ALINEA

ALINEA
Chapter 20 : Kepergian Rangga


__ADS_3

"Byy aku lulus sidang skripsi" ucap Rangga dengan senyum sumringah dan rasa bahagianya, ia menyampaikan berita bahagia tersebut ketika dirinya menjemput Tyshia pulang kerja.


"Oh congrats ya" ucap Tyshia dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Byy kamu kenapa lagi sih?" tanya Rangga, senyum bahagianya seketika menghilang ketika gadis yang ia cintai nampak tidak senang dengan berita bahagia yang ia sampaikan.


"Sudahlah jika kamu mau pergi, pergilah!! Menikahlah dengan wanita yang sudah menunggumu di Indonesia" ucap Tyshia sambil menahan tangisnya, kemudian ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Rangga, ia tak ingin Rangga mengetahui jika dirinya tengah bersedih.


rangga berlari mengejar Tushia kemudian memegang tangan Tyshia menahannya untuk pergi "Kamu bicara apa sih byy? aku tidak mengerti"


"Pantas saja selama ini kamu ngotot mau pulang ke Indonesia, ternyata di sana ada seseorang yang ingin kamu lamar" Tyshia sudah tidak dapat lagi menahan air matanya, perlahan bularan-buliran bening itu jatuh di wajah cantiknya.


"Lamar?" tanya Rangga semakin tidak mengerti apa yang Tyshia bicarakan.


"Sudahlah jangan mengelak lagi, adi pagi aku menemukan cincin di atas meja belajarmu" Tyshia menghempaskan tangan Rangga kemudian ia berlari ke halte bus.


Rangga pun berlari mengejar Tyshia, dengan nafas yang terengah-engah ia melihat Tyshia hendak naik ke dalam bus Rangga berteriak "Cincin itu untukmu byy, aku ingin mengajakmu romance dinner dan memberikan cincin itu untukmu"


Mendengar ucapan Rangga, Tyshia menghentikan langkahnya, ia berbalik dan berjalan ke arah Rangga "Benarkah untukku?" tanya Tyshia seakan tidak percaya.


"Iya tentu saja untukmu, untuk siapa lagi? Aku sengaja membeli dua, yang satu untuk diriku dan yang satu lagi untukmu. Aku ingin kita sama-sama membentengi diri kita, setidaknya jika ada wanita yg melihat aku mengenakan cincin itu maka dia akan berfikir aku telah memiliki istri, dan begitu pula sebaliknya. Bukankah itu bisa membuat hati kita sama-sama lebih tenang dan kita lebih fokus dengan tujuan kita?" tanya Rangga menatap mata Tyshia dalam-dalam


Tyshia menganggukkan kepalanya, ia tidak menyangka Rangga berfikir sejauh itu dan seserius itu dengan dirinya.


"Aku pun sama takutnya dengan dirimu, aku tidak ingin kehilanganmu" Rangga menghapus sisa air mata Tyshia yang masih membasahi wajah cantiknya.


"Maaf aku sudah salah sangka terhadpmu" ucap Tyshia, ia tertunduk malu telah salah sangka terhadap Rangga.


Rangga tersenyum kesalapahaman yang terjadi antara dirinya dan Tyshia sudah selesai, "Jadi kapan kapan kita romance dinnernya?" tanya Rangga dengan nada menggoda Tyshia agar Tyshia tak bersedih lagi.


"Bagaimana jika besok malam saja?"


"Boleh, nanti aku akan cari tempat yang bagus untuk kita makan malam" ucap Rangga.


"Jangan, kita makan di tempat biasa saja" pinta Tyshia.


"Loh kok?"


"Aku mau di situ"


"Baiklah ratuku" ucap Rangga, kemudian ia mengantar Tyshia kembali pulang ke flatnya.


Sesampainya di depan flat, Rangga kembali menatap mata tyshia dan menggengam tangannya "Byy, aku janji akan menemanimu belajar sama seperti yang kamu lakukan kemarin kepadaku hingga kamu lulus dan berikan nilai terbaikmu untukku" Ucap rangga.


Tyshia tersenyum dan menganggukan kepalanya, kemudian ia masuk ke dalam flatnya.



Keesokan harinya Rangga menepati janjinya, sepulang kerja ia mengajak Tyshia makan malam di tempat biasa ia dan Tyshia makan malam.


"Byy kayanya ketinggalan deh cincinnya" Rangga terlihat panik sambil mencari-cari di dalam tasnya.


