ALINEA

ALINEA
Chapter 30 : Perjodohan


__ADS_3

"Apa Ayah mau menghancurkan rumah ini? Silahkan saja, Ayah bisa melakukan apa pun yang Ayah mau tapi Ayah tidak bisa menghapus nama Rangga di dalam hati dan di setiap doa-doaku. Aku sangat percaya dengan ucapan Alm.Eyang 'jika dia memang jodohku mau sejauh apapun dia pergi pasti ia akan kembali kepadaku' Aku memang tidak tahu kapan, tapi aku percaya Rangga akan kembali padaku" ucap Tyshia.


"Cukup Tyshia, mau sampai kapan kamu seperti ini? dia bukan jodohmu, cepat atau lambat kamu akan move on darinya. Kamu akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dia" Rio pergi meninggalkan rumah putrinya.


Tyshia menghela nafas beratnya, ia mendekat ke arah pakaian-pakaian yang ia buat untuk Rangga 'Aku yakin kamu akan kembali lagi padaku dan kamu akan mengenakan semua pakaian-pakaian ini' Tyshia memeluk pakaian yang ia buat untuk Rangga, seolah ia sedang memeluk Rangga.



Sementara itu setibanya di kediamannya, Rio langsung meminta istrinya istrinya untuk mengajak putrinya makan malam bersama dengan anak rekan bisnisnya, Rio hendak mempercepat perjodohan Tyshia agar Tyshia bisa segera move on dari Rangga.


"Nanti pagi aku akan ke boutique Tyshia untuk membujuknya" ucap Ana.


Keesokan harinya sesuai dengan janjinya kepada suaminya, Ana pergi mengunjungi butik milik putrinya, ia melihat Tyshia nampak benar-benar sibuk mengarahkan para penjahitnya.


"Sayang, kamu sibuk sekali. Boleh Bunda bicara sebentar denganmu?" tanya Ana.


"Tentu saja Bunda, ke ruanganku saja yuk" Tyshia mengajak Bundanya ke ruangannya, begitu sampai di depan ruangannya Tyshia membukakan pintu dan mempersilahkan Bundanya untuk masuk kedalam ruangannya.


'' Sayang, nanti malam Ayah mengajak kita makan malam di luar, kamu mau kan?" tanya Ana.


Tanpa Ana sangka-sangka ternyata putrinya langsung menganggukan kepalanya tanda menyetujui ajakannya, tadinya Ana pikir Tyshia akan menolaknya.


"Terima kasih ya sayang, kalo begitu Bunda ke kantor dulu ya" Ana mencium pipi kanan dan kiri putrinya.


"Iya Bunda hati-hati" ucap Tyshia, ia mengantar Bundanya hingga ke depan boutique.


Hari itu Tyshia pulang lebih awal dari biasanya, ia ingin tetap menyempatkan diri untuk mengunjungi rumahnya walaupun hanya sekedar melihat-lihat sebentar sebelum ia pulang ke kediaman orang tuanya dan bersiap-siap untuk makan malam bersama orang tuanya.


"Tyshia sudah pulang?" tanya Rio.


"Sudah tadi, mungkin sedang bersiap menganti pakaiannya" ucap Ana, kemudian keduanya menunggu putri mereka di ruang tamu.


Tak lama kemudian Tyshia datang menghampiri kedua orang tuanya, Ana nampak sedikit terkejut dengan penampilan putrinya, yang biasanya nampak cantik dan anggun ketika menghadiri makan malam namun kali ini justru bertolak belakang.


"Sayang kenapa tidak pakai make up? mukamu terlihat sangat pucat. Bunda pakaikan lipstik ya!!" Ana mengambil lipastiknya di dalam tasnya, kemudian memakaikannya ke bibir Tyshia.


Bukan hanya lipstik, Ana juga sedikit mendadani putrinya dengan make up mikiknya agar Tyshia terlihat lebih fresh dan cantik. Tyshia hanya diam saja membiarkan Budanya berbuat semaunya, ia sama sekali tak tertarik untuk berdandan


Setelah Ana merasa cukup, barulah Ana mengajak putrinya masuk ke dalam mobil karena Rio sudah menunggu di mobil. Tyshia duduk di bangku belakang sedangkan Rio yang menyetir dan Ana duduk di sebelah Rio, sepanjang perjalanan Tyshia hanya bermain game di handphonenya.


