
Sukses menyabet medali emas di ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) Alea dan timnya maju ke International Science Olympiads/ISO.
"Congratulations honey, Eyang sangat bangga sekali denganmu" Ana dan Rio menyambut kedatangan cucunya yang baru saja pulang dari Pulau Dewata Bali.
"Terima kasih Eyang, ini semua berkat doa dari Eyang" Alea memeluk dan mencium pipi kakek dan neneknya secara bergantian.
"Selamat ya Lea" Nindy pun ikut menyambut kedatangan Alea di kediaman Rangga.
"Terima kasih Kak Nindy, terima kasih telah mengajariku selama ini" ucap Nindy.
"Kita ngobrol-ngobrol di ruang makan yuk, Eyang sudah buatkan makanan kesukaanmu" ajak Ana kepada cucunya, kemudian beralih ke Nindy "kamu juga ayo ikut, Nind"
Nindy tersenyum sambil menganggukan kepalanya, ia dan Rangga mengikuti Alea dan kakek neneknya dari belakang.
Sambil menikmati makanan kesukaannya tak hentinya Alea bercerita tentang pengalamannya mengikuti Kompetisi Sains Nasional (KSN) di Bali.
"Kalo yang hitung-hitungan sih kebanyakan Tristan yang jawab, karena dia paling jago ngitung, cepet banget" puji Alea dengan penuh antusias.
"Dari tadi muji-muji Tristan terus, pantas saja Ayah tidak menyusul Ke Bali, hanya boleh menjemput di Bandara, ternyata sudah ada Tristan" ucap Rangga, ia memperhatikan putrinya selalu menyebut nama Tristan dalam setiap ceritanya.
Wajah Alea seketika memerah dan menjadi salah tingkah "Ayah, sudah banyak pendamping dan tidak ada orang tua yang menyusul ke sana, makanya aku larang Ayah ke sana" ucap Alea.
"Iya Sayang, Ayah percaya" Rangga mengelus kepala putrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tapi pada waktu di Pantai Kuta, Tristan sempat mengutarakan perasaannya padaku, dia bilang jika dia menyukaiku" ucap Alea ragu-ragu.
"Lalu kamu jawab apa?" tanya Rangga.
"Aku dilarang pacaran dengan Ayah" jawab Alea.
Rangga menatap putrinya dalam-dalam, ia mengerti gejolak cinta remaja seusia putrinya "Katanya kemarin mau fokus dengan sekolah? Mau kuliah kedokteran di Jerman, jadi berteman saja dulu ya. Kamu boleh kok sering-sering ajak dia kemari, nanti Ayah temani belajar bersama, atau olahraga bersama di taman, asalkan tidak berduaan dengannya"
"Iya Ayah, terima kasih"
Ditengah obrolan hangatnya bersama keluarganya, tiba-tiba saja Rangga mendapat telepon dari Rama, yang mengabarkan jika Cakra kritis dan tengah di rawat di ruang ICU.
"Ayah aku ikut..."
"Kamu di rumah saja ya, kan besok sudah harus ke sekolah dan mempersiapkan ujian kenaikan kelas" ucap Rangga, kemudian ia beralih ke Nindy "Nind, titip Alea belajar ya"
"Baik Pak Rangga"
"Ayah, Bunda aku titip Alea ya"
__ADS_1
"Iya Ngga, sampaikan salam kami pada keluargamu, kami doakan semoga Ayahmu lekas pulih kembali"
"Terima kasih Bunda" Rangga beranjak dari tempat duduknya, mempersiapkan segala keperluannya yang akan di bawa olehnya ke Jogja.
Setelah semuanya siap termasuk tiket pesawat, ia pun berpamitan kepada putri daan juga kedua orang tuanya.
"Aku pergi dulu ya Yah, Bund" Rangga mencium tangan keduanya secara bergantian.
"Hati-hati ya Ngga, jangan lupa kabari kami" ucap Ana.
"Ayah pergi dulu ya" Rangga memeluk dan mencium kening putrinya.
"Iya Yah hati-hati, kabari Lea juga ya Yah"
"Iya sayang" ucap Rangga kemudian ia beralih ke Nindy "Titip bejalajar Alea ya Nind" ucap Rangga, kemudian ia bergegas keluar dari kediamannya.
"Eh Pak Rangga.... Vitaminnya..." Nindy yang melihat vitamin dan jaket Rangga tertinggal di meja makan pun langsung mengambil dan berlari menyusul Rangga keluar.
"Pak Rangga...." teriak Nindy.
Rangga pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nindy.
"Vitamin dan jaketnya ketinggalan, cuaca sedang tidak bagus jangan lupa di minum ya Pak Rangga" Nindy memberikannya kepada Rangga.
__ADS_1
"Terima kasih" Rangga pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan kediamannya menuju Bandara.
Ana hanya tersenyum melihat kejadian tersebut 'seandainya Rangga mau membuka hatinya sedikit saja untuk Nindy dan Nindy tidak memiliki kekasih, mungkin mereka bisa menjalin kedekatan yang serius' batin Ana.