
Tok... Tok... Tok...
Asisten rumah tangga Alea datang membawakan sup kacang untuk Alea.
"Tadi guru lesnya Non Alea, meminta saya membuatkan sup kacang untuk Non Alea agar Non Alea cepat pulih" ucap sang asisten.
"Biar aku saja yang menyuapi Alea" Rangga mengambil mangkuk sup yang asistennya berikan kepadanya, namun saat sedang mengambil sup tersebut ia melihat secarik kertas di atas nampan yang dibawa oleh asistennya.
"Itu kertas apa Bik?" tanya Rangga.
"Ini resep sup kacang, yang tadi di berikan oleh guru les Non Alea"
Rangga membacanya sekilas kemudian ia menaruh kembali dan meminta asistennya untuk keluar dari kamar putrinya.
"Kamu makan dulu ya" Rangga menyuapi putrinya dengan telaten.
__ADS_1
"Enak Yah supnya, perutku jadi hangat" ucap Alea.
"Kalau begitu di habiskan ya" Rangga pun menyuapi putrinya hingga sup dalam mangkuk habis tanpa sisa.
Setelah kenyang, Alea pun beristirahat dan Rangga memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah, sebelum meninggalkan kamar putrinya tanpa sengaja ia melihat handphone Nindy tergeletak di atas meja belajar putrinya.
Ia pun mengambilnya karena khawatir akan mengganggu istirahat putrinya, Rangga meneruskan pekerjaannya di ruang kerjanya, ia menghubungi Edgar melalui zoom untuk kembali discusinya.
Di tengah diskusinya dengan Edgar dan Edwar, Rangga merasa terganggu dengan getar handphone Nindy di atas meja kerjanya, ia pun mengambilnya dan melihat pada layar handphonenya sebuah panggilan masuk dari dosennya.
Rangga menghela nafasnya kemudian ia melanjutkan lagi discusinya hingga selesai, handphone Nindy masih terus bergetar dan menyala sehingga Rangga memutuskan menghubungi tempat les dimana Nindy bekerja untuk menanyakan alamat Nindy.
Dari pagar rumah Nindy, Rangga mendengar suara cekcok antara Nindy dengan seorang pria. Perlahan Rangga pun masuk ke dalam rumah Nindy, ia melihat pintu rumah nindy yang terbuka membuat ia masuk ke dalam ruang tamu.
Melihat seorang pria yang hendak menapar wajah Nindy dengan refleks Rangga pun menahan tangan pria tersebut.
__ADS_1
"Jangan sentuk calon istri saya!!" ucap Rangga dengan tegas.
Pria itu pun membalikan tubuhnya menghadap ke arah Rangga.
"Oh rupanya kamu lagi, harus berapa kali ku katakan jika jangan pernah mengganggu calon istriku" Rangga menarik kerah Darel kemudian menghempaskannya dengan kuat ke lantai hingga Darel tersungkur.
"Urusan kita belum selesai Nindy!" Darel pergi meninggalkan kediaman Nindy.
Selepas Darel pergi, Rangga merapihkan pakaiannya kemudian duduk di ruang tamu.
"Sebaiknya kamu jangan berurusan dengan seorang pemakai seperti dia!" ucap Rangga.
"Terima kasih Pak Rangga telah menolongku, tapi dari mana Pak Rangga tahu jika dia seorang pemakai?"
"Aku bisa lihat dari matanya. Meskipun hubunganmu dengan dia bukan urusanku tapi sebaiknya kamu mencari pria yang lain saja" ucap Rangga dengan tegas.
__ADS_1
"Baik Pak, tapi ngomong-ngomong Pak Rangga tahu alamat rumahku dari mana? dan ada keperluan apa Pak Rangga datang ke sini?" Nindy mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia sudah tidak ingin membahas tetang Darel lagi.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini" Rangga memberikan handphone milik Nindy yang tertinggal di rumahnya, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan diaman Nindy.