ALINEA

ALINEA
Chapter 5 : Nilai Menurun


__ADS_3

Pagi hari saat hendak sarapan, Tyshia di kejutkan dengan kedatangan dua adik sepupunya Rai dan Stela.


"Morning, Kak Tyshia" sapa Rai dengan senyum merekah di wajahnya.


"Mau apa kamu pagi-pagi sekali datang ke rumahku?" tanya Tyshia ketus.


"Sayang, tidak boleh begitu dengan Adik sepupumu sendiri. Tadi sehabis subuh Aunty Lyra dan Uncle Adit pergi ke Jogja karena ada salah satu sahabat Aunty Lyra yang meninggal dunia, jadi untuk sementara Rai dan Stela tinggal di sini sampai Aunty dan Uncle pulang" terang Ana.


"Apa tinggal di sini berberapa hari???" Tyshia semakin terkejut mengetahui jika Rai akan tinggal di rumahnya untuk beberapa hari, ia sangat keberatan karena Rai selalume gganggunya.


"Sayang, tidak boleh seperti itu mereka kan saudaramu" ucap Ana.


"Iya Bunda" jawab Tyshia singkat sambil memakan roti yang telah ia olesi dengan selai coklat kesukaannya.


"Bunda, aku masuk kelas akselerasi jadi nanti aku bisa satu angkatan dengan Kak Tyshia" ucap Rai menyombongkan dirinya di depan Tyshia.


"Uhhuk..." ucapan Rai membuat Tyshia tersedak.


"Are you okay baby?" tanya Rio sambil memberikan minum dan menepuk punggung putrinya dengan lembut.


"I'm good Ayah, thank you" jawab Tyshia, ia kemudian beralih kepada Rai "Memangnya nilai-nilaimu cukup bagus sehingga kamu bisa masuk kelas akselerasi?" Tyshia meragukan kemampuan Rai.


"Maaf ka Tyshia, adikmu ini bukan hanya terkenal palyboy tapi juga terkenal cerdas, nilai sainsku selalu sempurna" ucap Rai sambil membusungkan dadanya.


"Ishh.. How arrogant you are" Tyshia melirik sinis kearah Rai kemudian ia menghabiskan sarapannya.


Seusai sarapan ketiganya berangkat ke sekolah bersama, hingga di meja makan tinggal Rio dan Ana saja. Ana mengecek email dari handphonenya, ia di kejutkan dengan email dari wali kelas sekolahnya putrinya, yang meminta Ana untuk datang ke sekolah hari ini pukul 09.00 pagi.


Ana memberikan handphonenya ke suaminya agar suaminya membaca email tersebut.


"Aku temani ya" ucap Rio.


"Bukankah pagi ini kamu ada meeting dengan client?" tanya Ana.


"Aku akan selalu punya waktu untuk kamu dan putri kita" jawab Rio sambil tersenyum.


"Mengapa perasaan aku tidak enak, ada apa ya dengan Tyshia?"


"Tidak akan ada apa-apa, putri kita anak yang baik" Rio mengelus lengan istrinya, meghilangkan kecemasan yang dirasakan oleh istrinya.


Pukul 08.00 Rio dan Ana berangkat ke sekolah putrinya, sesampainya di sekolah Rio dan Ana langsung menemui wali kelasnya Tyshia.

__ADS_1


Wali kelasnya Tyshia menjelaskan jika nilai-nilai Tyshia semakin merosot terutama untuk mata pelajaran matematika, fisika dan kimia. Jika pada ulangan kenaikan kelas ini nilai Tyshia masih di bawah standar maka Tyshia bisa tidak naik kelas.


Rio dan Ana saling bertatapan mendengar pernyataan wali kelasnya, seakan mereka tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh wali kelas putrinya


"If Sir and Madam not a believer, you can see this data" Wali kelas Tyshia memberikan dokumen yang berisi nilai-nilai Tyshia.


Rio dan Ana hanya bisa menghela nafas beratnya ketika melihat nilai-nilai putrinya jauh di bawah nilai standar.


"There's still time to fix this" wali kelas Tyshia memberikan saran kepada Ana dan Rio agar Tyshia memperbaiki nilai-nilainya.


Setelah tiga puluh menit mereka mengobrol, Ana dan Rio pun pamit dari sekolah putrinya.


"Thank you, Miss Agata" Rio menjabat tangan wali kelas purtinya bergantian dengan Ana, kemudian keduanya keluar dari sekolah putrinya.


Seusai dari sekolahnya Tyshia, Rio mengantar Ana kembali pulang ke rumah.


"Tolong, jika Tysha pulang nanti jangan kamu marahi dan janga kamu berikan les tambahan dengan mencarikannya guru private untuknya, biar nanti aku sendiri yang akan mengajarinya belajar" ucap Rio sambil menggenggam tangan Ana dan menatap matanya.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Ana


"Kalian adalah prioritas utamaku" ucap Rio sambil mengecup kening istrinya.


Ana menganggukan kepalanya, kemudian ia mencium tangan suaminya "Hati-hati ya sayang" Ana memberikan kecupan manisnya di pipi suaminya sebelum ia keluar dari mobil suaminya.


'Apa putriku memang sedang ada masalah? mengapa bisa nilainya sejelek itu? apa yang putriku sembunyikan dariku? tidak mungkin anakku sebodoh itu sampai-sampai ia tak dapat mengikuti pelajar di sekolah?''gumam Ana dalam hati, banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya.