"Tyshia kamu sudah dewasa, tidak sopan rasanya jika sedang bersama orang tuamu kamu malah sibuk bermain game" ucap Rio.


Tanpa berkata apa pun Tyshia mematikan handphonenya, ia melihat ke arah jalan, jalan yang pernah ia lalui bersama Rangga, semua kenangan itu tersimpan rapih di memory otaknya.


'Byy, kapan kamu kembali lagi?' Tyshia menundukan kepalanya, sambil memegang cincin yang pernah Rangga sematkan di jari manisnya.


Sesampainya di restaurant Tyshia cukup terkejut karena sudah ada teman ayahnya beserta dengan istri dan anaknya yang menunggu ke datangan mereka.


Tyshia nampak tidak asing dengan anak dari teman ayahnya yang bernama Mike, tyshia mengingat-ingat wajah Mike.


'Oh iya aku ingat, Mike adalah salah satu teman mabuk Rai saat di New York' gumam Tyshia dalam hati.

__ADS_1


Tyshia pernah melihat Mike menggandeng wanita bule masuk ke dalam mobil, saat Tyshia hendak pindah ke kursi depan mobilnya. Kebetulan mobil Mike berada tepat di depan mobilnya sehingga Tyshia bisa dengan jelas melihat wajah Mike.


Setelah basa basi makan malam, kedua orang tuanya dan kedua orang tua Mike membahas masalah perjodohan mereka.


"Uhhhuuk..." Tyshia tersedak saat mendengar percakapan ayahnya.


"Are you okay baby?" tanya Mike sambil memegang punggung Tyshia, mengelusnya dengan lembut mengambil kesempatan menggerayangi tubuh Tyshia.


"Don't touch me!!! " Tyshia menyingkirkan tangan Mike dari tubuhnya lemudian beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju parkiran.


'Byy, kamu di mana? tolong aku byy, aku takut' gumam Tyshia sambil menangis di parkiran.


"TYSHIA KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN, TIDAK BISAKAH KAMU SEDIKIT SOPAN TERHADAP TEMAN AYAH?" Rio kembali membentak putrinya.


"Ayah, Mike yang tidak sopan kepadaku hiks..." Tyshia mencoba membela dirinya.


"MASUK!!!" Rio menyuruh Tyshia untuk masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalan pulang Tyshia mendengar omelan ayahnya yang tak kunjung henti.


"Bukankah Mike sangat tampan? ia juga lulusan universitas terbaik, ia kakak angkatan Rai saat Rai kuliah di New York. Mike memiliki orang tua yang jelas bibit bebet dan bobotnya, apa lagi yang kurang darinya?" tanya Rio.


"Apakah kali ini insting Ayah sedang tidak berjalan? Kak Rangga memang tidak setampan Mike, tidak sekaya Mike, dan juga tidak memiliki bibit bebet dan bobot seperti Mike. Tapi Kak Rangga tidak pernah menginjakan kakinya ke club malam apa lagi bermesraan dengan wanita bule memasukannya ke dalam mobil dalam keadaan mabuk dan tidak pernah sembarangan menyentuh wanita"


"Berhenti untuk menyebut namanya dan berhenti untuk membuat fitnah orang" ucap Rio dengan tegas.


"Aku tidak fitnah, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" ucap Tyshia.


"Aku sudah menuruti permintaan Ayah untuk tidak berhubungan dengan Kak Rangga, tapi aku tidak bisa menikah dengan orang seperti Mike. Please jangan paksa aku untuk menikah dengan Mike."


"Tyshia Mike itu orang yang sangat baik, bukalah hatimu untuknya, cobalah untuk lebih mengenalnya terlebih dahulu"


"Hatiku hanya untuk Kak Rangga" Tyshia pergi ke kamarnya meniggalkan kedua orang tuanya.



Setelah pertemuan dengan mike malam itu, Rio semakin sering mengundang Mie untuk datang ke rumahnya, Rio juga beberapa kali menyuruh Tyshia untuk keluar bersama dengan Miike, namun Tyshia selalu menolaknya dengan berbagai macam alasan mulai dari dirinya sedang banyak kerjaan hingga alasan tidak enak badan.


"Yah, aku sedang tidak enak badan. Aku mau istirahat, permisi." Tyshia pergi kekamarnya meninggalkan kedua orang tuanya dan Mike di ruang makan.