"Kok bisa?" Tyshia pun ikut di buat panik.


"Tadi pagi kayanya aku kelupaan masukin ke dalam tas" ucap Rangga.


"Ya sudah besok lagi aja"

__ADS_1


Rangga mendekat ke arah Tyshia kemudian ia berlutut di depannya .


"Byy, jaga hati kamu untuk aku ya sampai kita bersama lagi" Rangga memakaikan cincin tersebut di jari manis Tyshia, kemudian Rangga menaruh tangan Tyshia di pipinya.


Tyshia menelusuri alis dan wajah Rangga dengan tangan lembutnya, kemudian ia mencubit hidung Rangga.


"Auuu sakit byy" Rangga kembali ke tempat duduknya sambil memegang hidungnya yang memerah.


"Makanya jangan ngeselin" ucap Tyshia dengan kesal.


"Iya iya... Gantian pakein dong" Rangga mengulurkan tangannya ke hadapan Tyshia.


"Kak Rangga juga ya jaga hati kakak untukku" Tyshia mengelus lembut tangan Rangga, Rangga tersenyum sambil menganggukan kepalanya.



Tiba di hari yang di nanti oleh semua mahasiswa dan mahasiswi American University, tak terkecuali dengan Rangga, di hari specialnya itu Rangga datang ke acara wisudanya dengan di temani oleh kekasih hatinya.


Menggunakan kebaya modern berwana broken white dan di padukan dengan kain songket panjang, Tyshia tampil dengan anggun cantik hingga membuat Rangga tak hentinya memandangi Tyshia.


"Byy aku malu, mengapa melihatku seperti itu?" Tyshia menunduk malu.


"Hari ini kamu cantik sekali, sayang" Rangga sangat terpesona dengan kecantikan dan keanggunan Tyshia.


"Memangnya kemaren-kemaren aku tidak cantik?" tanya Tyshia cemberut.


"Cantik, kamu setiap hari selalu cantik. Terima kasih ya sudah mau menemaniku, kemarin berfikir untuk tidak menikuti acara ini."


"Why?"


"Yang ada hanya Ayah sambungku, namun beliau sedang menemani Aunty yang akan menjalani operasi. Sedangkan adik-adiku masih sekolah dan kuliah, mereka tidak bisa datang kemari" lanjut Rangga.


"Kan ada aku" Tyshia menggengam tangan Rangga, agar tidak bersedih di hari speciapnya.


Ia sangat senang bisa betemu dan dekat dengan rangga, ia juga bangga dengan pria yang saat ini berada di sebelahnya, bisa survive dan berprestasi di negeri orang meski tanpa support dari kedua orang tua kandungnya.


Jika seandainya Ayahnya tak merestuinya, ia akan tetap memperjuangkan Rangga karena ia begitu sangat mencintai Rangga dan Rangga memang layak untuk di perjuangkan.


"Byy kok ngelamun, kamu duduk di sana ya tapi di samping ibu-ibu loh" ucap Rangga sambil menunjukan tempat duduk untuk tamu undangan.


"Hu'um" Tyshia melangkah kakinya menuju kursi untuk tamu undangan.


Acara wisuda berlangsung secara hikmad, selesai acara wisuda Rangga memperkenalkan Tyshia kepada teman-temannya sebagai istrinya, Tyshia tidak keberatan dengan apa yang di ucapkan oleh Rangga, ia justru sangat senang dan bangga.


Rangga mengajak tyshia untuk berfoto bersamanya, saat sedang berfoto dengan Tyshia, Rangga menundukan kepalanya ketika melihat beberapa dari temannya yang berkumpul dan berfoto dengan keluarganya.


"Jangan sedih ya! kan ada aku yang akan terus menemanimu dan mensuportmu" Tyshia mengelus lengan Rangga dengan lembut.


"Terima kasih ya byy, aku seperti melihat sosok Almh.Umiku di dalam dirimu" ucap Rangga menatap wajah cantik kekasihnya. Tyshia tersenyum manis sambil menganggukan kepalanya.


Menjelang sore Rangga mengajak Tyshia kembali pulang ke flat, dalam perjalan pulang Tyshia bertanya berapa IPK Rangga, karena pada saat naik kepanggung hanya di sebutkan nama dan fakultasnya saja, Tyshia sangat terkejut saat Rangga mengatakan jika IPKnya 3.89


"Kamu makan apa sih byy, bisa sepintar itu?" tanya Tyshia takjub.


