ALINEA

ALINEA
Chapter 26 : Rencana Pertunangan


__ADS_3

"Sayang, nanti malam ajak Rangga makan malam di sini ya. Kita bahas rencana pertunangan kalian" ucap Ana.


"Okay Bunda" ucap Tyshia sambil menghabiskan sarapannya.


"Yah, jika nanti aku sudah menikah dengan Rangga, Ayah tidak marah kan jika aku tidak tinggal di sini lagi?" tanya Tyshia dengan hati-hati.


"Loh bukankah kamu memang seharusnya tinggal bersama suamimu? kecuali jika kalian memang sepakat dan mau tinggal di sini. Tentu Ayah dan Bunda sangat senang, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian" ucap Rio.


"Lalu untuk konsep pertunangan dan pernikahan kita, apa Ayah dan Bunda tidak keberatan jika kami berdua saja yang mengurusnya?" tanya Tyshia kembali.


Untuk sejenak Rio tersenyum mendengar pertanyaan putrinya "Kami menyuruhmu mengajak Rangga makan malam di sini, agar kami bisa mengenalnya lebih jauh dan menanyakan kapan acara pertunangan kalian di gelar? Untuk urusan konsep pertunangan dan pernikahan, itu sepenuhnya hak kalian, silahkan wujudkan wedding dream kalian, Ayah dan Bunda akan mendukung kalian"


"Terima kasih, yah" Tyshia merasa sangat bahagia memiliki Ayah yang sangat bijak.


"Katakanlah? kamu menginginkan hadiah apa dari kami? asal jangan restu dan doa. Itu sudah pasti akan kami berikan tanpa kalian minta. Mintalah apa pun yang kalian mau seperti: Venue, honeymoon, rumah, apartement, mobil apa pun itu. Nanti kamu diskusikan ya dengan Rangga" ucap Rio


"Kalian akan mendapat dua hadiah dari Ayah dan juga Bunda" ujar Ana menambhakan.


"Terima kasih Ayah, Bunda"


"Sama-sama sayang, ya sudah Ayah pergi ke kantor dulu ya sudah siang" Rio mengecup kepala putrinya kemudian beralih memeluk dan mencium pipi serta bibir istrinya.


Setelah suaminya pergi, Ana pun pergi ke klinik kecantikan miliknya, sedangkan Tyshia ke boutique miliknya.


Sesampainya di boutique Tyshia menghubungi Rangga, meminta Rangga untuk makan malam di rumahnya bersama Ayah dan Bundanya. Hari itu Tyshia merasa senang karena Rangga tidak menolak ajakan makan malan di rumahnya.



Malam harinya Rangga menepati janjinya, pukul 19.00 Rangga sudah tiba di kediaman Tyshia. Rio dan Ana menyambut kedatangan Rangga dengan hangat.


Rio mengajak Rangga mengobrol sambil minum teh di depan kolam renang rumahnya, sedangkan Tyshia membantu Bundanya menyiapkan makan malam.


"Rangga, orang tuamu tinggal di mana?" tanya Rio


"Aku asli orang Jogja, Om. Abi dan Umiku sudah meninggal, di Jogja hanya ada ayah sambungku dan kedua adikku" jawab Rangga sambil menundukan kepalanya.


"Maaf jika pertanyaan Om membuatmu sedih" ucap Rio sambil menepuk bahu Rangga.


"Tidak apa-apa Om, aku hanya masih merasa sedih jika membicarakan Umi, karena saat kepergiannya aku sedang tidak berada di sisinya, aku sudah menempuh pendidikanku di Amerika" terang Rangga sambil menahan air matanya.


"Dimana pun kita berada, kita masih bisa mendoakan beliau" Rio melihat dengan jelas dari sorot mata Rangga jika Rangga termat menyayangi Ibundanya.


"Lalu apakah kamu sudah mengenalkan Tyshia kepada keluargamu?" tanya Rio kembali.


"Sudah Om, sejak di Amerika kita sering video call bersama. Ayah sambungku selalu menyuruhku untuk segera melamar Alinea"


"Benarkah? Jadi kapan acara pertunangan kalian di gelar?"


