
Setelah satu minggu Rangga mengajak istrinya berkeliling Prancis, tibalah saatnya untuk Rangga dan Tyshia kembali ke Jerman untuk melakukan aktivitasnya kembali.
Sebelum pulang ke apartementnya Rangga mengajak istrinya untuk melihat apartement baru yang akan di beli oleh Rangga, Apartement tersebut masih dalam satu kawasan dengan tempat istrinya bekerja.
Apartement yang jauh lebih luas dan memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dari apartemen yang ia huni saat ini.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Rangga.
"Bagus byy, aku suka."
"Besok kita cicil barang-barang untuk mengisi apartement ini ya" ucap Rangga.
Setelah berkeliling melihat-lihat unit apartemennya Rangga dan Tyshia mengikuti orang staff bagian pemasaran apartemen, menuju kantor pemasaran.
Bagian administrasi menyerahkan dokumen-dokumen jual beli apartemen kepada Rangga, sekilas rangga membacanya kemudian menyerahkannya kepada Tyshia.
"Serius ini apartemen ini atas namaku?" tanya Tyshia setelah membaca dokumen tersebut.
"Iya sayang, kamu kan istriku jadi apa yang aku dapatkan dan aku punya sepenuhnya milik dan hakmu, ayo tanda tangani! " pinta Rangga sambil memberikan sebuah pulpen kepada istrinya.
Tyshia menandatangani dokumen jual beli tersebut, sedangkan Rangga mengurus semua pembayarannya, setelah semua prosedur selesai pihak apartemen menyerahakan kunci unit apartemen yang Rangga beli kepada Tyshia.
"Terima kasih ya sayang" ucap Tyshia.
Rangga menganggukan kepalanya, kemudian ia mengajak Tyshia ke tujuan mselanjutnya. Masih satu kawasan yang sama dengan apartemen baru mereka, Rangga mengajak Tyshia ke sebuah gerai kosong.
"Apa ini byy?" tanya Tyshia.
"Aku sedang mengurus perizinan clothing brandmu di sini, sama halnya seperti yang ada di Indonesia di mana kamu memproduksi pakaian yang kamu desain sendiri. Byy maafkan suamimu yang bodoh mengenai fashion ini, jadi nanti untuk perlengkapannya kita belanja sama-sama ya, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu butuhkan untuk gerai ini" ucap Rangga.
"Iya sayang, nanti kita beli sama-sama, terima kasih ya" Tyshia memeluk dan mencium pipi Rangga.
"Sebenarnya, aku ingin sekali bisa memberikan kejutan lengkap dengan isinya, tapi kenyataannya aku tidak mengerti dan aku juga tidak punya relasi di bidang fashion sehingga aku hanya bisa memberikan gerai ini dan mengurus perijinannya"
"Ini sudah lebih dari cukup byy, aku sangat senang sekali"
Rangga mengajak Tyshia berkeliling gerai dengan tiga lantai tersebut.
"Lantai paling bawah untuk area penjualan, lantai ke dua untuk produksi, dan lantai ke tiga untuk office. Itu hanya pendapatku saja sih byy, terserah kamu mau menempatkannya di mana" ucap Rangga.
Satelah berkeliling Tyshia mengajak rangga untuk duduk di anak tangga lantai tiga, Tyshia menyerahkan Ipad miliknya kepada Rangga.
Diam-diam Tyshia mendaftarkan suaminya untuk mengikuti program S3 di universitas ternama di Jerman.
"Byy ini tiga tahun loh, aku tidak ingin menelantarkanmu lagi hanya karena kesibukanku. Lagi pula bukankah kamu ingin melakuakan program kehamilan, aku ingin selalu mendampingimu sayang" ucap Rangga.
"Byy, aku operasinya sekarang-sekarang saja sebelum kuliahmu di mulai, baru setelahnya kita mulai promil. Untuk konsultasi program kehamilannya bisa kita lakukan di malam hari kok byy, setelah kamu pulang kerja atau kuliah. Pokoknya kita atur jadwal sebisa kita. Mau ya byy kamu lanjutin S3nya, aku sudah daftarin loh"
"Tapi Byy..." Rangga benar-benar ingin punya banyak waktu untuk istrinya.
