ALINEA

ALINEA
Chapter 49 : Kehamilan


__ADS_3

Tibalah hari di mana Tyshia mengelar grand opening boutiquenya, Tyshia mengadakan acara fashion show di salah satu hotel bintang lima di Berlin.


Tyshia juga mengundang Mommy Risty, Daddy Daniel, Elena dan Edwar. Namun Edwar tak datang karena ia sedang bekerja, ia hanya di wakili oleh Elena istrinya.


Sambil menikmati acara, Risty mengajak Rio sedikit berbincang mengenai perushanaanya, kebetulan Rio duduk di sebelahnya.


"Dek apa kamu benar-benar sudah menyerahkan perusahaan kepada Rai?" tanya Risty.


"Iya kak, aku ingin sedikit bersantai menikmati hidupku bersama dengan Ana" jawab Rio.


"Ya sudahlah jika itu memang keputusanmu, padahal aku sangat berharap jika kamu mempertimbangkan menantumu Rangga yang memimpin perusahaan Alm.Papah" Risty sangat menyayangkan keputusan Rio namun ia berusaha untuk menghormatinya.


"Bukankah Rangga sangat sibuk, saat ini saja dia sedang menempuh pendidikan S3nya"


"Ya kamu tunggu saja sampai ia benar-benar selesai, bukankah memimpin sebuah perusahaan besar di butuhkan ilmu dan pengalaman yang luas juga. Tapi ya sudahlah jika kamu sudah yakin dengan Rai, semoga saja firasatku kali ini salah"


"Firasat apa Kak? Rai selama ini sudah belajar banyak di perusahaan kita."


"Terserah kamu sajalah Rio, kakak tidak ingin ikut campur" Risti mengakhiri perdebatannya, ia lebih memilih untuk menikmati acara ketimbang berdebat dengan adik iparnya yang keras kepala.


Satu persatu para model mengenakan baju rancangan Tyshia maju ke atas panggung, setelah semua baju rancangannya keluar barulah di akhir Tyshia keluar.


Rangga menjadi orang pertama yang memberikan buket bunga kepada istrinya.


"I'm proud of you baby" Rangga memeluk kemudian mencium kening dan kedua pipi istrinya.


"Terima kasih sayang atas semua doa dan dukungan yang kamu berikan" Tyshia tersenyum dan membalas pelukan Rangga.


Setelah Rangga disusul oleh Ana, Rio, Risty, Daniel, Elena, beberapa teman Tyshia dan beberapa artis serta desainer yang di undang, secara bergantian memberikan buket bunga kepada Tyshia.


Dalam Acara tersebut Rangga dan Tyshia di kejutkan dengan kedatangan Cakra yang menjadi orang terkahir memberikan buket bunga kepada Tyshia.


"Selamat ya Nak" ucap Cakra.


"Terima kasih Ayah, Ayah kapan datang?" tanya Tyshia.


"Baru saja Ayah tiba dan langsung ke sini, nanti selesai acara kita mengobrol ya" ucap Cakra kemudian ia turun dari atas panggung dan duduk di sebelah Rangga "Ayah bangga sekali padamu" Cakra menepuk bahu Rangga.



Malam harinya Rangga mengajak keluarganya makan malam bersama di restorant hotel, suasana semakin terasa intimate ketika Edward datang bergabung.


"Rama dan Laura mana Yah, kok tidak ikut?" tanya Rangga kepada Ayahnya.


"Laura sedang ngidam, ia tidak kuat naik pesawat terlalu lama dan Rama sendiri menemaninya di rumah" ucap Cakra.


Selain untuk menghadiri grand opening boutique Tyshia, maksud kedatangan Cakra untuk mengambil hasil uji lab produk skin care milik Laura.


"Hasil sudah aku ambil kemarin dan ada di apartementku" ucap Rangga.


