
Setelah Alea menyelesaikan ujian semester dan Rangga sukses menggelar fashion show peluncuran busana terbarunya.
Keduanya bertolak menuju Jakarta untuk menghabiskan masa liburan semester Alea sekaligus menyelesaikan beberpa pekerjaan yang harus Rangga kerjakan yang tak bisa ia lakukan jarak jauh.
Kedatangan Rangga dan Alea tentu saja di sambut hangat oleh Ana dan Rio yang telah merindukan mereka.
"Tadinya Eyang pikir, kalian mau liburan di Eropa tapi syukurlah kalian pulang. Eyang sangat merindukan kalian" Ana memeluk cucu kesayangannya dengan erat.
"Alea mau liburan keliling Indonesia katanya Bund" ucap Rangga, sambil mencium tangan Rio dan Ana secara bergantian.
"Benarkah? kemana saja"
"Ke Nusa Tenggara, baru nyicil saja dulu Bund satu-satu. Ayah dan Bunda ikut ya, kita liburan bersama nanti aku juga akan ajak Rama dan keluarganya agar ramai" pinta Rangga.
"Ini nanti lama-lama Edwar protes loh, karena tak di ajak" ucap Rio.
"Kita ajak saja Elenanya, biar Edwar tetap stay di kantor haha..."
"Edwar minggu depan akan ke Eropa mengunjungi mertuanya" ucap Ana "Ya sudah kalian istirahat lah pasti capek sekali kan? atau mau makan?" lanjut Ana.
"Tadi kita sudah makan di pesawat kok Eyang"
"Ya sudah kalian istirahat sana, nanti Eyang suruh Bibik antarkan jahe hangat ke kamar kalian masing-masing"
__ADS_1
Rangga dan Alea pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang.
Keesokan harinya Rangga di kejutkan dengan permintaan putrinya yang ingin berkendara sendirian berkeliling Jakarta.
"Di antar Mang Ujang saja ya" ucap Rangga, ia agak sedikit keberatan jika putrinya berkendara sendirian.
"Ayah sekali ini saja, aku kan sudah punya SIM dan Ayahnjuga sudah melihat kemapuanku berkendara" ucap Alea.
Rangga berfikir sejenak, namun akhirnya ia memperbolehkan putrinya untuk berkendara sendirian "Ya sudah, tapi hati-hatinya jangan langgar peraturan lalu lintas dan kabari Ayah jika ada apa-apa" Rangga memberikan kunci mobilnya.
"Thank you Ayah" Alea mencium pipi Ayahnya kemudian ia kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap sementara Rangga langsung berangkat ke kantor.
"Tidak mungkin" Alea menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia mencoba menghubungi teman terdekat Tristan yang bernama Eric.
"Bokapnya tersandung kasus penggelapan dana perusahaan tapi gue dan yang lainnya enggak tau sekarang Tristan di mana" ucap Eric dari seberang telepon.
"Okay, thank you Ric" Alea mematikan sambungan teleponnya kemudian ia memacu kempndaraannya menuju Villa milik keluarga Tristan yang berda di kawasan Puncak Bogor ia berharap jika Tristan tinggal di sana.
Setelah 2.5 jam berkendara melalui tol jagorawi akhirnya Alea tiba di depan villa milik keluarga Tristan, di depan villa Alea juga melihat tulisan yang sama, jika villa tersebut di sita juga.
__ADS_1
"Di mana kamu Tristan" Alea menghela nafas beratnya.
Alea memutar arah kendaraannya kembali menuju Jakarta "Dimana kamu Tristan, bukankah kamu janji tidak akan meninggalkan aku?" tanpa terasa Alea meneteskan air matanya.
Setelah kembali ke Jakarta Alea mengunjungi warung pecel lele yang pernah ia kunjungi bersama Tristan, ia memesan satu porsi untuk dirinya.
'Rasanya tidak sama ketika makan bersamamu'
Jika dulu Alea bisa menghabiskan dua porsi sekaligus, kini satu porsi pun Alea tak sanggup untuk menghabiskannya. Ia melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul 20.00 malam, ia pun memutuskan untuk kembali pulang ke kediamannya.
"Alea dari mana saja kamu?" tanya Rangga dengan tatapan tajam.
"Ak-aku habis dari rumah Tristan" jawab Alea gugup.
"Lalu?" tanyanya kembali.
"Aku ke villa milik keluarga Tristan" ucap Alea sambil menundukan kepalanya, ia sangat takut jika Ayahnya akan marah padanya.
"Lea, bukankah sudah Ayah katakan kepadamu Apa yang Melewatkanmu tidak akan pernah menjadi Takdirmu, dan apa yang Ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu. Biarkan semesta yang bekerja, tugasmu memperbaiki diri" ucap Rangga, ia sangat paham apa yang di rasakan putrinya namun Tristan pergi dari kehidupan putrinya atas kehendak dirinya sendiri, sehingga menurutnya putrinya tidak perlu mencarinya.
Alea menganggukan kepalanya "Maafkan aku Ayah" ucap Alea dengan perasaan bersalah.
"Ya sudah kita istirahat yuk, sudah malam" Rangga merangkul putrinya menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1