
Tiba di hari keberangakatan Rangga dan Nindy ke Surabaya, Rangga menyuruh Nindy untuk menunggunya di bandara, sementara dirinya baru akan ke bandara setelah mengantar Alea ke sekolah.
"Nanti malam Ayah tunggu di bandara ya sayang, Uncle Edwar yang akan menjemputmu ke sekolah dan mengantarmu ke bandara" ucap Rangga sebelum Alea turun dari mobilnya.
"Okay Ayah, take care ya Yah" Alea mencium tangan dan pipi ayahnya.
Setelah memastikan putrinya masuk ke dalam sekolah, Rangga melihat jam yang berada di tangan kirinya.
"Semoga aku tidak terlambat" Rangga menginjak gas mobilnya, memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di bandara ia menghubungi Nindy untuk menanyakan keberadaannya, tak butuh waktu lama akhirnya Rangga menemukan keberadaan Nindy, Rangga dan Nindy pun check in pesawat dan terbang menuju kota Surabaya.
Dibutuhkan waktu satu jam setengah untuk tiba di kota Surabaya, dalam perjalanan Rangga mencoba membuka topik pembicaraan dengan Nindy.
"Mengapa kamu kabur dari rumah?" tanya Rangga.
Sesaat Nindy tersenyum mendengar pertanyaan Rangga.
"Ya seperti orang-orang kebanyakan di mana orang tua akan memaksa anaknya untuk meneruskan usahanya, tanpa pernah memikirkan kemauan dan bakat anaknya.
"Apa tidak bisa di bicarakan baik-baik?" Rangga kembali bertanya kepada Nindy.
"Papi orang yang sangat keras, beliau tidak terima penolakan. Dari kecil hidupku selalu di atur olehnya, maka dari itu memilih untuk keluar dari rumah mengejar hal yang menjadi cita-citaku sendiri, aku akan buktikan pada Papi tanpa fasilitas dan privilegenya aku bisa berhasil meraih mimpiku"
__ADS_1
"Tapi pada akhirnya kamu ingin kembali karena merindukan keluargamu kan?"
Mata Nindy mulai berkaca-kaca, Nindy mencoba menahan air matanya untuk tidak menetes.
"Ma-Mami mengidap kanker ovarium stadium 3C." Nindy tak kuasa menahan air matanya ketika mengingat orang yang sangatnia cintai.
Rangga menjadi merasa bersalah telah membuat Nindy bersedih karena ucapannya.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu jika Ibumu sedang sakit" Rangga memberikan sapu tangan miliknya kepada Nindy.
Nindy pun mengelap air matanya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Rangga, lagi-lagi ia mencium aroma minyak wangi yang di kenakan oleh rangga yang menempel pada sapu tangannya, wangi maskukin yang sangat menenangkan. Setelah ia mulai tenang, ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Aku sangat merindukan Mami dan Kakakku, namun Papi tidak pernah mengijinkan aku untuk menemui mereka sebelum aku mau kembali mengikuti kemauan Papi."
"Kakak? kamu punya Kakak?" tanya Rangga, ia mengingat-ingat di profile Nindy yang di berikan oleh Edgar menyatakan jika Nindy merupakan putri tunggal.
"Sekali lagi aku minta maaf Nindy, aku benar-benar tidak mengetahuinya" ucap Rangga dengan penuh penyesalan.
"Maka dari itulah Papi menaruh harapan besar terhadapku agar aku bisa menjadi penerus perusahaannya. Alea beruntung sekali ya memiliki Ayah yang membebaskan anaknya memilih jalannya sendiri" Nindy tersenyum ke arah Rangga.
"Bagiku kebahagiaan Alea adalah segalanya, apapun jalan yang ia pilih selama positif aku akan selalu mendukungnya. Asalkan ia tidak salah jalan dan salah memilih pergaulan" Rangga melirik ke arah Nindy.
"Pak Rangga menyindirku? Sebenarnya Darel orang yang baik kok" Nindy berusaha membela mantan kekasihnya.
__ADS_1
"Ooh jadi orang seperti itu kamu bilang baik. Kasar, pemabuk, pemakai, mengambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Rangga dengan ketus.
"Waktu pertama kali aku menginjakan kaki di Jakarta, Darellah yang banyak membantuku. Dia mencarikan aku kos-kosan, mengantar aku keliling kampus-kampus yang ada di Jakarta untuk daftar kuliah hingga aku keterima" Nindy berhenti sejenak, kemudian meneruskan kembali kalimatnya.
"Di tahun pertama dan kedua hubungan kami masih baik-baik saja, hingga di tahun ke tiga ini kami bertemu dan berkenalan dengan salah satu gangster sehingga kami terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada Pak Rangga karena telah menyelamatkan aku sehingga aku tidak terlarut dalam dunia tersebut."
"Dan terima kasih juga berkat Pak Rangga aku jadi bisa mengenal orang-orang baik di sekelilingku, aku jadi bisa dekat dengan ketua BEM di kampusku" Nindy tersenyum ke arah Rangga.
"Apa hubungannya denganku, kamu bisa dekat dengan ketua BEMmu itu. Dasar wanita genit" ucap Rangga ketus.
"Kok genit? memang sudah sejak lama Riyan menyukaiku hanya saja dia tidak berani mengatakannya karena aku masih bersama dengan Darel. Begitu tahu Darel masuk penjara dan aku putus dengannya, Riyan menembakku kemarin, sekarang aku sudah jadian dengannya" ucap Nindy dengan riang, sambil menunjukan cincin pemberian Riyan.
"Pikirkan kuliahmu, pacaran saja yang ada di otakmu" omel Rangga.
"Tenang saja pak rangga, kali ini aku bersama dengan orang yang tepat. Aku dan riyan memiliki target dan rencana yang sudah kami susun dengan matang. Kami ingin bertumbuh sukses bersama, memulai semuanya dari 0." Nindy sangat antusias menceritakan tentang Riyan kepada Rangga.
"Berhentilah mengoceh, dan bereskan barang-barangmu sebentar lagi kita akan landing!!!" Rangga kembali memarahi Nindy.
'Mengapa Pak Rangga ini sering sekali memarahiku sih?' gumamnya dalam hati, sambil melirik ke arah Rangga.
Tiba di kota surabaya Rangga mengantar Nindy ke sebuah hotel, sebelum ia pergi menemui Pak Setiadji.
"Aku sudah booking hotel atas namaku, kamu masuklah. Nanti jika urusan pekerjaanku sudah selesai, aku akan mengantarmu menemui Ibumu."
__ADS_1
"Baik Pak Rangga." Nindy menganggukkan kepalanya, kemudian Nindy menatap Rangga dalam-dalam. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih ya Pak Rangga" Nindy menggenggam tangan Rangga.
"Aku sudah harus pergi, silahkan kamu turun" Rangga melepaskan tangan Nindy, kemudian Rangga menyuruh supir mengantarnya ke tempat pertemuannya.