
Sore itu Rangga pulang lebih awal, dari biasanya. Sepulang dari kantor ia menghampiri kamar orang tuanya, Rangga mengintip dari balik pintu melihat ayahnya yang sedang terbaring lemah diatas tempat tidur.
Ada rasa kekhawatiran yang teramat dalam ketika ia membayangkan kedua orang tuanya mengetahui kondisi perusahaan yang sebenarnya.
'Apa yang harus aku lakukan ya Allah, berikan kemudahan untukku menjalani ini semua' batin Rangga, ia sangat berharap bisaa menemukan jalan keluar secepatnya.
"Rangga, kamu sudah pulang?" tanya Ana dari arah belakang.
"Su-sudah Bunda" Rangga tersadar dari lamunannya, kemudian ia mencium tangan Bundanya.
"Bunda mau ngomong serius denganmu Rangga" Ana menatap Rangga dengan tatapan tajam "Ikut bunda sebentar yuk" ajak Ana.
Rangga menganggukan kepalanya kemudian ia mengikuti bundanya masuk ke dalam ruang kerjanya, tanpa basa-basi Ana langsung memberikan amplop berwarna coklat kepada Rangga.
__ADS_1
"Apa ini Bunda?" tanya Rangga sambil membukanya.
"Harusnya Bunda yang tanya padamu, apa maksud semua ini? setiap kali Bunda tanya kamu ada hubungan apa kamu dengan Nindy, kamu selalu jawab tidak ada. Kali ini kamu mau alasan apa lagi?" tanya Ana dengan nada tinggi dan raut wajah penuh kekecewaan pada Rangga.
Rangga melihat beberapa foto-foto ketika dirinya masuk ke dalam kamar hoter bersama Nindy, ia juga melihat foto tiket pesawat atas nama dirinya dan Nindy.
"Dua orang dewasa laki-laki dan perempuan dalam satu kamar hotel. akh.. unda sudah tidak tau harus berkata apa kepadamu, kali ini Bunda benar-benar kecewa padamu." ucap Ana, mengeluarkan isi batinnya.
"Cukup Rangga!!! Bunda sudah lelah mendengar alasan-alasanmu. Kamu tahu kan Ngga jika dari dulu Ayah dan Bunda sama sekali tidak pernah melarangmu untuk menikah lagi"
"Demi Allah, aku tidak berbuat apa-apa dengannya. Jangankan berbuat yang tidak-tidak, menatapnya saja aku tidak pernah. Apa Bunda sudah lupa, dulu sebelum menikah dengan Almh. Alinea, kita berdua pernah tinggal satu apartement dan kita tidak berbuat apa-apa" Rangga menatap mata Ana dalam-dalam "Aku tidak akan menyentuh atau menikahi orang yang tidak aku cintai, aku permisi dulu" Rangga mencium tangan Ana.
Rangga pergi dari kediamannya bergegas menuju Bandara, sore itu juga ia terbang menuju Surabaya untuk menemui Pak Setiadji.
__ADS_1
Selepas kepargian Rangga, Ana menghela nafas beratnya, ia kambali melihat foto-foto yang di dapatnya dari Edgar sekretaris Rangga. Sebenarnya Edgar tak pernah mau membuntuti, apa lagi melaporkan perbuatan bosnya namun Ana ters memaksa sehingga dengan terpaksa Edgar melakukannya.
'Bunda percaya padamu Nak' Ana memilih untuk percaya pada menantunya ketimbang foto yang di lihatnya, kemudian ia membuang semua foto-foto tersebut, ia tak ingin suaminya atau Alea melihat foto tersebut dan menimbulkan masalah baru.
Ana kembali ke kamarnya untuk kembali menemani suaminya, begitu masuk ke dalam kamar, ia melihat Rio tengah mengambil minum di atas meja.
"Dari mana?" tanya Rio.
"Ke bawah sebentar menyuruh bibik membuatkan sup gingseng" ucap Ana sambil membantu Rio menaruh kembali gelasnya " istirahat lagi yuk" Ana menyelimuti tubuh suaminya dan membelai wajah suaminya dengan lembut.
"Terima kasih ya atas kesetiaannya" ucap Rio.
"I still love you honey" Ana mengecup kening Rio, dan mendekap erat tubuh suaminya.
__ADS_1