ALINEA

ALINEA
Chapter 13 : Pertemuan Pertama


__ADS_3

Minggu siang yang cerah, Tyshia nampak sangat bosan dengan makanan yang asisten rumah tangganya masak, sedari tadi ia hanya memutar - mutar sendok dalam mangkuk sup yang berada di hadapannya.


"Oh iya...." tiba-ti a saja ia teringat rekomendasi ramen terenak dari Bundanya yang lokasi ya tak jauh dari Museum Seni Metropolitan.


Tyshia pun langsung bergegas mengambil tasnya kemudian ia meminta supirnya untuk mengantarkannya restoran Jepang tersebut.


Hanya butuh waktu empat puluh lima menit akhirnya Tyshia pun tiba di restoran Jepang tersebut "Oh ini tempatnya" Tyshia napak melihat-lihat bagian luar restoran yang kental dengan nuansa jepang, dengan rasa penasaran dan tak sabar ingin mencoba ramen di restoran tersebut ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran.


Baru saja Tyshia masuk ke dalam restoran, seorang waiters tak sengaja menabrak dan menumpahkan segelas orange jus ke pakaian Tyshia.


"Sorry. That was an accident" seketika wajah waiters tersebut berubah menjadi panik melihat pakaian pelanggannya basah dan kotor.


"Never mind, where's toilet?" tanya Tyshia sambil tersenyum ramah kepada waiters tersebut.


"come with me" Waiters tadi mengantar Tyshia ke toilet, begitu sampai di depan toilet, waiters tadi meminta Tyshia untuk menunggunya sebentar.


"Wait here for minutes" waiters tadi berlari ke lokernya kemudian mengambil pakaian ganti, kemudian ia memberikannya kepada Tyshia.


Dengan ragu-ragu Tyshia menerimanya, kemudian ia masuk ke dalam toilet untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakainannya Tyshia keluar dari toilet, ia melihat waiters tadi masih menunggunya.


"Alinea" Tyshia mengulurkan tangannya.


"Rangga, kamu orang Indonesia kan? pakai Bahasa Indonesia saja ya."


"Okay" ucap Tyshia sambil menganggukan kepalanya


"Ya sudah, aku kembali kerja ya. Sekali lagi aku minta maaf" Rangga pergi meninggalkan Tyshia.


Tyshia kembali ke dapan mencari meja yang kosong untuk dirinya makan.


"Di sudut sana kosong" tiba-tiba saja Rangga sudah berada di belakang Tyshia dan menujukan meja yang kosong untuknya, Rangga mengekori Tyshia dari belakang hingga Tyshia duduk di kursinya.


"Mau pesan apa?" tanya Rangga.


"Short Rib Ramen and mineral water" ucap Tyshia sambil menunjuk daftar menu yang ia pilih.


"Ok, tunggu sebentar ya" Rangga pergi meninggalkannya.


Sambil menunggu pesanannya datang, ia membuka handphonenya. Dua puluh pesan dan dua puluh lima panggilan tak terjawab dari Ayahnya, tak ingin mendapat omelan dari Ayahnya, Tyshia pun langsunga menghubungi Ayahnya.


"Where have you been sweety?" tanya Rio dengan panik.


"Tadi aku dari toilet" jawab Tyshia.


"Lalu sekarang kamu di mana? mengapa ramai sekali?" tanya Rio mendengar suara ramai saat berbicara dengan putrinya.


Huft.. Tyshia menghembuskan nafasnya, benar saja dugaannya jika Ayahnya akan mengomeli dirinya.


"Ayah.... aku hanya keluar sebentar mencari makan, aku bosan makan di apartement. Mengapa Ayah tidak menghubungi Pak Joe saja untuk menanyakan keberadaanku?" ucap Tyshia dengan kesal.


Di tengah obrolannya bersama Ayahnya, Rangga datang dengan membawa ramen pesanan Tyshia, Tyshia langsung menjeda obrolannya bersama Ayahnya.


"Thank you Kak Rangga" ucap Tyshia.


"Selamat makan" Rangga mempersilahkan Tyshia untuk menikmati makanannya, kemudian ia pergi melayani pengunjung lainnya.


