ALINEA

ALINEA
Chapter 35 : Restu


__ADS_3

"Byy kok pulangnya cepet?" tanya Tyshia sambil merapihkan makanan di atas meja makan.


"Kangen sama kamu hehe..." Rangga mencubit pipi Tyshia dengan gemas "Makanan yang aku pesan sudah datang?" tanya Rangga.


"Sudah nih, baru saja datang"


Rangga sengaja memesankan makanan untukmmakan siang agar Tyshia tidak perlu memasak.


"Hari ini cuma satu jadi lebih cepat, besok aku kerja ya. Kamu masih mau tinggal di sini apa di rumah Mommy? aku pulang sore, aku takut kamu kesepian" ucap Rangga.


"Disini saja, aku masih rindu denganmu. Tidak apa-apa kan?" tanya Tyshia.


"Boleh dong sayang, sini makan aku suapi!" Rangga meminta Tyshia untuk duduk lebih dekat dengannya.


"Aku bisa sendiri byy" Tyshia menolaknya.


"Sini jangan bandel, aku tidak ingin melihatmu kurus." Rangga mengelus tangan Tyshia mengajaknya lebih mendekat ke arahnya.


Tyshia menuruti permintaan Rangga, ia menggeser kursinya mendekat ke arah Rangga.


"Ayo makan yang banyak" Rangga menyuapi Tyshia dengan tangan kosongnya, ia tersenyum puas ketika melihat Tyshia makan dengan lahap.


"Aku mau makan seperti ini terus bersammu, menjalani hari-hari berdua denganmu" ucap Tyshia.


"Aku juga mau kita seperti ini terus selamanya, tapi dalam ikatan yang sah. Besok aku akan mengajukan cuti, nanti kita sama-sama meminta restu kepada kedua orang tuamu" ucap Rangga.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


"Biar aku saja yang buka" Tyshia beranjak dari tempat duduknya menuju pintu depan apartement Rangga.


Sebelum membuka pintu Tyshia melihat siapa yang berkunjung ke apartement Rangga melalui Reverse Door-Peephole (lubang pintu), wajah Tyshia berubah menjadi pucat, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya melihat kedatangan kedua orang tuanya.


'Dari mana mereka tahu aku berada di sini' gumam Tyshia.


Ting.. Tong.. Ting.. Tong..


"Byy, kok tidak di buka, siapa yang datang sayang?" Rangga berjalan mendekat ke arah Tyshia.


"Siapa sayang?" Rangga melihat wajah Tyshia yang berubah, ia pun melihat dari balik lubang pintu apartemenya.


"Jangan di buka byy, aku takut. Kita telepon Mommy saja bagaimana?" Tyshia menahan tangan Rangga untuk membuka pintu.


"Sayang, merekakan orang tua kamu, kamu tidak boleh begitu" Rangga mengelus tanggan Tyshia memberikannya pengertian kepadanya.


"Tapi byy.." Tyshia kembali menahan tangan Rangga agar Rangga tidak membukakan pintunya.


"Byy percayalah, tidak akan terjadi apa-apa" Rangga membukakan pintu apartementnya, Tyshia bersembunyi di balik tubuh Rangga, memegang erat lengan Rangga.


Rangga mempersilahkan kedua orang tua Tyshia untuk masuk ke dalam apartementnya.


"Sebentar sayang" Rangga melepaskan tangan Tyshia, kemudian merapihkan buku-buku, laptop dan peralatan gambar Tyshia yang berserakan di meja ruang tamu.


"Maaf Tuan dan Nyonya, apartementnya berantakan" ucap Rangga.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Rangga, kami mengerti" ucap Ana.


"Aku saya yang menaruhnya, sekalian mengambilkan minum" bisik Tyshia, ia mengambil semuanya dari tangan Rangga, kemudian berjalan menuju kamar Rangga.


"Panggil saja Om dan Tante" ucap Rio.


"Silahkan duduk Om, Tante" Rangga mempersilahkan Rio dan Ana untuk duduk di sofa.


