ALINEA

ALINEA
Chapter 44 : Kelainan Bentuk Rahim


__ADS_3

Rangga mengikuti Rio dan Ana menuju kantin yang berada di rumah sakit tempat istrinya di rawat.


"Ayah dan Bunda mau makan atau minum apa? Biar aku pesankan" ucap Rangga.


"Mineral water saja Ngga, kami sudah makan. Kamu saja yang makan, kamu pasti belum makan kan?" ucap Ana.


Tak lama Rangga datang ke meja tempat Rio dan Ana duduk sambil membawa makanan dan minuman untuk dirinya dan juga untuk kedua mertuanya.


"Kamu makanlah dahulu! setelah itu baru kita bicara" Rio mempersilahkan Rangga untuk menyantap makanannya terlebih dahulu barulah ia memulai berbincang.


"Tidak apa-apa Yah, jika menungguku selesai aku takut Tyshia akan bangun dan mencari kita" ucap Rangga.


"Baiklah, jadi begini Ngga. Tadi Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar, hanya saja hasil pemeriksaan dokter ada sedikit masalah dalam rahim Tyshia." Rio berhenti sejenak, ia melihat raut wajah Rangga yang nampak tenang mendengar setiap kaliamat yang ia sampaikan, kemudian Rio melanjutkannya lagi.


"Untuk lebih spesifiknya nanti pagi dokter yang akan menjelaskan lebih detailnya kepadamu. Tapi yang jelas peluang untuk kehamilan tetap ada hanya saja di butuhkan effort dan kesabaran yang lebih" Rio menghentikan kembali kalimatnya, ia kembali menatap Rangga yang sama sekali tidak menunjukan perubahan apa pun di raut wajahnya.


"Kamu tidak akan menduakan atau meninggalkan anak kami kan?" tanya Rio dengan hati-hati.


"Seperti yang di lakukan oleh Alm.Abiku terhadap Almh.Umiku?" tanya Rangga, ia sangat mengerti akan kekhawatiran mertuanya "Apa perlu aku membuat surat perjanjian resmi yang menyatakan jika aku tidak akan berselingkuh atau meninggalkan istriku?" tanya Rangga.


"Bukan begitu maksud kami Rangga"


"Besok aku akan buatkan suratnya, jadi Ayah dan Bunda tidak perlu khawatir jika aku berbuat seperti itu, Ayah dan Bunda bisa membawaku ke ranah hukum."


Rangga menghabiskan suapan terakhirnya, kemudian menghabiskan minumannya.


"Ayah, Bunda. Aku menikahi putri kalian untuk ibadah, sedangkan keturunan adalah hak Allah, kami hanya bisa berusahan. Kalau pun peluang itu memang tidak ada, aku lebih memilih untuk mengadopsi anak dari pada mencari wanita lain. Apa ada yang ingin ayah dan bunda bicarakan lagi? jika tidak aku permisi, aku ingin menemani istriku."


Rio mempersilahkan Rangga untuk kembali ke ruang rawat inap Tyshia, sesampainya di ruang rawat inap rangga melihat istrinya sudah terbangun.


"Kok cepat sekali tidurnya? Maaf ya tadi aku tinggal makan dulu di kantin belakang" Rangga memeluk kemudian mengecup bibir Tyshia.


"Tidak enak tidur tanpa di peluk olehmu, Byy."


"Sini aku peluk, aku tidak akan pergi dari sisimu sayang" Rangga duduk di atas tempat tidur Tyshia dan mengelus lembut kepala Tyshia hingga Tyshia tertidur kembali.

__ADS_1


Melihat keponakannya sudah membaik Risty memutuskan untuk pulang, setelah Risty pulang rangga meminta mertuanya juga untuk beristirahat di apartemen.


"Kamu yakin mau jaga Tyshia sendirian?" tanya Ana.


"Yakin Bund, Bunda dan Ayah istirahatlah. Terima kasih banyak Bunda dan Ayah sudah menemani Tyshia saat aku tidak ada"


"Sama-sama Ngga, besok pagi kami kemari lagi ya, kabari jika terjadi apa-apa." Rio dan Ana pergi ke apartemennya.



Keesokan harinya setelah Rio dan Ana kembali ke rumah sakit, Rangga pergi menemui dokter kandungan yang menangani istrinya.


Dengan tenang Rangga mendengarkan penjelasan dokter, jika istrinya memiliki kelainan bentuk rahim, septate uterus di mana bagian dalam rahim terbagi oleh dinding otot atau jaringan ikat fibrosa (septum), rahim yang terpisah ini kemungkinan membuat Tyshia lebih sulit untuk hamil dan dapat meningkatkan resiko keguguran.


