
Sepulangnya dari mengantar Rangga ke bandara, Tyshia kembali ke flatnya, meskipun Rangga sudah tidak tinggal di New York namun Tyshia tetap memutuskan untuk tetap tinggal di flat, ia enggan untuk tinggal di apartement Ayahnya.
'Lelahnya' gumam Tyshia sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, batu saja ia ingin memejamkan matanya ia mendengar pintu unit flatnya di ketuk oleh seseorang dari luar.
Tok.. Tok.. Tok..
'Siapa yang datang ke flatku?' gumam Tyshia, ia ragu untuk membukanya, karena seingatnya hanya Rangga dan orang tuanya yang tahu flat tempat tinggalnya.
Perlahan Tyshia membuka pintunya sambil memegang sapu di balik badannya.
"Sayang kenapa kamu lama sekali, kamu sedang apa?" tanya Ana, sambil menerobos masuk ke dalam kemudian duduk dintempat tidur putrinya.
"Bunda, mengagetkan aku saja, aku siapa yang datang untung saya tidak aku pentung dengan sapu" ucap Tyshia sambil menaruh kembali sapu yang ia pegang.
"Maaf sayang"
"Bunda kapan sampai? kok tidak mengabariku" Tyshia mencium pipi dan memeluk Bundanya dengan hangat.
"Kemarin, Bunda sedang mengurus perpindahan kuliah rai. Nanti kamu tinggal di apartement ya temani Rai, dia kan belum pernah ke New York pasti dia masih bingung" ucap Ana.
Tyshia terkejut dengan kedatangan Rai, sejujurnya ia malas sekali jika harus berurusan dengan adik sepupunya yang sangat menyebalkan itu.
"Suruh saja dia pakai GPS agar tidak tersesat, lagi pula siapa juga yang mau menculik orang seperti dia" jwab Tyshia ketus.
"Tyshia, dia adikmu. Kamu tidak boleh begitu kepadanya, kamu awasi dan bimbing Rai ya."
"Bunda, aku di sini mau kuliah bukan menjadi baby sitter bocah tengil itu. Lagi pula ngapain dia pake acara pindah ke New York? seperti tidak ada tempat lain saja"
"Sudah-sudah, Bunda tidak ingin berdebat denganmu, Buda harap suatu saat kamu dan Rai bisa akur"
'Tidak sudi' gumam Tyshia dalam hati.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengan rangga?" tanya Ana membuka topik obrolan lain.
"Kami LDR, tadi pagi ka rangga baru saja kembali ke Indonesia"
"Jadi dia sudah lulus? berpa IPK nya?"tanya Ana penasaran.
"3.89"
"Wow hebat juga ya dia"
'Berarti sebentar lagi calon menantuku akan segera menghubungi suamiku' gumam Ana sambil tersenyum.
"Iih Bunda, malah senyum-senyum sendiri" protes Tyshia.
"Malam ini Bunda menginap di sini ya" pinta Ana, ia ingin mengobrol banyak dengan putrinya melepas rasa rindunya terhadap putri semata wayangnya.
"Hu'um" Tyshia menganggukan kepalanya ia juga senang bisa di temani oleh Bundanya.
Keesoan harinya Ana mengajak Tyshia ke apartement untuk bertemu dengan Rai, Tyshia yang tidak punya alasan untuk menolak ajakan Bundanya terpaksa menurut.
"Hi ka tyshia how are you?" sapa Rai, begitu Tyshia dan Ana masuk ke dalam unit apartement mereka.
Tyshia enggan menjawab sapaan dari adik sepupunya itu, ia mengabaikannya dan lebih memilih masuk ke kamarnya merapihkan buku-buku dan pakaiannya yang sebagian masih di apartement untuk ia bawa ke flat saat bundanya sudah kembali lagi ke Indonesia.
Ternyata dugaan Tyshia melesat, Bundanya justru pulang lebih cepat dari perkiraannya sehingga ia bisa kembali lagi ke flatnya. Ia ingin fokus menyelesaikan studynya, tanpa di ganggu dengan Rai yang selalu saja membuat masalah.
Tyshia kembali menjalani hari-harinya, sepulang kuliah Tyshia menyusuri tempat-tempat yang biasa ia datangi bersama dengan Rangga termasuk tempat biasa ia dan Rangga makan malam bersama, Tyshia sangat merindukan kehadiran Rangga di sisinya.
Setiap malam Rangga rutin menghubunginya baik melalui telepon maupun video call, Tyshia senang mendengar cerita Rangga yang telah mendapat pekerjaan di Jakarta terlebih Rangga bekerja di tempat yang menjadi impiannya, sehingga membuat Tyshia lebih semangat untuk menyelesaikan pendidikannya
Saat mendengarkan Rangga bercerita terkadang Tyshia ingin juga bercerita banyak tentang hal-hal yang ia lakukan di kampusnya, menujukan semua hasil karyanya, menujukan semua prestasi yang ia raih di kampusnya. Namun tyshia belum siap untuk berkata jujur kepada Rangga, ia lebih memilih menyimpannya sendiri hingga ia siap untuk mengatakan semuanya kepada Rangga.
