
Di hari pertamanya bertugas, Nathan tak mengalami kendala semuanya berjalan dengan lancar, ia juga mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan barunya.
Tok... Tok...
"Boleh aku masuk?" tanya Alea dari balik pintu.
"Tentu saja sayang" Nathan mempersilahkan Alea untuk masuk ke ruangannya.
"Sudah tidak ada pasien lagi kan? pulang yuk!!" ajak Alea.
"Sebentar masih ada satu lagi, lagi di toilet" ucap Nathan.
Tak lama kemudian pasien itu datang dan meminta maaf kepada Nathan karena telah membuatnya menunggu.
Dengan ramah Nathan memeriksa pasien tersebut, dan memberikannya resep obat.
"Semoga lekas sembuh" ucap Nathan sambil memberikan resep kepada pasiennya.
Setelah pasiennya keluar dari ruangannya, Nathan mengajak Alea untuk pulang "Yuk!!" ajak Nathan, Alea hanya bengong memandangi wajah Nathan.
"Ketampananmu semakin bertambah saat menangani pasien" puji Alea, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruang kerja Nathan.
__ADS_1
Wajah Nathan memerah, ia tersenyum kemudian berjalan menyusul calon istrinya.
Sebelum mengantar Alea kembali ke kediamannya, Nathan mengajak alea untuk bertemu dengan WO yang akan mengurus pertunangan serta penikahan mereka yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat berbincang dengan pihak WO Nathan tak banyak bicara, ia menyerahkan semuanya kepada Alea, ia akan berusaha mewujudkan wedding dream calon istrinya.
"Kamu tidak keberatan jika memakai adat jawa?" tanya Alea.
"Tidak sayang, apa pun itu aku akan menurutinya" Nathan menggenggam tangan Alea.
Usai meeting dengan pihak WO nathan meminta Alea menjukan desainer yang akan merancang pakaian pertunangan dan pernikahan mereka, Alea pun menunjukan jalan ke butik milik Almh.Ibundanya.
"Ini adalah butik milik alm.ibuku, disini banyak desainer yang bagus" ucap Alea.
"Sama juga, keduanya Ayah yang mengolalnya" terang Alea.
"Tapi nanti aku ingin membayarnya dengan harga nornal ya" ucap Nathan.
"Loh mengapa begitu? Ini milik keluargaku" ucap Alea.
"Sebuah karya itu sangat mahal, aku sangat menghargai hal itu dan buat aku harga tidak menjadi masalah asal kamu bahagia" Nathan keluar dari mobil kemudian membukakan pintu mobil Alea.
Dengan sabar Nathan menunggu Alea mendeskripsikan gaun yang ia inginkan kepada desainer yang akan membuatkannya, kemudian desainer tersebut mengukur badan Nathan dan Alea.
__ADS_1
Pukul 22.00 Nathan mengantar Alea kembali ke kediamannya, tiba di kediaman Alea, Rangga menyambut Nathan dengan hangat.
"Maaf Om tadi setelah pulang kerja kita meeting dengan pihak WO dan desainer" ucap Nathan, ia merasa tak enak karena mengantar Alea pulang semalam ini.
Rangga menganggukan kepalanya, ia memaklumi dan Alea pun sebelumnya sudah meminta izin kepadanya "Lalu bagaimana progres persiapan acara pertunangan kalian? Apa ada yang bisa Ayah bantu?" tanya Rangga.
"Kami sudah menyerahkan semuanya ke WO Yah, Alea hanya minta nama rekan-rekan yang mau Ayah undang" ucap Alea.
"Benar sudah semua? Ayah minta kontak WO nya ya, nanti Ayah akan cek progresnya" ucap Rangga.
Sebelum pulang Nathan meminta Rangga untuk mengajarinya mengaji dan berdiskusi mengenai aqidah pada saat weekend nanti, Rangga tersenyum menganggukan kepalanya, ia sangat senang melihat Nathan memiliki kesungguhan untuk belajar.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Om, Lea" pamit Nathan.
"Kok masih Om? Ayah dong" pinta Rangga sambil tersenyum.
"Iya Ayah"
Rangga memaksa nathan untuk menggunakan mobilnya hingga STNK mobil nathan selesai "Kabari ya jika sudah sampai rumah, ayah khawatir kamu tersesat" ucap Rangga sambil memberikan kunci mobilnya.
"Terima kasih Yah" Nathan berpamitan kepada Rangga dan juga Alea.
Setibanya di rumah Nathan menghubunginya, ia menceritakannya jika dirinya sempat tersesat namun dengan begitu justru membuatnya ingat jalan.
__ADS_1