
Keesokan harinya Tyshia terbangun karena merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya.
"Morning honey, cuuup..." Rangga mengecup mesra kening istrinya.
"Morning byy" Tyshia menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Haha.. kenapa di tutup sayang?" Rangga menarik selimut Tyshia sambil menggodanya.
"Iih malu byy, aku belum mandi dan cuci muka" Tyshia bersembunyi di dada suaminya.
"Haha..." Rangga semakin tertawa di buatnya, ia memeluk istrinya dan mengelus rambut Tyshia dengan lembut kemudian merangkum wajah Tyshia dan menempelkan di keningnya "Dalam keadaan apa pun kamu terlihat cantik sayangku" ucap Rangga.
"Mandi yuk, siang ini kita ke Jogja. Katanya kamu mau melihat makam Umiku" ajak Rangga.
"Mau, tapi aku mau peluk kamu dulu"Tyshia kembali memeluk Rangga lebih erat hingga tubuhnya menempel erat di tubuh Rangga.
"Byy, punyamu bangun, kamu mau lagi ya?" tanya Tyshia dengan ragu-ragu, ia merasakan bagian sensitif suaminya terbangun.
"Nanti saja jika punyamu sudah tidak perih" Rangga mengelus rambut Tyshia "Mandi saja yuk!!" ajak Rangga.
Tyshia teringat akan pesan bundanya sebelum dirinya menikah 'Jika besok kamu sudah sah menjadi seorang istri, layani suamimu dengan baik kapanpun ia menginginkannya, patuh dan hormati suamimu. Ingat jangan keras kepala, jika ada masalah di diskusikan dengan baik.' pesan Ana.
"Tapi aku mau byy" Tyshia memberikan kecupan kecil di bibir suaminya.
Rangga terdiam ia tak ingin membuat area sensitif istrinya perih lagi.
"Ayolah byy, sudah tidak perih kok" pinta Tyshia.
"Benarkah?" Rangga tersenyum kemudian membalas ciuman Tyshia dengan penuh gairah.
Pagi itu Tyshia yang memimpin permainan, ia mencum*ui setiap inci tubuh atletis suaminya hingga ke bagian area sensitifnya.
"Arrghhh..." Rangga mendesah ketika istrinya ******* bagian sensitifnya dengan ritme yang sangat cepat dan dalam.
Tyshyia tersenyum puas mendengar suaminya mendesah dengan hebatnya, kemudian dengan perlahan ia membuat penyatuan.
Meski ia masih merasakan nyeri di bagian sensitif dan perut bagian bawahnya Tyshia melayani Rangga dengan sangat baik, tubuhnya meliuk-liuk di atas tubuh Rangga membuat suaminya kembali mendesah hingga mencapai klimaksnya.
"Terima kasih sayang, kamu sungguh luar biasa" Rangga menghujani Tyshia dengan banyak ciuman di pipi, kening dan bibirnya, pagi itu ia benar-benar di buat seakan terbang melayang ke angkasa bersama istrinya.
Rangga mengajak Tyshia untuk mandi bersamanya, ia menaruh tubuh Tyshia di bathtub kamar mandi yang telah berisi air hangat, kemudian Rangga masuk dan duduk di belakang Tyshia. Rangga menyabuni sambil menelusuri semua bagian tubuh istrinya, Rangga juga mengecupi bagian tengkuk Tyshia memberikan tanda kepemilikannya.
"Byy geli, aku mandi sendiri saja ya." Tyshia menggeliat kegelian.
"Tidak, mulai sekarang dan selamanya kita akan selalu mandi bersama" bisik Rangga di telinga kanan Tyshia.
Tyshia tersenyum menyandarkan tubuhnya di dada suaminya, berendam air hangat membuat badan Tyshia terasa sangat segar ia menyudahi mandinya, ia beranjak dari bathtub dan mengambil handuknya, saat Tyshia hendak menutup tubuhnya dengan handuk Rangga mengambil handuk tyshia kemudian memeluknya dari belakang.
"Aku mau lagi ya byy" bisik Rangga.
Tyshia tersenyum sambil menganggukan kepalanya, ia kembali melayani suaminya di dalam kamar mandi.
Lagi dan lagi Tyshia membuat Rangga mendesah dengan begitu hebatnya, tubuh sexy dan permainan istrinya membuat Rangga semakin ketagihan di buatnya, lama Rangga tidak melepaskan Tyshia, hingga bunyi deringan telepon di dalam kamar hotelnya menyudahi aktivitasnya.
Rangga mengangkat telepon yang ternyata telepon twrswbut dari ibu mertuanya.
"Rangga, maaf Bunda mengganggu. Kalian mau sarapan bersama kami atau Bunda suruh waiters membawakan untuk kalian?" tanya Ana.
__ADS_1
"Se-sebentar lagi kami akan turun ke bawah kok Bunda" jawab Rangga dengan gugup.
"Kalau begitu kami tunggu di bawah ya nak."