Ana membuka laci petama di meja belajar Tyshia, ia hanya melihat buku pelajaran sekolahnya. Kemudian ia membuka laci kedua, ia menemukan banyak buku-buku tentang fashion designer.


'Mengapa banyak sekali buku-buku tetang fashion desainer, bahkan ini lebih banyak dari buku-buku pelajarannya?' gumam Ana.


Dilaci ke tiga Ana menemukan lembaran-lembaran kertas bergambar desain baju yang di bagian sudut kertas tersebut terdapat nama Alinea.




"Bagus sekali, benarkah ini hasil karya putriku?"


Ana tak dapat menahan air matanya meliahat semua desain-desain yang putrinya buat, Ana juga menemukan setifikat penghargaan pemenang juara ke 2 lomba cosplay. Bukan hanya itu Ana juga menemukan beberapa sertifikat penghargaan dari sekolahnya di bidang seni dan olahraga.


Sementara itu dalam perjalanan ke kantornya, Rio memutar arah kendaraannya menuju kediamannya karena ada dokumen yang tertinggal. Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk menuju ruang kerjanya, saat ia hendak melewati kamar putrinya secara tak sengaja ia mendengar isak tangis dari dalam kamar putrinya.

__ADS_1


Rio pun langsung masuk ke dalam dan dilihatnya istrinya sedang menangis di depan kertas dan buku-buku yang berserakan, Ana yang melihat suaminya mendekar ke arahnya langsung berhambur ke pelukan suaminya.


"Aku ibu yang jahat karena selama ini selalu memaksakan kehendakku, aku ibu yang tidak peka terhadap putriku sendiri. Aku jahat hiiks.." tangis Ana pecah di pelukan Rio.


Rio memeluk erat istrinya, membiarkannya menangis sepuasnya dalam pelukannya.


Sambil memeluk istrinya, Rio mengambil beberapa lembar kertas yang berserakan di hadapannya.


"Anak kita tidak bodoh atau bermasalah, kitalah yang salah. Nanti sore kita bicara ya dengannya, aku akan pulang lebih awal" Rio mengusap air mata istri yang membasahi wajah cantiknya, kemudian mengecup keningnya.



Rio menepati janjinya, ia pulang tak lama setelah Tyshia pulang dari sekolah. Mereka berdua langsung menuju kamar putrinya untuk berdiskusi bersama.


"Sayang boleh kami masuk?" tanya Rio dali balik pintu kamar.


"Tuntu saja boleh Ayah, Bunda" jawab Tyshia, ia mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk masuk ke dalam kamarnya


Ana duduk di tempat tidur di samping kanan Tyshia, sedangkan Rio duduk di samping kiri Tyshia. Ana menyodorkan lembaran-lembaran kertas desain Tyshia, Tyshia nampak terkejut dan takut dengan apa yang di lihatnya, ia benar-benar takut jika Ayah dan Bundanya akan marah kepadanya.


"A-aku bisa jelasin ini semua ke Ayah dan Bunda" jawab Tyshia gugup.


"Kenapa kamu tidak jujur kepada kami sayang? jika kamu jujur tentu kami akan mendukungmu" ucap Rio sambil mengelus kepala putrinya.


"Mendukung? Aku pikir Ayah dan Bunda akan marah kepadaku. Bukankah Ayah dan Bunda menginginkan aku menjadi penerus di perusahaan Ayah?"


"Ya kami memang menginginkanmu menjadi penerus di perusahaan Ayah, tapi jika itu bukan passionmu kami tentu tidak akan memaksa" ucap Ana sambil mengelus lembut punggung tyshia.


"Benarkah? Apa Ayah dan Bunda tidak marah dan kecewa kepadaku?" Tyshia masih tidak percaya jika kedua orang tuanya mendukungnya.


"Tentu saja kami kecewa, karena putri kami memiliki rahasia yang tidak kami tahu. tapi kami bangga kepadamu cosplay buatanmu meraih juara 2 Se-DKI. selamat ya sayang." Rio memeluk putrinya dengan hangat.


"Ayah dan Bunda beneran tidak marah jika aku memilih bidang yang aku sukai?"


"Untuk apa kami marah? bukankah setiap orang memiliki bakatnya masing-masing?" tanya Ana


"Lalu bagaimana dengan perusahaan ayah? siapa nanti yang akan meneruskannya?"


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu sayang, yang terpenting saat ini kamu belajar memperbaiki nilai-nilaimu yang menurun. Ayah tidak minta nilai yang sempurna cukup standar minimum agar kamu bisanaik kelas, mulai malam ini kamu mau kan belajar sama Ayah?" ucap Rio.


"Mau Ayah, aku lebih senang belajar denganmu dari pada dengan guru lesku."

__ADS_1


"Maafin Bunda ya sayang, selama ini Bunda selalu memaksakan kehendak Bunda. Bunda sama sekali tidak mengetahui jika kamu menyukai bidang lain. maafkan Bunda sayang.." Ana memeluk putrinya bersamaan dengan Rio.


"Tidak apa-apa Bunda, Bunda tidak salah" ucap Tyshia, ia tak ingin Bundanya merasa bersalah, ia sangat mengerti jika kedua orang tuanya menginginkan yang terbaik untuk dirinya.


__ADS_2