Setelah Rangga pergi, Tyshia kembali pada handphonenya "Ayah I want to eat first, bye Ayah Mmuuah...." Tyshia menutup teleponnya, lalu menikmati ramen pesanannya.

__ADS_1


'Mmm... rekomendasi Bunda memang tak pernah gagal' gumam Tyshia saat menikmati sedokan pertamanya, dengan waktu singkat ia menghabiskan ramen tersebut, kemudian ia memanggil Rangga.


"Ka rangga can I have my bill?" pinta Tyshia.


"Biar aku saja yang bayar, sebagai permintaan maafku" ucap Rangga


"No Kak Rangga, let me keep paying for it" Tyshia mengeluarkan beberapa uang dolar dari dalam dompetnya.


"Please, jangan tolak permintan maafku ya" Rangga mencegah Tyshia mengeluarkan uangnya, Tyshia mengalah dari perdebatan itu.


"Thanks Kak Rangga. Tomorrow i'm here again, I want to return your t-shirt."


*Terima kasih Kak Rangga. besok aku akan ke sini lagi, aku ingin mengembalikan kaosmu.


"Okay, aku tunggu ya" ucap Rangga sambil tersenyum.


"Sekali terima kasih atas traktiran ramennya" ucap Tyshia, kemudian ia melangkah keluar dari restoran dan kembali ke apartmentnya.


Sesampainya di apartement Tyshia langsung meminta asisten rumah tangganya untuk mencuci pakaiannya dan juga mencuci pakaian milik Rangga.


Tyshia merebahkan tubunya di kasur, sekilas bayangan senyuman manis di wajah Rangga muncul di pikirannya.


'Why I think about him, and why my heart's beating up when near him?' gumam Tyshia.


*Kenapa aku memikirkan dia dan mengapa jantungku berdegup kencang saat tadi aku di dekatnya?


Tyshia tak mau memikirkan perasaanya, ia memaksakan diri memejamkan matanya, lama ke lamaan ia tertidur dengan lelap.



Keesokan harinya selepas kuliah Tyshia kembali ke restoran Jepang yang kemarin ia kunjungi, ia ingin mengembalikan kaos milik Rangga.


"The employee named Rangga is on holiday today."


*Karyawan yang bernama rangga hari ini sedang libur.


"Okay, thanks" ucap Tyshia sambil tersenyum.


Tyshia melangkah keluar dari restoran, begitu keluar dari restoran ia melihat sosok Rangga sedang berjalan ke arah restoran. Rangga yang melihat keberadaan Tyshia pun langsung berlari mendekat ke arah Tyshia.


"Maaf aku telat tadi jam kuliahku agak sedikit lama. Kamu sudah menunggu aku ya?" Tanya Rangga, Tyshia menganggukan kepalanya.


"Ini baju kakak" Tyshia memberikan paper bag berisi pakaian milik Rangga.


"Kamu sibuk tidak? mau menemaniku berbelanja?" tanya Rangga.


Tyshia menganggukan kepalanya, kemudian ia mengambil handphonenya dari dalam tasnya, ia mengirimkan pesan kepada supirnya untuk kembali ke apartmentnya.


Sempat terjadi perdebatan di chat karena supirnya takut sekali dengan Rio.


"Kamu lagi sibuk ya?" tanya Rangga karena dari tadi i melihat Tyshia nampak sibuk dengan handphonenya "Jia kamu sedang ada acara, tidak apa-apa kok aku sendiri saja"


"No, not important. Kakak kuliah jurusan apa?" tanya Tyshia, memulai obrolannya bersama Rangga.


"Teknik kimia, hanya tinggal tahun ini. Jika judul skripsiku di setujui minggu depan aku akan menyusun skripsi, doakan ya"


"Oh my god, pelajaran yang sangat aku benci" ucap Tyshia, ia ingat betul bagaimana ia belajar mati-matian hanya untuk mendapatkan nilai standard minimum.

__ADS_1


"Benarkah? bukankah itu sangat menarik untuk di pelajari. Seru tahu." ucap Rangga sambil tersenyum.