"I-iya Bunda" Rangga menutup teleponnya.
Rangga membantu Tyshia mengenakan pakainannya, kemudian ia mengenakan pakaiannya dengan cepat, keduanya bahu-membahu membereskan barang-barang milik mereka.
"Kamu sih byy tidak selesai-selesai, jadi buru-buru begini kan" ucap Tyshia sambil cemberut
"Maaf sayang" Rangga merangkup wajah Tyshia dan menciumi bibir Tyshia yang cemberut.
"Iiih Kak Rangga..."
"Kamu semakin menggemaskan saat cemerut" goda Rangga.
Setelah semuanya beres, Rangga dan Tyshia turun ke bawah untuk bergabung bersama keluarganya.
Di tengah obrolan hangatnya bersama keluarganya, Rama melirik ke arah kakaknya, ia baru menyadari rambut kakaknya yang basah, baik Rama dan Laura terus menggoda Rangga.
"Rama, Laura kalian berdua ini hobby sekali mengganggu Masmu" tegur Cakra.
"Iya Yah, kami tidak akan mengganggu Mas Rangga lagi, kami mau pergi saja ke Bandara" ucap Laura.
Rama dan Laura berpamitan untuk terlebih dahulu pergi ke Bandara karena jadwal keberangkatan mereka ke Maldives lebih awal.
"Selamat liburan ya, kapan-kapan ajak Laura ke Jerman agar kita bisa liburan bersama." Rangga memeluk Rama dengan hangat, pertemuannya dengan keluarganya terasa sangat singkat padahal ia ingin sekali lebih lama berkumpul seperti ini.
Ia selalu membayangkan sosok Ibundanya bisa berada di tengah-tengah kebahagiaannya yang ia rasakan saat ini 'Hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk Umi' gumam Rangga.
"Iya Mas setelah pendidikanku selesai, aku ajak Laura ke Eropa" ucap Rama, laura melirik tajam ke arah suaminya, pasalanya untuk koas saja membutuhkan waktu 1.5 tahun.
"Wow gerak-gerak Dek" Rangga tertawa bahagia merasakan pergerakan janin dalam kandungan adiknya.
"Byy coba kamu pegang perut Laura." Rangga meraih tangan istrinya dan menaruhnya di perut Laura.
"Aku mau byy" ucap Alinea.
"Sabar ya sayang, nanti malam kita bikin lagi" bisik Rangga, Alinea tertawa mendengar ucapan suaminya.
Rama dan laura bukan hanya berpamitan kepada keluarganya saja, mereka berdua pun berpamitan kepada keluarga Alinea.
Tak lama setelah kepergian Laura dan Rama, satu persatu keluarga Alinea yang berada di Jakarta pun pamit meninggalkan hotel, di mulai dari Lyra dan Adit menghampiri Tyshia dan Rangga, Lyra mencium dan memeluk keponakannya.
"Tyshia, Aunty pasti akan rindu sekali denganmu, jika libur main ke Indonesia ya. Maaf ya Aunty dan Uncle tidak ikut ke Jogja karena ada banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian bahagia selalu" kemudian Lyra beralih ke Rangga "Rangga, jaga keponakan Aunty ya. Sering-sering memberi kabar kepada kami" ucap Lyra.
"Baik aunty." Rangga menyalami Lyra dan Adit secara bergantian.
Setelah itu giliran Stela dan Rai yang mendekat ke arah Tyshia dan Rangga
"Mas Rangga, jangan lupa kata-kataku yang kemarin ya" ucap Stela dengan tatapan yang menggoda, ia menyalami Rangga dengan erat, membuat Rangga sulit untuk melepaskan tangan Stela, hingga akhirnya ia menghentakan tangan Stela agar terlepas darinya.
Tyshia yang melihat hal itu tidak ingin mengambil pusing, ia justru semakin menempelkan tubuhnya ke suaminya sambil memandang ke arah stela seakan berkata 'Rangga milikku.'
Perbuatan Tyshia semakin membuat Stela kesal, ia langgung pergi meninggalkan keduanya. Yang terakhir giliran Rai yang berpamitan kepada Rangga dan Tyshia, Rai hanya menyalami sambil mengucapkan selamat kepada keduanya.
Lyra dan keluarganya pun kembali pulang ke kediamannya, sedangkan yang lainnya pergi ke Bandara sesuai dengan tujuannya masing-masing.
__ADS_1
Joe dan istrinya kembali pulang ke Australi, Mommy Risty dan Daddy Daniel kembali ke Jerman. Sedangkan Rio, Ana, Rangga, Tyshia berserta keluarga besar Rangga pergi ke Jogja.
Di bandara Tyshia tidak dapat menahan rasa sedihnya karena pertemuannya dengan kakaknya Joe terasa sangat singkat.
"Rangga tolong, jaga Adik kesayanganku bahagiakan dan sayangi dia" ucap Joe sambil memeluk Rangga.
Setelah berpamitan dengan Joe, giliran Mommy dan Daddy yang berpamintan.
