
...
ALEA...
Tanpa terasa Alea sudah beranjak remaja, usianya kini menginjak 17 tahun. Alea duduk di bangku Sekolah Menengah Atas kelas sebelas IPA.
Tak seperti anak-anak remaja pada umumnya yang menginjak usia 17 tahun mereka akan merayakan seventeen birthday party bersama teman-teman sebayanya, namun Alea memilih untuk berziarah ke makam Ibundanya.
Bahkan setiap tahunnya Alea tak ingin ulang tahunnya di rayakan dan juga ia tak ingin menerima hadiah atau kejutan dalam bentuk apa pun dari siapa pun, termasuk ayahnya sendiri.
Bagaimana bisa ia bersuka cita menyambut hari kelahirannya, jika di hari kelahirannya merupakan hari kepergian Ibunda tercintanya.
"Yah...."
Secara perlahan Alea masuk ke ruang kerja ayahnya, ia melihat ayahnya tengah memandangi foto Ibundanya yang terpajang di dinding ruang kerja ayahnya.
__ADS_1
"Seandainya Ibu tidak mengandung dan melahirkan aku, tentu kini Ibu masih berada di saping Ayah dan Ayah tidak akan kesepian seperti saat ini" Alea menundukan kepalanya menahan tangisnya.
Seketika Rangga Alea menoleh kebelakang, ia melihat putrinya sudah berdiri tepat di belakang tubuhnya.
"Kelahiran, kematian, rezeki dan jodoh adalah ketapan Allah yang harus kita yakini, Ayah ikhlas dengan apa pun yang menjadi ketetapan Allah termasuk kepergian Ibu" ucap Rangga, ia meraih tangan putri semata wayangnya kemudian menggenggamnya "Ayah tidak kesepian Nak, Ayah hanya rindu dengan Ibu. kamu jangan bicara seperti itu lagi ya, kamu adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepada Ayah dan Ibu. Kami sangat menyayangimu" Rangga memeluk putri semata wayangnya dengan hangat.
"Kamu sdah siap?" tanya Rangga.
"Sudah Yah" jawab Alea.
Tiba di makam Alinea, keduanya berdoa dengan khusyuk kemudian menaburi makam dengan bunga-bunga segar kesukaan Alinea sambil bercerita tentang keseharian yang mereka jalani. Meski telah tiada, Alinea tetap hidup di dalam hari mereka berdua.
Menjelang sore, Rangga mengajak putrinya untuk kembali ke kediamannya. 'Aku pulang dulu ya Byy, besok pagi sebelum ke kantor aku akan kembali lagi' Rangga mengelus nisan Alinea seakan-akan mengelus kepala istrinya.
"Ibu, kami pulang dulu ya. Kami akan selalu mendoakan Ibu" ucap Alea, ia kembali menggandeng tangan Ayahnya keluar dari tempat pemakaman.
Sebelum kembali ke kediamannya Rangga mengajak putrinya ke kafe and bakery shop untuk menikmati secangkir kopi dan menikmati cake.
__ADS_1
"Untuk tuan putri Ayah" Rangga memberikan sepotong millefeuille dan macchiato hangat kesukaan putri semata wayangnya.
"Thank you Ayah"
Rangga duduk di hadapan putrinya sambil menikmati caramel latte "Bagaimana persiapan Olimpiade Sains Nasional (OSN) nya? kamu sudah siap?" tanya Rangga.
"Oh ia Yah, Miss Anne sedang sakit jadi nanti untuk les privatku akan akan di gantikan oleh Miss Nindi"
"Oh ya sudah tidak apa-apa, asal membuatmu nyaman Ayah tidak masalah" ucap Rangga "Atau mau belajar dengan Ayah saja?"
"Tidak ah, Ayah membuatku mengantuk hahaha" ucap Alea sambil tertawa.
Melihat putrinya tertawa membuat Rangga seperti melihat wajah menggemaskan Almh. Istrinya, ia pun menjahili Alea mengan mencolekan krim kue miliknya di hidung putrinya.
"Ayaaaahhh..." terak Alea dengan kesal karena Ayahnya sering sekali menjahilinya.
Puas berbincang dengan putrinya, Rangga menganjak Alea kembali pulang ke kediamannya.
__ADS_1