ALINEA

ALINEA
Chapter 11 : Ujian Nasional


__ADS_3

Seusai makan malam Tyshia menghampiri Ayah dan Bundanya yang sedang menonton film di ruang bioskop mini di kediamannya. Kebetulan Ayahnya tidak mematikan lampu ruangan sehingga Tyshia tidak perlu menduga-duga apa yang sedang di lakukan oleh Ayah dan Bundanya di tempat gelap.


"Ayah, there is a latter of approval for additional tutoring from the school for preparation for national exam." Tyshia memberikan surat tersebut kepada Ayahnya.


*Ayah, ada surat persetujuan les tambahan dari sekolah untuk persiapan Ujian Nasional.


Rio mengecilkan volume film yang sedang ia tonton kemudian membaca surat yang di berikan oleh putrinya.


"Ayah, may I' m not take course at school ?"


*Ayah, bolehkah aku tidak ikut les di sekolah?


"Ya tentu saja sayang, apa ada tempat les yang lebih bagus di luar sekolahmu?" tanya Rio sambil menatap putrinya.


"Ada. Aku mau les dengan Ayah, Ayah mau kan mengajariku belajar?"


Rio berfikir sejenak, bukannya Rio tidak ingin mengajari anaknya belajar tapi porsi ujian nasional begitu besar cakupannya, Rio sendiri ragu apa ia mampu menguasai semua materinya.


"Do you mind?"


"Of course not, baby!" Rio mencoret bagian"Agree" kemudian menandatanganinya, setelah itu rio memberikan surat tersebut kepada putrinya.


"Thank you Ayah, mmmuah..." Tyshia mencium pipi ayahnya kemudian ia pergi ke kamarnya untuk memasukan surat tersebut ke dalam tasnya agar besok pagi ia tidak kelupaan membawanya.


"Kamu yakin sayang? pelajaran zaman sekarang lebih berat dibandingkan dengan zaman kita dulu, kamu masih ada waktu untuk menarik kembali kata-katamu" ucap Ana.


"Aku pergi dulu sebentar ya" Rio mencium kening istrinya kemudian mengambil kunci mobilnya.


Rio pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku materi dan latihan soal ujian nasional, ia memborong banyak sekali buku, kemudian kembali lagi ke rumahnya.


Sesampainya di rumah Rio membawa semua buku-buku yang ia beli ke ruang kerjanya, ia membuka satu persatu buku-buku tersebut.


'Wow banyak sekali materinya' gumam Rio.


Mengetahui jika suaminya sudah kembali, Ana pun menghampiri suaminya di ruang kerjanya. Dari pintu ruang kerja suaminya, ia sudah dapat melihat tumpukan buku-buku di meja kerja suaminya.


"Sekali lagi aku tanya padamu, Apa kamu benar-benar yakin?" tanya Ana menatap tajam ke arah suaminya, Rio hanya diam tidak menjawab pertanyaan istrinya.


Ana menghembuskan nafas beratnya, tanpa Rio menjawabnya ia sudah tau dengan jawaban Rio "Kelulusan anakmu berada di tanganmu, aku harap kamu berfikir sejuah itu" ucap Ana.


"Menurutmu adilkah jika kita menuntut anak kita untuk lulus sementara kita sendiri tidak mampu atau tidak bisa mengerjakan apa yang anak kita kerjakan? Bukankah jika kita menyadari ini adalah sesuatu hal yang tidak mudah, kita akan lebih menghargai kerja keras anak kita"


"Baiklah. Kamu fokuslah untuk mengajari Tyshia, biar urusan kantor aku yang menghandlenya" ucap Ana.


"Terima kasih ya" Rio menggenggam erat tangangan istrinya.


Ana menganggukan kepalanya sambil mengelus bahu suaminya, kemudian ia keluar dari ruang kerja suaminya memberi ruang kepada Rio untuk mempelajari materi ujian nasional putrinya.

__ADS_1



Pagi hari setelah Tyshia berangkat sekolah, Ana memberikan Ipadnya kepada Rio.


"Sayang ini ada beberapa schedule meeting dengan client yang masih harus kamu handle, tapi sudah aku jadwalkan di pagi hari sampai jam makan siang. Sedangkan sisanya nanti aku yang handle, termasuk klinik kecantikan dan toko kue masih aku yang handle"


"Kamu fokuslah pada UN putri kita, untuk persiapan kelanjutan studynya di New york mulai dari tempat tinggal, transportasi, ART, semua administrasi (Visa, registasi di Parsons School of Design,dll kita urus bersama setelah UN selesai. Bagaimana?"


"Ok aku setuju" Rio menyetujui semua rencana istrinya.


Sesuai dengan jadwal yang telah di buat oleh istrinya, setiap hari Rio pulang ke rumah lebih awal dari istrinya, sebenarnya ia berat meninggalkan istrinya di kantor dan memberikannya banyak pekerjaan, tapi di satu sisi putrinya juga membutuhkan dirinya.


Rio menghubungi wali kelasnya Tyshia untuk menanyakan materi-materi pokok yang akan keluar di UN sehingga ia bisa lebih mudah untuk mengajari putrinya.


"Ayah, let's start learning together now!" Tyshia masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya.


"Come here, baby" Rio menepuk kursi di sebelahnya, menyuruh Tyshia untuk duduk di sebelahnya.


"Today we are studying chemistry "


Rio mulai membuka materi pelajaran kelas sepuluh, kemudian ia membacakan soal mengenai rumus molekul.