"Insyaallah bulan depan, kita masih bingung antara tanggal 10 atau 11"


"Tanggal 10 saja, nanti setelah kalian tunangan kita sama liburan ke Jogja sekalian ziarah ke makam orang tuamu dan makam kakek neneknya Tyshia, Om juga asli orang Jogja loh"


"Benarkah Om?" Rangga tak menyangka jika calon Ayah mertuanya juga berasal dari Jogja.

__ADS_1


"Menopo panjenengan mboten pitadhos?" tanya Rio dengan bahasa jawa, keduanya pun tertawa dan mengobrop dengan seru hingga Rio menanyakan hobby Rangga dan mengajaknya bemain basket.


"Rangga apa kamu bisa bermain basket?" tanya Rio


"Sedikit Om, ada apa MOm?"


"Ayo bermain bersama Om, sudah lama Om tidak bermain basket. Setiap main dengan Tyshia, Om selalu mengalah agar tidak membuatnya kecewa,mtapi denganmu Om tidak akan mengalah" Rio beranjak dari tempat duduknya menuju halaman belakang rumahnya, di ikuti oleh Rangga dari belakang.


Tyshia yang melihat Rangga dan Ayahnya pergi ke halaman belakang segera menyusul Rangga. Tyshia mengambil celana pendek, kaos dan sepatu olahraga untuk Rangga di loker dekat lapangan.


"Byy pakailah!! nanti bajumu kotor, ruang gantinya ada di sebelah sana" Tyshia menunjuk ke sudut lapangan.


"Terima kasih ya sayang"


Selama hampir satu jam Rangga bermain basket bersama Rio, hingga Ana datang menghentikan permainan keduanya.


"Ayah, ayo kita makan malam" ucap Ana.


"Nanti bunda, ayah belum menang." Ucap rio sambil mengatur nafasnya.


"Sekarang Ayah!!!" Ana semakin mendekat ke arah Rio kemudian memberikan suaminya handuk dan minum, ia juga memberikan sebotol air minum kepada Rangga.


Tyshia mendekat ke arah Rangga dengan membawa handuk kecil, kemudian mengelap dahi kekasihnya yang di penuhi keringat, ia meminta Rangga untuk mengganti kembali bajunya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya rRngga dan Rio duduk di meja makan bersama Ana dan Tyshia yang telah menunggu mereka di meja makan.


Rangga duduk di sebelah Tyshia, sesekali Rio memperhatikan putrinya mencuri-curi pandang dengan Rangga.


"Masih banyak yang harus kami siapkan yah, kita mau renovasi rumah kemudian baik Kak Rangga maupun aku masih sama-sama banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan" ucap Tyshia.


"Okay, tapi kalian harus bisa menjaga diri kalian." ucap Rio, memberi peringatan kepada keduanya untuk tetap membatasi diri.


"Siap Ayah" ucap Tyshia.


"Rangga sering-seringlah kemari, agar suasana rumah ini jadi ramai" ucap aAa.


"Baik tante." ucap Rangga sambil tersenyum.


Seusai makan malam Rio mengajak Rangga bermain bilyard di lantai atas rumahnya hingga larut malam, sedangakan Tyshia dan Ana sudah masuk ke kamarnya masing-masing.



Keesokan harinya Tyshia kembali ke butiknya, ia berniat mendesain dan mejahit sendiri pakaian untuk Rangga di pesta pertunangannya, sedangkan untuk keluarganya yang lain Tyshia hanya mendesainkannya saja.


Selesai menggambar desain berapa pakaian untuk Rangga, Tyshia memutuskan untuk ke kantor Ayahnya menemui Rangga. Setibanya di kantor ayahnya, Tyshia langsung masuk ke ruangannya Rangga, Tyshia mengetuk pintu ruangan Rangga kemudian masuk ke dalam ruang kerja Rangga


"Surprise..." Tyshia mendekat ke arah Rangga kemudian mencium tangannya.


"Aku membawakan makan siang untukmu dan ini silahkan kamu pilih mau yang mana?" Tyshia memberikan gambar-gambar buatannya kepada Rangga.


"Semuanya bagus byy, terserah kamu saja" ucap Rangga sambil menggaruk-garukan kepalanya, ia sendiri bingung dan mengerti fashion baginya semua ga bar terlihat menarik jika yang buat adalah Tyshia.


"Byy ayo pilih satu" pinta Tyshia.

