
Setelah makan malam, Tyshia menghampiri Ayah dan Bundanya di ruang keluarga dengan membawa laptopnya. Ia bermaksud meminta pendapat Ayah dan Bundanya mengenai desain undangan pertunangannya dengan Rangga.
"Ayah, Bunda. Menurut Ayah dan Bunda mana yang lebih bagus?" Tyshia memberikan laptopnya kepada kedua orang tuanya.
Rio hanya melihatnya sekilas kemudian ia memberikannya lagi kepada putrinya "Boleh Ayah bicara denga sebentar" ucap Rio.
"Tentu saja Ayah, katakanlah!!" Tyshia menutup laptopnya kemudian menaruhnya di atas meja.
"Selama ini Ayah selalu berusaha menuruti semua maumu, SEMUA!!! termasuk cita-citamu untuk menjadi seorang desainer, dan Ayah selalu berusaha memahami setiap keputusan yang kamu ambil dalam hidupmu, tapi bisakah untuk kali ini saja Ayah meminta sesuatu kepadamu?" tanya Rio dengan nada serius.
"Iya Ayah" Tyshia menganggukan kepalanya sambil menatap wajah Ayahnya.
"Batalkan pertunanganmu dengan Rangga" pinta Rio.
"APA? bukankah Ayah sudah merestui dan mendukung hubungan kami? kenapa tiba-tiba saja Ayah berkata seperti ini?" tanya Tyshia dengan wajah heran.
"Insting Ayah berkata bahwa Rangga bukanlah pria yang terbaik untukmu" ucap Rio.
"Bukan pria yang terbaik? maksud Ayah apa? Bukankah Ayah sudah mengenal Rangga? dan jelas-jelas Ayah dan Bunda merestui hubungan kami, ada apa ini?" Tyshia mencoba meminta penjelasan kepada Ayahnya.
"Sudah Ayah katakan bahwa Rangga bukan pria yang terbaik untukmu, Ayah akan mencarikan pria yang terbaik untukmu" ucap Rio menaikan nada bicaranya.
"Memangnya apa yang sudah Kak Rangga perbuat? apa Kak Rangga melakukan kesalahan kepada Ayah dan Bunda?" Tyshia masih belum mengerti mengapa tiba-tiba Ayahnya memintanya untuk meninggalkan Rangga, di saat dirinya dan Rangga sedang menyiapkan acara pertunangan mereka.
"AKU AYAHMU!!! JADI AKU BERHAK MENENTUKAN DAN MEMASTIKAN SIAPA YANG TERBAIK UNTUK PENDAMPING HIDUPMU" bentak Rio.
Tyshia terse detak mendapatkan bentakan dari Ayahnya, buliran-buliran bening mulai jatuh ke pipi Tyshia, kemudian Tyshia berbalik menghadap Bundanya.
"Bunda, mengapa tiba-tiba seperti ini? sebenarnya apa yang terjadi? apa yang telah Kak Rangga perbuat hingga Ayah dan Bunda tiba-tiba tidak menyetujui hubungan kami? Ayah dan Bunda pasti salah paham dengan Kak Rangga" Air mata Tyshia mulai mengalir deras dari matanya.
"Nak, kamu adalah putri kami satu-satunya, tentu kami akan memberikan semua yang terbaik untukmu" ucap Ana sambil menghapus air mata Tyshia.
"Iya tapi apa alasannya Bunda?" tanya Tyshia dengan menahana isakan tangisnya, ia hanya ingin meminta jawaban pasti kepada kedua orang tuanya.
"Selama ini kita tidak pernah meminta apa pun darimu, apa tidak bisakah sekali ini saja kamu menuruti permintaan orang tuamu?" ucap Rio.
"Yah, aku hanya ingin tahu alasan yang lebih rasional, lebih spesifik. Kesalahan fatal apa yang sudah Kak Rangga perbuat sehingga Ayah dan Bunda seperti ini?" desak Tyshia.
