ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 54


__ADS_3

Tanpa terasa Alea dan kawan-kawannya menjadi mahasiswa klinis, setiap minggu para mahasiswa mengikuti kegiatan Patient Demonstration di mana akan dihadirkan pasien dengan penyakit tertentu, kemudian para mahasiswa berkesempatan untuk mewawancarai pasien tersebut.


Selain itu, ada kesempatan observasi operasi jantung serta kunjungan ke unit Hemodialisis (cuci darah). Pengalaman baru bagi Alea adalah kesempatan workshoppemasangan stent pada pembuluh darah jantung.


Berdiskusi serta mengerjakan tugas bersama merupakan cara paling efektik bagi Alea untuk mempermudah Alea dalam menjalani pendidikannya yang terbilang sangat sulit, ia bukan hanya berdiskusi dengan teman-temannya saja namun ia juga berdiskusi dengan Unclenya.



Suatu hari tanpa memberi tahu Alea, Nathan datang ke apartement Alea, Nathan mengungkapkan jika dirinya ingin menjadi seorang mualaf, sontak saja pernyataan Nathan membuat Rangga dan Alea sangat terkejut. Ia tak menyangka jika diskusinya selama ini mengenai agama akan membuatnya menjadi seorang mualaf.


"What about your parents? do they know that?" tanya Rangga.


*Bagaimana dengan orang tuamu? apakah mereka mengetahuinya?


"Yeah, they are support my decision" jawab Nathan, tanpa ragu.

__ADS_1


* Iya, mereka mendukung keputusanku.


Nathan meminta Rangga dan Alea untuk menemaninya ke Masjid Schwetzingen akhir pekan ini untuk menyaksikan proses mualafnya, Rangga dan Alea pun menganggukan kepalanya mereka bersedia menemani Nathan ke  Masjid Schwetzingen.



Selama seminggu Nathan mempersiapkana diri mempelajari semua rukun islam dan mempersiapkan semua administrasi persyaratan untuk menjadi seorang mualaf seperti: Surat pernyataan menjadi mualaf tidak adanya paksaan, menyiapkan dua orang saksi, pas foto, identitas diri dll.


Tiba diakhir pekan Nathan dan kerabat jauh Nathan yang juga seorang mualaf datang untuk menjadi saksi. Mereka menunggu Rangga dan Alea di depan Masjid Schwetzingen, tak lama kemudian Rangga dan Alea pun tiba, alea tampak kagum melihat penampilan Nathan yang mengenakan pakaian koko berwarna putih dan celana panjang berwarna abu-abu muda.


Dibimbing oleh imam mesjid, Nathan mengucapkan dua kalimat syahadat di saksikan oleh Rangga dan kerbat jauh Nathan sebagai saksinya. Alea tidak dapat menyembunyikan rasa harunya menyaksikan teman terdekatnya mengucapka dua kalimat syahadat.


Alea masih tak menyangka jika Nathan berada dalam satu baris bersama ayahnya, mereka shalat dengah khusyuk mengikuti imam.


Setelah selesai shalat Rangga dan Alea mengucapkan selamat kepada Nathan dan memberikan perlengkapan dan buku panduan shalat serta al-qur'an kepada Nathan.

__ADS_1


"Thank you, I will definitely use it" Nathan menerima hadiah dari Alea, kemudian menaruhnya di bangku belakang mobilnya.


Kemudian Rangga dan Alea pamit untuk kembali ke apartementnya, Nathan menganggukan kepalanya dan tersenyum kearah Alea, mempersilahkan keduanya untuk pulang terlebih dahulu, barulah ia pergi meninggalkan mesjid.


"Ayah harap semoga Nathan melakukannya benar-benar dari hatinya, bukan karena ia menyuakimu" ucap Rangga.


"Menyukaiku? Nathan tidak pernah mengungkapkannya kepadaku" elak Alea.


"Dari sorot matanya sudah sangat jelas jika dia menyukaimu, ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya" ucap Rangga.


"Ih Ayah mengapa Ayah menjadi sok tahu tentang perasaan orang lain?"


"Lea, apa kamu masih menunggu Tristan?"


Alea langsung terdiam ketika ayahnya menyebut naman Tristan.

__ADS_1


"Libatkan Allah di setiap keputusan yang kamu ambil dan pergunakan juga logikamu. Ayah akan selalu mendukung semua keputusan yang kamu ambil."


Alea menganggukan kepalanya, ia mengerti dengan semua perkataan Ayahnya.


__ADS_2