
Malam harinya Rangga memberikan kejutan special untuk Tyshia, ia mengundang chef terkenal untuk masak makan malam di apartemennya.
Meskipun hanya di apartement namun suasana romantis dan mewah tetap terasa karena Rangga menyuruh orang untuk mendekornya.
"Byy aku mau keluar dari kamar, aku bosan dari siang kamu kurung aku di sini" protes Tyshia.
"Sebentar lagi ya sayang" Rangga memeluk Tyshia dari belakang.
"Kamu ini kenapa sih tiba-tiba mengurungku di kamar?"
"Ada deh" Rangga mencium pipi chubby Tyshia.
Begitu Rangga mendapatkan notifikasi pesan jika semua persiapannya sudah beres barulah Rangga mengajak Tyshia ke dapur sambil menutup mata Tyshia dengan tangannya.
"Surprise" Rangga membuka mata Tyshia.
"Oh my God, Thank you baby " Tyshia memeluk dan mencium bibir Rangga.
Rangga menarik kursi mempersilahkan istrinya untuk duduk, kemudian Rangga duduk di hadapan istrinya. Bukan hanya dekorasi yang romantis dengan banyak lilin namun rangga juga mengundang pemain biola untuk mengiringi makan malam romantisnya di apartementnya.
"Terima kasih ya byy, sudah menemani perjalanan hidupku sampai di titik ini" Rangga menatap mata Tyshai sambil menggenggam erat tangannya.
Tyshia tersenyum dan menganggukan kepalanya, keduanya mulai menikmati makan malam romantis di apartement mereka.
Di tengah suasana romantisnya bersama Tyshia tiba-tiba Rangga mendapatkan notifikasi pesan dari ibu mertuanya.
^^^Bunda:^^^
^^^Nak, bisa bunda bicara denganmu sebentar, tapi jangan beritahu Tyshia dulu ya.^^^
Perasaan Rangga mendadak berubah menjadi tidak karuan, karena ini kali pertamanya ibu mertuannya menghubunginya memintanya untuk tidak memberi tahu Tyshia.
Dengan alasan pekerjaan Rangga meminta ijin kepada Tyshia untuk menelepon di luar, Tyshia yang selalu percaya dengan Rangga tidak menaruh curiga apapun, Tyshia langsung mengijinkannya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya" Rangga mencium kening Tyshia kemudian keluar dari unit apartementnya
Setelah keluar dari apartemen Rangga langsung menelepon ibu mertuannya, pada deringan ke tiga Ana mengangkat telepon dari Rangga. Rangga mulai panik ketika mendengar suara isakan tangis ibu mertuanya di telepon.
"Bunda, kenapa menangis?" tanya Rangga dengan perasaan cemas.
"Bunda ada masalah apa? apa ada yang bisa Rangga bantu?" Rangga semakin panik kerena hanya suara tangis dari ibu mertuanya yang terdengar di handphonenya.
"Ng-ngga, Ayah di rawat di rumah sakit Singapore hiiks..." ucap Ana terbata-bata.
Ana tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, Ana menangis sesegukan. Rangga semakin kalut di buatnya, ia tidak tahu apa yang harus di lakukannya.
"Bunda, Ayah sakit apa?"
"Bunda tenangin diri Bunda ya, aku akan segera ke sana"
"Ayah terkena serangan jantung, tapi Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah lebih baik. tapi hiiiiks.."
"Kondisi perusahaan sedang tidak stabil, bisakah kamu dan Tyshia kembali ke Indonesia untuk membatu kami?"
Rangga terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Ana, dalam benaknya ia memikirkan kondisi kandungan istrinya.
"Ngga..."
"Bunda aku akan cari jalan keluarnya, nanti aku akan menghubungi Bunda lagi ya. Tapi aku mohon, Bunda terus kabari aku tentang perkembangan kondisi Ayah."
Setelah menutup telapon dari Ana, Rangga kembali kepada Tyshia yang sedang menunggunya di dalam.
Dengan sangat hati -hati rangga meminta ijin kepada Tyshia untuk ke rumah Edwar dengan alasan yang sama yaitu pekerjaan kantornya.
"Aku ikut ya" pinta Tyshia.
"Sudah malam sayang, kamu istirahat ya, aku janji hanya sebentar saja" Rangga mengelus punggung Tyshia, ia mencoba untuk tidak terlihat panik agar Tyshia tak mencurigainya.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi beneran jangan lama-lama" Tyshia menuruti perintah suaminya untuk istirahat.
"Iya sayang" Rangga mengecup kening Tyshia.
Setelah Tyshia masuk ke dalam kamar, Rangga menyuruh semua orang yang ada di apartemennya untuk keluar dari apartemennya.
Tak lama kemudian suasana apartemennya kembali normal, barulah Rangga bergegas menuju kediaman Edwar.
Tiba di kediaman Edwar, tanpa basa-basi Rangga menyuruh Edwar untuk pulang ke Indonesia.
"Loe pasti udah tahu berita tentang Ayah mertua gue, please loe bantu perusahaan Ayah mertua gue, gue enggak bisa ninggalin Tyshia di Jerman sendirian dalam kondisi mengandung."
"Loe bawa dia balik ke Indonesia."
"War, loe tahu kan berapa tahun gue sama Tyshia menunggu untuk memiliki keturunan? Kandungan Tyshia sangat rawan untuk perjalanan jauh dan gue tidak akan mengambil resiko itu. Lagi pula di sini Tyshia sedang ada project besar aku tidak mau menghancurkan mimpinya" ucap Rangga memelas.
"Rangga, kalo begitu biar Tyshia sama Mommy di sini. Mommy yang akan merawatnya, kamu pulanglah ke Indonesia bersama Edwar"
"Istriku tidak akan setuju Mom terlebih jika ia mengetahui Ayahnya sedang sakit."
"Tidak ada jalan lain Ngga, lo harus bilang sama Tyshia. Cepat atau lambat Tyshia akan tahu, kamu tahukan jika Om Rio cukup terkenal? jadi sebentar lagi akan banyak berita yang beredar mengenai dirinya."
"Ngga, kamu tahu apa penyebabnya?" tanya Risty.
"Rai, ia menggunakan uang perusahaan puluhan milyar untuk judi dan pesta narkoba di Singapore, bukan hanya itu Rai juga tidak berhasil mempertahankan beberapa kontrak kerjasama yang nilainnya cukup besar, karena sifat arogannya. Sekarang terjadi penumpukan hutang perusahaan dan kerugian perusahaan."
Mendengar penjelasan Mommynya membuat kepala Rangga pusing seketika.
"Gue akan bicara dengan Tyshia dan gue akan akan balik ke Indonesia, tapi lo harus ikut sama gue. Gue gak bisa menyelesaikan semuanya sendirian, gue butuh loe Edwar."
"Oke, loe ngomong aja dulu sama Tyshia baru kabarin gue kapan kita berangkat."
Rangga berpamitan dengan Risty dan Edwar kemudian kembali ke apartemennya.
__ADS_1