"hahaha... makan kamu Hauuum...."


"Iiiiiih nyebelin" Tyshia kembali mencubit tangan Rangga dengan kesal.

__ADS_1


" Bercanda byy."


"Lalu rencanamu pulang ke Indonesia kapan?"


"Aku masih harus mengurus Ijazah dan lain-lain, nanti jika semuanya sudah beres baru aku pulang. Saat ini aku sudah apply CV ku di beberapa perusahaan di Jakarta."


"Jakarta? bukankah rumah Kak Rangga di Jogja?" tanya Tyshia.


"Ada perusahaan yang sudah lama aku incar, doain ya aku bisa mendapatkan pekerjaan di situ"


"Pasti dong sayang, lalu nanti Kak Rangga tinggal di mana?)


"Aku sudah mencari kost-kostan lewat internet, udah ada beberapa yang pas. Tinggal nanti menunggu perusahaan mana yang akan menerimaku, aku akan memilih kostan yang terdekat" ucap Rangga.


"Byy tunggu aku sampai bisa memberikan yang terbaik untukmu ya" lanjut Rangga.


Tyshia menganggukan kepalanya, matanya berkaca-kaca menahan harunya, ia tidak menyesali keputusannya untuk keluar dari apartement mewah yang di berikan oleh Ayahnya dan bekerja sebagai kasir di sebuah coffee shop hanya untuk menemani Rangga.



Sambil mengurus ijazah dan menunggu panggilan tes kerjanya Rangga masih bekerja di coffee shop bersama dengan Tyshia, dan Tyshia masih sajadengan kebiasaannya yang selalu membuatkan makanan untuk Rangga meski Rangga sudah berkali-kali melarangnya.


"Nanti jika aku rindu masakanmu bagaimana?" ucap Rangga sambil membuka email di handphonenya.


"Tunggu saja sampai aku kembali ke indonesia, haha..." Ucap Tyshia sambil tertawa.


"Byy, ada tiga perusahaan yang membalas emailku. Dari ketiganya hanya satu yang jadwal tesnya minggu ini, aku minta minggu depan saja bagaimana menurutmu?"


"Iya tidak apa-apa, coba kamu tanyakan bisa tidak minggu depan, kamu berikan alasan yang tepat dengan bahasa yang formal"


"Besok aku ke kampus ya mengurus semua surat-suratku. Jika sempat aku akan kerja tapi jika tidak aku akan menjemputmu saja"


"Ia sayang"



Semuanya berjalan dengan lancar, selesai mengurus ijazahnya Rangga mengurus kepulangannya ke Indonesia, Tyshia membantu Rangga mempacking barang-barangnya.


"Sudah semua byy" ucap Tyshia sambil menutup koper terakhir Rangga.


"Thank you ya sayang, aku tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada kamu" ucap Rangga, ia tidak tahu harus seperti apa berterima kasih pada gadis cantik yang selalu membantu dirinya.


"Sama-sama sayang, ya sudah yuk kita kebandara, nanti kamu telat loh" ucap Tyshia, ia juga membantu Rangga membawakan kopernya masuk ke dalam taxi yang telah menunggunya di depan flat.


Sepanjang jalan menuju bandara, Rangga menggenggam erat tangan Tyshia.


"Kamu jangan kerja lagi ya, aku tidak mau kamu pulang malam sendirian. Jika aku sudah gajian nanti aku transfer, fokuslah pada kuliahmu. Jika ada apa-apa segera hubungiku, tiap malam aku akan menemanimu belajar"


"Kamu juga hati - hati ya byy, jaga kesehatan."


Berat untuk keduanya melepaskan genggaman tangan mereka, saat Rangga hendak masuk ke bandara.


"Jangan sedih ya byy, kalo kamu sedih aku juga sedih. Terima kasih untuk hari-hari indah yang sudah kita lewati, aku menunggumu di Jakarta" Rangga menghapus air mata yang menetes di pipi Tyshia.


"Aku pergi ya sayang" Rangga mengelus lengan Tyshia kemudian masuk ke dalam bandara


Tyshia berdiri mematung melihat kepergian kekasihnya, meskipun tubuh Rangga sudah tidak terlihat Tyshia masih enggan untuk meninggalkan bandara.

__ADS_1


__ADS_2