam jiwanya, sehingga ia tidak pernah merasa hidupnya tidak lengkap" ucap Rangga, ia seringkali melihat putrinya nampak seperti sedang bercerita tentang kesehariannya yang ia lakukan dengan foto Almh.Alinea dan di setiap ibadahnya Alea pun tak pernah absen untuk mendoakan Ibundanya tercinta.
"Lalu apa ia jadi mengambil kedokteran?" tanya Rama.
"Insyaallah jadi, kita sudah mencari-cari kampus terbaik di Jerman karena rencannya Alea ingin kuliah disana"
"Jerman?"
"Iya, aku dan Alea akan tinggal di sana hingga Alea selesai kuliah"
__ADS_1
"Rencananya aku ingin membuat rumah sakit, aku ingin mengelolanya bersama Alea. Bagaimana menurut Mas?" tanya Rama. "Kita buat kejutan untuknya setelah nanti ia pulang dari Jerman"
Rangga tersenyum menganggukan kepalanya, ia sangat setuju dengan ide dari Rama "Thanks ya Dek" ucap Rangga.