"STOP TYSHIA!!! BERHENTI UNTUK TERUS MEMBANTAH PERKATAAN ORANG TUAMU" Rio kembali membentak putrinya.
__ADS_1
Hati Tyshia benar-benar hancur mendapatkan bentakan dari Ayahnya, di tambah dengan pembatalan pertunangannya dengan Rangga tanpa alasan yang jelas
"Ayah jahat " Tyshia berlari masuk ke kamarnya.
Rio berusaha mengejar putrinya, namun Tyshia terlebih dahulu mengunci pintu kamarnya.
"TYSHIA, TIDAK SEPANTASNYA KAMU BERSIKAP SEPERTI ITU KEPADA ORANG TUAMU SENDIRI YANG SUDAH MERAWAT DAN MEMBERIKAN SEMUANYA KEPADAMU, HANYA DEMI ORANG YANG BARU SAJA KAMU KENAL." Rio berteriak di depan kamar Tyshia
"Aku tidak bermaksud untuk membantah perkataanmu Ayah, aku hanya ingin mengetahui ada apa sebenarnya yang terjadi hiiiks..." tangis Tyshia sudah tidak dapat ia tahan lagi.
Tyshia mencoba menghubungi Rangga untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga orang tuanya. Puluhan kali Tyshia menghubungi Rangga namun Rangga tidak mengangkat telpepon dari Tyshia, Rangga juga tidak membalas semua chat dari Tyshia.
"Angkat teleponnya byy" ucap Tyshia lirih...
Dua hari sudah Tyshia mengurung dirinya di kamar, sudah ratusan bahkan ribuan kali Tyshia mencoba menghubungi Rangga namun tak ada satupun chat yang di balas oleh Rangga, bahkan Rangga pun tidak membacanya sama sekali.
Di hari ketiga rasa penasara dan kegalauan hati Tyshia kian membuncah, ia memutuskan untuk mencari Rangga di rumahnya.
Baru saja ia hendak berjalan ke garasi rumahnya, Rio sudah menghadangnya "Mau kemana kamu?" tanya Rio.
Tyshia tak menjawab pertanyaan Ayahnya, ia hendak berjalan menerobos Ayahnya, namun Rio merentangkan salah satu tangannya mencegah putrinya pergi.
"Ayah, aku hanya butuh kejelasan atas semua yang terjadi saat ini hiks.." ucap Tyshia sambil menangis.
"Mana kunci mobilmu?" Rio meminta kunci mobil yang di pegang oleh anaknya.
"Tapi Ayah...."
"MANA KUNCI MOBILMU???" bentak Rio.
Dengan tangannya yang gemetar Tyshia menyerahkan kunci mobil miliknya kepada ayahnya, kemudian ia berbalik menuju ke kamarnya.
Ana yang melihat kejadian itu langsung berlari mengejar putrinya, beruntung kali ini Tyshia tidak mengunci pintu kamarnya sehingga Ana dapat masuk ke dalam kamar putrinya.
Ana duduk di tempat tidur putrinya, kemudian mengelus lembut kepala putrinya.
"Sayang, maafkan kami. Tapi percayalah keputusan ini sudah yang terbaik untukmu." Ucap ana.
__ADS_1
Tyshia membalikkan tubuhnya kemudian sambil menangis ia memeluk bundanya "Bunda hiks...." Tyshia menumpahkan kesedihannya dalam pelukan Ibundanya, hingga tanpa terasa ia tertidur dalam pelukan Ibundanya.
"Maafin kami Nak" Ana mengelus kepala Tyshia dengan lembut kemudian mengecup keningnya, malam itu ia menemani putrinya di kamarnya.
Hingga keesokan harinya Tyshia sudh mulai agak lebih tenang "Apa kamu masih marah kepada kami?" tanya Ana.