"Mommy tunggu di Jerman ya, mana kunci apartementmu Rangga. Mommy ingin membuat kejutan untuk kalian" pinta Risty.
"Tidak perlu repot-repot Mom."
"Sudah mana, kamu berikan saja" Risty memaksa.
Rangga mengambilnya dari dalam tasnya kemudian memberikannya kepada Mommynya, setelah mendapatkan kunci apartement Rangga, Risty dan Daniel masuk ke dalam bandara untuk check in dengan tujuan Jerman.
Tiga puluh menit kemudian Rangga dan keluarganya menyusul check in dengan tujuan Jogjakarta.
Selama hampir satu jam menempuh perjalanan udara, mereka tiba di YIA (Yogyakarta International Airport). Setibanya di Jogja, Cakra (Ayah sambung Rangga) mengajak Rangga, Alinea dan kedua orang tua Alinea untuk berziarah ke makam Almh.istrinya.
Usai berdoa dan menaburi bunga di makam istrinya, Cakra mendekat ke arah Rio dan Ana, ia meminta maaf untuk istrinya, jika istrinya memiliki kesalahan kepada mereka.
"Istri anda sama sekali tidak salah, justru ia adalah wanita yang luar biasa, kami akan selalu mendoakannya agar almarhumah di tempatkan di tempat yang terindah." ucap Rio, ia sangat takjub dengan ketulusan cinta Cakra kepada Retno, karena ia mengetahui jika Cakra menikahi Retno di saat Retno telah terinfeksi virus HIV.
'Salah? memangnya kesalahan apa yang telah Umi lakukan kepada kedua orang tua Alinea?' gumam Rangga. Ia menepis rasa penasarannya karena menurutnya mungkin kesalah pahaman biasa karena setaunya Aunty Lyra dengan Ibundanya berteman cukup baik, jadi tentunya Rio pun mengenal Ibundanya.
Selain mengajak berziarah makam almarhumah istrinya, Cakra juga mengajak untuk berziarah ke makam Julio ayahanda Rangga.
Dengan tulus Rio dan Ana juga mendoakan Julio, mereka berdua sudah mengikhlaskan apa yang pernah terjadi dan membuang rasa benci dan sakit hati yang pernah ada di dalam diri mereka.
"Jangan pernah merasa sendiri, kami bertiga adalah orang tuamu, kami menyayangimu seperti kami menyayangi anak kandung kami sendiri. Jangan sungkan untuk bercerita dan meminta bantuan kepada kami" ucap Rio, sambil tersenyum di ikuti oleh anggukan Cakra.
Rio mengajak Ana, Rangga, Tyshia dan Cakra berziarah ke makam kedua orang tua Rio.
Usai berziarah mereka menikmati kebersamaan dan suasana Malam di malioboro, dengan makan di angkringan di stasiun kereta api tugu.
"Coabin nasi kucing sambel teri ijonya" Rangga menyapi tyshia dengan tangan kosongnya.
"Enak banget byy" ucap Tyshia, ia menghabiskan lima porsi sekaligus.
"Di Jerman aku harus diet" ucap Tyshia dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
"Tidak perlu, aku melarangmu diet. Makanlah sebanyak apa pun yang kamu mau, berbahagialah hidup bersamaku" Rangga merangkul Tyshia mengajaknya menginap di rumah Ayahnya sedangkan Rio memilih menginap di kediaman orang tuanya bersama anak-anak yayasan yang tinggal di sana.
Keesokan harinya dari Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Rangga dan Tyshia kembali ke Jerman.
Ana menangis melepas kepergian putrinya, ia memeluk erat dan menciumi Tyshia.
"Setiap hari telepon Bunda ya sayang, jika libur langsung pulang ke Indonesia, nurut dengan suamimu. Bunda akan sangat merindukanmu sayang huhuuuu.." Ana menagis memeluk putrinya.
"Iya Bunda, Tyshia dan Kak Rangga setiap hari pasti akan menelepon Bunda, dan jika libur kami juga akan langsung pulang" Tyshia menghapus air mata Bundanya.
"Rangga, jaga Tyshia baik-baik ya. Jika ada masalah jangan sungkan-sungkan untuk bercerita kami siap mendengarkan curhatan kalian dan membantu kalian, jaga kesahatan kalian ya." Ana mengelus lengan Rangga.
"Iya Bunda, aku pasti akan menjaga Tyshia dengan baik." Rangga mencium tangan Ibu mertuanya.
__ADS_1
Bukan hanya Ana yang bersedih melepas kepergian Tyshia dan Rangga, Rio dan Cakra pun merasakan hal yang demikian. Secara bergantian Rio dan Cakra memberikan nasehat kepada Rangga dan Tyshia, serta pelukan hangatnya kepada mereka berdua.
Seusai melepas kepergian Rangga dan Tyshia, Rio mengajak istrinya berlibur selama beberapa hari di Jogja, sedangkan Cakra kembali bertugas di rumah sakit tempat ia bekerja.