ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 18


__ADS_3

Sesampainya di Bandara Singapura Changi, Rangga bergegas menuju Mount Elizabeth Hospital. Tiba di Mount Elizabeth Hospital Rangga langsung ke ruang rawat inap Ayahnya.


Saat Rangga hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu tersebut di buka dari dalam oleh Ana. Ana berhambur memeluk Rangga, menumpahkan semua kesedihan hatinya.


"Rangga huuu..." Ana menangis di pelukan Rangga.


"Ayah akan baik-baik saja Bunda, kita doakan bersama ya. Rangga akan terus menemani Bunda di sini menjaga Ayah" Rangga mengelus punggung Ana dengan lembut.


"Terima kasih ya Ngga. hiks..."


"Bunda jangan sedih lagi ya"


Setelah tangis Ana mulai mereda dan mulai tenang, ia teringat dengan cucu kesayangannya.


"Alea sama siapa Ngga, jika kamu di sini?" tanya Ana.


"Ada banyak asisten rumah tangga, supir dan security di rumah, serta ada Nindy juga yang akan menjaga alea." Rangga namapak ragu ketika mengucapkan nama nindy kepada bundanya.


"Nindy?"


"Wanita yang kemarin Bunda bicarakan"

__ADS_1


"Bukankah kamu bilang jika tidak ada hubungan apa pun dengannya?"


"Iya aku memang tidak ada hubungan apa pun dengannya, namun Alea cukup dekat dengannya jadi aku memintanya untuk menemani Alea selama aku berada di sini."


"Rangga, Bunda tidak ingin kamu mempermainkan hati wanita" ucap Ana dengan tegas.


"Bunda, dia hanya sebatas guru les Alea tidak lebih dari itu, percayalah padaku" Rangga mencoba meyakinkan Bundanya.


"Jika dia baper terhadapmu?" tanya Ana, ia khawatir jika Nindy akan baper terhadap Rangga namun Rangga tak memiliki rasa terhadapnya.


"Tidak mungkin Bunda, usia kita terpaut jauh. Sekarang kita fokus saja pada kesehatan ayah ya" Rangga mengajak Bundanya masuk ke dalam ruang rawat inap karena Rangga ingin melihat kondisi ayahnya.


'Aku harus segera mencari jalan keluarnya' gumam Rangga dalam hati.


"Rangga, kamu makan dulu ya, pasti kamu belum makan kan!" Ana membuyarkan lamunan Rangga.


Rangga mendekat ke arah Ana dan duduk di sofa bersebelahan dengan Ana, sambil makan Rangga membuka handphonenya, ia menerima banyak foto yang di kirimkan putrinya kepadanya.


"Rangga, kamu baik-baik saja" Ana sedikit heran melihat Rangga yang beberapa kali tersenyum saat melihat layar handphone yang di pegangnya.


"Iya Bund, ini Alea mengirimkan foto. Tadi siang Nindy mengajak Alea pergi menjenguk guru lesnya dan kemudian mereka pergi berbelanja ke mall" Rangga memberikan handphonenya kepada Ana.

__ADS_1


"Yang kamu lihat Alea apa Nindynya?" goda Ana.


"Maksud Bunda?" Rangga menjadi salah tingkah, ia memilih menghabiskan makanannya dari pada harus membahas hal itu lagi dengan bundanya.


"Tidak berasa ya Ngga, Alea kini sudah remaja, sepertinya ia butuh sosok Ibu seperti Nindy" ucap Ana "Lihatlah, mereka berbelanja produk kewanitaan. Alea tidak mungkin memintamu untuk menemaninya untuk ini dan kamu juga tidak mengerti tentang hal seperti ini, apa kamu tidak mempertimbangkan Nindy untuk menjadi ibu sambung bagi Alea?"


"Nindy lebih cocok jadi Kakaknya Alea ketimbang Ibu sambungnya, lagi pula aku tidak tertarik padanya"


"Ya sudah, kamu habiskan makannya, Bunda mau melihat Ayah" Ana beranjak dari tempat duduknya, mendekat ke arah Rio.


Tak lama setelah Rangga menghabiskan makanannya, Rio terbangun dan memanggil Rangga untuk mendekat dengannya.


"Bunda istirahat saja, biar Rangga yang menjaga Ayah" Rangga memegang bahu Ana dari belakang, Ana pun menganggukan kepalanya, ia istirahat di bed penunggu pasien.


Rangga duduk di sebelah Rio, menemani dan menjaga ayahnya. Pukul 22.30 malam Nindy mengirimkan foto Alea yang tengah tertidur pulas di sebelahnya, melihat putrinya memeluk Nindy membuatnya berfikir 'Apakah alea benar-benar membutuhkan sosok seorang ibu?'


^^^Rangga:^^^


^^^Terima kasih banyak ya Nid, kamu juga istirahat..^^^


Rangga membalas pesan Nindy, awalnya Rangga berharap jika Nindy akan membalas pesannya kembali namun ternyata Nindy tidak membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2