
"Bik di mana Rangga?" tanya Edwar kepada asisten rumah tangga Rangga.
" Tuan Rangga sedang sarapan di ruang makan"
"Thanks" Edwar bergegas pergi ke ruang makan menghampiri Rangga dan Alea.
"Good morning, Darling. How are you feeling? I heard you’d been ill" Edwar menyerahkan buket bunga mawar putih kepada Alea kemudian mengelus kepala Alea dengan lembut.
"I’ve been better. Wow the beautiful flower, thank you so much uncle" Alea mencium tangan Edwar.
"You are welcome darling" Edwar beralih ke Rangga.
"Rangga, hari ini gue enggak ke kantor tapi ada project penting yang mau gue bahas." ucap Edwar.
"Lea, hari ini berangkat sekolahnya di antar oleh Mang Ujang dulu ya. Nanti sore Ayah jemput" ucap Rangga.
"Iya Ayah" Alea menghabiskan sarapannya kemudian ia berpamitan kepada Ayah dan juga Unclenya.
"Bye Ayah" Alea melambaikan tangannya ke arah Rangga sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Bye honey" setelah mobil yang membawa putrinya sudah tak terlihat lagi, Rangga pun menyusul Edwar ke ruang kerjanya.
"Ngga, loe yakin mau ganti tim engineering. Mereka bekerja sudah sejak om rio memegang perusahan ini loh" ucap Edwar tanpa basa -basi.
"Justru itu War, mereka udah saatnya istirahat dan di gantikan dengan anak-anak muda yang lebih fresh. Tapi loe tenang aja, gue udah nyiapin pesangon yang pantas untuk mereka"
__ADS_1
"Loe udah ngomong soal ini ke Om Rio?"
"Udah, Ayah setuju kok"
"Gue pikir hari ini loe enggak ke kantor, gue ngebayangin kantor akan sepi jika enggak ada loe" ledek Edwar.
"Bukannya kebalik ya, justru kalau enggak ada gue kantor malah rame?"
"Hahaha... Loe kadang bikin suasana kantor jadi horor, apa lagi kalau udah sidak. Mereka yang di tanya, gue yang ikut deg-degan"
"Gue cuma berusaha profesional aja karena perusahaan itu adalah amanah orang tua gue, di luar urusan kantor gue mencoba untuk friendly kok ke mereka semua." ucap Rangga sambil membereskan dokumennya yang ia akan bawa ke kantor.
"Oh ia Ngga, tadi sebelum gue masuk, ada cewek keluar dari rumah loe. Baru kali ini gue ngeliat ada cewek masuk ke rumah loe. Apa dia calon Ibu sambung Alea? jadi kapan mau loe mau ngenalin ke keluarga besar kita?" Edwar mulai menggoda Rangga.
"Loe itu sok tau banget, dia cuma guru les Alea, kemarin dia ngajari les Alea sampai larut malam makanya gue suruh dia nginep di sini dari pada ada apa-apa di jalan, apa lagi semalam hujan deras"
"Kalau nyokap gue sampe marah ke gue, berarti loe udah ngomong yang enggak-enggak ke nyokap gue" bentak Rangga.
"Menurut gue memang udah saatnya loe menikah, Alea juga udah semakin gede. sebentar lagi ale punya dunianya sendiri bersama dengan teman-temannya, dan loe akan kesepian, loe butuh teman berbagi Ngga"
"Enggak ada yang bisa menggantikan posisi Alinea di hati gue, gue masih sangat mencintai dia" tiap kali menyebut nama Alinea mata Rangga berkaca-kaca, batinnya sangat merindukan sosoknya.
"Bukan menggantikan, Alinea akan selalu tetap ada di hati loe tetapi membuka hati untuk wanita lain untuk menemani loe menghabiskan sisa usia loe. Loe pikirin baik-baik hal itu ngga." Edwar menepuk bahu Rangga dan pergi dari kediaman Rangga.
Selepas kepergian Edwar dari kediamannya, Rangga bergegas berangkat ke kantornya, di perjalanan ia menghubungi edgar untuk memintanya mengisi furniture di apartement miliknya yang belum pernah ia tempati.
__ADS_1
Drrrt... Drrrt...
Pukul 14.00 sangat tengah bekerja, Rangga mendapat pesan masuk dari Nindy.
Nindy:
Assalamualaikum pak rangga, maaf mengganggu. Saya ingin mengabarkan jika jam perkuliahan saya sudah selesai.
Rangga tak membalas pesan Nindy tersebut, ia langsung mematikan laptopnya dan pergi menjemput Nindy di kampusnya.
Dari sebrang jalan, Rangga melihat Nindy telah menunggunya. Rangga memutar arah kendaraannya dan berhenti tepat di hadapan Nindy, Rangga pun menurunkan kaca jendela mobilnya dan menyuruh Nindy masuk.
"Terima kasih Pak Rangga, tapi sebenarnya Pak Rangga tidak perlu menjemput saya karena saya bisa pulang sendiri" ucap Nindy.
Rangga tidak menjawab pernyataan Nindy, ia malah menaikan volume lagu di mobilnya. Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata yang teucap dari mulut Nindy, ia bergelut dengan pikirannya mengenai sikap Rangga terhadapnya, sedangkan Rangga tampak menikmati alunan lagu yang ia putar, bahkan sesekali terdengar suara Rangga menyanyikan lagu tersebut.
🎵"We don't talk anymore, like we used to do"🎵
'Suaranya sangat indah' batin Nindy.
Rangga menepikan mobilnya di sebuah apartement mewah di kawasan Jakarta Selatan, Rangga mengajak Nindy untuk masuk mengikutinya ke dalam apartement tersebut hingga masuk ke salah satu unit apartement.
"Untuk sementara tinggallah di sini, sampai aku menemukan bukti yang kuat untuk membawa kekasihmu masuk ke dalam penjara" ucap Rangga.
__ADS_1
"Pak Rangga, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Maaf aku tidak menerima ini"
"Disini jauh lebih aman di banding kamu harus tinggal di rumah kontrakanmu, karyawanku sedang membereskan barang-barangmu dan akan segera di antar kemari. Anggaplah ini ucapan terima kasihku karena kemarin kamu telah merawat Alea, maaf aku tidak bisa berlama-lama berada di sini." Rangga memberikan card acsess system masuk apartementnya kepada Nindy, kemudian ia pergi meninggalkan apartementnya menuju sekolah putrinya.