"Maaf Om, Tante. Alinea tinggal sementara di sini karena Tante Risty dan Om Daniel sedang pergi ke luar negeri, sedangkan Edwar dinas di luar kota. Tapi kita ngapa-ngapain kok Om, Tante" ucap Rangga, ia tidak ingin orang tua Tyshia berfikir yang tidak-tidak terhadap dirinya dan juga Tyshia.


"Kami percaya padamu Rangga" ucap Ana sambil tersenyum.


Tak lama Tyshia datang dengan membawa tiga gelas teh hangat, untuk Ayahnya, Bundanya dan juga Rangga.


Tyshia menaruh teh tersebut di atas meja kemudian ia kembali duduk di samping Rangga dengan sedikit besembunyi di balik tubuh Rangga sambil memegang erat lengan Rangga.


Ana sangat sedih melihat putrinya ketakutan melihat kedatangannya.


"Sayang, apa kamu tidak ingin memeluk Ayah dan Bundamu?" tanya Ana.


Rangga menoleh ke arah Tyshia memintanya untuk memeluk kedua orang tuanya, namun Tyshia menggelengkan kepalanya.


"Ayo dong Byy, kamu tidak boleh seperti itu" Rangga meyakinkannya tidak akan terjadi apa-apa.


"Aku takut Byy... Aku tidak ingin mereka membawaku pulang dan menikahkan aku dengan Mike" bisiknya.


"Tidak akan sayang, ada aku di sini" Rangg mengelus tangan Tyshia dengan lembut.


"Tapi.."


Dengan langkah ragu-ragu Tyshia menghapiri kedua orang tuanya, ia masih sangat takut dengan Ayahnya, karena beberapa kali Rio pernah membentaknya.


"Maafin ayah ya sayang" Rio memeluk hangat putrinya, ia menyesal karena pernah membentak Tyshia sehingga Tyshia sangat takut kepadanya.


"Maafin Bunda juga ya sayang" Ana mencium kedua pipi Tyshia.


Rangga senang melihat Tyshia bisa berbaikan kembali dengan kedua orang tuanya.


"Rangga, kami ingin juga meminta maaf kepadamu karena telah memutuskan rencana pertunangan kalian secara sepihak. Apa kamu mau memaafkan kami? dan kembali melanjutkan pertunangan dengan Tyshia?" tanya Rio.


"Tunangan? jadi Ayah dan Bunda merestui kami lagi?" tanya Tyshia dengan raut wajah bahagia.


"Ia sayang, kami merestui kalian" Ana mengelus tangan putrinya.


"Rangga terima kasih juga ya, waktu itu kamu masih mau menyelesaikan pekerjaanmu hingga selesai, bahkan kamu membuat catatan penting mengenai jobdeskmu secara detail" ucap Rio.


"Itu sudah menjadi tanggung jawabku, aku tidak ingin menyulitkan orang lain yang menggantikan aku." Ucap rangga.


"Kalau begitu kapan kalian mau bertunangan? Nanti Tante dan Om akan bantu menyiapkannya" tanya Ana.


Rangga berfikir sejenak karena ia baru saja menyelesaikan ujian, semester depan aku sudah mulai tesis. Jika dirinya menggelar acara pertunanganku dengan Tyshia setelah nilai ujiannya keluar, maka akan agak lama untuk menuju ke pernikahan karena dirinya ingin menyelesaikan tesisnya.


"Ya sudah kalian discusikan saja dulu berdua, kami akan menunggu" ucap Rio, kemudian Rio beralih kepada Tyshia "Kamu maukan kembali pulang ke Jakarta bersama kami?" tanya Rio.

__ADS_1


"Iya Yah, tapi aku masih mau di sini dahulu, aku ingin berdiskusi dengan Kak Rangga sekalian membereskan barang-barangku" ucap Tyshia.


"Ya sudah Ayah dan Bunda tunggu di rumah Mommy ya."


"Terima kasih ya Yah" Tyshia kembali memeluk Ayahnya.


Rio dan Ana tersenyum melihat senyum di wajah putrinya yang sudah lama menghilang sejak putusnya pertunangannya dengan Rangga.


