ALINEA

ALINEA
SEASON 2 - ALEA : Chapter 46


__ADS_3

BELANDA



"Kamu masih ingat berapa tahun belanda menjajah negara kita?" tanya Rangga saat ia mengajak putrinya mengunjungi Tropenmuseum di Amsterdam.


Didirikan pada tahun 1864, Tropenmuseum merupakan salah satu museum etnografi dan antropologi terbesar di Amsterdam. Museum ini menyimpan koleksi benda-benda sejarah peninggalan bekas negara koloni Belanda, termasuk Indonesia. Di salah satu sisi bangunan terdapat relief yang menceritakan sejarah bagaimana bangsa Belanda berlayar melewati lautan dan benua hingga bisa sampai ke Indonesia.


Museum ini juga menyimpan berbagai lukisan, wayang, alat musik, patung, senjata kuno, artefak tekstil, hingga rempah-rempah Indonesia juga ikut dipamerkan di museum ini. Salah satu yang paling menarik adalah museum ini juga memamerkan koleksi foto-foto dan video tentang Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Tropenmuseum dipercaya sebagai museum yang paling banyak memiliki koleksi peninggalan dari Indonesia.


" 3,5 abad, kemudian di jajah Jepang selama 3,5 tahun dan akhirnya Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya" jawab Alea.


Rangga dan putrinya masuk ke lantai 1, tempat di mana koleksi Indonesia (Hindia Belanda) berada bersama-sama dengan koleksi dari India dan Asia Tenggara. Begitu keluar dari pintu lift, keduanya disambut oleh manekin-manekin orang Belanda tempoe doeloe. Kisah hidup  masing-masing figure yang dipajang di sana bisa diikuti dengan audio guide.


Perjalanan mereka dilanjutkan ke arah kiri, tempat di mana mereka berdua melihat koleksi Ibu Kartini, termasuk buku Door duisternis tot licht cetakan ketiga.  Di sisi lain Alea melihat batu tulis berikut perlengkapannya.


"Wow" Alea nampak kagum melihat melihat batu tulis, tak terbayang baginya jika dahulu orang harus punya ingatan yang kuat.


Rangga tersenyum melihat ekspresi putrinya, ia mengajak putrinya melihat ke sisi kanan yang terdapat beberapa lukisan di dinding yg bertema Oost Indie karya pelukis Belanda.


"Wow, rupanya Bali sudah menjadi obyek lukisan yang menarik pada abad ke 17" ucap Alea. Ia melihat gadis Bali di lukisan itu diportretkan bertelanjang dada.


" Hmm aku jadi berpikir apakah pada jaman itu mereka memang seperti itu ataukah hasil kreativitas si pelukis?" tanyanya.

__ADS_1


"We never know, kita ke sana saja yuk" jawab Rangga, ia mengajak putrinya memasuki ruangan berikutnya, feature yang sangat mencolok adalah kepala kerbau dengan tanduknya yang sangat panjang. Mereka berkeliling di ruangan ini, mengamati satu demi satu  koleksi flora fauna di sana, Alea baru menyadari betapa kayanya keragaman hayati negerinya.


" Pantas saja dulu VOC terpesona dan 'betah' tinggal di Indonesia, setelah menemukan rempah-rempah, mereka melakukan penelitian untuk mengeksplorasi lebih lanjut, dengan tujuan menambah jumlah profit" ucap Alea.


"Kenapa baru menyadari sekarang jika negeri kita sungguh mempesona?" tanya Rangga.


"Liburan semester nanti, ajak aku ke Sumba ya, Yah" pinta Alea.


"Iya, kita akan keliling Indonesia"


"Thank you Ayah"


Puas berkeliling di Tropenmuseum, Rangga mengajak putrinya untuk berkeliling kanal Amsterdam dengan menggunakan cruise, awalnya Rangga menawari putrinya menggunakan kapal private namun Alea menolaknya ia ingin jalan-jalan bersama turis lainnya.


"Serius Ayah, ayok!!" Alea mengajak Ayahnya untuk masuk ke salah canal cruise


Dari atas canal cruise Alea melihat sejumlah bangunan yang menjadi daya tarik kota, Kapal dengan jendela-jendela kaca yang besar sampai ke plafon-plafonnya memudahkan mereka menikmati panorama Amsterdam.


Salah spot yang menarik perhatian Alea adalah bangunan tua yang berdiri sepanjang kanal. Dahulu bangunan-bangunan tersebut merupakan rumah tinggal. Di masa revolusi industri, banyak rumah yang beralih fungsi menjadi perkantoran, pertokoan, bahkan gudang tanpa mengubah bentuknya. Sebagian rumah ada sudah keliatan miring, hal itu terjadi lantaran pergeseran tanah dan juga tuanya usia banguanan.


Alea nampak asik melihat pemendangan sekitar, sementara Rangga nampak sibuk memotret putrinya.


"Ayah, mengapa dari tadi memotretku terus?" protes Alea.

__ADS_1


"Ayah ingin punya banyak kenangan bersamamu, sebelum nanti kamu tumbuh semakin dewasa dan memiliki pendamping hidup" ucap Rangga.


"Aku akan terus di sisimu Ayah, aku akan mencari pria yang bukan hanya mencintaiku namun juga sayang terhadap Ayah dan selalu mendoakan Ibu" Alea mengelus tangan Ayahnya, ia sangat mengerti akan khawatiran Ayahnya jika suatu saat dirinya akan meninggalkannya.



Tak hanya mengunjungi dua tempat tadi, Rangga mengajak putrinya mengunjungi  Desa Kinderdijk, desa yang terletak di Provinsi Belanda Selatan, tepatnya di daerah Alblasserwaard.


Jika dari Kota Rotterdam, desa ini berjarak sekitar 15 km, daya tarik utama dari desa ini adalah adanya kincir angin tradisional yang berukuran raksasa. Desa ini juga mendapat sebutan sebagai Desa 1000 kincir karena memiliki jumlah kincir angin yang cukup banyak sekali.


Kincir angin yang ada di Desa Kinderdijk sudah ada sejak Tahun 1740-an. Hebatnya, hingga saat ini seluruh kincir angin di desa tersebut masih berfungsi secara normal.


"Lea ayo foto dulu"


"Sebentar Ayah, aku sedang melihat pengumuman kampusku" Alea nampak sibuk dengan Handphonenya, tak berselang lama Alea berteriak "Ayah aku di terima...." Alea memeluk ayahnya dengan erat.


"Telat kamu, itu pengumumannya sudah jam 00.00 tadi malam, Ayah sudah lihat"


"Ayah jahat, mengapa tak memberitahuku?" tanya Alea kesal sambil memajukan bibirnya, hingga membuat Rangga sangat gemas untuk mencubit pipi chuubby putrinya.


"Kamu mirip sekali dengan Ibu, jika ngambek begini" Rangga merangkul putrinya meneruskan perjalananya "Hari ini hari terakhir kita liburan, besok kita kembali ke Jerman dan kamu siap-siap fokus kuliah" ucap Rangga.


"Siap Ayah"

__ADS_1



__ADS_2