
Pagi harinya Nindy terbangun karena rasa mual yang tak tertahankan, ia mengeluarkan semua isi perutnya di kamar mandi. Nindy menyuci mulutnya dengan air keran di westafel, sambil melihat ke arah cermin ia baru menyadari jika ia hanya mengenakan pajamas.
'Siapa yang melepas pakaianku?' Nindy mengingat-ingat kejadian semalam, yang ia ingat hanyalah ia mabuk bersama dengan kekasihnya Darel di sebuah club malam.
"Aww... sakit sekali kepalaku" semakin ia mengingat-ingat kejadian semalam, semakin sakit kepalanya .
Tok... tok... tok...
Seorang waiters datang mengantarkan makanan untuk Nindy, Nindy pun menanyakan prihal kejadian yang semalam kepada waiters tersebut.
"Maaf Mba, boleh saya tau siapa yang mengantar saya ke hotel ini?" tanya Nindy.
"Seorang pria, namun saya tidak tahu namanya. Mungkin Nona bisa tanyakan kepada bagian receptionist"
Selain membawakan sarapan untuk Nindy, waiters tersebut juga memberikan pakaian Nindy yang telah di laundry.
"Ada apa dengan pakaian saya?" Nindy menerima pakaiannya.
"Semalam Nona mabuk berat hingga muntah-muntah, pria yang membawa Nona ke sini menyuruh beberapa waiters wanita untuk membantu Nona membersihan dan mengganti pakaian Nona"
"Lalu kemana pria itu?"
__ADS_1
"Pria itu langsung pergi setelah meminta kami membantu Nona"
"Bodoh sekali aku, mabuk hingga tak sadarkan diri" Nindy mengacak-acak rambutnya, ia sama sekali tidak dapat mengingatnya.
Setelah waiters tadi keluar dari kamarnya, Nindy langsung menelepon bagian receptionis melalui telephone yang berada di kamar hotelnya.
Alangkah terkejutnya Nindy saat pihak receptionis memberitahunya jika check in hotelnya atas nama Rangga Pratama.
'Pak Rangga, ayahnya Alea? bagaimana bisa ini terjadi?' gumamnya dalam hati, Nindy jadi panik di buatnya.
Pihak receptionist juga menginformasikan kepada Nindy jika kartu identitas Rangga masih berada di ruang receptionist dan bisa di ambil ketika check out nanti.
Selesai membersihkan tubuhnya, Nindy memberanikan diri untuk menelepon Rangga.
"Assalamualaikum, Pak Rangga." ucap Nindy dengan gugup.
"Walaikumsalam, ada apa Nindy?"
"Maaf mengganggu waktunya Pak Rangga, jika Pak Rangga ada waktu apa boleh saya bertemu dengan Pak Rangga? saya..." belum sempat Nindy menyelesaikan kalimatnya, Rangga sudah memotongnya.
"Jam 14.00, nanti saya akan share location tempatnya" Rangga mematikan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Tepat pukul 14.00 siang Rangga sudah tiba di sebuah cafe di kawasan Jakarta Selatan, sambil menunggu kedatangan Nindy, Rangga memesan minuman terlebih dahulu.
'Lama sekali orang ini, beraninya membuat aku menunggu'
Sudah tiga puluh menit Rangga menunggu kedatangan Nindy, ia mulai cemas karena sebentar lagi ia akan menjemput Alea pulang sekolah.
"Maaf, maaf Pak Rngga saya telat karena tadi di jalan ma.."
"Ada keperluan apa, kamu ingin bertemu saya?" tanya Rangga dengan tatapan dingin.
Nindy membuka tasnya kemudian ia mengambil kartu identitas Rangga dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Rangga.
"Ini Pak." Nindy menyerahkannya kepada rangga.
Masih dengan tatapan dingin, Rangga mengambil kartu identitasnya dari tangan Nindy.
"Mulai hari ini Alea sudah tidak lagi les privat denganmu, jadi kamu tidak perlu lagi datang ke rumah saya" Rangga beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi Pak bagaimana dengan uang yang sudah Pak Rangga berikan kepada saya?"
Rangga tidak menjawab pertanyaan Nindy, ia tetap melangkahkan kakinya keluar dari cafe.
__ADS_1