"Rangga, Om dan Tante kembali dulu ya ke kediaman Mommy Risty, jika kalian sudah selesai tolong antar Tyshia ke sana."


"Baik om, nanti aku akan antar tyshia ke sana."


Setelah kepergian rio dan ana, rangga memulai obrolan serius dengan tyshia.


"Byy, kamu tahukan jika aku di sini sangat sibuk, aku cuma punya waktu satu minggu untuk bisa kembali ke jakarta, aku kasih dua opsi kepadamu. Yang pertama kita tunangan kemudian LDR sampai aku menyelesaikan tesisku, setelah itu baru kita menikah atau yang kedua kita langsung menikah tapi kamu ikut denganku tinggal di sini."


"Kita langsung menikah saja byy" ucap Tyshia tanpa pikir panjang.


"Kamu yakin Byy?"


"Iya sayang, aku mau langsung menikah denganmu. Aku tidak ingin terpisah lagi denganmu.


"Ya sudah, tapi kamu tidak apa-apa menyiapkan semuanya sendiri dan secepat ini? tapi kamu tenang saja aku akan bantu mencarikan WO nya dari sini, jadi nanti kamu tinggal bilang saja konsepnya seperti apa, untuk undangan pakai jasa kurir saja jadi kamu tidak perlu repot. Nanti aku list ya apa yang aku bisa kerjakan dari sini dan apa yang harus kamu lakukan di sana, aku janji tidak akan terlalu merepotkanmu."


"Byy, ini kan pernikahan kita. Aku tidak merasa di repotkan kok, aku mengerti dengan kesibukanmu sayang." Tyshia tersenyum menatap rangga, dan membelai wajahnya.


"Terima kasih ya sayang, aku beruntung sekali memiliki calon istri sepertimu." Rangga mencium tangan tyshia, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil dompetnya dari dalam tasnya.


"Byy, untuk biaya pernikahan pakai ini saja ya." Rangga menyerahkan ATM rupiahnya kepada tyshia.


"Iya sayang." Tyshia benar-benar sangat menghormati dan menghargai apa pun yang Rangga berikan kepadanya.


"Byy, kamu yakin mau tinggal di sini bersama denganku? fasilitas di sini tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rumahmu." Rangga kembali insecure.


"Beberapa hari ini kan aku sudah tinggal di sini bersamamu."


"Ia, tapi nanti kamu akan tinggal di sini selamanya, apa kamu yakin mau menemani aku?"


"Byy, aku di New York pun sudah meninggalkan fasilitas yang di berikan oleh ayahku, aku sangat bahagia hidup denganmu byy."


"Tapi ini untuk selamanya byy, aku ingin melanjutkan S3ku dan membangun karirku disini."


"Aku yakin sayang, aku mau menemanimu kemanapun kamu mengajakku, aku juga akan terus suport karir dan pendidikanmu" ucap Tyshia dengan penuh keyakinan.


"Thanks ya byy, aku benar-benar beruntung punya kamu" Rangga membawa Tyshia kedalam pelukannya.


Setelah berdiskusi banyak mengenai keuangan, konsep pernikahan dan konsep hidup ke depannya. Rangga membatu tyshia membereskan barang-barangnya kemudian mengantarkan Tyshia kembali ke kediaman Mommynya.


Setibanya di kediaman Risty, Risty mengajak Rangga dan Tyshia untuk makan malam, sambil membicarakan rencana acara pertunangan mereka.


Rangga menjelaskan jika dirinya dan Tyshia memilih akan langsung melaksanakan pernikahan, Rangga juga menjelaskan rencana dirinya dan Tyshia ke depan untuk stay di Jerman meneruskan pendidikannya Rangga di Jerman.


Rio dan Ana sangat berat dengan keputusan Rangga dan putrinya, karena ia harus berpisah jauh dengan putrinya, namun Rio dan Ana mencoba menerima keputusan Rangga dan Tyshia.

__ADS_1


Selesai makan malam dan berbincang mengenai pernikahannya, Rangga kembali ke apartementnya.


__ADS_2