"Sebenarnya Ayah kemari sekalian mengunjungimu dan Tyshia, kamu ini seperti anak yang tak tahu jalan pulang" ucap Cakra, ia beralih kepada Tyshia "Ayah punya sesuatu untukmu" Cakra memberikan sebuah kotak perhiasan kepada Tyshia.


"Apa ini Yah?"


"Bukalah!!"


Perlahan Tyshia membukanya, Cakra memberikan sebuah liontin emas untuk Tyshia.


"Itu milik Umi, kamu pakai ya agar kalian berdua selalu mengingat Umi" ucap Cakra, selain memberikan kepada Tyshia ia juga sudah memberikannya kepada Laura beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Jerman. Ia ingin agar anak-anaknya selalu mengingat dan mendoakan Uminya.


"Di setiap ibadah kita, kita berdua selalu mendoakan Umi" ucap Rangga, ia membantu istrinya mengenakan kalung liontin tersebut.


Kedua keluarga tersebut mengobrol dengan hangat, para pria membahas perkembangan bisnis sedangkan para wanita membahas fashion dan acara grand opening tadi.


__ADS_1


Keesokan harinya sebelum ke kantor Rangga dan Tyshia mengantar orang tua mereka ke Bandara. Rio dan Ana akan berlibur keliling Eropa sedangkan Cakra kembali ke Indonesia.


"Sebenarnya kami ingin mengajak kalian berlibur, tapi kelihatannya kalian sangat sibuk sekali" ucap Rio.


"Next time ya Yah, setelah Kak Rangga menyelesaikan pendidikannya kita liburan bersama. Kita ajak Laura dan Rama juga" Tyshia menatap Cakra.


Cakra tersenyum menganggukan kepalanya, ia menyetujui usulan menantunya.


"Ya sudah kami check in dulu ya" Ana dan Rio pamit untuk masuk terlebih dahulu, disusul dengan Cakra setelahnya.


Setelah mengantar orang tuanya ke bandara Tyshia dan Rangga kembali ke kantornya masing-masing.


Rangga di sibukan dengan laporan sistem produksi dan distribusi perusahaannya, sementara Tyshia di sibukan dengan membuat kontrak kerja sama dengan beberapa majalah fashion ternama di Jerman agar nama brandnya lebih di kenal luas.


kemudian di lanjutkan dengan memantau pemotretan baju rancangannya, di tengah-tengah kesibukannya tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang, seketika tyshia menoleh ke belakang.


"Sayang tumben jam segini sudah pulang" Tyshia melihat jam di pergelangan tangannya menunjukan pukul 16.00.


"Aku rindu dengan istriku"


"Di ruanganku saja yuk" Tyshia mengajak rangga ke ruangannya, sebelum Tyshia meninggalkan ruang pemotretan tyshia memberikan intruksi kepada stafnya untuk melanjutkan pemotretan tersebut sesuai konsep yang ia buat.


Sesampainya di ruang kerja istrinya, Rangga merbahkan tubuhnya di atas sofa. Tyshia memberikan isyarat kepada Rangga untuk bangun sebentar memberinya ruang untuk duduk agar Rangga bisa merebahkan kepalanya di pangkuan Tyshia.


"Aku bosan dan capek sekali di kantor makanya aku ke sini, tadi aku ijin tidak enak badan" ucap Rangga.


"Byy, tidak terasa ya tahun depan aku disertasi (karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam penyelesaian program S3). Menurutmu apa aku akan berhasil?" tanya Rangga.


"Tentu saja sayang, kamu akan lulus dengan nilai yang tebaik" Tyshia mendengar curhatan suaminya sambil mengelus lembut rambut suaminya.


"Byy apa pendapatmu tentang poligami?" tanya Tyshia.


Rangga terkejut mendengar pertanyaan istrinya, ia merubah posisinya menjadi duduk dan menatap Tyshia dengan serius.


"Menurut aku sah-sah saja untuk orang yang sudah mampu dan memenuhi syarat yang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an" jawab Rangga.