"Jika kamu tidak mau melanjutkan S3mu maka aku juga tak mau membuka clothing brandku di sini, gerai ini tidak akan buka" ucap Tyshia dengan tegas.
__ADS_1
"Kok kamu begitu sih Byy? clothing brand ini kan mimpimu sayang"
"S3 juga adalah mimpimu, aku ingin kita raih mimpi kita sama-sama, bertumbuh bersama" ucap Tyshia.
Rangga berfikir sejenak, apa yangndi katakan oleh istrinya benar, ia ingin bertumbuh bersama meraih mimpi-mimpinya bersama.
"Baiklah" Rangga menganggukan kepalanya "Terima kasihnya sayang" Rangga memeluk Tyshia dengan hangat.
"Pulang yuk byy, aku capek" pinta Tyshia.
"Yuk" Rangga menggandeng tangan Tyshia keluar dari gerai tersebut dan mereka kembali pulang ke apartement mereka.
Beberpa hari kemudian Rangga mengajak Tyshia kembali ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi rahim Tyshia dan melakukan penjadwalan operasi.
"Byy, kita jalanin semaksimal yang kita mampu. Ikhlas apa pun hasilnya kedepan, kerena itu sudah menjadi ketetapannya." ucap Rangga sebelum memasuki ruang dokter.
"Iya sayang" Tyshia menganggukan kepalanya, ia bersyukur memiliki suami yang menerima semua kekurangannya.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, tiba di hari di mana Tyshia akan melakukan operasi. Beberapa jam sebelum orperasi berlangsung Rangga menghubungi ke dua orang tua Tyshia, Mommy Risty dan Ayah sambungnya untuk meminta doa kelancaran operasi Tyshia.
Keduanya sepakat untuk melewati semua proses program kehamilan Tyshia berdua saja, tanpa merepotkan siapa pun.
Selama operasi hingga pemulihan Rangga menemani dan mengurus Tyshia dengan telaten.
"Byy sebenarnya aku tidak tega melihatmu setiap hari di suntik, minum banyak obat dan vitamin, ingin sekali aku bisa menggantikan posisimu byy" Rangga mengelus tangan Tyshia dengan lembut, tak jarang ia menitikan air matanya ketika melihat Tyshia menahan mual karena banyaknya obat yang harus ia minum, di tambah dengan melihat istrinya menahan sakit akibat suntikan yang di suntikan ke tubuhnya.
Setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Tyshia di izinkan oleh dokter untuk pulang.
"Selamat datang kembali di istana kita" ucap Rangga saat membuka pintu apartementnya, selama melewati masa pemulihan Tyshia, Rangga benar-benar menjadikan Tyshia seperti ratu.
"Aku bisa ambil sendiri minumnya sayang, kamu bersiaplah ke kantor nanti kamu telat" ucap Tyshia, meskipun Rangga sangat memanjakannya tapi sebisa mungkin Tyshia tidak merepotkan suaminya.
Setelah melewati masa pemulihan Tyshia kembali ke rutinitasnya bekerja, selama perkuliahan Rangga belum aktif, Rangga masih dapat mengantar dan menjemput istrinya, namun setelah perkuliahan rangga mulai aktif, Tyshia mulai berangkat dan pulang mengendarai mobilnya sendiri.
Sedikit demi sedikit dari hasil kerjanya, Rangga dan Tyshia mulai mengisi apartemen barunya dengan perabotan dan dekorasi mewah sesuai dengan impian mereka berdua. Selain mengisi apartemennya Rangga dan Tyshia juga secara bertahap mulai mengisi gerai milik Tyshia.
Di tengah kesibukannya yang super padat Rangga selalu menyempatkan diri untuk menemani istrinya kontrol, hampir setiap bulan Rangga dan Tyshia selalu memantau jadwal menstruasi Tyshia. Jika ada terlambatan menstruasi, Tyshia selalu mengeceknya melalui tes pack yang sudah ia stok di dalam lacinya.