Dokter mengungapkan jika kelainan ini dapat diobati dengan operasi, Rangga berfikir sejenak sampai akhirnya ia memutuskan untuk menunda sementara waktu operasi rahim istrinya karena istrinya baru saja menjalani operasi miom.


Dan juga untuk menjaga kesehatan mental istrinya, Rangga memutuskan untuk sementara tidak menceritakannya kepada Tyshia, hingga ia menemukan moment yang tepat untuk menyampaikannya, ia ingin istrinya bahagia menjalani hari-harinya hidup bersama dengan dirinya.


Saat kembali ke kamar rawat inap istrinya, Rangga melihat teman-teman kantor Tyshia datang menjenguk istrinya. Tyshia pun memperkenalkan Rangga kepada teman-teman kantornya, Rangga tersenyum ramah kepada mereka semua dan mempersilahkan mereka untuk mengobrol dengan istrinya.


"Get well soon Alinea, see you and bye"


"thanks for coming" Tyshia melambaikan tangannya kepada teman-temannya.


Seusai teman-teman Tyshia pergi, Rangga menyuapi Tyshia makan siang dan minum obat.


"Byy... aku ngantuk" beberapa kalimia menguap karena efek obat.


Dengan sigap Rangga lalung memeluknya dan mengelus punggung Tyshia hingga ia tertidur "Mimpi indah sayangku" Rangga mengecup kepala Tyshia, kemudian ia perlahan turun dari atas tempat tidur.


Rangga mengambil surat perjanjian yang ia buat tadi malam saat istrinya tengah tertidur, kemudian memberikan surat tersebut kepada mertuanya. Di dalam surat tersebut Rangga bukan hanya berjanji untuk tidak menduakan dan meninggalkan Tyshia, Rangga juga akan menyerahkan seluruh harta yang ia miliki kepada istrinya jika ia melakukan hal itu.


"Masih berupa tulisan tangan karena aku belum sempat kemana-mana, tapi nanti aku susulkan bentuk bakunya dengan ketikan yang rapih."


Rio membaca dengan detail point-point yang Rangga tulis

__ADS_1


"Sebenarnya tanpa perjanjian ini pun seluruh asset yang aku miliki sudah atas nama Alinea."


"Rangga, maaf jika kami membuatmu tersinggung, kami hanya ingin menjaga putri kami, karena kami tahu Tyshia sangat mencintaimu dan tak bisa tanpamu" ucap Ana.


"Aku sama sekali tidak merasa tersinggung atau keberatan, Bunda. Memang sudah seharusnya sebelum menikah aku membuat perjanjian pra nikah dengan Alinea namun aku tidak sempat membuatnya. Satu hal yang Bunda harus tahu, aku juga sangat mencintai Alinea"


"Rangga, apa kamu sudah mendengar penjelasan dari dokter? ayah harap kamu bisa berlapang dada menerima kekurangan Tyshia." Ucap rio


"Justru aku yang menghawatirkan kondisi mental istriku jika ia sampai mengetahui hal ini, ia pasti akan sangat sedih. Nanti aku akan mencari moment yang tepat untuk menyampaikannya."


"Rangga, terima kasih ya."


"Tidak perlu berterima kasih Bunda, aku sangat mencintai segala yang ada pada diri Tyshia."


Rangga melihat ke arah Tyshia yang tangannya sudah meraba-raba mencari keberadaan dirinya.


"Ayah, Bunda aku ke Alinea dulu." Rangga sedikit menundukan kepalanya ke rio dan ana


"Aku disini sayang, ayo tidur lagi" tangan kanan Rangga menggenggam tangan Tyshia sedangkan tangan kirinya mengelus kepala istrinya dengan lembut.


Keesokan harinya Tyshia sudah di perbolehkan untuk pulang, sesampainya di apartemen Rangga memberikan Tyshia banyak hadiah yang di antaranya ada piano, PS 5 dan magnetic board wallpaper, ia juga tak lupa menyuruh orang untuk mendekor rumahnya dengan ucapan selamat datang untuk istrinya.


"Terima kasih sayang" Tyshia sangat senang sekali mendapatkan banyak kejutan dari suaminya.


"Mulai besok aku sudah mulai kerja, Ayah dan Bunda juga sudah kembali ke Indonesia. Aku tidak ingin kamu kesepian selama aku tinggal kerja."


"Kapan kamu membelikan ini semua bukankah kamu menemaniku terus di rumah sakit?"


"Aku meminta tolong Edwar membelikannya, suka?"


"Suka tapi mulai besok aku juga sudah mulai bekerja, hanya saja semuanya aku kerjakan dari sini"


"Boleh tapi jangan capek-capek ya sayang, mau makan apa akan aku buatkan?"


Tyshia menggelengkan kepalanya "Aku mau kamu" ia memeluk Rangga dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2