"Nilai ujianku buruk sekali di mata pelajaran itu" ucap Tyshia sambil cemberut, ia sudah tak ingin mengingat masa-masa ujian sekolahnya.


Rangga dan Tyshia mengobroldengan seru sambil menunggu bis di halte, setelah bis datang Rangga mempersilahkan Tyshia untuk naik terlebih dahulu.


Suasana bis cukup ramai, Rangga mencarikan tempat duduk untuk Tyshia, setelah dapat ia mempersilahkan Tyshia untuk duduk, Rangga melepas jaketnya untuk menutup lutut dan paha Tyshia yang kebetulan saat itu Tyshia memakai short dress.


Sesampainya di supermarket Rangga membeli beberapa buah-buahan, sayur, telur daging dan kebutuhan lainnya.


"Kak Rangga, apa Kak Rangga masak sendiri?" tanya Tyshia, ia melihat banyaknya barang belanjaan Rangga.


"Iya agar lebih hemat, aku merasa sudah cukup dewasa sehingga aku tidak ingin membebani orang tuaku" ucap Rangga sambil tersenyum.


Tyshia merasa tertampar mendengar ucapan Rangga, kehidupan Rangga dengan kehidupannya sungguh sangat jauh berbeda.


"Hei, Kok bengong. Beli ice cream yuk kamu mau rasa apa?" tanya Rangga


"Vanila"


Rangga membeli dua buah ice cream, kemudian ia mengajak Tyshia duduk di taman yang tak jauh dari supermarket sambil menikmati ice cream yang tadi ia beli. Rangga kembali membuka jaketnya saat Tyshia hendak duduk.


"Alinea, maukah kau menjadi temanku?" tanya Rangga.


"Tentu saja aku mau" jawab Tyshia.


Saat sedang mengobrol tiba-tiba handphone Tyshia bergetar, ada panggilan masuk dari ayahnya. Tyshia menceritakan secara singkat kegiatannya hari ini kepada Ayahnya, karena merasa tidak enak jika berlama-lama mengabaikan Rangga, Tyshia pun mengakhiri telepon dari Ayahnya.


"Love you too ayah" Tyshia mematikan handphonenya.


"Sepertinya ayahmu sangat menyayangimu" ucap Rangga, ia tak sengaja mendengar percakapan Tyshia dengan Ayahnya nampak sangat akrab.


"Aku juga sangat menyayanginya, Ayah adalah cinta pertamaku" ucap Tyshia.


"Kalo boleh aku tahu apa kamu seorang muslim?" tanya Rangga dengan hati-hati.


"Yes, i'm moslem"


"Jika kamu menyayangi Ayahmu mengapa kamu berpakaian seperti ini?" tanya Rangga.


"Maksud kakak?"


"Maaf. Aku tidak bermaksud untuk menceramahimu atau mengguruimu, jika apa yang aku sampaikan membuat kamu marah dan membenciku, aku juga ikhlas kok."


Rangga menghela nafasnya kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Aku sangat iri dengan anak yang sangat dekat dengan Ayahnya, karena sejak kecil ayahku sudah meninggal. Alinea apa kamu tahu jika Ayahmu yang akan bertanggung jawab atas dirimu, sampai kamu menikah nanti?"


Tyshia tidak menjawab pertanyaan Rangga karena ia tidak tahu kemana arah pembicaraan Rangga.


"Ringankanlah hisab Ayahmu, jika kamu belum bisa berhijab setidaknya berpakian lebih tertutup. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, aku sadar aku bukan siapa-siapamu dan tidak punya hak untuk berkata seperti ini. Aku mohon maaf dan aku berjanji ini yang pertama dan terakhir kalinya aku berbicara mengenai ini."


Tyshia melihat raut rasa penyesalan di wajah Rangga, Tyshia tersenyum ke arah rangga.


"Always remind me, we are friends" Tyshia menggenggam tangan Rangga.


Tyshia beranjak dari tempat duduknya kemudian mengembalikan jaket Rangga.

__ADS_1


"Aku pulang duluan ya Kak Rangga, bye" Tyshia pergi meninggalkan Rangga, ia pulang dengan menggunakan taxi.


__ADS_2