"Bagaimana byy?" tanya Rangga yang menunggu di depan pintu kamar mandi, dengan muka sedih Tyshia menyerahkan tes packnya kepada Rangga.
Begitu melihat hasilnya kembali negatif Rangga membuang tes pack tersebut, ia mengambil semua stok tes pack yang berada di laci Tyshia kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Kok di buang sih Byy?" tanya Tyshia.
" Aku tidak ingin melihatmu bersedih hanya karena alat ini" ucap Rangga.
"Tapi byy..."
__ADS_1
"Please berbahagialah hidup denganku, hanya itu yang aku minta darimu" Rangga memeluk Tyshia dengan erat "Aku sangat menyayangimu Byy" bisik Rangga lirih.
Tyshia menuruti perkataan suaminya, ia memilih untuk memasrahkan semuanya kepada Allah dan tetap terus berusaha "Ya sudah kita siap-siap kantor yuk" ajak Tyshia.
Di tengah sarapan paginya bersama istrinya, Rangga mendapatkan kabar jika Elena istri dari Edwar telah melahirkan anak pertamanya, melalui pesan yang di kirimkan Edwar kepadznya.
Rangga sempat ragu untuk menyampaikan berita tersebut kepada istrinya, ia tak ingin membuat Tyshia bersedih.
"Ada apa sayang?" tanya tyshia sambil mengoles selai coklat kesukaan Rangga di atas roti tawarnya.
"Mmmm...." Rangga ragu untuk mengatakannya.
"Ada apa byy? ayo katakanlah!" Tyshia menaruh roti tersebut di atas piring rangga.
"Elena sudah melahirkan anak pertamanya." ucap Rangga.
"Oooh itu, aku sudah tahu dari Mommy tadi sebelum kita shalat subuh. Nanti sore setelah pulang kerja kita ke sana ya, aku ingin melihat baby boy mereka"
"Kamu yakin mau melihatnya byy?" Rangga benar-benar tak ingin Tyshia bersedih.
"Tentu saja sayang, Elena dan Kak Edwarkan kakakku."
"Ya sudah nanti aku jemput ya" ucap Rangga, Tyshia menganggukan kepalanya. Mereka berdua menghabiskan sarapan paginya kemudian berangkat ke kantor bersama.
Sore harinya Rangga menepati janjinya untuk menemani Tyshia menjenguk Elena di rumah sakit.
Sebelum masuk ke dalam ruang rawat inap, Rangga menanyakan kembali pada Tyshia.
"Kamu yakin byy?" Rangga menahan tangan Tyshia yang ingin membuka pintu ruang rawat inap Elena.
"Iya sayang, Elena kan kakakku masa aku tidak menjenguk dan mengucapkan selamat kepadanya."
"Rezeki, jodoh, kelahiran dan kematian sudah tertulis di Lauh Mahfudz. Percayalah ketetapan dan sekenario Allah itu sangat indah."
"Aku mengerti sayang." Tyshia mengelus tangan rangga kemudian membuka pintu ruang rawat inap elena.
Di dalam Tyshia dan Rangga memberikan selamat kepada Edwar dan Elena, keduanya juga memberikan selamat kepada Mommy dan Daddynya yang telah resmi menjadi Oma dan Opa.
"So cute" Tyshia meminta menggendong baby boy Elena kepada Mommynya.
"Pelan-pelan sayang" Risty memberikan baby yang tengah di gendongnya.
" What's this boy's name?" tanya Tyshia kepada Elena.
"Alward Tungry Rheinallt" jawab Elena dan Rdwar kompak.
"That's a really nice name, I will call he Al." Tyshia membawa baby Al mendekat ke arah Rangga "Lucu ya byy" ucap Tyshia,.
Rangga tersenyum menggangukan kepalanya, kemudian ia mengelus dan mencium kepala Tyshia, menguatkan agar Tyshia tidak bersedih.
Puas berbincang rangga mengajak Tyshia untuk kembali ke apartementnya.
__ADS_1