Tyshia menggelengkan kepalanya secara perlahan, ia sama sekali tak marah kepada kedua orang tuanya "Aku tidak marah kepada ayah dan bunda, aku hanya butuh waktu dan kejelasan atas semua ini." ucap Tyshia.
"Suatu saat kamu pasti akan mengerti sayang, yang kami lakukan ini adalah demi kebaikanmu" ucap Ana.
"Kamu mau kan sarapan bersama kami?" tanya Ana sambil merapihkan rambut putrinya, kemudian mengusap sisa-sisa air mata di sudut mata Tyshia.
Tyshia menuruti permintaan Bundanya, ia berjalan ke ruang makan bersama bundanya. Tyshia memilih duduk di samping bundanya, karena ia masih syok dengan bentakan dari Ayahnya.
Drrrtt... Drrrrt... Drrrrt...
Tyshia segera mengambil handphonenya berharap ada pesan masuk atau apapun kabar dari Rangga dan benar saja Rangga mengiriminya voice note
"Selamat pagi Byy, Maaf ya aku baru siap untuk mengabarimu hari ini, selama beberapa hari ini aku mencoba untuk belajar ikhlas menerima semua terjadi. Oh iya aku masih boleh kan memanggilmu byy? boleh ya sekali ini saja byy."
"*Byy, terima kasih untuk dua tahun terindah kamu mengisi hidupku, terima kasih untuk cinta, waktu, perhatian dan segalanya yang sudah kamu berikan kepadaku, aku sungguh beruntung bisa mengenal dan menjalin kasih denganmu. Kamu adalah wanita terbaikku, yang mungkin tak akan bisa tergantikan oleh siapa pun.
"Byy kamu jangan marah apa lagi benci dengan ayah dan bundamu ya, karena mereka berdua sangat menyanyangimu dan mereka akan selalu memberikan semua yang terbaik untukmu. Jika suatu hari nanti kamu menikah, jangan lupa undang aku ya, aku ingin sekali bisa melihat senyum kebahagianmu bersanding dengan pria yang lebih pantas dan bisa memberikan segalanya yang terbaik untukmu, aku akan berbahagia atas kebahagianmu*"
"Byy jika aku boleh request, desainkan juga koleksi baju untuk pria, sehingga aku bisa membelinya. Aku ingin sekali bisa memakai hasil karyamu untuk menemani hari-hariku sebagai pengganti keberadaan dirimu disisiku."
"Yang terakhir jaga kesehatan ya byy, kejar terus semua mimpi-mimpimu menjadi seorang desainer terbaik. Semangat sayang!!!"
Bukan hanya tyshia yang mendengar voice note tersebut, namun Rio dan Ana pun ikut mendengarkannya.
"CUKUP!!" Rio merebut pakasa handphone tersebut dari genggaman tangan Tyshia, ia sudah benar-benar tidak ingin putrinya berhubungan lagi dengan Rangga.
Aor mata Tyshia kembali menetes, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju lapangan belakang kediamannya, ia menyalurkan semua energi kemarahan, kekecewaan dan kesedihannya dengan semua bola-bola yang ada di lapangan rumahnya.
Setengah jam Tyshia bermain basket ia melempar bola basketnya ke dalam ring dengan sekuat tenaga, satu pun dari bola-bola itu tidak ada yang masuk ke dalam ring.
Rio menghampiri Tyshia, kemudian ia merebut bola dari tangan putrinya.
"Cukup Tyshia, kamu tidak bisa seperti ini terus" ucap Rio.
__ADS_1
"Dua tahun kami bersama bukanlah waktu yang singkat, banyak hal yang sudah kami lewati hingga bisa berada dititik ini. Sekarang ayah tiba-tiba memaksa aku melupakan Kak Rangga untuk selamanya, AKU BUTUH WAKTU AYAH!!!"
Tyshia membalikan tubuhnya, pergi dari hadapan Ayahnya, namun baru beberapa langkah Tyshia melangkah tubuhnya tumbang.