"Aku? aku tidak mampu untuk berbagi hati selain kepadamu. Cukup kamu, kamu adalah wanita terbaikku. Lagi pula banyak sunah yang belum aku kerjakan, puasa senin kamisku saja masih bolong-bolong. Sudahlah kita jalan-jalan saja yuk." Rangga beranjak dari tempat duduknya kemudian mengulurkan tangannya.


"Terima kasih ya byy..." Tyshia memeluk Rangga dengan erat.


"Setelah disertasiku selesai kita program bayi tabung ya" bisik Rangga.


"Jika tetap tidak berhasil?"


"Kita adopsi anak, kita besarkan dan kita didik sama-sama dengan penuh kasih" ucap Rangga, ia merangkum wajah Tyshia mengahapus air matanya.


"Please jangan pernah bahas ini lagi, aku sayang banget sama kamu byy. You are the only one and everything for me."


Tyshia menganggukan kepalanya kemudian ia menemani suaminya jalan-jalan hingga larut malam, setelah itu keduanya kembali ke apartement.



Menginjak tahun ke tiga masa studynya Rangga membuat disertasi, kesibukannya semakin bertambah tidak jarang Rangga mengerjakan disertasinya hingga larut malam, Rangga sering tertidur di ruang kerja.


"Byy pindah ke kamar yuk" Tyshia membangunkan suaminya dengan lembut, Rangga yang perlahan terbangun mengikuti langkah istrinya dari belakang.


Kesibukan Rangga dan Tyshia yang semakin meningkat membuat mereka sejenak melupakan sejenak target program kehamilan Tyshia, kontrak kerja sama dengan berbagai majalah fahshion dan brand ambasador yang semakin bertambah, membuat Tyshia semakin di tuntut lebih kreatif dan inovatif dalam membuat rancangannya.


Saat karier Tyshia sedang berada di puncaknya Tyshia justru merasa badannya semakin hari semakin tidak bisa di ajak kompromi. Tyshia seringkali merasakan pusing, mual, cepat merasa lelah, dan sedikit sensitif, ia sering kali menangis tanpa alasan terkadang ia merasa jika suaminya jahat terhadapnya.


"Byyy... byyy... Sarapan yuu.." Rangga membangunkan Tyshia dengan perlahan, ia memeluk dan membelai lembut kepala Tyshia.


"Don't touch me" ucap Tyshia dengan kesal sambil mendorong Rangga hingga Rangga terjatuh dari tempat tidur.


"Byy are you okay?" Rangga terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang tiba-tiba saja menjadi galak.

__ADS_1


"Kak Rangga, please don't touch me huuuu...." Tyshia tiba-tiba menangis sesegukan.


" Byy what is my fault?" Rangga semakin bingung dengan sikap istrinya.


"You're so annoying and I hate you hikss..." Tyshia pergi ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan sangat kencang, Rangga mengejarnya.


"Kamu benci aku? apa kesalahan yang sudah ku perbuat? bukankah tadi malam kita habis bercinta dengan mesra mengapa tiba-tiba pagi ini kamu membenciku?" Rangga benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Tyshia.


"Shut up !!!" tiba-tiba perut Tyshia bergejolak, ia memuntahkan isi perutnya di dalam toilet.


Rangga yang mendengar istrinya muntah-muntah segera mengambil minyak kayu putih dan masuk kedalam kamar mandi untuk mengoleskan minyak kayu putih ke punggung istrinya.


"Kak rangga, please stop!!!" Tyshia menolak untuk di sentuh oleh suaminya.


"Byy..." belum sempat Rangga melanjutkan kalimatnya, Tyshia mengusir Rangga keluar dari kamar mandi


"Baiklah jika aku tidak boleh menyentuhmu aku tidak akan menyentuhmu, dan kamu juga boleh membenciku, aku akan terima semuanya, tapi aku mohon padamu pagi ini juga kamu harus ikut aku ke dokter" teriak Rangga dari luar kamar mandi, Rangga sangat menghawatirkan kondisi istrinya.