"Jika diketahui rumus empiris suatu senyawa adalah CH4 (Ar C \= 12, Ar H \= 1) dan masa molekul relatif(Mr) adalah 32. Tentukanah rumus molekul senyawa tersebut?"


Rio meminta Tyshia untuk menjawab soalan tersebut, namun Tyshia menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tak mengerti dengan soalan tersebut.


"Tidak apa-apa sayang, Ayah jelaskan ya"


"Kita tentukan nilai n" lanjutnya.


Mr rumus empiris x n \= Mr rumus molekul


(Ar C + 4 Ar H) x n \= 32


(12 + 4) x n \= 32


16n \= 32


n \= 2


Rumus Molekul \= (Rumus Empiris)n


Rumus molekul \= (CH4)2 \= C2H8


Jadi rumus molekulnya adalah C2H8


"Bagaimana, gampangkan?" tanya Rio kepada putrinya.

__ADS_1


Tyshia kembali menggelengkan kepalanya, ia masih belum mengerti dengan apa yang di terangkan oleh ayahnya.


"It's okay, kita coba lagi ya" Rio mengelus bahu putrinya agar Tyshia merasa tenang, kemudian ia kembali mengulang penjelasannya, hingga putrinya benar-benar mengerti.


"Bagaimana, mengerti kan sekarang?" tanya Rio setelah ia mengulang untuk yang kelima kalinya.


"Iya Yah, aku sekarang sudah mengerti" ucap Tyshia, ia merasa sangat nyaman belajar dengan Ayahnya karena ia tak perlu merasa canggung atau malu untuk meminta Ayahnya mengulang-ulang penjelasannya.


Kondisi belajar seperti ini berlanjut hingga Tyshia melaksanakan tryout pertamanya, setelah menunggu kurang lebih satu minggu akhirnya keluarlah hasil tryout pertama Tyshia.


Dengan raut wajah yang tegang, perlahan Rio membuka kertas hasil tryout putrinya, ia menghembuskan nafas beratnya saat melihat hasilnya masih jauh di bawah standar nilai kelulusan.


"It's okay sweety, masih ada 2 kali tryout lagi. Ayah yakin nilainya pasti akan lebih baik dari ini, semangat!!!" Rio tersenyum sambil mengelus bahu putrinya.


"Ya sudah malam, kamu istirahat ya" Ana meminta putrinya untuk istirahat karena besok Tyshia masih harus pergi ke sekolah.


"Good night Bunda, Ayah" Tyshia melangkahkan keluar dari ruang kerja Ayahnya.


Tak lama setelah Tyshia keluar dari ruang kerja Rio, Ana kembali mengajak suaminya untuk berdiskusi.


"Kayanya kita tidak bisa seperti ini terus, kita harus mencarikan guru yang benar-benar bekompeten, yang memiliki cara cepat untuk menjawab semua soalan ujian" ucap Ana frustasi.


"Tapi Tyshia tidak mau belajar dengan orang lain, ia hanya mau belajar dengan aku"


"Harus mau, ini sudah tinggal dua bulan lagi menuju UN. Jika terus begini anak kita bisa tidak lulus sayang"


"Pelan-pelan, aku akan lebih ekstra lagi dalam mengajarinya. Percayalah, ia pasti akan lulus" Rio mengelus lengan istrinya kemudian memeluknya.


"Baiklah aku percaya padamu sayang" Ana membalas pelukan suaminya dengan hangat, ia percaya jika suaminya sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan yang terbaik untuk putrinya.



Di tryout ke dua dan ke tiga nilai Tyshia masih sebatas di standar minumum kelulusan, hal ini membuat Rio dan Ana semakin frustasi.


Tiga minggu menjelang UN Rio memutuskan untuk tidak bekerja ia benar-benar fokus mengajari putrinya belajar, bahkan Rio ikut mengantar dan menjemput Tyshia ke sekolah agar di dalam perjalanan menuju sekolah Rio bisa mengajarinya.


Sementara Ana semakin disibukannya urusannya di kantor, bahkan ia bisa pulang hingga larut malam karena harus menghandel pekerjaan suaminya.


"Capek ya? aku minta maaf ya" ucap Rio ketika ia melihat istrinya pulang pukul 21.00 malam.


"It's okay honey. Aku ganti baju dulu ya, nanti kita ngobrol lagi" Ana mencium pipi suaminya sambil mengelus lengan suaminya dengan lembut, ia tak ingin suaminya merasa bersalah karena ia sangat mengerti jika beban suaminya lebih besarnya dengan apa yang ia kerjakan di kantor. Ana berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ia beristirahat bersama suaminya.



Tiba saatnya Tyshia melaksanakan UN, namun hasil UN baru akan di bagikan satu bulan setelah pelakasaan UN,dan selama satu bulan itu baik Rio dan Ana menunggu dalam kecemasan.


Ketidak sabaran Rio membuatnya terpaksa menggunakan privilagenya untuk mendapatkan hasil ujian anaknya lebih cepat, ia mendatangi ketua yayasan sekolah putrinya. Rio mendapatkan hasil UN putrinya beberapa hari lebih cepat di banding anak-anak yang lainnya, di dalam mobil ia membuka surat dengan perlahan.

__ADS_1


Dengan jelas dalam surat itu menyatakan jika Tyshia GRADUATED (LULUS), Rio langsung menghubungi istrinya mengabarkan tentang kelulusan putri mereka.


"Alhamdulillah" ucap Ana dengan perasaan leganya.


__ADS_2