"Aku lanjut kerja lagi ya Byy, kamu istirahat di New York sudah malam kan?" tanya Rangga.
"Iya sayang, bye" Tyshia mematikan sambungan teleponnya, kemudian ia menaruh handphonenya di atas meja belajarnya dan kembali ke tempat tidurnya.
__ADS_1
Baru saja ia hendak menarik selimutnya, handphonenya kembali bergetar.
Drrrt... drrrt... drrrrt...
Tyshia pun kembali turun dari tempat tidurnya, mengira jika Rangga yang menghubunginya kembali, namun setelah di lihat ternyata panggilan masuk dari Rai.
"Isshhh mengganggu saja" Tyshia merejectnya.
Rai tak pantang menyerah berkali-kali ia kembali menghubungi Tyshia, sampai akhirnya Tyshia mengangkatnya dengan kesal.
"Iihhh mau apa sih kau ini selalu menggangguku" teriak Tyshia de gan kesal.
"Ih Kak Tyshia berisik sekali" protes Rai.
"Cepat katakan mau apa kau menghubungiku?" bentak Tyshia.
"Besok malam temani aku ke pesta ulang tahun temanku ya, jika tidak dengan Kak Tushia, mommy tidak mengijinkan aku"
"BUKAN URUSANKU!!! "
" Ayolah ka tyshia sebentar saja" bujuk Rai.
"Aku sibuk Rai" tolak Tyshia.
"Ayo lah Kak Tyshia, sekali ini saja" Rai terus memohon dan merengek kepada Tyshia hingga membuat kepala Tyshia pusing.
"No" Tyshia mematikan handphonenya kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ke esokan harinya setelah pulang kuliah Tyshia langsung kembali ke flatnya untuk mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk, memasuki tahun kedua jadwal kuliah Tyshia semakin padat materinya semakin banyak.
Tyshia semakin mahir menggambar desain baju, menggunting pola, menggunakan mesin jahit hingga menghitung harga pokok penjualan.
Di tengah keseriusannya mengerjakan tugas kuliahnya, ia mendengar suara ketukan pintu.
Tok.. Tok.. Tok..
'Mau apa orang itu kemari?' Mendengar suara Rai datang ke flatnya membuat darah Tyshia naik ke ubun-ubun.
" Rai, for what you come here?" tanya Tyshia dengan nada tinggi.
* Mau apa kamu datang kemari rai?"
"Please Kak Tyshia antar aku ke ulang tahun temanku" pinta Rai.
"NO" tolak Tyshia.
"Ayo lah Kak, please... kali ini saja" rengek Rai.
Mendengar rengekan adik sepupunya membuat Tyshia tidak tahan, akhirnya ia pun menurutinya. Melihat rai yang berpakaian casual, membuat Tyshia memutuskan memakai pakaian casual juga sama seperti Rai.
Tyshia hanya memoles bibirnya dengan lipstik berwarna natural, ia tidak ingin terlihat mencolok di antara teman-teman Rai. Setelah siap barulah Tyshia keluar dari kamar mandi, begitu Tyshia keluar dari kamar mandi Rai nampak memperhatikan penampilan Tyshia dari atas ke bawah.
"Kak Tyyshia pakai hijab?" tanya Rai seakan tak suka dengan pakaian yang di kenakan Tyshia.
"Memangnya kenapa?"
"Ini kan birthday party, apa kata teman-temanku nanti."
Ingin sekali Tyshia menampar adik sepupunya itu, sudah memaksanya untuk mengantarnya sekarang mau mengaturnya memakai pakaian yang ia kenakan.
"Jika kamu tidak suka dengan pakaian yang aku kenakan silahkan kamu pergi sendiri" bentak Tyshia.
Nyali Rai menciut mendengar bentakan Tyshia, ia tidak berani mengatur Tyshia. Tyshia sedit terkejut ketika melihat tempat ulang tahun temannya Rai ternyata di sebuah club malam.
Tyshia memutuskan untuk menunggu Rai di mobil sambil mendengarkan musik dan membaca buku.
"Jangan lebih dari satu jam atau kamu akan aku tinggal" ancam Tyshia.
"Okay" jawab Rai sambil masuk ke dalam club.
__ADS_1
Beberapa kali Tyshia melihat jam di tangannya, rasa kesal mulai melandanya karena sudah hampir dua jam Rai belum juga datang, akhirnya Tyshia menyuruh supirnya untuk masuk ke dalam club, untuk menjemput Rai.
Drrrt.. Drrrt.. Drrrt..
Melihat Rangga meneleponnya Tyshia bergegas mengangkatnya.
"Hallo byy" jawab Tyshia.