Rangga menunggu Tyshia di ruang makan, namun Tyshia malah memasukan makanannya ke dalam tempat makannya.


"Aku ingin makan di jalan" ucapnya dengan wajah cemberut.


Dengan buru-buru Rangga menghabiskan makanannya, kemudian Rangga menyusul Tyshia keluar dari unit apartementnya menuju parkiran.


Pagi itu Tyshia memilih duduk di kursi belakang, ia tak ingin duduk di sebelah suaminya.


"Byy aku kan suamimu sayang, ayo duduk di sebelahku sini" Rangga menepuk kursi di sebelahnya.


"Jalan atau aku akan turun dari mobilmu" ucap Tyshia dengan ketus.


"Okay fine" Rangga tak punya pilihan lain selain menuruti istrinya, ia mulai mengemudikan mobilnya secara perlahan.


Setelah sampai di rumah sakit Rangga mengurus administrasi pendaftarann, kemudian menunggu panggilan untuk pemeriksaan.


Tak lama kemudian perawat memanggil nama Tyshia untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter umum, tyshia memberitahukan semua keluhannya kepada dokter kemudian dokter mulai melakukan pemeriksaan.


Diagnosa awal dokter adalah Tyshia sedang mengandung, dokter meminta suster untuk mengantar Rangga dan Tyshia ke ruang pemeriksaan dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Dengan langkah harap-harap cemas Rangga dan Tyshia mengikuti suster yang mengantarnya, suster meminta Rangga dan Tyshia untuk duduk dan menunggu hingga suster yang bertugas di ruang pemeriksaan dokter kandungan memanggilnya.


Tak lama suster memanggil Tyshia untuk melakukan pemeriksaan, Tyshia kembali menceritakan keluhannya dan dokter kandungan mulai melakukan pemeriksaan.


Saat dokter melakukan USG, dokter mengucapkan selamat kepada rangga dan tyshia jika Tyshia tengah mengandung, dokter memberikan penjelasan secara detail tentatang apa-apa saja yang harus Tyshia hindari saat hamil muda dan apa-apa saja yang harus tyshia lakukan di masa kehamilannya.


Begitu keluar dari ruang pemeriksaan Rangga memeluk Tyshia, rasa bahagianya sudah tak terbendung lagi.


"Terima kasih sayang telah mengandung anak kita dan terima kasih telah hadir di rahim ibu" Rangga mengelus lembut perut istrinya yang masih rata, kemudian ia menggenggam tangan Tyshia menuju parkiran, begitu masuk ke dalam mobil Tyshia masih duduk di bangku belakang.


"Baiklah ratuku kamu boleh membenciku tapi aku akan selalu mencintaimu dan calon buah hati kita."


Rangga mengantar Tyshia pulang ke apartement, meminta Tyshia untuk istirahat dan meminum semua vitamin yang dokter berikan.


"Byy aku akan pasang lift di boutiquemu, sementara menunggu proses pemasangan aku akan menyuruh orang untuk membuatkan ruang kerja sementara di lantai dasar" ucap Rangga menepikan di lobby apartement.


"Ya" jawab Tyshia singkat, ia mencium tangan Rangga kemudian ia keluar dari mobil suaminya, namun Rangga menahnnya karena ia ingin mencium kening Tyshia, sayangnya Tyshia menolaknya.


"Ya sudah aku berangkat ya sayang. Bye " Rangga pergi meninggalkan Tyshia di apartemen, menuju boutique.


Baru saja Rangga tiba di parkiran boutique, tiba-tiba ia mendapatkan pesan dari istrinya.


^^^Tyshia:^^^


^^^Byy maafin sikap aku ya, aku sendiri tidak mengerti mengapa bisa seperti ini. Byy aku rindu denganmu.^^^


Rangga:

__ADS_1


Ia sayang, aku juga merindukanmu. Hari ini aku akan pulang lebih awal, tunggu aku pulang ya sayang.


__ADS_2