ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 41


__ADS_3

Setelah bersaing ketat dengan tim negara lain, Alea dan timnya berhasil meraih medali perak dalam ajang olimpiade internasional bidang Kimia.


"Ayaaaahhhh...."


Di tengah keramaian Bandara Internasional Soekarno–Hatta Alea berlari menghampiri Ayahnya yang telah menanti kepulangannya.


"I miss you so much" Alea memeluk ayahnya dengan erat.


"Ayah juga sangat merindukanmu, sayang" Rangga mmembalas pelukan putrinya dengan erat.


"Bagaimana keadaan Ayah?" tanya Alea dengan dengan wajah cemas.


"Alhamdulillah Ayah sudah sembuh, tadinya Ayah mau menyusul tapi guru pendampingmu bilang sudah selesai dan mau kembali ke Indonesia, jadi Ayah tunggu saja di sini, maaf ya sayang" Rangga membelai wajah cantik putrinya dengan lembut.


"Tidak apa-apa Yah, yang terpenting Ayah sudah sehat" ucap Alea, ia melihat ke arah salah satu pendampingnya yang memberikan kode untuk kembali berkumpul karena akan ada sesi wawancara untuk berita nasional.


"Yah aku ke sana dulu ya, ada sesi wawancara"


"Oh ia sayang"


Dari kejauhan Rangga memandangi putrinya yang tengah melalukan sesi wawancara, ia sangat teramat bangga dengan semua prestasi yang telah di toreh oleh putrinya, sampai-sampai tanpa terasa Rangga menitikan air mata bahagiannya.


"Ayah kenapa nangis?" tanya Alea,mia berjalan mendekat ke arah ayahnya setelah ia menyelesaikan sesi wawancaranya.


"Ayah sangat bangga sekali padamu sayang" Rangga kembali memeluk putrinya.


"Aku juga bangga memiliki Ayah dan Ibu yang hebat" ucap Alea "Ayah, kita ke makam Ibu yuk" ajak Alea.


Rangga menganggukan kepalanya, setelah berpamitan kepada seluruh para pendamping yang mendampingi Alea ketika menjalani olimpiade Jepang dan juga kepada teman-temannya, Rangga mengajak Alea menuju makam Almh.Alinea.


Di depan pusara Ibunda tercintanya, Alea menceritakan pengalamannya selama ia mengikuti kejuaraan bergengsi tersebut, bisa bersaing ketat bersama banyak negara tentu menjadi kebanggaan tersediri bagi Alea dan hal itu tak akan terlupakan sumur hidupnya.

__ADS_1


"Ibu pasti bangga sekali padamu sayang" ucap Rangga.


"Aku juga bangga dengan Ibu, saat di kemarin di Jepang aku membawa dan mengenakan pakaian yang Ibu buat, Ibu sangat keren sekali karena model pakaian yang Ibu buat tak termakan oleh zaman. Thank you Ibu" Alea mengecup foto Ibundanya yang berada di nisan.


"Sudah sore yuk kita pulang, Eyang menunggumu di rumah" ajak Rangga.


"Aku dan Ayah pulang dulu ya Bu, nanti kita pasti akan kemari lagi. Bye Ibu, love you" Ale beranjak dari makam ibundanya.


'Aku dan Alea pulang dulu ya sayang, I still love you' Rangga mengelus nisan Almh.istrinya seolah ia sedang mengelus kepala istrinya.


"Ayah... katanya pulang" protes Alea, ketika ia menoleh ke belakang ternyata ayahnya belum juga beranjak dari makam ibundanya.


"Ia sayang" ucap Rangga kemudian ia beralih ke makam istrinya "aku pulang dulu ya Byy, bye" Rangga bergegas menyusul putrinya yang sudah berjalan mendahuluinya, saat hendak menurunkan tangga tiba-tiba saja kaki Rangga terkilir dan jatuh.


"Ayaaaah....." teriak Alea, ia kembali menghampiri Ayahnya.


"Ayah tidak apa-apa?" tanya Alea panik.


"Maafin Ayah ya, jadi merepotkanmu" ucap Rangga.


"Ih Ayah apaan sih, tentu saja Ayah tidak sama sekali merepotkan" ucap Alea.


"Ya sudah tunggu sebentar ya, Ayah mau telepon Mang Ujang dulu untuk menjemput kita" ucap Rangga sambil mengambil handphonenya di sakunya, namun Alea langsung mencegahnya.


"Biar aku saja yang nyetir" ucap Alea.


Ucapan Alea tentu saja membuatnya sangat terkejut, pasalanya setahunya Alea tidak bisa menyetir dan ia belum pernah mengajari putrinya berkendara.


Alea mengambil surat izin mengudinya dari dalam tasnya kemudian ia memperlihatkannya kepada Ayahnnya.


"Sejak kapan kamu punya ini?" tanya Rangga semakin terkejut karena ternyata putrinya telah memiliki SIM.

__ADS_1


"Ayah jangan marah ya, jadi waktu Eyang operasi di Singapur. Kak Nindy mengajariku mengemudi sampai aku lancar, kemudian aku meminta Kak Nindy untuk mengantarku membuatkan SIM" ucap Alea "Yah, Ayah tidak perlu khawatir, aku akan tetap mematuhi peraturan Ayah kok, Kak Nindy juga berpesan agar aku menggunakan ini hanya di saat-saat di perlukan saja dengan penuh tanggung jawab" terang Alea.


Rangga menghela nafas beratnya "Okay, kalau begitu tunjukan kempuanmu" Rangga menyerahkan kunci mobilnya kepada putrinya, kemudian ia mempersilahkan putrinya duduk di kursi pengemudi sementara dirinya duduk di sebelahnya.


Alea tersenyum dan tanpa ragu mulai menyalakan mesin mobil ayahnya, dengan perlahan ia mulai melajukan kendaraan ayahnya "Ayah tidak takutkan?" tanya Alea.


"Tentu saja tidak, Ayah sangat percaya padamu" ucap Rangga.


Mendengar jawaban ayahnya, Alea memberanikan diri untuk menambah kecepatannya di atas 120km/jam hingga mereka berdua sampai ke kediamannya.


"Welcome home baby"


Ana dan Rio menyambut kedatangan cucunya dengan penuh rasa bangga, keduanya memeluk Alea dengan hangat.


"Eyang bangga sekali denganmu sayang hiks.." Ana menitikan air mata bahagianya.


"Terima kasih Eyang, ini semua berkat doa Eyang" Alea mengelus lembut punggung Eyangnya.


Setelah melepas rindu, Ana mengajak cucunya untuk masuk kedalam, namun Ana sedikit heran melihat Rangga berjalan dengan tertatih "Kakimu kenapa Ngga?" tanya Ana khawatir.


"Hanya terkilir saja kok Bund, sebentar lagi sembuh" Rangga mencoba tersenyum menahan rasa sakitnya agar orang tuanya tak mengkhawatirkannya.


"Itu tidak akan sembuh jika tidak segera di urut, Ayah akan menghubungi tukang urut langganan Ayah"


"Jangan Yah...." cegah Rangga.


Tak menghiraukan ucapan Rangga, Rio tetap menghubungi tukang urut langganannya dan memintanya untuk segera datang ke kediaman Rangga.


Rangga hanya bisa pasrah, membiarkan orang tuanya menghubungi tukang urut langganannya, dan benar saja satu jam kemudian tukang urut tersebut datang.


Suasana kediamannya mendadak berubah menjadi sangat ramai oleh teriakan Rangga yang tengah di urut, Alea tertawa geli melihat ekspresi ayahnya ketika di urut.

__ADS_1


__ADS_2