
Tiga bulan kemudian Tristan menghubungi Alea, ia mengajak Alea untuk bertemu dengannya. Dengan izin Nathan, Alea pun menerima ajakan Tristan, Alea meminta Tristan untuk menemuinya di coffee shop setelah ia pulang bekerja.
"Hi, how are you?" tanya Alea, sambil menjabat tangan Tristan.
"Good. Dimana Nathan? bukankah biasanya kalian selalu bersama?" tanya Tristan.
"Nathan sedang banyak pasien, mungkin sebentar lagi menyusul" jawab Alea.
"Mau hot coklat?" Tristan masih sangat hafal dengan minuman kesukaan Alea.
"Boleh"
"Oke tunggu sebentar ya" Tristan berajak dari tempat duduknya, membelikan hot coklat untuk Alea, tak lama kemudian ia datang membawa hot coklat untuk Alea.
"Terima kasih ya Tristan"
"Aku hanya ingin memberikan ini kepadamu dan Nathan" Tristan menyerahkan sebuah undangan pernikahan kepada Alea.
Alea menerima undngan tersebut kemudian ia membukanya, ia sangat penasaran siapa wanita yang akan Tristan nikahi.
"Carissa Putri??" Alea sangat terkejut ternyata Tristan akan menikahi saudara sepupunya sendiri.
Tristan tersenyum sambil menganggukan kepalanya, membenarkan jika dirinya akan menikah dengan Carissa.
"Tunggu-tunggu tapi mengapa Uncle dan Aunty tidak memberi tahuku? padahal kita setiap hari bertemu" tanya Alea.
"Sebenarnya ini masih rahasia, undangannya pun belum jadi semua, kita tak ingin sesumbar dulu" ucap Tristan.
"Tapikan aku saudaranya" protes Alea.
__ADS_1
"Iya, iya kami minta maaf. Oh ia Lea, kamu tidak keberatankan jika aku membeli rumah berdekatan dengan rumahmu? ini atas permintaan Carissa" tanya Tristan.
"Tentu saja tidak, aku justru sangat senang bisa bertetanggaan dengan saudaraku sendiri" ucap Alea.
"Maaf membuatmu menunggu, tadi banyak pasien yang harus aku tangani" Nathan datang dan mencium pipi Alea, kemudian duduk di samping istrinya, kemudian ia menyapa Tristan yang berada di hadapannya.
"Hi Tristan, What’s up?" Nathan menjabat tangan Tristan.
"Not a lot" jawab Tristan.
"Kalo begitu aku permisi dulu, jangan lupa datang ya" Tristan pergi meninggalkan Nathan dan Alea.
Setelah Tristan pergi, Alea memberikan undangan pernikahan Tristan dan Carissa kepada Nathan. "Mereka akan menjadi tetangga kita, mereka membeli rumah satu komplek dengan kita" ucap Alea.
Nathan menganggukan kepalanya, ia tak sama sekali keberatan bertetanggaan dengan Tristan dan Carissa.
"Ya sudah kita pulang yuk" ajak Nathan.
Hoeek... hoeeek... hoeeek...
Alea memuntahkan isi perutnya di kamar mandi, mendengar istrinya muntah Nathan berlari menghampiri Alea di kamar mandi.
"Sayang, apa kamu sedang sakit?" tanya Nathan panik, ia memijat lembut tengkuk dan pundak Alea untuk meredakan mualnya.
Setelah selesai Nathan menyeka mulut Alea dan memapahnya menuju kasur, ia menelepon asisten rumah tangganya untuk membawakan teh hangat ke kamarnya.
Nathan memeriksa denyut nadi Alea, kemudian memeriksa tekanan darahnya, ia mengambil stetoskopnya kemudian memeriksanya.
Setelah memeriksa Alea, Nathan mengambil test pack yang berada di lacinya, memberikannya kepada Alea.
__ADS_1
"Kamu mendiagnosa aku hamil?" tanya Alea.
"Bukankah bulan ini kamu sudah telat menstruasi?" Nathan mengajak Alea ke kamar mandi untuk melakukan tes.
Saat Alea berada di kamar mandi, asisten rumah tangga Nathan datang dengan membawa teh hangat ke kamarnya.
"Terima kasih" Nathan menutup kembali pintu kamarnya, kemudian menaruh teh hangat di atas meja.
Nathan kembali ke kamar mandi, ia mengambil urin yang telah Alea tampung di dalam wadah, kemudian Nathan memasukan alat tes kehamilan ke dalamnya.
Setelah menunggu beberapa menit, Nathan melihat ada dua garis merah di alat tes kehamilan yang ia pegang.
Untuk memastikannya Nathan mengambil kembali alat tes kehamilan dengan merek yang berbeda di lacinya, ia pun mengulanginya kembali.
Hasil yang sama di kedua test pack tersebut, Alea tengah mengandung buah hatinya.
"Sayang, kamu hamil" Nathan memeluk Alea dengan erat, ia mengangkat pakaian Alea dan menciumi perut Alea yang masih rata.
Tanpa menunggu waktu lama, Alea langsung menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada Ayahanda tercintanya, lewat sambungan video call.
Ucapan selamat dan doa tak hentinya Rangga ucapkan untuk putri tercintanya, ia juga menyarankan Alea untuk banyak istirahat, Rangga melihat jika putri sangat sibuk sekali.
"Iya Yah, terima kasih ya. Nanti malam setelah periksa kehamilan, kami boleh ya menginap di rumah Ayah, aku rindu dengan kamarku" ucap Alea.
"Tentu saja sayang, rumah ini terbuka 24 jam untukmu. nanti Ayah buatkan makanan kesukaanmu" ucap Rangga.
"Ya sudah, aku dan Nathan mau siap-siap periksa dulu. Bye Ayah" Alea melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Bye honey" Rangga pun menutup teleponnya.
"Alhamdulillah, putri kita sedang mengandung sayang, sebentar lagi kita punya cucu yang sangat menggemaskan" Rangga mencium foto Almh. istrinya kemudian ia membereskan semua dokumen pekerjaan dan bergegas kembali ke rumahnya.