"Byy, aku mau cerita"
"Say to me, honey"
*Katakanlah sayang
"Atasanku pagi ini kecelakaan saat hendak ke kantor, sekarang kondisinya kritis. siang ini aku yang akan menggantikannya meeting dan presentasi dengan direktur utama perusahaan. Doakan aku ya, aku gugup sekali"
"You can do it honey" Tyshia selalu memberikan support untuk Rangga.
*kamu pasti bisa sayang
Di tengah percakapan dirinya dengan Rangga tiba-tiba Rai datang ke mobilnya dengan kondisi mabuk berat, Ra berbicara secara ngelantur.
Sambungan telepon yang belum sempat Tyshia matikan membuat Rangga mendengar suara Rai, seketika Rangga menjadi panik mendengar suara pria sedang bersama tyshia.
"Byy kamu dimana?" Tanya Rangga dengan panik.
"byy kamu sama siapa?"
"Byy tolong jawab pertanyaanku" Rangga semakin di buat panik karena Tyshia tak menjawab pertanyaannya.
"Sayang, aku akan menghubungimu nanti" Tyshia mematikan sambungan teleponnya, kemudian ia pindah ke bangku depan di samping supirnya, ia tidak ingin duduk bersama pria yang sedang mabuk meskipun itu adik sepupunya sendiri.
Tyshia meminta supirnya untuk mengantarnya ke flat, setelah itu Tyshia meminta supirnya membawa Rai ke apartementnya. Sesampainya di flat Tyshia langsung menghubungi rangga, ia menceritakan kedatangan adik sepupunya ke New York.
Tyshia tidak menceritakan secara keseluruhan, masih ada beberapa hal yang ia tutupi dari rangga, Ia mengatakan jika apartement dan mobilnya milik Rai.
"Byy, kayanya kamu harus bilang sama tante kamu tentang prilaku adik sepupumu. aku khawatir denganmu, aku takut kamu kenapa-kenapa" ucap Rangga dengan nada cemas.
" Iya byy, nanti aku akan cerita ke tante dan bundaku" Tyshia lega karena Rangga tidak salah paham dan percaya kepadanya.
Beberpa minggu setelah kejadian itu Tyshia tidak lagi bertemu dengan Rai, hingga pada suatu hari saat Tyshia hendak mengambil beberapa kemeja di apartemennya, Tyshia memergoki Rai sedang melakukan hubungan intim dengan wanita bule.
Tyshia tak sengaja memergokinya karena kamar Rai yang tidak tertutup secara sempurna dan suara ******* dari keduanya terdengar jelas hingga keluar kamar
Tyshia sangat syok dengan apa yang di lihatnya, ia langsung membalikan tubuhnya, namun sialnya Rai telah terlebih dahulu melihat keberadaan Tyshia.
Rai segera mengejar Tyshia dan menarik Tyshia agar tidak kabur.
"Tutup dulu itu barangmu, aku tidak sudi melihatnya" Tyshia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia merasa matanya ternodai oleh Rai.
Rai pun bergegas mengambil selimut untuk menutup bagian intimnya, kemudian ia kembali lagi menghampiri Tyshia.
"Please jangan bilang sama Mommy"
"Mommymu menyuruhmu ke sini untuk belajar, mengapa kamu malah melakukan perbuatan yang tak bermoral di apartement orang tuaku?" bentak Tyshia, hampir saja ia menapar Rai namun ia tak ingin mengotori tangannya dengan menampar pria menjijikan seperti Rai.
"Aku hanya ingin menikmati hidupku, aku sudah tahu masa depanku akan menggantikan Ayahmu. Lalu untuk apa aku harus susah payah belajar, aku tidak seperti dirimu yang sok idealis menolak jabatan dari orang tuamu"
"Tutup mulutmu!! Ayahku tidak akan memberikan perusahaannya kepada manusia tidak bermoral seperti dirimu."
"Hei Nona, baru kemarin Ayahmu meneleponku dia mengatakan hal itu kepadaku. kita sama-sama tahu di antara kita bertiga (Rai,Stela,Tyshia) yang paling berprestasi ya hanya aku"
Tyshia pergi meninggalkan Rai, ia tidak ingin membuang-buang waktu dan energinya hanya untuk meladeni Rai.
Sempat terbesit sedikit rasa sakit di hatinya mengapa Ayahnya tidak mempertimbangkan Rangga, padahal Ayahnya mengetahui hubungan kedekatannya dengan Rangga dan latar belakang pendidikan Rangga.
'Apa memang Ayah sama sekali tidak tertarik menggap Rangga akan menjadi bagian dari keluarga?' gumam Tyshia.
Tyshia menepis perasaan sakitnya, karena ia tahu sekali dengan sifat kekasihnya yang seorang hard working seperti Rangga pasti akan memilih jalannya sendiri, ia tidak akan menerima pemberian dari orang lain.
'Aku dan Rangga akan membangun istana kami sendiri' Tyshia tersenyum memandangi foto kekasihnya di layar handphonenya.
__ADS_1