
Beberapa lama kemudian dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah sedih, Rangga, Rio dan ana bergegas menghampiri dokter. ketiganya secara serantak menyanyakan kondisi Tyshia, dengan hati-hati dokter menyampaikan jika nyawa Tyshia tidak bisa di selamatkan karena adanya komplikasi yang terjadi saat proses persalinan sehingga membuat seluruh lapisan dinding rahim robek.
"Katakan jika itu tidak benar dok, dokter pasti bisa menyelamatkan istri saya. Istri pasti bisa sembuhkan dok hiks... hiks.."
"Maaf Pak Rangga, kami sudah mengupayakan semua yang terbaik untuk istri bapak, tapi tuhan punya rencana lain. Pak Rangga harus tabah dan ikhlas menerimanya."
Setelah dokter berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Rangga, Rio dan Ana melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh Tyshia yang telah di tutup oleh kain putih.
Dengan perlahan Rangga membuka kain tersebut, seketika dunianya bagaikan runtuh melihat tubuh istrinya sudah terbaring kaku tidak bergerak, tangis Rangga pecah di hadapan jenazah istrinya.
"Byy please bangun, jangan tinggalin aku dan anak kita. Byy please aku enggak siap kehilanganmu secepat ini, byy.... hiiiks.. kasih aku kesempatan buat bahagiain kamu, huuuu... byy bahkan aku belum sempat menunaikan janjiku untuk mengajakmu baby moon ke tempat yang kamu mau"
"Byy please aku benar-benar belum siap byy huuu..."
Ana tak kuasa menahan tangisnya ia memeluk Rio dan menangis di pelukan suaminya.
__ADS_1
Meski hatinya sedih Rio berusaha untuk tegar dan ikhlas, ia memberitahukan kabar duka tersebut kepada semua keluarganya dan juga keluarga Rangga.
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Rangga memandangi jenazah istrinya, ia masih tak menyangka dengan kepergian istrinya yang begitu cepat, di tengah kesedihannya ia mencoba menghubungi Mommynya dan Kak Joe untuk meminta ijin menyegerakan proses pemakaman istrinya.
Sesampainya di rumah telah ramai baik dari keluarga maupun kerabat yang menunggu kedatangan jenazah Tyshia termasuk keluarga Rangga dari Jogja, satu persatu para kerabat dan keluarga menyalami dan memberikan suport kepada Rangga, Rio dan Ana.
"Yang tabah dan ikhlas ya Nak" Cakra memeluk Rangga, ia dapat merasakan apa yang Rangga rasakan karena sampai saat ini pun dirinya masih belum bisa melupakan rasa sedih kehilangan istrinya (Retno, Ibunda Rangga) Rangga kembali menangis di pelukan Ayah sambungnya.
Selama prosesi pengurusan jenazah Tyshia mulai dari memandikan, memberikan kafan, dan menshalati Rangga selalu berada di sisi jenazah istrinya. Ia tidak ingin melewatkan detik-detik perpisahan dengan istrinya untuk selamanya.
"Tunggu aku di kebadian ya byy, aku akan menyelesaikan tugasku dengan baik. Aku akan merawat buah hati kita dengan sepenuh hati dan jiwaku, aku akan mengantarkannya untuk meraih mimpinya sama seperti yang kamu lakukan kepadaku. Tunggu aku sayang!!" gumam Rangga.
Rangga menutup dengan papan kayu, kemudian Rangga dan Rio naik ke atas dan para penggali kubur mulai menimbun tanah.
Setelah pembacaan doa Rangga menaburi makam Tyshia dengan bunga-bunga segar kesukaan istrinya, semua para pelayat telah pergi meninggalkan makam Tyshia.
__ADS_1
Hanya tingga Rangga, Ana, Rio dan Cakra yang masih berat untuk meninggalkan makam Tyshia, mereka mengingat saat-saat kebersamaan dengan Tyshia di dalam pikiran masing-masing.
"Kita pulang yuk!!" Cakra menepuk lembut pundak Rangga.
"Nanti yah, aku masih ingin berada di sini." Rangga mengelus nisan Tyshia seolah ia sedang membelai kepala tTshia.
"Byy katakan jika ini hanya mimpi." Rangga masih berharap jika ini hanya mimpi buruknya saja.
"Nak, percayalah jika Allah menempatkan tyshia di tempat yang terindah, kamu harus kuat demi putrimu" ucap Cakra.
Rangga menganggukan kepalanya ia mengikuti langkah Ayahnya dari belakang di ikutih oleh Ana dan Rio setelahnya, sesekali Rangga menengok ke belakang untuk melihat makam istrinya.
"Kita selaku orang tuanya pun berat, tapi kita harus ikhlas Ngga, kamu juga ikhlas ya agar langkahnya tidak berat" ucap Rio.
Rangga menghapus air mata di pipinya kemudian menganggukan kepalanya.
__ADS_1