"Tyshia... Tyshia..." panggil Rio.


Tyshia tetap tak memperdulikannya, ia tetap masuk ke dalam kamarnya untuk menulis diary kesayangannya.


"Maafkan Tyshia ya Mike, dari siang memang dia sedang tak enak badan" ucap Ana, ia merasa tak enak dengan Mike karena putrinya selalu menolak ajakan Mike untuk keluar bersamanya.


"Sepertinya Tyshia tidak mencintaiku Om, Tante" ucap Mike.


Rio dan Ana saling menatap, mereka tak menyangka jika Mike dapat merasakannya.


"Tapi tidak apa-apa tante, aku yakin setelah kami menikah dia akan mencintaiku, aku akan buat dia jatuh hati padaku" ucap Mike sambil tersenyum.

__ADS_1


Rio dan Ana merasa lega mendengarnya, kemudian obrolam mereka berlanjut membicarakan soal rencana pernikahan Mike dan Tyshia.



Tok... Tok... Tok...


"Ini Bik Lina, Non" ucap Bik Lina, sambil masuk ke dalam kamar Tyshia dengan membawakan segelas susu hangat untuknya.


Tanpa Tyshia minta, Bik Lina selalu melaporkan kepada Tyshia pembicaraan apa saja yang di bicarakan oleh kedua orang tuanya dengan Mike.


"Jadi Ayah benar-benar serius ingin menikahkan aku dengan Mike? hiiiks.." tanya tyshia kepada bik Lina.


"Non yang sabar ya" ucap Bik Lina sambil mengelus punggung Tyshia, ia merasakan betul kesedihan yang Tyshia rasakan.


"Bik Lina keluarlah, aku tidak ingin Ayah dan Bunda curiga. Terima kasih ya Bik" ucap Tyshia


"Sama-sama Non."


Setelah Bik Lina keluar dari kamarnya, Tyshia menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya.


"Byy kamu dimana? aku tidak mau menikah dengan Mike, aku takut Byy, please tolong aku byy, bawa aku pergi bersamamu huuuuh..." Tyshia menangis sambil memeluk erat foto Rangga.


Drrrttt... drrrrttt...


Tyshia menyeka air matanya dan mencoba menarik nafasnya ketika melihat ada satu panggilan masuk dari Mommy Risty.


"Ha-halo Mom" ucap Tyshia terbata-bata menahan tangisnya, ia tak ingin Mommynya sampai mengetahui jika dirinya tengah menangis.


Namun sayangnya telinga dan insting Risty sangat tajam, ia mengetahui jika keponakannya tengah bersedih "Are you okay baby?" tanya Risty.


"I'm good, Mom"


"Jangan bohong kamu, akhir-akhir ini Mommy selalu teringat padamu, sudah lama kamu tidak mengunjungi Mommymu ini. Kamu main ya ke Jerman, apa perlu Mommy menyuruh kakakmu Edwar menjemputmu?" pinta Risty.


Tyshia berfikir sejenak, tidak ada salahnya jika sedikit berlibur ke Jerman untuk menenangkan fikirannya dan melupakan sejenak masalah rencana pernikahannya dengan Mike.


"Baiklah Mom, aku mau"


"Thanks baby, besok kakakmu Edwar akan menjemputmu. Kamu bawa pakaian hangat ya karena di sini sedang musim dingin. Bye sweety."


"Bye Mom" Tyshia menutup telepon dari Mommynya dan mulai mengemasi barang-barangnya untuk ia bawa ke Jerman.



Dua hari kemudian edwar datang untuk menjemput Tyshia, saat hendak berpamitan dengan ayahnya. Rio meminta Tyshia untuk membuat perjanjian dengannya.


"Ayah tidak ingin kamu kabur karena rencana pernikahanmu dengan Mike sudah kami persiapkan dengan matang. Kamu tidak mau kan rumahmu yang di Jaksel itu Ayah hancurkan berikut dengan isinya?"


"Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya ingin berlibur dengan Mommy."


"Hati-hati ya sayang, kabari Bunda jika sudah sampai" ucap Ana sambil memeluk putrinya dengan erat "Bunda akan merindukanmu" ucap Ana.

__ADS_1


Setelah mendapatkan ijin dari Rio dan Ana, Edwar membawa Tyhsia ke Jerman menemui Mommynya.


__ADS_2