__ADS_1


"Yang ini" Rangga menunjuk salah satu diantara gambar-gambar yang di buat oleh Tyshia.


"Okay, ukur baju dulu ya byy."


Rangga beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke arah Tyshia, menuruti ucapan Tyshia. Setelah Tyshia mendapat ukuran baju untuk Rangga, Tyshia mengajak Rangga makan siang bersamanya, Tyshia menyuapi rangga makan dengan tangan kosongnya.


"Kamu, hutang banyak cerita kepadaku. Ayo ceritakan, aku akan mendengarkan dan mensuportmu sama hal yang kamu lakukan kepadaku" Rangga menatap wajah Tyshia.


Inilah yang sudah sejak lama di tunggu oleh Tyshia, dengan antusias Tyshia menceritakan mulai dari awal hobbynya menggambar, kemudian mengikuti kompetisi saat ia duduk di bangku SMA hingga akhirnya ia mendapatkan support dari kedua orang tuanya dan ia kuliah di Amerika.


"Kamu hebat banget byy, aku benar-benar bangga padamu sayang" tak hentinya Rangga memuji karya-karya yang Tyshia perlihatkan kepadanya.


"Terima kasih ya sayang" Tyshia sangat lega bisa menceritakan semuanya tanpa ada hal yang ia tutup-tupi dari Rangga.


Lama mengobrol dengan rangga, Tyshia hampir melupakan jika ia juga ingin mengukur baju orang tuanya.


"Oh ia byy, aku ke ruangan Ayah dulu ya."


"Terima kasih ya sudah mau berbagi cerita denganku, please jangan lagi ada yang kamu tutupi dari aku lagi, aku akan selalu mendukungmu"


"Iya byy, aku pasti akan selalu cerita kepadamu" Tyshia meninggalkan ruangan Rangga, menuju ruang kerja Ayahnya.


Saat Tyshia masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya, secara kebetulan ada Auntynya yang sedang mengobrol bersama Ayahnya, Tyshia berfikir untuk mengukur auntynya juga.


"Tumben anak Ayah ke kantor, ada apa sayang?" tanya Rio.


"Mau ukur baju Ayah dan Bunda, sekalian Aunty juga" jawab Tyshia.


"Baju untuk apa sayang?" tanya Lyra.


"Mas belum cerita ya, jika Tyshia bulan depan mau tunangan" ucap Ri sambil menggarukkan kepalanya, ia benar-benar lupa jika dirinya belum cerita apa pun mengenai hubungan putrinya dengan Rangga.


"Dengan siapa Mas?" tanya Lyra heran, karena setahunya Tyshia belum memiliki kekasih.


"Rangga, temannya waktu kuliah di New York tapi saat ini Rangga juga bekerja di sini?"


"Sebentar, Rangga yang kemarin di fashion show Tyshia?"


"Iya Aunty orang yang kemarin terakhir memberikan aku bunga pada saat fashion show. Sangat tampan kan Aunty?"


"Apa Mas sudah mengenalnya?" tanya Lyra.


"Sudah kan dia bekerja di sini dan tadi malam baru saja kami makan malam bersama di rumah"


"Bukan itu maksudku, Mas. Apa mas sudah mengetahui latar belakang keluarganya?" tanya Lyra


"Sudah, dia asli orang Jogja sama seperti kita, namun kedua orang tua kandungnya sudah meninggal. Ibunya sempat menikah lagi sehingga di Jogja ia punya Ayah sambung dan juga satu adik tiri dan satu adik kandung, kalau tidak salah Ayah sambungnya seorang dokter spesialis yang cukup terkenal" terang Rio.


"Latar belakang orang tua kandungnya???" tanya Lyra kembali.


"Dek, kamu ini apa-apa sih menanyakan orang yang sudah tidak ada harusnya kita mendoakannya. Sudahlah buat Mas yang terpenting Rangga orang yang bertanggung jawab, baik, sopan dan sayang kepada tyshia. Lagi pula hubungan Rangga dengan Ayah sambungnya dan adik tirinya sangat dekat jadi sudah di pastikan jika memang Rangga orang yang dekat dengat keluarga"


Lyra ia tak melanjutkan lagi kata-katanya, ia tidak ingin berdebat dengan kakaknya di depan keponakannya.

__ADS_1


__ADS_2