
Setibanya di Yogyakarta International Airport Rangga bergegas menuju rumah sakit tempat Ayah sambungnya di rawat, hanya butuh waktu empat puluh lima menit untuk Rangga bisa sampai di rumah sakit tersebut.
Menginjakkan kembali kakinya di rumah sakit yang sama dengan Almh.Ibundanya di rawat membuat Rangga teringat kenangannya ketika ia merawat Ibundanya tercinta, rasa rindu kembali menyeruak ke dalam batinnya terhadap wanita yang pernah melahirkannya itu.
Tiba di depan ruang ICU Laura langsung berhambur memeluk Kakaknya "Mas Rangga hiks...." tangis Laura pecah di pelukan Rangga.
"Yang sabar ya Dek" Rangga mengelus punggung Adik tiri sekaligus Adik iparnya itu dengan lembut, ia mencoba menenangkan Laura.
"Mas Rama mana?" tanya Rangga.
"Mas Rama masih di dalam, ia belum memperbolehkan aku masuk huhu..."
"Ya sudah kita tunggu saja ya di sini" Rangga mengajak Laura untuk duduk, selama menunggu Laura menggenggam erat tangan Rangga sambil sesekali menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"Ayah akan baik-baik saja, Mas Rama pasti akan berusaha semaksimal mungkin" Rangga mengelus bahu Laura dengan lembut, ia pun merasakan kesedihan yang Laura rasakan.
Tak lama kemudian pintu ruang ICU terbuka, Rama berjalan mendekat ke arah kakak dan istrinya.
"Bagaimana Dek?"
"Bagaimana sayang?"
"Ayah meminta kalian berdua masuk, tapi aku mohon kalian tetap tenang" pinta Rama.
__ADS_1
Rangga dan Laura menganggukan kepalanya, mereka berdua mengenakan pakaian khusus kemudian perlahan mendekat ke arah Cakra.
Air mata laura mengalir deras dan tubuhnya lemas seakan tak bertulang ketika melihat ayahnya terbaring lemah di atas tempat tidur dengan alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Rama menggenggam erat tangan istrinya untuk menguatkan dan juga terus mengingatkan agar tetap tenang.
Cakra tersenyum lemah ke arah ketiga anak-anaknya, ia memandangi satu persatu anak-anak mereka yang kini sudah semuanya sudah tumbuh dewasa.
"Tu-tugas Ayah sudah selesai, janji Ayah pada umi pun sudah Ayah tunaikan untuk mengantarkan kalian ke gerbang kesuksesan kalian. Jaga keluarga kalian masing-masing, Ayah titip Laura" ucap Cakra terbata-bata.
"Tidak Ayah, Ayah tidak boleh pergi" Laura menggeleng-gelengkan kepalanya "Ayah pasti sembuh"
"Ayah rindu Umi, Nak"
Seketika Laura terdiam ketika Ayahnya mengatakan jika ia merindukan Uminya, ia mencoba untuk ikhlas meskipun sangat berat.
"Ayaaahh...." tangis Laura pecah di depan jenazah Ayahandanya.
"Ikhlas sayang" Rama memeluk dan menenagkan istrinya, Rangga pun mengelus bahu kedua adiknya untuk saling menguatkan.
Rangga menyampaikan kabar duka tersebut ke keluarganya yang berada di Jakarta, dan langsung saja seluruh keluarganya terbang menuju Yogyakarta termasuk Lyra dan Adit, mereka datang untuk melayat dan mendoakan Cakra.
__ADS_1
Acara pemakaman tetap berjalan meskipun hari sudah sore, baik Rangga dan Rama tak ingin menundanya karena hal itu tidak di perkenankan, jenazah Cakra di makamkan tepat di samping makam Uminya.
"Aku turun dulu ya" bisik Rama kepada istrinya sambil mengelus bahu Laura dengan lembut, kemudian Rama mengikuti Rangga untuk turun ke liang lahat, mengantarkan Ayahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Tangis Laura kembali pecah saat Rama dan Rangga mulai menutup dengan papan dan kemudian menimbunnya dengan tanah, Laura memeluk erat kedua anak-anaknya yang juga menghadiri pemakaman tersebut.
'Terima kasih telah menjadi Ayah sambung yang terbaik untuk aku dan Rama, terima kasih juga atas kesetiaannya kepada Umi, Rangga janji akan selalu menjaga Laura, Rama dan kedua keponakan Rangga' gumam Rangga, ia selalu menjadikan Cakra sebagai panutannya.
Menjelang malam Rangga dan adik-adiknya serta keponakannya baru beranjak untuk kembali pulang ke kediaman mereka.
Tiba di kediaman Rama, seluruh keluarga Rangga baru saja tiba dari Jakarta dan langsung bergabung untuk bersama-sama mengikuti acara pengajian.
"Lea ikut doain Eyang ya" pinta Rangga kepada putrinya.
"Iya Ayah, Lea duduk sama Eyang putri di sana ya Yah" ucap Alea, ia menunjuk ke arah barisan perempuan.
"Iya sayang" Rangga mempersilahkan putrinya untuk duduk bersama Bunda dan Auntynya, sementara dirinya berjalan menuju barisan pria, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat Rama tengah termenung di sudut memandangi arah jendela dengan tatapan kosong.
"Dek.. ngaji yuk!" Rangga menepuk bahu Rama dengan lembut.
"Hiks..." Rama mebalikan tubuhnya kemudian memeluk kakaknya "Aku gagal menjadi dokter, aku tidak bisa menyembuhkan Ayahku sendiri hiks..."
"Aku gagal huhu..."
__ADS_1
"Dek, jangan berkata seperti itu, ini semua sudah kehendaknya, kamu sudah melakukan yang terbaik. Ingatlah sudah banyak pasien yang kamu tolong, itu artinya kamu adalah dokter yang hebat" Rangga mengelus punggung Rama.
"Ikhlas dan doakan Ayah, Umi dan Abi di tempatkan di tempat yang terindah" Rangga mengajak adiknya untuk bergabung mengikuti pengajian yang sebentar lagi akan berlangsung di kediamannya.